
Mengandalkan alamat yang ia ketahui, Angelina turun dan memandang jalan masuk ke kampung kumuh.
"Orang asing dilarang masuk," Angelina membaca sebuah spanduk yang diletakkan di pintu masuk kampung kumuh.
"Hei,, apa kau orang baru di sini?" Seorang remaja perempuan berumur belasan tahun mendekati Angelina saat melihat Angelina cukup lama memperhatikan spanduk yang terpasang di pintu masuk kampung kumuh.
"Ah, ya,, aku datang untuk mencari kontrakan milik kakakku," ucap Angelina pada remaja perempuan yang terlihat ramah.
"Begitu ya, siapa nama kakakmu?" Tanya remaja itu.
"Namanya Stella," jawab Angelina tanpa mau mengucapkan marga kakaknya karena dulu ketika dia menelpon kakaknya, kakaknya pernah bilang bahwa tidak ada satupun orang di kota yang mengetahui marganya.
Perempuan remaja itu tertegun beberapa detik lalu berkata, "Stella, itu nama pasaran di tempat ini, ada banyak orang yang menghuni kampung kumuh dengan nama Stella."
Angelina mengangguk, 'Benar, nama Stella adalah nama yang pasaran, Mungkinkah perempuan yang dimaksud You hanya kebetulan memiliki nama yang sama dengan kakak?
'Tapi tulisan tangan pada figura itu tidak mungkin hanya kebetulan.' pikir Angelina yang merasa bahwa jika hanya ada satu hal yang kebetulan maka itu masih wajar namun sekarang ada dua hal yang mirip.
Tulisan tangan kakaknya dan nama kakaknya.
"Oya, namamu siapa?" Tanya Angelina pada perempuan remaja yang berbicara dengannya.
"Ah,, Kebetulan sekali namaku juga Stella, Stella Kimdar." Jawab peempuan itu sambil melemparkan senyumnya pada Angelina.
__ADS_1
"Begitu ya.. namaku Angelina. Senang bertemu denganmu." Ucap Angelina menepuk bahu Stela.
"Ya, senang juga bertemu denganmu," jawab Stella.
"Aku harus pergi sekarang karena waktuku tidak banyak." Ucap Angelina melambaikan tangannya pada Stella sembari melangkah memasuki kampung kumuh.
Stella memperhatikan kepergian Angelina 'Tidak ada satupun perempuan bernama Stella yang mengontrak di kampung kumuh. Sepertinya dia berbohong,,' pikir remaja itu.
Setiap langkah yang diambil Angelina seperti diawasi oleh seseorang, tapi perempuan itu tidak melihat siapapun yang mencurigakan di sekitarnya, jadi dia mengabaikannya dan terus memasuki kampung sembari melihat nomor-nomor yang diletakkan di rumah-rumah yang ia lewati.
'Ini sama persis dengan yang dikatakan oleh kakak, rumah-rumah yang ada di sini adalah bangunan-bangunan tua yang tidak pernah di dekorasi ulang.' pikir Angelina melihat bangunan-bangunan tua di sisi kanan kiri jalan yang ia lewati.
'Kontrakan Kakak berada di lorong 7,' Angelina memperhatikan tanda pada lorong dan melihat dia sudah tiba di lorong 8.
Perempuan itu kembali melihat ke belakangnya dan melihat lorong 6.
Sembari berpikir memandangi papan lorong 6, tiba-tiba beberapa kelompok pria mendekati Angelina.
"Hei perempuan,, kau orang baru di sini?" Salah satu dari mereka bertanya pada Angelina sembari mengamati Angelina dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Angelina tersenyum, "Ah, ya, aku datang untuk mencari kontrakan kakakku, dia bilang kontrakannya ada di lorong 7. Dapatkah kalian memberitahuku di mana letak lorong 7?" Tanya Angelina.
Wajah kelima pria yang ada di depan Angelina langsung tampak aneh ketika mereka mendengar nama lorong 7.
__ADS_1
Hal itu membuat Angelina merasa aneh lalu kembali berkata, "Kalau kalian tidak tahu, aku akan mencarinya sendiri." Ucap Angelina berbalik untuk meninggalkan kelima pria itu ketika salah satu dari pria itu kembali berbicara pada Angelina.
"Siapa kau?!" Tanyanya.
Angelina menghela nafas menyadari dirinya dalam bahaya sebab dia bisa membaca wajah pria tadi benar-benar tampak hati-hati.
Perempuan itu dengan perlahan berbalik menatap kelima pria yang tampak waspada di depannya.
"Aku hanya seorang pendatang yang ingin melihat kontrakan kakakku." Ucap Angelina.
"Hanya seorang pendatang?!" Pria dengan tubuh gemuk mendekat ke arah Angelina bersamaan dengan tatapan pria itu meniti wajah Angelina.
"Kau yakin kau hanya datang untuk mencari kontrakan kakakmu?" Tanya pria itu dengan suara menekan.
"Uh,, ya, kakakku benama Stella." Jawab Angelina.
"Apa marganya?" Pria gemuk itu kembali bertanya.
Angelina langsung mengingat perkataan gadis perempuan yang ia temui tadi bahwa nama Stella sangat familiar di tempat itu.
"Dia tidak punya marga, namanya hanya Stella." Jawab Angelina.
Seorang pria lain mendekati Angelina lalu berkata, "Di sini tidak ada perempuan bernama Stella yang tidak memiliki marga. Sepertinya kau seorang penyusup yang hendak memata-matai kami!"
__ADS_1
"Ah,, kalian salah paham, kakakku adalah--"
"Kau ingin mencari pembelaan? Mimpi saja!! Bawa dia ke markas!!" Seru pria dengan tubuh gemuk lalu beberapa temannya langsung mengepung Angelina dan mengawal Angelina pergi.