
Setelah diobati oleh dokter, Angelina terus terbaring di tempat tidur sampai Hendra memasuki kamar.
Pria itu datang membawa nampan berisi makanan lalu meletakkannya di nakas.
"Kau mau makan sendiri atau aku suapi?" Tanya Hendra berusaha menahan gejolak emosinya.
Angelina yang memejamkan matanya, ia berusaha menahan kemarahannya pada Hendra.
"Aku makan sendiri." Ucap Angelina.
Hendra melihat perempuan yang sama sekali tidak mau melihatnya, perlahan Dia merasakan kemarahan dalam hatinya semakin memuncak jadi pria itu langsung berbalik meninggalkan kamar Angelina dan menutup pintu dengan keras.
'Aku sudah bertahun-tahun berusaha memahaminya dan menunggu dia membuka hatinya untukku, tapi dia malah hamil anak lelaki lain. Saat aku sudah mengatakan bahwa aku akan menerimanya dan anak itu, dia sama sekali tidak menghargaiku. Apakah aku begitu rendah di matanya dan dia berpikir bahwa aku tidak layak untuknya?' Hendra dipenuhi kemarahan sembari berjalan meninggalkan rumahnya.
Sementara Angelina yang tertinggal di kamar, perempuan itu langsung bangun dan melihat sekeliling kamarnya.
'Hah,, jika tahu begini, Aku tidak akan pernah kembali ke negara ini dan lebih baik tinggal bersama You. Setidaknya, meski pria itu menyiksaku, dia masih mengijinkanku untuk keluar melakukan apapun yang ku sukai.
"Sementara di sini, pria itu tidak mengizinkanku meninggalkan rumahnya, dan di rumahnya pun aku masih tetap disiksa olehnya. Kenapa dia bisa berubah begini? Dia pasti sudah gila!!!" Gerutu Angelina.
Perempuan itu terus menggerutu sembari memakan sarapannya lalu memutuskan untuk tidur kembali.
__ADS_1
...
Selama satu minggu, Angelina kebingungan sebab Hendra tidak pernah kembali ke rumah itu.
Jadi Angelina mulai keluar dari rumah karena merasa aman, sebab dia tidak akan bertemu dengan Hendra.
Perempuan itu terkejut saat ia pergi ke dapur dan mendapati Arthur sedang memasak di sana.
"Sialan!! Apa yang kau lakukan di sini?!!" Angelina langsung teriak pada Arthur sembari menghampiri pria itu.
"Oh,, hei bumil!! Ha ha ha.. tidak menyangka suatu saat Ternyata kau juga akan menjadi seorang ibu." Arthur langsung mendekati Angelina lalu menarik perempuan itu untuk duduk di kursi.
"Katakan, siapa ayah dari bayi yang kau kandung?!" Tanya Arthur.
Angelina menoleh ke arah CCTV yang terpasang di dapur itu.
"Mari Jangan berbicara di sini, kita bicara di tempat lain saja." Ucapnya.
"Oh,, oh,,," Arthur mengangguk, "kalau begitu, tunggu aku menyelesaikan sarapan untukmu." Ucap Arthur lalu pria itu kembali fokus ke kompor miliknya.
Sembari memperhatikan Arthur, Angelina berkata, "kemarin, waktu terakhir kali kita bertemu, apa kau baik-baik saja?" Tanya Angelina yang merasa khawatir pada pria itu.
__ADS_1
"Ya,, kalau aku tidak baik-baik saja maka aku tidak akan berada di sini. Oya, selama satu minggu ini, apakah kau baik-baik saja dengan makanan yang kusiapkan?" Tanya Arthur.
"Hm,, aku baik-baik saja, tetapi kacang merah membuatku ingin muntah." Ucap Angelina.
"Baiklah, Aku tidak akan menambahkannya lagi." Kata Arthur mengangguk-angguk.
Namun, setelah beberapa detik, ia menatap Angelina, "Bukankah kacang merah adalah makanan kesukaanmu?" Tanyanya.
Dia adalah koki yang selalu memasak untuk perempuan itu saat Angelina bertamu ke apartemennya, jadi dia tahu benar bahwa perempuan itu menyukai kacang merah.
"Aku juga tidak tahu." Angelina menghela nafas, memang benar dia sangat menyukai kacang merah, tetapi siapa yang menyangka kalau seleranya akan berubah.
"Jangan-jangan ini karena bayi yang ada di dalam kandunganmu." Ucap Arthur.
"Ah,, kau benar," Angelina langsung meraba perutnya yang sudah berumur 1 bulan lebih.
"Hah,, sepertinya ayah dari bayi yang kau kandung itu cukup buruk, masakan dia alergi terhadap kacang merah." Ucap Arthur kembali berbalik meneruskan acara memasaknya.
Angelina hanya mendengarkannya, sesaat dia teringat akan You.
'Hah,, kenapa aku berpikir bahwa ia lebih baik daripada Hendra? Padahal, mereka berdua tidak ada bedanya, sama-sama memperlakukanku seenak hati.' pikir Angelina mengepal erat tangannya.
__ADS_1