
"Aisyah, jawab pertanyaan kakak," ucap Azriel saat Aisyah hanya terdiam dan melihat layar ponselnya, berpura-pura mengirim pesan dengan seseorang.
"Hanya nonton dan jalan-jalan saja kok, Kak," jawab Aisyah menutupi apa yang terjadi pada dirinya semalam, takut jika sampai kakaknya memarahinya.
"Lalu kamu kenapa menangis?" tanya Azriel, ia tahu adiknya itu pasti berbohong karena sudah jelas Lucia pulang dengan pakaian dan mulut berbau alkohol.
"Semalam perutku sakit," jawab Aisyah masih berbohong.
"Aisyah, aku mengenalmu sejak kamu masih dalam kandungan. Ada apa sebenarnya, mengapa kamu sampai berbohong pada kakak? Apa yang terjadi sebenarnya semalam? Apa Lucia memaksamu untuk ke klub malam? Apa kamu masuk di tempat itu?" tanya Azriel membuat Aisyah yang tadinya menunduk melihat layar ponselnya dan langsung menatap ke arah kakaknya, membuat Azriel juga melihat sepintas pada adiknya dan kembali fokus ke jalan raya.
"Kamu jangan bohong sama kakak, kakak tahu semalam Lucia ke tempat terlarang itu kan? Kakak bisa mencium bau alkohol darinya, ceritakan saja apa yang terjadi, jangan takut kakak marah padamu. Kakak tau kamu hanya mengikuti Lucia," ucap Azriel tegas.
"Maaf, Kak. Bena, semalam kami ke tempat itu, tapi Aisyah berani bersumpah jika Aisyah tak masuk. Aisyah hanya menunggu di mobil dan kak Lucia masuk sendiri."
"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Azriel yang masih mempertanyakan hal tersebut, pasti ada sesuatu yang membuat adiknya itu menangis.
"Kak Lucia janji hanya 30 menit saja meninggalkanku, tapi dia meninggalkanku di parkiran selama 1 jam lebih, aku takut aku juga bosan sendirian, aku kesal pada kak Lucia," bohong Aisyah. Namun, kebohongannya kali ini dipercaya oleh kakaknya.
__ADS_1
Azriel menghela napas kemudian ia pun mengusap rambut adiknya.
"Lain kali jika kamu kembali mengalami hal ini, telepon kakak saja. Biar kakak yang menjemputmu, tempat itu sangat berbahaya walaupun hanya di parkiran saja. Ingat satu hal, apapun yang dikatakan oleh Lucia kamu jangan pernah melanggar apapun yang dikatakan oleh ayah dan ibu. Apalagi mencoba untuk melakukan hal-hal yang telah dilarang oleh ayah dan ibu, kamu paham kan, Dek?" tanya Azriel
"Iya, Kak. Aisyah paham, justru itu tadi Aisyah tak mau pergi dengan kak Lucia, Aisyah kapok, Kak. Aisyah tak mau lagi berada di posisi semalam, Aisyah takut. Selama ini Aisyah menemani kak Lucia karena kak Lucia baru di kota ini dan belum memiliki teman, tapi sepertinya Aisyah salah dan kami berbeda," ucap Aisyah.
"Ya sudah, mulai sekarang kamu bertemanlah dengan temanmu, cepat atau lambat Lucia pasti akan memiliki teman juga. Apalagi sebentar lagi dia akan kuliah di sini, jangan hanya karena kamu tak enak padanya dan itu membuatmu dalam bahaya. Apalagi sampai mengenal tempat-tempat seperti yang kalian datangi semalam, kehidupan kak Lucia memang seperti itu di luar negeri, tapi kita berbeda dengan mereka. Mungkin dia menganggap pergi ke tempat seperti itu hal biasa. Namun, tidak di negara ini apalagi meminum minuman alkohol, itu tak boleh," jelas Azriel membuat Aisyah pun mengangguk.
Azriel menepikan mobilnya begitu mereka sudah sampai di depan gang sempit milik Mentari, terlihat disana Mentari dan juga Erwin sudah ada di gang tersebut dengan beberapa kotak kue yang ada di sampingnya menunggunya. Erwin membawanya dengan gerobak menuju ke tepi jalan agar memudahkan mereka memasukkan kue-kue itu ke mobil Azriel yang jumlah boxnya cukup banyak.
"Iya, Kak. Boleh kan?" tanya Aisyah tersenyum menyambut sapaan dari Mentari yang sedang memasukkan beberapa kue bersama Azriel dan juga Erwin ke dalam mobil.
"Tentu boleh dong, kan kalau kamu ada bisa bantu-bantu kita juga menurunkan kue dari mobil," canda Mentari membuat Aisyah juga ikut tertawa. Kemudian setelah semuanya naik ke dalam mobil, Azriel pun melajukan mobilnya menuju ke beberapa tempat terlebih dahulu, ada beberapa tempat yang mereka lewati saat akan ke kantor Abidzar yang memesan kue Mentari, membuat mereka pun mengantarkan kue-kue tersebut terlebih dahulu hingga akhirnya mereka pun sudah sampai di perusahaan di mana Azriel sudah mulai bekerja di sana.
Mereka pun mulai menurunkan kue-kue tersebut dan membawanya ke tempat yang seharusnya. Hari ini Azriel tak bisa menemani Mentari untuk mengantarkan kue-kue tersebut lagi, karena ia harus mulai bekerja.
"Mentari, kamu bisa membawa mobil kan?" ucap Azriel memberikan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak bisa ngantar nanti aku bawa kue-kue ini pakai taksi saja, hanya tinggal beberapa box saja kok," ucap Mentari di mana ia harus mengantar kue-kue itu ke perusahaan Dewa, setelahnya ia akan pergi untuk berbelanja beberapa keperluan kue buatannya di salah satu toko langganannya, karena bahan-bahan itu tak ada di pasar di mana ibunya selalu membeli bahan lainnya. Jaraknya cukup jauh sehingga harus ditempuh dengan menggunakan mobil, itu juga bisa memudahkannya saat membawanya pulang nanti karena semenjak mereka kebanjiran pesanan mereka membeli bahan-bahan dalam jumlah banyak, itu bisa menghemat biaya bahan-bahan yang mereka butuhkan.
"Nggak usah, pakai saja mobilnya. Nanti jika sudah selesai bawa kembali, aku juga pulang saat jam kantor kok. Hari ini ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, jadi santau saja pakai mobilnya," jelas Azriel membuat Mentari pun menerima kunci mobil tersebut.
"Aisyah, kamu mau ikut kakak atau tinggal di sini bersama dengan Kakakmu?" ucap Mentari.
"Aku ngapain juga Kak, di kantor. Mending aku ikut Kakak jalan-jalan sekaligus belajar berwirausaha, siapa tahu saja kan nanti aku juga memiliki ide untuk bisnis kecil-kecilan seperti Kakak," ucap Aisyah membuat Mentari pun mengangguk dan keduanya berlalu menuju ke parkiran, meninggalkan Azriel yang berjalan masuk menuju ke dalam lift.
Mentari pun mulai melajukan mobil milik Azriel menuju ke kantor Dewa, sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol ada rasa bahagia di hati Aisyah, ia merasa nyambung mengobrol dengan Mentari dibandingkan dengan Lucia. Walau mereka jarang mengobrol dibanding dengan ia dan juga Lucia, yang sudah akrab sejak kecil.
Begitu sampai di perusahaan Dewa, Mentari tak bisa membawa semua kue-kue tersebut, membuat Aisyah menawarkan diri untuk membantunya, keduanya pun masuk ke kantor di mana biasa Mentari meletakkan kue-kue tersebut.
Setelah memberikan kue-kue tersebut kepada orang yang biasa menerimanya, Mentari pun pulang setelah mendapat harga kuenya.
Saat akan keluar dari kantor itu ia bertemu dengan Dewa di lobby, Dewa menyapa mereka.
"Mentari, apa kamu sudah membawa kuenya?" ucap Dewa membuat Mentari pun mengangguk. Aisyah terkejut saat melihat siapa pria yang disapa oleh Mentari, ia pria yang sama yang menyelamatkannya semalam. Bahkan luka lebam di tulang pipinya masih terlihat jelas. Luka itu akibat perkelahian semalam saat menyelamatkannya.
__ADS_1