Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Weekend


__ADS_3

Pagi hari Abizar dan Khanza sudah bersiap-siap, mereka bersiap lebih pagi agar bisa membantu persiapan Farah dan Warda di rumah lama.


"Kamu nggak ada lagi 'kan yang ketinggalan?" tanya Abizar saat Khanza menghampirinya yang sedang memanaskan mobil.


"Nggak ada lagi kok, Kak. Semuanya sudah siap, Lagian peralatan Aziel sudah disiapkan sama Mbak Farah, aku hanya bawa beberapa saja," ucap khanza menunjukkan tas peralatan Aziel.


"Yaudah, kita berangkat sekarang," ucap Abizar, kemudian mereka pun melajukan mobilnya menuju ke rumah lama.


Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit mereka pun tiba.


"Papa," teriak Aziel berlari menghampiri Abizar yang baru turun dari mobil.


Abizar langsung merentangkan tangan menyambut anaknya yang berlari kepadanya, mengangkat Aziel tinggi ke atas melewati kepalanya kemudian memeluknya dengan erat. Menciumi seluruh wajah putranya hingga Aziel tertawa kegelian karena bulu halus di wajah Abizar.


"Papa kangen banget sama Ziel," ucapnya kembali mengecup seluruh wajah anak tunggalnya itu.


"Iya, Ziel juga. Kenapa Papa tidak bobo sama Ziel, Ziel sama Mama, Papa sama Bubu. Ziel sama Bubu, Papa di rumah Mama. Ziel mau sama Bubu, sama Mama dan Papa!" ucap Ziel mengerucutkan mulutnya.


Selama ini Aziel selalu protes kepada Mama dan Bubunya. Namun, mereka hanya mengatakan jika Papa menjaga Bubu jadi Aziel yang akan menjaga Mama dan begitu seterusnya. Awalnya Aziel yang menyayangi mama dan bubunya mengerti dan mau diatur. Namun, semakin lama ia makin merasa ingin bersama papanya juga.


"Ziel sabar ya, Papa yakin suatu saat nanti kita kan sama-sama, sama Mama, sama Bubu, sama Ziel sama Papa juga," ucap Abizar kembali mengecup pipi putranya dan menggendongnya masuk kedalam menghampiri yang lainnya yang sedang mempersiapkan bekal mereka.


"Mama Santi juga ikut?" bisik Abizar pada Farah yang melihat Mama Santi terlihat sedang bersiap-siap.


"Iya Mas, Mama katanya lagi pengen jalan-jalan makanya Farah ajak aja," Jawabnya.


Abizar hanya mengangguk karena selama ini setiap mereka pergi Santi tak pernah ikut dengan mereka dengan alasan ia lebih baik pergi bersama dengan teman-temannya.


"Bubu lucu," ucap Aziel melihat bubunya sedang memasukkan bekal yang berbentuk bermacam-macam.


"Ziel suka yang mana?" tanya Khanza yang juga duduk di dekat mereka.


" Ini Mah," ucap Aziel menunjuk salah satu bekal yang menurutnya terlihat paling lucu.


"Mbak, aku ambil satu, ya," ucap Khanza.

__ADS_1


"Iya, tapi pelan-pelan jangan diberantakin lagi," jawab Farah.


Khanza mengambil satu dan menyuapkan kepada putranya.


"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Khanza.


"Aziel mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan, terlihat begitu lucu membuat mereka bertiga menjadi tertawa melihatnya.


Kelucuan Aziel selalu saja membuat mereka menjadi bahagia.


Setelah semuanya siap mereka pun langsung berangkat ke kebun binatang.


Di sana Aziel terlihat begitu senang.


"Papa, mau itu," tunjuk Aziel pada kuda.


"Ziel mau naik kuda?"


Aziel mengangguk antusias.


Abizar kemudian mengajak putranya itu menaiki kuda, mereka mengelilingi kebun binatang dengan kuda. Melihat berbagai macam binatang. Aziel terus saja menunjuk dan menanyakan nama binatang yang ia lihat, dengan setia Abizar menjawab setiap pertanyaan anaknya.


Setelah puas bermain, Abizar pun membawa Aziel untuk berkumpul dengan yang lain, memakan bekal yang mereka bawa.


"Aziel suka Ke kebun binatang?" tanya Warda pada cucunya.


"Suka, Nek," jawabnya dengan wajah yang sangat gembira.


Abizar mengusap rambut anaknya, semakin besar anaknya itu semakin menyerupai wajahnya.


Setelah makan Aziel kembali berlari ingin melihat beberapa binatang.


Kali ini Farah dan Khanza yang menemaninya. Sementara Abizar masih menikmati bekal makan siangnya.


"Abizar, Aziel sudah besar. Apa kau tak pernah membahas tentang memberikannya adik?" tanya Warda.

__ADS_1


"Aku sudah sering memintanya, Mah, tapi aku juga tak bisa memaksakan jika Khanza sendiri belum siap, dia masih trauma dengan persalinan Aziel," jawab Abizar masih terus memakan bekalnya.


"Kalau menurut Mama lebih baik kau minta Khanza untuk hamil lagi, jangan menunda terlalu lama, dan salah satu anak kalian nanti kau berikan kepada Farah, biarkan Farah yang merawatnya seutuhnya dan yang lainnya kau bisa merawat anak-anakmu bersama dengan Khanza, jika seperti ini terus kasihan dengan Aziel dia menjadi bingung kan dimana dia akan tinggal, waktumu juga tak banyak dengannya.


Saat bersama Farah dia selalu saja menanyakan mu, mengapa dia jarang bertemu dengan Papanya, kenapa dia tak Bobo dengan papanya, aku saja kasihan mendengarnya terus bertanya seperti itu," ucap Santi judes, tapi kata-katanya masuk di akal Abizar.


"Tapi, jika Khanza tak mau dan belum siap jangan dipaksa, tak baik," sahut Warda.


"Kalau kau menurutinya, dia takkan pernah siap sampai kapanpun. Kamu harus sedikit bertindak tegas, kau ini Suami, kau pemimpin keluarga, kamu bisa mengatur istri-istrimu," ucap Santi.


"Tapi nggak gitu juga, Santi. Yang kita bicarakan ini adalah memberi seorang anak, bukan memberi makanan kepada yang lainnya," ucap Warda memberikan makanan ke piring besannya. "Khanza harus mengandung dan melahirkan, memang itu sudah kodratnya, tapi jika memang ia masih trauma kita tidak boleh memaksa nya, kita tahu sendiri 'kan seperti apa persalinan Aziel dulu. Mama saja masih merasa ngeri saat mengingatnya, Khanza sampai koma dan mama tak mau itu terjadi lagi," tegas Warda.


"Itu kan kesalahan kamu Abi, jadikan itu sebagai pelajaran. Saat Khanza nanti hamil kau harus lebih mementingkannya daripada pekerjaanmu, kalau perlu saat bulan-bulan persalinannya kau mintalah Fahri yang mengurus kantor dan menjaga Khanza 24 jam. Aku yakin kejadian seperti itu tak akan terulang lagi." ucap Santi.


"Tapi, tetap saja kau harus mendiskusikannya dengan Khanza."


Santi dan Warda terus berdebat. Santi ingin Khanza hamil lagi dan memberikan salah satu bayinya kepada Farah, sedangkan Warda ingin jika masalah kehamilan harus benar-benar disetujui oleh Khanza.


"Aku tak ingin berdebat denganmu, lebih baik Aku bergabung dengan mereka," ucap Warda yang melihat kedua menantunya terlihat asyik bersama dengan cucunya. Mereka sedang bermain dengan binatang.


"Abizar Kamu setuju 'kan dengan pendapat Mama, untuk memberikan salah satu anakmu kelak?"


"Aku juga belum tahu, Mah Warda benar, ini bukan masalah barang, ini masala anak. walaupun suatu saat nanti Kami punya anak lagi, tentu saja semua keputusan juga harus sesuai dengan keinginan Khanza, aku tak bisa mengambil keputusan sendiri."


"Apakah Khanza memakai alat kontrasepsi?" tanya Santi.


"Iya, Khanza mengkonsumsi pil," jawab Abizar.


"Kalau kau terus menundanya sampai kapan kau akan punya anak lagi, sebaiknya kamu pikirkan ide Mama ini dan pikirkan juga Aziel.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏

__ADS_1


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2