
Sampai larut malam Hendra meletakkan majalahnya saat melihat perempuan di atas ranjang masih tertidur dengan pulas.
"Apakah dia tidak lapar?" Hendra mendekati Angelina lalu melihat perempuan itu bernafas dengan teratur.
Terlihat sangat lelap dalam tidurnya.
'Hah,, padahal dia belum makan malam.' ucap Hendra dalam hati sembari menghela nafas dan berbalik meninggalkan kamar Loren.
Pria itu kembali tidur di kamarnya, pada pagi hari dia kembali mengetuk pintu kamar Angelina.
Tok tok tok...
Angelina yang sedang berbaring malas di tempat tidur mendengar ketukan pintu itu, tetapi dia berpura-pura tidak mendengar dan kembali memeluk bantal.
'Dasar sialan!! Memangnya dia pikir dia siapa sehingga berhak untuk mengurungku di rumahnya?' Garutu Angelina dalam hati sembari menahan rasa laparnya.
Tak berapa lama, Angelina merasakan pintu yang dibuka dari luar.
Perempuan itu langsung duduk lalu melihat Hendra memasuki kamarnya.
"Sialan!! Kau menyimpan kunci kamarku!!!" Langsung teriak Angelina pada Hendra sebab dia sangat marah dengan kelakuan pria itu.
Hendra tidak memperdulikan teriakan Angelina, dia hanya mendekati perempuan itu lalu berkata, "Ini rumahku Jadi setiap ruangan di rumah ini harus--"
"Bagus!! Kau memang orang yang sesuka hati!! Jadi terserah saja Apa katamu!!" Ucap Angelina lalu kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hendra menghela nafas menghadapi Angelina yang sedang merajuk, tetapi pria itu juga menyadari bahwa dia telah salah, sebab Angelina adalah seorang perempuan dan dia adalah seorang lelaki, lalu dia menyimpan kunci serep kamar perempuan itu.
"Aku akan memberikan kunci ini padamu, tapi sebelum itu kita harus sarapan, kemarin malam saja kau tidak bangun makan malam." Ucap Hendra tanpa ada jawaban dari Angelina.
__ADS_1
"Apa kau mendengarku?" Tanya Hendra.
Hening.
Hening.
Hening.
Hendra kembali menghela nafas melihat perempuan yang tak mau berbicara dengannya, pria itu meletakkan kunci di atas nakas lalu keluar dari kamar Angelina.
Merasakan langkah kaki yang menjauh, Angelina membuka selimutnya lalu menghirup nafas dengan rakus.
'Hah,, Pengap sekali!!' Gerutu Angelina dalam hati lalu turun dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah membereskan rutinitas paginya, Angelina kembali naik ke tempat tidur lalu membungkus tubuhnya dengan selimut.
Tok tok tok...
"Aku membawa sarapan untukmu." Terdengar suara Hendra dari luar.
'Oh,' Angelina berucap dalam hati sembari mempererat membungkus tubuhnya dengan selimut.
'Pokoknya, aku harus mogok makan agar pria itu mau membebaskanku keluar dari rumah ini. Memangnya dia pikir aku ini hewan peliharaan? Bisa diperlakukan seenaknya?' kesal Angelina dalam hati sembari memejamkan matanya.
"Aku masuk," terdengar suara Hendra dari luar lalu suara pintu dibuka dan diikuti langkah kaki yang mendekat ke arah Angelina.
Hendra memandangi perempuan di atas ranjang dengan gigi-gigi terkatup erat.
'Apakah dia sangat marah sampai tidak mau makan?' pikir Hendra yang bisa menebak bahwa perempuan itu pasti sudah sangat lapar tapi malah menahan laparnya.
__ADS_1
"Kau mau makan sendiri atau aku yang akan menyuapimu?" Tanya Hendra pada perempuan di balik selimut.
Tetapi, Angelina sama sekali tidak menjawab, jadi pria itu meletakkan nampan di atas meja dan menyibak selimut Angelina.
Terlihat perempuan itu memenjamkan matanya dengan nafas teratur.
Kruyuk.....
Tiba-tiba suara perut Angelina membuat Hendra tersenyum.
"Hei bangunlah," kata Hendra menepuk bahu Angelina.
'Ah sial!! Kenapa perutku sama sekali tidak bisa diajak kerja sama?' Gerutu Angelina dalam hati terus berpura-pura tidur.
Hendra menghela nafas, "Aku akan menghitung sampai 3 kalau kau masih terus berpura-pura tidur maka aku akan memaksamu untuk makan. 1, 2, 3!"
Angelina sama sekali tidak bergeming jadi Hendra menarik bantal yang mengalas kepala Angelina.
"Kau tidak mau duduk sendiri atau aku yang akan menarikmu--"
"Sialan!! Tidak bisakah kau membiarkanku tidur dengan tenang?!" Gerutu Angelina yang merasa sangat kesal pada Hendra
"Bangunlah," ucap Hendra menahan emosinya.
"Aku tidak mau makan!!" Bentak Angelina sembari menarik bantal untuk mengalas kepalanya lalu perempuan itu kembali memejamkan matanya.
'Pokoknya, aku harus menggunakan acara mogok makan ini untuk membuat pria itu mengalah dan membiarkan aku keluar dari rumah sialan ini!!' pikir Angelina dalam hati.
Hal itu membuat Hendra merasa sangat marah karena dia sudah berusaha menahan kemarahannya tetapi perempuan itu sama sekali tidak menghargainya
__ADS_1