Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Apa kata hati.


__ADS_3

Khanza berdiri di balkon kamarnya memandang lurus kedepan, hari ini semua begitu berat dia lalui. Namun, Khanza yakin semua akan berlalu seiring berjalannya waktu.


"Apa yang kau lakukan diluar sini? udaranya sangat dingin, kau bisa sakit," ucap Aqila menghampiri Khanza dengan membawa secangkir teh untuknya.


"Aku hanya ingin menenangkan diriku," jawabnya menerima secangkir teh yang diberikan oleh Aqila.


Hangatnya cangkir memberi kehangatan pada telapak tangan yang terasa dingin, angin malam yang berhembus membuat tubuhnya dingin. Namun, Ia tetap merasa bahagia berada di tempatnya berdiri sekarang.


"Apa benar yang aku dengar dari asisten pak Matteo? tanya Aqila.


"Tentang apa?" tanya Khazan berjalan duduk di kursi yang ada di balkon tersebut.


"Aku dengar kau ingin menyumbangkan sebagian harta peninggalan Mr Alvin, Apa itu benar?"


"Iya, semua itu terlalu banyak untukku. Aku akan mengambil secukupnya saja untukku dan anak-anak, harta itu adalah permohonan maaf atas kedua orang tuaku maka aku akan menyumbangkan atas nama mereka. Lagipula Pak Mateo ingin beristirahat, katanya ia sudah sangat tua dan sudah lama bekerja, ia ingin beristirahat dan tak bisa lagi menangani semuanya. Aku juga merasa tak sanggup jika harus mengurusnya tanpa Pak Matteo.


"Aku ingin hidup lebih tenang, aku tak bisa menghandle semuanya, aku hanya mengambil perusahaan yang Sedang kita kerjakan dan rumah ini aku rasa itu sudah cukup untuk kita," tambahnya.


"Aku setuju aku rasa itu memang sangat baik, lagi pula masalah anak-anak kamu tau usah khawatir mereka kan punya papa walaupun kalian sudah berpisah tetap saja dia akan mendapatkan masa depan yang cerah dari papanya, jangan membebani hidupmu dengan banyak pekerjaan kita nikmati saja dan syukuri yang secukupnya," ucap Aqila ikut duduk samping Khanza.


"Daripada kamu sedih terus lebih baik kita melupakan semuanya dan pergi jalan-jalan, bagaimana kalau kita tidak shopping?" ajak Aqila.


"Anak-anak?"


"Anak-anak baru saja tertidur, minta Bibi saja menjaganya."


"Ya udah deh, aku siap-siap dulu," ucap Khazan mengganti bajunya begitu juga dengan Aqila.


Sebelum pergi Khanza menitipkan anak-anak pada bibi pengasuh mereka.


Mereka pun memilih menghibur diri untuk berbelanja, hal yang bisa membuat hampir semua wanita menjadi kembali bahagia yaitu dengan berbelanja keperluan pribadi mereka.


Abizar juga melakukan hal yang sama, ia berdiri di balkon kamarnya memasukkan tangannya kedalam saku, berdiri dan menutup matanya membiarkan angin malam menerpa kulitnya. Merasakan dingin udara yang menerpa kulitnya. Ia ingin meyakinkan hatinya jika Khanza bisa bahagia apabila melepasnya, seperti yang diinginkan istrinya keduanya itu.


Abizar kejutkan saat tiba-tiba tangan melingkar di pinggangnya.


"Khanza," batin Abizar dengan cepat ia berbalik. Namun, dugaannya salah wanita yang memeluknya adalah Farah.


"Farah kapan kau datang? Kenapa kau. tak mengabariku aku bisa menjemputmu," ucap Abizar saat melihat Farah sudah ada di depannya.


"Aku hanya tak mau merepotkanmu, kalau hanya pulang dari Bandara aku bisa sendiri kok," ucap Farah memeluk suaminya dari depan, Abizar balas memeluk suara dan mengecup keningnya.


"Aku dengar beberapa hari lagi sidang terakhir putusan perceraian Mas dengan Khazan? Apa Mas sudah menerima semuanya? Apa sudah tidak ada jalan lain?"


"Aku rasa memang inilah yang terbaik, aku sudah sangat menyakitinya, aku harap saat melepasnya ia bisa menemukan kebahagiaan di luar sana, yang lebih dariku. Aku berpikir sudah membahagiakannya, tapi ternyata salah aku hanya memberikannya kesedihan. Aku bukan suami yang baik untuknya, untuk kalian," ucapnya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Farah melepas pelukannya dan menatap mata suaminya.


"Apa selama aku meninggalkan Mas ada rasa kehilangan di hatimu?" tanya Farah memegang dada Abizar..


Abizar juga menatap mata parah selama Farah pergi ya sama sekali tak merasa kehilangan, ia baik-baik saja tanpa Farah di sisi berbeda saat Khazan yang pergi hatinya merasa sakit dan merasa kesepian.


"Aku yakin saat aku pergi Mas tak masalah 'kan? Mas merasa biasa saja?"


"Bukankah memang seperti ini hubungan kita sedari awal, hubungan terpisah jarak, kau bekerja disana dan aku di sini bukan? Apa bedanya dengan sekarang. kita sudah terbiasa berpisah jadi bukan masalah lagi.


"Bedanya saat Khanza yang meninggalkan Mas rasa sakit disini 'kan?" Farah menekan dada Abizar.


Abizar hanya tersenyum saat tebakan istrinya lagi-lagi benar.


"Semuanya sudah terlambat," Abizar berjalan duduk di kursi yang ada di sana.


"Apa Mas yakin bisa menerima semuanya?" Farah ikut duduk di samping suaminya.


Mungkin ini adalah hukuman bagiku karena aku pernah mengkhianatimu, sebelum kau memintaku menikah lagi aku sudah menyukai Khanza, Hatiku sudah menghianati ikatan pernikahan kita. Aku memikirkan wanita lain saat bersamamu. Anggap ini adalah sebagai hukuman bagiku. Waktu itu aku bahkan menjalin hubungan dengan Khanza sebelum izin padamu." Abizar mengingat pertemuannya dengan Khanza di beberapa kesempatan.


"Sejak kapan Mas mencintai Khanza?"


"Sejak pertama melihatnya, waktu itu dia masih duduk di bangku kuliah. Aku tak tau itu cinta atau hanya mengaguminya. Tapi dia selalu mengganggu pikiranku aku selalu mengingatnya. Aku tak menyangka akan bertemu lagi dengannya setelah 5 tahun tak perna melihatnya, saat aku terus mencoba menghapusnya dari ingatanku. Aku sudah mencoba menghindar dan menjaga hatiku agar tak menghianatimu, tapi aku kalah, aku minta maaf pernah melakukan semua itu." Menggenggam tangan Farah.


"Sekarang, Aku terjebak dengan perasaanku sendiri," tambahnya.


"Semua sudah terjadi, aku akan menuruti apapun yang ia inginkan, walau harus berpisah."


Abizar bersandar di kursi, menyandarkan kepalanya dan menutup matanya, ia yang mencoba untuk menerima semua kenyataan yang ada.


Abizar lagi-lagi terkejut saat tangan dingin Farah menutup matanya.


"Jangan bergerak," ucapnya, pada Abizar saat ingin membuka tangan Farah dari wajahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Abizar saat tangan Farah masih berada di wajahnya.


Sekarang masuk tarik nafas dan hembuskan, tenangkan pikiran Mas. Sekarang Mas bayangkan wajah Khanza yang tersenyum menatap Mas.


Wajahnya yang begitu tenang.


Abizar melakukan apa yang diminta oleh Farah, dia membayangkan senyuman manis Khanza yang selalu dilihatnya.


Sekarang Mas bayangkan wajahku.


Kembali Abizar melakukannya ia juga membayangkan wajah Farah.

__ADS_1


Farah memberikan jedah pada Abizar untuk berfikir agar ia bisa membandingkan bayangan dirinya dan juga Khanza.


"Sekarang Mas bayangkan jika aku dan Khanza berjalan beriringan kemudian dari arah belakang ada kendaraan yang berkecepatan tinggi menuju ke arah kami, tapi masalahnya Mas hanya bisa menyelamatkan salah satu dari kami, siapa yang akan Mas selamat 'kan?" tanya Farah.


Abizar lagi-lagi membayangkan apa yang dikatakan oleh Farah.


Farah melepas tangannya dari wajah Abizar kelopak mata suaminya itu masih tertutup.


Farah menjentikkan jarinya di samping telinga Abizar membuatnya langsung membuka mata.


"Apa yang Mas lihat?" tanya Farah menatap lekat pada suaminya yang terlihat masih kaget.


Saat di luar negeri Farah tak sengaja bertemu dengan seorang hipnoterapi dan menceritakan semua masalahnya, ia kemudian diajarkan trik tersebut agar suaminya benar-benar bisa memilih di alam bawah sadarnya Siapa yang benar-benar dicintai dan siapa yang diinginkan oleh hatinya.


Abizar tak menjawab dan langsung berjalan masuk ke kamar mereka.


"Mas, apa yang Mas lihat?" tanyanya, Farah terus mengikutinya.


"Aku tak melihat apa-apa, hentikan permainan konyolmu," Abizar ingin minum, air yang biasanya ada di atas meja sudah habis, ia keluar mengambil air mineral di dapur, Farah terus bertanya yang mana Abizar tetap tak mau menjawab, apa yang dilihatnya tadi.


Farah bisa melihat jika triknya itu berhasil, dilihat dari cara Abizar yang terlihat kaget dan tangan yang bergetar saat ia meminum air tadi untuk menghilangkan kegugupannya.


Farah turus mengikutinya, menanyakan pertanyaan yang sama.


"Mas mau kemana?" tanya Farah saat Abizar mengambil kunci mobil.


"Aku ada urusan, aku harus keluar sebentar," ucap Abizar berlalu keluar. sebenarnya ia tak ada urusan hanya ingin menghindari pertanyaan Farah dan ingin menenangkan hatinya yang masih terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Abizar menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah, dan saat menoleh ia melihat mobil Khanza tak jauh dari mobilnya dan posisinya berada di depan. Begitu lampunya berubah Abizar mengikuti mobil Khanza, dia bisa melihat jika mereka menuju ke arah pusat perbelanjaan.


Abizar ikut memarkirkan mobilnya. Namun, ia tak turun. Ia hanya melihat Khazan ndari dalam mobil.


Khanza yang baru turun ingin berjalan masuk, tiba-tiba ada pengendara motor yang ugal-ugalan, Khanza hampir saja ditabraknya Untung saja Aqila dengan cepat menarik Khazan untuk menepi.


Bisa bernafas lega saat Khanza tak apa-apa dan kembali melanjutkan langkah mereka masuk ke pusat.


Abizar mengusap dadanya, ia sangat terkejut melihat kejadian tadi sangat mirip dengan apa yang di lihatnya saat Farah memberinya sugesti.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Mampir kak🙏



__ADS_2