
Azriel yang baru tiba di kantor terkejut saat melihat seseorang yang mencurigakan mengikuti Lucia, begitu Lucia sudah masuk ke mobil dan pergi dari kantor, ada dua orang yang juga mengikutinya dengan mobil mereka. Azriel yang khawatir kemudian mengikuti mobil tersebut.
Sepertinya Lucia tahu jika ada yang membututinyanya, terlihat Lucia melajukan mobilnya dengan cukup kencang diikuti oleh mobil tadi yang juga menambah kelajuannya yang semakin laju. Melihat hal itu Azriel semakin khawatir dan yakin jika ada yang tak beres dengan apa yang dilihatnya. Ia juga ikut melajukan mobilnya mengejar mobil Lucia, ia mencoba menghubungi nomor Lucia. Namun, nomornya tak aktif.
"Lucia, mengapa kamu tak mengaktifkan ponselmu disaat seperti ini," kesal Azriel melempar ponselnya di jok samping kemudian menambah kelajuan mobilnya.
Azriel menghentikan mobilnya saat ia kehilangan jejak mereka, saat mobil Lucia masuk ke dalam sebuah gang begitupun dengan mobil yang mengikutinya tadi.
Azriel kembali terus menghubungi nomor ponsel Lucia sambil melajukan mobilnya kembali, ia mencoba berputar-putar di area tersebut mencari mobil Lucia.
Tiba-tiba nomor ponsel Lucia terhubung dan terdengar suara Lucia di seberang sana.
"Tolong aku, seperti seseorang mengikutiku," ucap Lucia terdengar suara kepanikan dari nada suaranya.
"Iya, aku tahu tadi aku mengikutimu. Katakan kamu di jalan mana? Aku kehilangan jejakmu,"
"Aku di jalan X dan aku akan menuju ke jalan raya, cepatlah tolong aku. Aku takut jika mereka sampai bisa mengejarku," ucap Lucia masih di tengah kepanikannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di jalan raya, depan jalan x," ucap Azriel kemudian ia pun segera memutar balik arah mobilnya dan menuju ke tempat yang dikatakan tersebut, sementara itu Lucia tersenyum dengan puas setelah mematikan panggilannya. Rencananya berhasil.
Lucia pun melajukan mobilnya dengan perlahan dengan satu mobil yang mengikutinya di belakang, di mana mobil itu adalah mobil orang yang bekerjasama dengannya.
Bukannya melajukan mobilnya ke arah yang diberitahu oleh Azriel. Ia malah melajukan mobilnya ke sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, begitu ia sampai di sana ia pun menyiapkan semuanya untuk menyambut Azriel. Ia akan menjebak Azriel malam ini juga agar bisa menggagalkan pernikahannya dengan Mentari besok. Malam ini adalah kesempatan terakhirnya, jika Azriel melakukan sesuatu padanya pasti kedua orang tuanya tak akan tinggal diam dan tak membiarkan Azriel menikah dengan Mentari, bukan hanya kedua orang tuanya saja, orangtua Azriel juga pasti memaksa putranya untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan padanya.
Lucia tertawa terbahak-bahak begitu ia sudah masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkannya, ia akan memberikan tubuhnya untuk Azriel jika memang itu bisa membuat ia memiliki pria yang dicintainya itu untuk selamanya.
__ADS_1
Ia tak peduli jika nantinya Azriel tak akan menerimanya dan masih mencintai Mentari, ia akan memikirkan cara agar Azriel bisa menerimnya. Yang terpenting sekarang Azriel tak boleh menikah dengan Mentari.
Ia sudah mengatur semuanya sedemikian rupa agar semua itu seolah-olah bukanlah rencana yang telah disusunnya. Biarlah semua orang tahu jika itu adalah sebuah kecelakaan tindakan kejahatan yang menimpanya.
****
Azriel sudah menunggu di tempat yang dijanjikannya, ia sudah menunggu sejak tadi. Namun, tak ada tanda-tanda jika Lucia akan datang. Membuat ia pun berbelok ke arah jalan yang dikatakan oleh Lucia. Namun, setelah beberapa lama berkendara ia tak juga menemukan mobil Lucia hingga samar-samar ia melihat ada sebuah mobil yang melaju ke arah lain di tengah kegelapan dan mobil itu terlihat melaju cukup kencang, membuat Azriel berpikir jika itu adalah mobil mereka. Tanpa ia ketahui itu adalah jebakan yang sengaja memancingnya untuk ke tempat tersebut.
Azriel kembali melajukan mobilnya mengikuti kedua mobil itu hingga ia sampai ke sebuah tempat yang jauh dari pemukuman warga, ia bahkan melewati jalan yang sangat sepi hampir mirip dengan sebuah hutan hingga ia sampai di sebuah rumah berlantai dua di tengah hutan tersebut. Azriel bisa melihat jika mobil yang diikutinya tadi masuk ke tempat tersebut. Azriel pun keluar dari mobilnya dan melihat ke dalam pekarangan rumah tersebut, ia bisa melihat mobil Lucia di sana.
Azriel yang khawatir jika Lucia tengah disekap memutuskan untuk mencari jalan masuk dengan mengendap-ngendap ke rumah tersebut dan sampailah ia ke dalam rumah itu melewati pintu belakang.
"Ia sudah masuk ke dalam rumah ini," lapor seseorang begitu ia tahu jika Azriel sudah masuk. Pergerakan Azriel sejak tadi diawasi oleh mereka semua dari kamera CCTV yang terpasang di dalam rumah tersebut membuat mereka pun melanjutkan aksi mereka.
Lucia sengaja diikat di sebuah kursi dengan pakaian yang yang seksi dan di kamar itu juga terdapat beberapa kamera seolah-olah itu adalah set untuk melakukan shooting adegan dewasa. Ada beberapa kamera di dalam ruangan tersebut. Mulut Lucia juga dibekap dengan lakban agar Azriel lebih yakin jika Lucia benar-benar disekap di ruangan tersebut oleh mereka semua.
Azriel masuk lebih dalam dan dia bisa melihat beberapa orang di sana sedang meminum minuman alkohol dan tertawa, mereka juga membahas jika mereka mendapatkan wanita yang cantik dan pasti akan mendapatkan uang banyak dari wanita itu.
Azriel terus mendengar pembicaraan mereka dan ia bisa tahu jika Lucia sedang disikap di salah satu kamar dari pembicaraan mereka. Membuat Azriel pun mengendap-endap masuk ke dalam kamar tersebut untuk menyelamatkan Lucia.
Begitu membuka salah satu ruangan, benar saja Lucia ada di sana. Lucia terikat dengan mulut yang dibekap, Lucia terus merontak dan saat melihat Azriel datang.
"Tenanglah, aku akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Azriel membuat Lucia pun mengangguk. Dengan cepat Azriel membuka lakban yang menutupi mulut Lucia kemudian ia mencoba membuka tali yang mengikat kedua tangannya di kursi.
"Aku takut, cepat keluarkan aku dari sini. Mereka ingin melakukan hal yang tidak-tidak denganku, aku tak mau, aku takut. Ayo bawa aku keluar dari sini," gumam Lucia dengan air mata buayanya, ia sangat pandai berakting hingga siapapun tak akan tahu jika air mata itu hanyalah sebuah akting untuk memperdalam peranannya dan agar membuat Azriel benar-benar percaya jika dia sedang dalam bahaya.
__ADS_1
"Iya, tenanglah. Aku pasti akan menyelamatkanmu dari sini. Jangan takut aku ada di sini," ucapnya baru. Baru saja Azriel melepaskan satu ikatan tangan Lucia, tiba-tiba pintu terbuka.
"Hai, siapa kamu!" teriak seseorang, Azriel langsung berdiri dan bersiap untuk melawan dua orang yang baru masuk. Perkelahian pun terjadi di kamar itu, 2 lawan 1. Azriel awalnya memenangkan pertarungan mereka. Namun, 3 orang lainnya yang tadi juga ada di bawah ikut naik dan salah satu dari mereka memukul Azriel dari belakang dengan tongkatnya. Azriel yang meresakan sakit di kepalanya berbalik menatap orang tersebut yang memegang tongkat baseball. Azriel ingin membalas, ia kembali ingin melangkah menghajar orang itu. Namun, orang itu kembali mengayunkan tongkatnya dan mengenai kepala Azriel. Azriel terjatuh di lantai, penglihatannya menggelap, ia bisa merasakan darah menetes dari kepalanya dan ia pun pingsan.
"Hei, apa yang kamu lakukan!" bentak Lucia saat melihat kepala Azriel berdarah dan juga tak sadarkan diri, mereka semua saling pandang, semuqla itu tak ada dalam rencana mereka untuk menyakiti Azriel sampai seperti itu.
"Apa dia pingsan?" tanya Lucia membuat salah satu dari mereka langsung memeriksanya.
"Iya, sepertinya dia hanya pingsan. Bagaimana ini?" tanya yang lainnya.
"Tenang saja, itu hanya luka ringan. Cepat angkat dia ke tempat tidur, anggap saja ini bagian dari rencana," ucap orang yang merupakan pemimpin dari komplotan itu.
"Apa kamu yakin dia takkan mati?" tanya Lucia yang khawatir melihat kondisi Azriel.
"Tenang saja, semua pasti akan sesuai dengan rencana kita. Semakin ada yang terluka semakin semua ini seolah nyata di mata orang lain, tak akan ada yang tau jika ini hanya rencana kita. Ayo cepat bawa dia ke tempat tidur sebelum dia sadar dan suntikan obat itu padanya."
Mereka pun menggendong Azriel untuk naik ke tempat tidur, beberapa dari mereka kini mulai membuka pakaian Azriel dan hanya menyisakan bagian dalaman bawahnya saja.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" ucap Lucia saat salah satu dari mereka juga ingin menyuntikkan obat yang sama yang disuntikkan kepada Azriel, dimana obat itu adalah obat yang membangkitkan gairah.
"Kamu juga harus disuntik dengan obat ini padamu cantik, dengan begitu semua akan semakin nyata. Tenang saja, rencana kamu pasti berhasil, pria ini pasti akan menyentuhmu dan kamu akan mendapatkan bukti agar menyudutkannya?"
"Iya, tapi aku tak usah disuntik."
"Jika kamu tak di suntik bisa saja mereka tahu jika kamu memang menginginkan pria ini menyentuhmu, bukan hanya kamu yang akan dalam bahaya jika semua ini ketahuan, tapi kami juga akan dalam bahaya. Jadi, menurut saja," ucap orang tersebut dan langsung menyuntikkan suntikan obat itu ke paha Lucia, di mana tangan satu Lucia masih terikat membuat Lucia tak bisa mengelak dan hanya bisa menerima suntikan tersebut.
__ADS_1
"Tenang saja, kami akan memastikan tak ada yang mengganggu kalian dan membiarkan kameranya merekam apa yang kalian lakukan. Jangan takut, semua pasti akan berhasil sesuia rencana kita. Percayakan semua pada kami," ucap orang tersebut pada Lucia yang terlihat sudah mulai terpengaruh obat tadi. Kemudian mereka pun keluar dari kamar itu setelah Lucia pingsan. Setelah membaringkan Lucia di samping Azriel, keduanya kini sama-sama tak sadar. Mereka hanya tinggal menunggu obatnya bereaksi dan mereka akan mendapatkan video yang bisa mereka jadikan uang dan juga bayaran dari Lucia tentunya. Mareka akan mendapatkan keuntungan dobel.