Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Keputusan Akhir Khanza.


__ADS_3

Abizar berangkat ke kantor, sedangkan Khanza kembali mengurung diri di kamar bersama dengan beberapa koper yang sudah disiapkannya.


"Semoga saja keputusan yang kuambil tepat dan hatiku kuat untuk berpisah dengan kak Abi, tapi mengapa semakin aku ingin berpisah dengannya semakin sakit dan hatiku semakin merasa tak rela berpisah dengan kak Abi," batin Khanza merasa bimbang dengan keputusan yang diambil..


Khanza masih sangat labil dalam mengambil keputusan, apakah ia harus meninggalnya Abizar atau menerima status. Khanza ingin meminta pendapat sahabatnya agar lebih memantapkan pilihannya, Ia pun menelpon Aqila.


Nada sambung terhubung. Namun, Aqila tak mengangkat panggilannya.


"Sepertinya Aqila masih sibuk di kantor, iri banget sama dia," ucapnya menatap layar ponselnya yang tertera nomor ponsel Aqila. "Aqilah masih bisa bebas, masih bisa menikmati hidupnya, bertemu dengan teman-teman di kantor, sedangkan aku hanya diam di kamar dan meratapi nasib pernikahanku yang entah seperti apa kedepannya. Apa aku salah menikah terlalu cepat, ya! Seharusnya aku menyelidiki lebih dalam lagi tentang kehidupan pribadi kak Abi sebelum menerima lamarannya, lagian kenapa sih, mbak Farah ga memperkenalkan diri jika dia adalah istri dari seorang Abizar. Memberitahu setidaknya pada karyawan kantor, suaminya 'kan tampan, ga takut apa di ambil orang. Aku kan jadi seperti wanita yang merayu suami orang," lirih Khanza.


"Tapi, Kak Abi juga ga pernah memperkenalkan ku dengan orang Kantor. Kenapa semua ini harus terjadi kepadaku di saat aku benar-benar mencintai seseorang, ingin bahagia justru aku merasakan sakit yang seperti ini," ucap Khanza menghela nafasnya dalam. "Sudahlah semua sudah terjadi, mau menyesal juga tak ada gunanya, itu tak akan merubah keadaan walau aku terus menangisi nasibku. Baiklah, aku harus kuat, aku harus tetapkan pendirianku. Jika kak Abi memang jodohku pasti Kami akan dipertemukan dan disatukan kembali apapun caranya," ucap Khanza kemudian bergegas menyeret kopernya keluar.


"Wah, wah, wah … mau kemana princess kita kali ini!" ucap Santi yang melihat Khanza keluar kamar sambil menarik kopernya.


Khanza malas meladeni Santi, jika meladeninya Khanza yakin hanya akan membuatnya pusing, ia harus mendengar semua hinaan dari nya, yang ia Sendiri tak merasa melakukan kesalahan.


Khanza memilih melengos pergi menyeret kopernya hingga ke teras rumah meninggalkan Santi yang semakin kesal padanya.


"Mengoceh lah sendiri," gumam Khanza masa bodoh.


"Ibu mau kemana? Biar saya bantu, Bu," tawar asisten rumah tangga.


"Iya, Bi. Dikamar masih ada 2 koper lagi, tolong dibawa ke mobil ya," ucap Khanza yang masih berusaha menyeret kopernya menuju ke garasi mobil.


"Khanza, sebentar. Biar aku bantu," ucap Farah sedikit berlari menuju ke arah Khanza dan mengambil koper tersebut.


"Makasih Mbak,"ucap Khanza.


"Khanza, Mbak mohon anggap Mbak ini sebagai kakak kamu, jangan lihat Mbak sebagai madumu. Mbak tahu, mbak salah. Mbak mohon sedikit maaf darimu," ucap FarahΒ tulus.


Khanza hanya mengangguk dan berjalan menuju ke arah mobil disusul oleh Farah yang menarik kopernya dan Bibi yang menyeret dua koper besar.


"Khanza, kamu mau kan maafin Mbak?" Mohon Farah.


"Iya, aku sudah maafin Mbak. Mas Abi benar, semua sudah terjadi tak ada yang harus disesalkan."

__ADS_1


"Kita bisa memperbaiki hubungan kita, kita bisa menjadi istri mas Abi dan saling berbagi."


"Mungkin Mbak bisa menerima semua ini walau sakit, tapi aku tak sekuat itu," ucap Khanza berbalik kembali merapikan barangnya di bagasi mobil.


"Apa maksud kamu?" tanya Farah menarik lengan Khanza sehingga berbalik menghadapnya.


"Bukan apa-apa, Mbak," kata Khanza melepas tangan Farah dari lengannya.


"Koper Siapa ini?" tanya Warda yang baru datang dan turun dari taksi.


"Ini koper Khanza, Mah," ucap Khanza.


"Kamu mau kemana bawa koper sebanyak ini?" tanya Warda lagi.


"Aku ingin pulang kampung, kangen sama kakek dan nenek," sahut Khanza.


"Tapi 'kan, kamu lagi hamil. Apa kamu bisa melakukan perjalanan jauh, kampung nenek kamu jauh loh," ucap Warda menghampiri menantunya.


"Iya, Dek. Menurut Mbak, kalian kesana setelah melahirkan saja. Takutnya terjadi sesuatu dengan kandungan kamu saat di jalan nanti," ujar Farah Khawatir.


"Nggak apa-apa, Kok. Mah, Mbak. Kemarin aku sudah ke dokter bersama kak Abi, kak Abi juga sudah mengijinkan dan akan ikut bersamaku," jelas Khanza.


"Iya, Mah. Kalau masalah itu aku paham kok, aku akan berusaha merawat cucu mama," ucap Khanza tersenyum sambil mengelus perutnya.


Mereka masih berbincang-bincan dan tak lama datanglah Abizar.


"Bagaimana, apa barang-barang kamu sudah siap?" tanya abizar menghampiri mereka.


"Iya, Kak. Semuanya sudah ada di mobil, cuman tas Kakak aja yang belum ada," ucap Khanza.


Abizar melihat pada Farah.Β 


"Bentar, Mas. Aku ambilkan dulu," sahut Farah bergegas masuk ke dalam rumah.


"Kita berangkat satu jam lagi, kita masih punya waktu sebaiknya kita istirahat dulu di dalam," ucap Abizar merangkul Khanza untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Farah kembali meminta Bibi untuk membawa tas Abizar ke mobil.


Abizar membawa Khanza ke ruang tengah di mana semua berkumpul di sana.


"Berapa lama kalian akan tinggal di kampung?" tanya Warda.


"Paling lama seminggu, Mah," jawab Abizar.


"Maaf, Mas. Sepertinya aku akan lebih lama tinggal di kampung," batin Khanza.


Farah mengeluarkan beberapa kotak makanan yang sudah disiapkannya sedari pagi.


"Ini aku buatkan bekal saat kalian di jalan," kata Farah memberikannya padaΒ  Khanza.


"Makasih ya, Mak," kata Khanza menerima bekal tersebut.


"Aku harap dia bisa mengingat semua kebaikanmu, dan tak menjadi duri dalam daging, dan mengambil semua apa yang menjadi milikmu," celetuk Santi berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan mereka. Rasa bencinya pada Khanza semakin menjadi, melihat Abizar yang akhir-akhir ini lebih mementingkan Khanza dibanding Farah, putrinya.


Walau Santi hanya bergumam pelan, tapi mereka semua dapat mendengar apa yang diucapkan Santi.


Warda melihat Santi yang berjalan menjauhi mereka dengan tatapan tak suka. Sejak Khanza mengandung cucunya rasa kesalnya pada Khanza berubah menjadi rasa sayang dan simpatik.


Abizar dan Fatah saling tatap dan menatap Khanza secara bersamaan.


"Kalian tak usah khawatir aku tersinggung, aku sudah sering mendengar hinaan lebih buruk lagi dari ini yang dikatakan nya untuk ku," batin Khanza. Selama ini Santi terus saja menghinanya menganggapnya sebagai wanita perebut suami orang.


"Aku tak apa, jangan melihat ku seperti itu. Aku tak butuh tatapan kasihan dari Kalian," ucap Khanza memilih juga meninggalkan ruangan itu, memilih beranjak ke kamarnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like, vote dan komennya πŸ™


Salam dariku Author m anha ❀️

__ADS_1


love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2