
Setelah meninggalkan pusat kesehatan, Angelina terus berpikir sambil melangkahkan kakinya menuju apartemennya.
Begitu tiba di apartemennya, perempuan itu langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat lalu mengeringkan rambutnya.
Sembari mengeringkan rambutnya, Angelina melihat pantulan dirinya di cermin.
"Astaga,, aku tidak mungkin mengandung anak pria itu. Semoga saja bukan....!" Ucap Angelina sembari menggertakan giginya.
Sedikitpun dia tidak sudi mengandung anak dari pria yang telah menyiksanya dengan kejam.
Dia tidak mau terikat dengan pria itu seperti yang dialami oleh kakaknya hingga kakaknya akhirnya meninggal sembari membawa calon keponakannya.
Cukup lama Angelina mengeringkan rambutnya lalu perempuan itu tidur dan terbangun di keesokan harinya.
Angelina langsung bersiap-siap untuk berangkat ke dokter kandungan.
"Hei,, kau mau kemana?" Hendra menghalangi jalan Angelina saat perempuan itu baru saja membuka pintu apartemennya untuk pergi ke dokter.
__ADS_1
Angelina menghela nafas melihat Hendra, "Kenapa kau di sini lagi? Apakah kau tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?" Tanya Angelina dengan kesal.
"Oh,, Pagi ini aku akan mengantarmu ke gedung latihan sebelum berangkat ke kantor. Kau tahu kan, aku ini adalah pria yang baik pada kekasihnya." Ucap Hendra membuat Angelina menghela nafas lalu mereka berdua berjalan beriringan ke dalam lift.
Meski dia tidak menyukai Hendra, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah pria itu terus mengganggunya karena pria itu jauh lebih berkuasa darinya.
Dan yang paling, penting saat ini dia masih membutuhkan Hendra untuk melindunginya dari You.
Setidaknya sampai dia memiliki kekuatan untuk kembali membalaskan dendamnya.
"Apakah kemarin kau terluka lagi? Aku dengar seseorang melihatmu pergi ke pusat kesehatan. Bagian mana yang sakit?" Tanya Hendra sembari mengamati tubuh perempuan itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ah,, kalau begitu, aku akan menyuruh asistenku untuk menyiapkan beberapa suplemen terbaik untukmu." Ucap Hendra tersenyum.
Ting!
Akhirnya mereka tiba di lobby lalu keduanya menaiki mobil Hendra menuju pusat pelatihan.
__ADS_1
"Oya, nanti malam aku akan ke rumahmu untuk makan malam." Ucap Hendra ketika mobil sudah berhenti dan Angelina hendak membuka pintu mobil.
"Aku berlatih sampai larut malam. Jadi Jangan menggangguku untuk beberapa waktu ini." Ucap Angelina membuka pintu mobil lalu tanpa menunggu pria itu menjawab, dia segera meninggalkan mobil Hendra.
Hendra memperhatikan kepergian perempuan itu lalu melihat pada sang asistennya, "Bukankah dia terlihat aneh?" Tanya Hendra.
"Ya, sedikit." Jawab sama asisten yang tidak mau mengatakan isi hati yang sebenarnya.
Dia sudah melihat setiap kali dua orang itu berinteraksi, Angelina selalu ketus pada Hendra, tetapi Tuan Bosnya selalu saja memaksa Angelina untuk terus berinteraksi dengannya.
"Benar 'kan, sepertinya dia mulai menyukaiku, tetapi terlalu malu untuk mengatakannya." Ucap Hendra hampir saja membuat sangat supir dan sang asistennya muntah darah di tempat.
Jelas-jelas Angelina terlihat menghindarinya, malah pria itu berpikir sebaliknya.
'Astaga,, seandainya saja aku bisa berkata jujur,' pikir asisten dalam hatinya sembari memandang keluar jendela.
Sementara Hendra, pria itu menyandarkan punggungnya sembari mengukir senyum indah di bibirnya.
__ADS_1
'Menurut buku yang kubaca, jika perempuan tiba-tiba menghindar dan bersikap aneh, maka bisa jadi perempuan itu sedang menyimpan perasaan pada orang yang ia hindari.' ucap Hendra dalam hati kembali mengingat tulisan yang ada di buku.
Tapi pria itu tidak memperdulikan kata 'mungkin' yang tertulis di buku, karena saat ini, fokusnya hanya pada hal baik yang tertulis di buku.