
Siang hari Abidzar dan Kanza menjemput Farah di bandara, begitu mereka datang mereka saling melepaskan rindu. Walaupun hubungan mereka dulunya banyak drama. Namun, perlahan hubungan mereka semakin baik dan semakin akrab. Farah sudah menganggap Khanza seperti adiknya sendiri begitupun sebaliknya.
Hubungan mereka semakin akrab semenjak Farah mendapatkan kabar bahagia. Ia yang dulunya mengira tak akan memiliki anak kini anaknya sudah besar dan menjadikan dirinya bahagia. Semua itu membuat ia melupakan segala lika-liku kehidupannya di masalalu. Melupakan apapun yang terjadi di masa lalu.
"Bagaimana keadaan Azriel?" tanya Farah begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil, Farah sudah tak sabar ingin melihat kondisi Azriel, walau Azriel bukanlah anak kandungnya. Namun, rasa sayangnya sama halnya dengan rasa sayangnya pada anak kandungnya sendiri.
"Azriel baik-baik saja, sekarang Lucia ada bersamanya di rumah sakit," ucap Khanza membuat Farah pun hanya mengangguk.
Mobil mereka terus melaju membelah jalan menuju ke rumah sakit, sebelum sampai ke rumah sakit mereka terlebih dahulu membeli makanan di restoran, makanan untuk makan siang mereka. Khanza tak sempat membuat makanan untuk mereka karena menjemput Farah, membuat mereka memutuskan membeli makanan untuk Azriel dan Lucia di restoran saja.
Begitu sampai di rumah sakit, Farah, Khanza dan Abidzar tak sengaja bertemu dengan Mentari.
"Mentari?" panggilkan Khanza membuat Mentari pun menghentikan langkahnya dan menyambut mereka semua dengan senyuman manisnya.
"Selamat siang, Tante, Om," jawabnya masih dengan senyumannya.
"Kamu ke sini ingin menjenguk Azriel?" tanya Khanza saat melihat kotak kue yang dibawa oleh gadis cantik itu.
"Iya, Tante. Ini tadi aku buat kue. Jadi, aku ingin membaginya dengan Azriel," ucap Mentari memperlihatkan apa yang di bawahnya.
"Membuat? Kamu membuatnya sendiri?" tanya Khanza membuat Mentari pun mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita temui Azriel sama-sama. Oh ya, kenalkan ini ibunya Azriel," ucap Khanza memperkenalkan mereka.
__ADS_1
Mentari langsung mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Farah, ia sudah mendengar dari Azriel jika ia punya dua orang ibu satu dipanggilnya mama dan satu dipanggilnya ibu.
"Selamat siang, Tante," sapa Mentari membuat Farah pun mengangguk. Kemudian mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan di mana di ruangan itu ada Azriel dan juga Lucia, sesekali Farah memperhatikan Mentari.
'Siapa gadis ini?' batinnya.
Begitu mereka membuka pintu terlihat Lucia sedang berbaring di sofa sambil bermain ponsel, sementara Azriel terlihat sedang beristirahat. Lucia yang melihat mereka semua datang langsung bangun dan menyambutnya.
"Mommy?" ucap Lucia yang langsung berlari memeluk mommynya. Namun, senyuman yang tadi menghiasi wajahnya langsung menghilang saat melihat sosok gadis di belakang mereka, ia sangat tahu siapa gadis itu, itu adalah gadis yang sama yang ada di layar ponsel Azriel dan dia tak suka akan hal itu.
"Bagaimana keadaan Azriel?" tanya Farah begitu melepaskan pelukan kepada putrinya.
"Dia baru saja minum obat dan sekarang masih tertidur," jawab Lucia dengan tatapannya masih melihat ke arah Mentari. Mentari bisa melihat tatapan tak suka dari Lucia membuat dia pun dengan canggung memberikan senyumnya. Namun, senyumannya sama sekali tak di balas oleh Lucia.
"Dia siapa?" tanya Lucia yang tak bisa menahan rasa penasarannya melihat Mentari datang bersama mereka.
"Lucia, kenalkan ini Mentari. Mentari, kenalkan ini Lucia," ucap Khanza memperkenalkan mereka membuat mereka pun saling mengulurkan tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
"Kamu temannya Azriel, ya?" tanya Lucia langsung membuat Mentari pun mengangguk.
"Ayo masuk," ucap Khanza mempersilahkan mereka masuk, Lucia langsung memasang wajah ketusnya sementara Mentari langsung meletakkan kue yang di bawahnya di samping nakas, ia bisa melihat jika Azriel sedang tertidur.
"Azriel, bangun Nak. Ibumu datang," ucap Khanza membangunkan putranya, menggoyangkan lengannya pelan. Azriel yang mendengar suara mamanya langsung membuka mata.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Farah mengusap rambut Azriel.
"Aku baik, Bu," jawabnya sambil mengucek matanya.
"Ibu kenapa repot-repot datang, pasti Ibu sedang sibuk kan di sana?" tanya Azriel yang tahu bagaimana kesibukan ibunya itu di luar negeri, ia tahu jika ibunya punya keluarga baru yang harus diurusnya.
"Apapun kesibukan ibu jika mendengarmu seperti ini tentu saja ibu bisa meninggalkan semuanya, Nak," ucap Farah membuat Azriel pun hanya mengangguk, ia sangat tahu bagaimana ibunya itu juga menyayanginya.
"Mentari, kamu datang?" ucap Azriel melihat Mentari membuat Mentari hanya tersenyum canggung.
"Aku bawakan kue, tadi aku membuatnya dan mengingatmu," jawabnya lirih, dia bisa melihat jika wanita yang bernama Farah itu, ibu dari Azriel juga membawa kue dan terlihat jelas jika kue miliknya tak ada apa-apanya dibanding dengan milik Farah.
"Pasti rasanya sangat enak," ucap Azriel membuat Khanza yang berada dekat dengan kotak kue yang di bawah oleh Mentari pun langsung memberikan kue itu pada putranya.
"Kuenya rasanya enak, seperti biasa," puji Azriel membuat Mentari merasa senang saat mendengar pujian tersebut.
"Ini kue apa? Tampilannya sama sekali nggak menarik, pasti radanya juga tak enak," ucap Lucia membuat senyum Mentari langsung menghilang. Lucia mengambil satu potong kue kemudian mencicipinya.
"Benar kan rasanya tak enak," ucap Lucia yang menyimpan kembali kue itu setelah menggigit satu gigitan, ia bahkan mengambil tisu dan membuang kue yang ada di mulutnya dan mengambil kue yang dibawa oleh ibunya.
"Ini jauh lebih enak," ucapnya memakan satu gigitan besar kue milik ibunya.
Farah memang sengaja membeli kue itu khusus untuk Azriel dari luar negeri, kue kesukaan Azriel.
__ADS_1