Budak Ranjang Tuan Muda You

Budak Ranjang Tuan Muda You
232. Pilihan mana yang terbaik?


__ADS_3

Pagi-pagi benar, Nyonya Jenkins telah bangun lalu menelepon putranya.


Tetapi seberapa kali pria itu menelpon nomor You, tetap saja tidak aktif, seolah pria itu memang sengaja menonaktifkan ponselnya agar tidak diganggu.


Suara dering ponsel yang terus berbunyi di dalam kamar membuat Tuan Jenkins akhirnya bangun dan menatap istrinya yang sedang cemas di depan meja rias.


"Astaga,, Kenapa Putraku tidak mengangkat telpon ku?" Ucap Nyonya Jenkins yang sangat cemas terhadap putranya.


"Jangan berisik di situ, cepat kau bersiap karena kita akan pergi ke kediaman keluarga Firdani!" Ucap Tuan Jenkins sembari turun dari tempat tidur lalu pria itu pergi ruang makan untuk minum kopi.


Sementara Nyonya Jenkins yang masih berada dalam kamar, perempuan itu meletakkan ponselnya lalu segera memasuki kamar mandi untuk bersiap-siap.


Setelah 1 jam, kedua orang itu lalu menaiki mobil dan berkendara ke kediaman keluarga Firdani.


Sementara dalam perjalanan, Nyonya Jenkins terus menghubungi putranya dan akhirnya, 10 menit sebelum mereka tiba di kediaman keluarga Firdani, maka panggilannya diangkat oleh putranya.

__ADS_1


"Ibu," ucap pria dari seberang telepon.


"Astaga putraku!!" Nyonya Jenkins bersorak dengan sangat senang lalu kembali berkata, "dari kemarin ibu menelponmu, tapi ponselmu selalu tidak aktif!! Apa kau baik-baik saja?"


"Iya Bu, saat ini kami akan sarapan, jadi aku akan menutup teleponnya," kata You dari seberang telepon membuat Nyonya Jenkins langsung tersentak.


"Tunggu!!!" Seru Nyonya Jenkins membuat pria di seberang telepon tidak jadi menutup panggilan teleponnya.


"Ada apa lagi Bu?" Tanya You.


"Itu,, Sherin sangat terpukul atas kejadian kemarin jadi--"


Tut tut tut......


Nyonya Jenkins sebelum sempat berkata apapun lagi ketika panggilan telepon itu telah diputuskan.

__ADS_1


Bahkan, ketika dia kembali melakukan panggilan telepon, maka nomor You juga sudah berada di luar jangkauan.


Tuan Jenkins yang duduk di samping mendengarkan percakapan itu langsung teringat akan masa mudanya 'dulu, saat itu aku juga mengatakan hal tersebut pada orang tuaku, tapi mereka tetap memaksaku untuk menikah bersama dengan perempuan pilihan mereka.


'Dan bahkan aku tidak punya keberanian untuk melarikan diri, karena aku tahu saat itu aku sedang sakit keras dan hanya akan membebani Raina jika aku melawan kehendak kedua orang tuaku.


'Tapi putraku sekarang,,, mungkinkah dia bisa melakukan nya?' ucap Tuan Jenkins dalam hati sembari mengingat sikap keras kepala putranya.


"Astaga!!! Bagaimana ini??? Bagaimana bisa Putra kita berbicara seperti itu?!! Apa yang akan kita lakukan jika dia benar-benar berniat mengakhiri hidupnya??" Nyonya Jenkins memijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut karena pusing memikirkan satu-satunya anaknya yang kini mengancam mereka.


Tetapi kedua orang itu tak bisa menghentikan perjalanan mereka karena mereka telah memasuki kediaman keluarga Firdani dan disambut oleh para pengawal.


"Tuan, silakan menunggu di dalam karena kabar yang kami dengar bahwa semua keluarga Firdani baru saja tiba di bandara dan membutuhkan perjalanan 30 menit untuk tiba di sini." Kata seorang pengawal lalu mengantar Tuan dan Nyonya Jenkins ke dalam kediaman keluarga Firdani untuk menunggu di ruang tamu.


Sembari duduk di ruang tamu keluarga Firdani, Tuan Jenkins sibuk dengan pikirannya sendiri, 'sebenarnya satu-satunya hal yang kuinginkan dari perjodohan ini adalah sebuah menantu yang berasal dari keluarga terpandang.

__ADS_1


'Jika ingin menghitung kerjasama maka jelas keluarga Firdani akan lebih menguntungkan dibanding kami, apalagi keluarga kami jauh lebih di atas daripada mereka.


'Tapi,, keluarga Firdani pasti akan membawa masalah putrinya ke rana hukum jika aku mengabaikan masalah ini. Hal itu bisa berakibat fatal pada reputasi keluarga dan keadaan perusahaan.' pikir Tuan Jenkins dalam hati sedang menimbang-nimbang pilihannya.


__ADS_2