Budak Ranjang Tuan Muda You

Budak Ranjang Tuan Muda You
213


__ADS_3

Menjelang jam makan siang di hotel.


Brak!!!


Pintu kamar Sherin ditutup dengan keras oleh pria berperut buncit yang keluar dengan kepuasan memenuhi seluruh tubuh dan wajahnya.


Pria itu tersenyum puas setelah hasratnya yang lama tertahan akhirnya bisa tersalurkan pada perempuan cantik yang sangat memuaskannya.


'Ah,,, besok-besok aku harus meminta Tuan untuk memberikanku lebih banyak pekerjaan seperti ini lagi.' ucap pria berperut buncit dalam hatinya sembari memasuki lift yang kebetulan terbuka di depannya.


Nyonya Jenkins berada di dalam lift dan keluar dari sana sembari menatap pria berperut buncit yang memasuki lift.


'Astaga,, orang itu benar-benar jelek. Aku rasa, selain penyakit pada tubuhnya, orang itu juga memiliki penyakit pada otaknya!!' Ucap Nyonya Jenkins dalam hati merasa sangat jijik dengan penampilan pria yang baru saja bertemu dengannya.


Tak mau memikirkannya terlalu lama, perempuan itu dengan cepat berjalan ke arah kamar Sherin dan menekan bel pintu perempuan itu.


Sherin yang sementara menangis di atas kasur yang berantakan langsung menoleh memandangi pintu.


Tetapi perempuan itu tidak ada niat untuk membukanya.

__ADS_1


Perempuan itu hanya meringkuk sembari menangis menahan rasa malunya atas apa yang baru saja dilakukan oleh pria jelek terhadap dirinya.


'Bagaimana ini? Bagaimana ini??' Sherin begitu gelisah sembari menggigit jarinya dengan tangan yang lain memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Suara bel kembali terdengar membuat Sherin menggertakkan giginya dan kembali menatap pintu dengan takut.


'Bagaimana kalau orang dibalik pintu adalah pria itu lagi?' Sherin terisak keras sambil memeluk lututnya dengan erat.


Gemetar perempuan itu semakin bertambah kala suara bel yang terus berbunyi seolah orang dibalik pintu begitu agrogan untuk memasuki kamarnya.


Perempuan itu baru bernafas lega ketika ponselnya tiba-tiba bergetar memperlihatkan sebuah pesan dari Nyonya Jenkins.


*Kau ada di mana? Aku ada di depan kamarmu,* pesan perempuan itu membuat Sherin merasa lega, bahwa orang yang berada di depan pintu bukanlah orang yang berniat jahat padanya.


'Aku tidak boleh begini, aku harus bangun dan melaksanakan semua rencana yang sudah tersusun rapi. Setidaknya aku harus masuk ke keluarga You!!' ucap Sherin dalam hati sembari perempuan itu dengan tubuh yang masih gemetar turun dari tempat tidur dan berjalan pelan ke kamar mandi.


Sherin membersihkan tubuhnya dengan kasar, ia menggunakan satu botol sabun karena merasa jijik dengan tubuhnya yang telah disentuh oleh orang yang begitu jelek.


"Sial,, sial,, hiks,, hiks,," Sherin menggosok keras tubuhnya, Sherin terus menangis di bawah derasnya shower yang ia nyalakan.

__ADS_1


Setelah 1 jam berada di kamar mandi, perempuan itu akhirnya memaksakan dirinya untuk beranjak meninggalkan kamar mandi dan memakai pakaian nya.


Berdiri di depan cermin, perempuan itu melihat bagaimana seluruh tubuhnya dipenuhi bekas ciuman pria menjijikkan yang sudah menyentuhnya.


"Hiks,, hiks,,, sialan!!" Isak perempuan itu membersihkan bekas bekas di tubuhnya, namun tidak dapat hilang hanya dengan gosokan tangannya.


Sherin akhirnya menggunakan foundation yang sesuai dengan warna kulitnya untuk menutupi jejak-jejak kemarahan itu sebelum mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Nyonya Jenkins.


Nyonya Jenkins menyuruhnya untuk makan siang bersama di restoran hotel.


Maka dengan cepat, Sherin turun ke restoran hotel dan melihat Nyonya Jenkins telah menunggunya.


"Sayang, ada apa dengan wajahmu?" Nyonya Jenkins begitu terkejut melihat mata Sherin yang tampak bengkak karena menangis terlalu lama.


"Ahh,, ini karena aku menangis terlalu lama, karena baru saja mendengar kabar bahwa salah satu teman dekatku ketika kuliah di luar negeri, baru saja kecelakaan dan meninggal dunia.


Sherin merasa sedih "Maaf,, tadi ketika ibu pergi ke kamarku aku tidak membukakan pintu sebab aku merasa malu kalau ibu melihat ke dalam keadaan buruk." Ucap Sherin langsung membuat Nyonya Jenkins terkejut, lalu perempuan paruh baya itu langsung memeluk Sherin.


"Kasihan sekali kamu, disaat seperti itu kau bahkan tidak punya orang untuk berbagi kesedihan. Lain kali, jika hal seperti itu terjadi lagi, jangan sungkan untuk memanggil ibu agar ibu bisa menghiburmu." Ucap Nyonya Jenkins diangguki oleh Sherin.

__ADS_1


__ADS_2