
Di siang yang terik ketika Hendra sedang berdiri melihat pemandangan dari atap perusahaannya.
Gilang yang sedari tadi berdiri jauh sembari berteduh tiba-tiba saja didatangi oleh bawahannya.
Keduanya berbisik-bisik selama beberapa menit sebelum Gilang berjalan menghampiri Hendra.
'Sial!! Matahari seterik ini dan dia membiarkan dirinya berjemur selama 1 jam lebih.' Gerutu Gilang dalam hati yang baru beberapa detik di bawah pancaran cahaya matahari dan dia sudah merasa kulitnya terbakar karena cahaya matahari.
Begitu mendekati Hendra, dia melihat keringat di sekujur tubuh pria itu, Namun sepertinya Hendra sedang menghukum dirinya sendiri hingga membiarkan dirinya menikmati teriknya cahaya matahari.
"Tuan," ucap Gilang saat ia sudah berdiri dengan jarak tiga langkah dari Hendra.
"Kalau tidak penting, Jangan menggangguku." Ucap Hendra dari balik kacamata hitamnya.
"Ini mengenai Nona Angelina." Ucap Gilang langsung membuat Hendra berbalik menatap pria itu.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya.
"Baru saja mendapat kabar bahwa ada pemesanan tiket dari negara xx atas nama You Jenkins. Sepertinya pria itu datang untuk Nona Angelina." Ucap Gilang.
Hendra tersenyum, "Bagus, kalau begitu atur untuk membunuh mereka semua saat sampai di bandara. Aku ingin saat itu bandara dikosongkan dan seluruh pasukan kita mengepung bandara tanpa diketahui oleh mereka." Ucap Hendra dengan tatapan menerawang jauh.
"Baik Tuan," jawab Gilang lalu kembali membungkuk sebelum berbalik meninggalkan Hendra.
__ADS_1
"Heh,, ternyata dia pria yang tidak sabaran. Kalau begitu, datang dan sambutlah kematianmu!" Ucap Hendra sembari berbalik kembali memandangi kota H yang begitu luas.
Pria itu membiarkan dirinya terus berada di bawah cahaya matahari sampai mendung menghiasi langit.
"Hah,, dasar!" Hendra menggerutu sembari berbalik meninggalkan atap.
Pria itu langsung membersihkan tubuhnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sampai tengah malam.
"Tuan, sudah seharian Tuan belum makan," Gilang mendekati Hendra saat melihat pria itu tampak pucat namun masih berusaha kuat mengerjakan pekerjaannya.
"Jangan khawatirkan aku dan pergi urus persiapan untuk menangkap pria itu!" Ucap Hendra tak mampu dijawab oleh Gilang.
Gilang tidak mau mencari masalah, jika dia membantah maka dialah yang akan terkena batunya.
Pria itu segera keluar lalu berdiri di depan pintu sembari berjaga-jaga Jika tiba-tiba saja Hendra memanggilnya.
"Bukankah ini terlalu mulus?" Kenan merasa aneh keyika dia melihat bahwa pihak lain sama sekali tidak berusaha mencegah mereka.
Padahal, dia sudah mengira bahwa pria yang menguasai kota H pasti berusaha untuk mencegah mereka pergi ke sana, karena pria itu sudah tahu tujuan mereka adalah menjemput Angelina.
Pria itu menghela nafas lalu meninggalkan pekerjaannya dan kembali menemui You.
"Tuan," ucapnya dengan tubuh yang pegang melihat You yang langsung menatapnya dengan tatapan mengerikan.
__ADS_1
"Begini, saya curiga kalau pihak lain telah merencanakan sesuatu. Karena persiapan kita menuju ke kota H benar-benar berjalan dengan mulus dan--"
"Oh, lanjutkan." Ucap You dengan santai.
"Tapi Tu--"
"Keluar!" Perintah You.
Kenan hanya bisa menggigit lidahnya melihat wajah You benar-benar tidak memberinya izin untuk berbicara.
Memangnya siapa yang mau mengantarkan nyawa pada orang-orang keji itu?
Namun Kenan tidak mengatakan apapun lagi dan hanya beranjak meninggalkan You yang kini menatap punggungnya.
"Tidak becus!" Ucap You mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Keluarlah," ucapnya pada orang di seberang telpon.
"Baik Tuan," jawab pria dari seberang telepon lalu panggilan itu diakhiri.
Setelah panggilan itu, You meletakkan ponselnya lalu kembali menatap foto Angelina.
"Bagaimanapun caranya, aku akan membawamu pulang!!" Ucap Angelina melihat foto tersebut.
__ADS_1
Pria itu bahkan sudah lupa bahwa dia sudah menyingkirkan foto Stella dari mejanya dan menggantinya dengan foto Angelina.
Entah kapan dia melakukannya, tetapi selama beberapa waktu terakhir dia hanya melihat foto Angelina beserta bunga krisan putih yang selalu menghiasi meja kerjanya.