Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 10


__ADS_3

1 Minggu Azizah di rawat.


Selama itu juga Yana menemani Azizah. Yana belum menceritakan tentang rencana pemindahannya Ke Malaysia.


“Terima kasih Yana, kamu sudah menemani aku seminggu ini setelah pulang sekolah.”


“Tidak masalah, yang terpenting kamu sudah membaik.”


“Tenang saja, hari ini aku sudah boleh pulang,” ucap Azizah.


“Benarkah?” tanya Yana semangat.


“Benar nak Yana, kamu tenang saja. Bu Darmi sangat berterima kasih kepada kamu dan juga kepada Pak Danu karena kalian telah membiayai biaya pengobatan Azizah.”


“Bu Darmi tidak perlu berterima kasih, kami ikhlas membantu kalian,” balas Yana.


“Tetap saja kami harus berterima kasih kepada kalian.”


“Baiklah Bu, Sama-sama.”


Tok..tok..


“Permisi, Azizah hari ini sudah boleh pulang. Kami harap kejadian seperti ini jangan terjadi lagi. Ibu lebih berhati-hati lagi,” ucap Dokter Santi.


”Terima kasih Bu Dokter atas perhatiannya, Saya berjanji akan lebih teliti lagi,” balas Darmi ramah


“Kalau begitu saya permisi.”


“Baik Bu Dokter.”


”Biar Pak Paijo yang antar pulang Ya Bu!”


"Tidak perlu Yana, Ibu bisa pulang pakai becak,” tolak Darmi lembut.


“Sudah pakai mobil saja Bu,” ucap Yana sedikit memaksa.


“Baiklah Yana, sekali lagi Terima kasih.”


“Bu Darmi tidak perlu sungkan dengan Yana!”


“Baiklah Nak Yana.”


Sampailah mereka di kediaman Darmi.


“Azizah bisa jalan sendiri Bu tidak perlu dipapah,” ucap Azizah.


“Iya nak.”


"Alhamdulillah, Azizah sampun mantuk (Alhamdulillah Azizah sudah pulang)” ucap Lasmi.


“Nggih Bu, Sampun mantuk (Iya Bu, Sudah pulang)” balas Darmi.


“Yowes ndang mlebu ndok, ben Azizah ndang iso turu! (Ya sudah cepat masuk nak, biar Azizah bisa tidur)”


“Nggih Bu (Iya Bu)”


Mereka kemudian bergegas memasuki Rumah.


“Yana Pamit pulang ya Bu, Papi sebentar lagi pulang.”


“Iya nak Yana, kamu hati-hati. Terima kasih untuk tumpangannya.”


“Terima kasih Yana, kamu sahabat terbaikku.”


“Sama-sama, Kamu juga sahabat terbaikku,” balas Yana.


“Kalau begitu Yana langsung Pulang, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” ucap Azizah dan Darmi.


“Pak Paijo, kita mampir ke rumah makan ayam bakar ya!”


“Baik Non Yana!”


10 Menit Kemudian.


“Pak Paijo saja yang turun, ini uangnya belikan 4 Porsi!” ucap Yana sambil memberikan beberapa lembar uang berwarna biru.


“Baik Non!”


Sambil menunggu kedatangan Pak Paijo membawa ayam bakar, Yana menyibukkan diri memainkan permainan yang sedang hits.


20 Menit Kemudian.

__ADS_1


“Maaf lama, antriannya banyak banget Non.”


“Santai aja Pak, Ayo Pak kita pulang sekarang!”


“Baik Non.”


“Non jadi pindah ke Malaysia?” tanya Paijo.


“Jadi Pak, Yana juga ingin menjaga nenek disana,” ujar Yana.


“Iya Non.”


Disisi lain.


“Kamu jangan berhubungan lagi dengan mereka,” ucap Jay.


“Kenapa? Lagipula aku hanya ingin menemui Anakku,” balas Rika.


“Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh, Kita bisa mempunyai anak banyak. jadi jangan pernah menemui dia lagi.”


“Tapi Jay...”


“Tidak ada tapi-tapian atau aku buat anakmu sengsara,” ancam Vijay.


“Jangan, aku mohon jangan. baiklah, aku turuti semuanya yang kamu mau,” balas Rika.


Di Kediaman Danu Aryanto.


“Selamat Sore Pi!” sapa Yana.


“Selamat Sore juga sayang, kamu baru pulang.”


“Iya Papi, seharusnya dari tadi. tapi Yana dan Pak Paijo mampir dulu beli ayam bakar.”


“Ayam bakar? Papi mau sayang!”


“Itu masih didalam mobil Pi, Yana beli 4 bungkus.”


“Kalau begitu jangan menunda lama-lama kita makan bersama sekarang!” ucap Danu semangat.


Danu mengajak Paijo dan Parti untuk makan bersama di meja makan.


“Terima kasih Tuan dan Non,” ucap Parti.


“Sama-sama Mbok, Ayo silahkan dimakan!” ajak Danu Aryanto.


Itu sebabnya Yana baik terhadap siapapun.


Usai Makan Danu Aryanto mengajak Yana ke halaman belakang.


“Mau apa Pi ngajak Yana kesini?”


“Kita santai-santai dulu disini nak!”


“Tidak biasanya kita duduk disini, Yana ke dalam saja Pi,” ucap Yana.


“Tunggu sebentar lagi sayang, kita duduk disini setengah jam saja.”


“Baiklah Pi”


30 Menit Kemudian.


“Yana sekarang tutup mata!” pinta Danu Aryanto.


“Kasih tahu dulu Papi mau ngapain!” ucap Yana.


“Kamu tutup mata dulu, Papi ada sesuatu buat kamu,” balas Danu.


“Oke Papi, Yana tutup mata sekarang,” sahut Yana kemudian menutup kedua matanya.


Danu lalu mengambil sebuah kotak di saku celananya, Ia sangat berharap Putri semata wayangnya menyukai hadiah darinya.


“Sekarang buka mata kamu nak!”


Yana lalu membuka matanya.


“Taraaa.. ini hadiah buat anak kesayangan Papi selamat ulang tahun ke 12 tahun sayang,” ucap Danu kemudian memberikan kotak berbentuk panda tersebut.


“Papi ingat hari ini ulang tahun Yana? Yana lupa kalau hari ini ulang tahun. Dan ini apa Pi mirip Mochi,” ucap Yana terharu.


“Ingat dong! kamu lupa karena dari kemarin-kemarin kamu menemani Azizah di Puskesmas. Kamu buka ya sayang!”


Yana membuka isi kotak tersebut, dan betapa bahagianya Ia saat mengetahui hadiah dari Danu.

__ADS_1


“Terima kasih Papi, Yana suka sekali dengan hadiahnya,” ucap Yana lalu memeluk Danu erat karena telah memberikan sebuah kalung berliontin panda dengan inisial huruf Y ditengah liontin kalung tersebut.


“Selamat ulang tahun Yana,” ucap Azizah dan Darmi.


“Kalian disini?” tanya Yana terkejut.


“Pak Paijo tadi menjemput kami dan memberitahukan semuanya, selamat ulang tahun nak,” balas Darmi.


“Selamat ulang tahun sahabatku,” ucap Azizah.


“Terima kasih, ini adalah hal terindah yang pernah aku rasakan.”


Danu pun memeluk Yana dengan lembut, Ia sangat sedih dengan ucapan yang baru saja dikatakan Yana.


“Papi janji! kamu tidak akan merasakan kesepian dan kesedihan lagi!”


“Terima kasih Papi, Yana sayang Papi.”


“Papi juga nak!”


“Ini hadiah untuk kamu Yana, aku harap kamu suka hadiahnya,” ucap Azizah.


“Aku lebih suka kamu dan Bu Darmi yang datang Azizah, terima kasih sudah datang dan mengucapkan selamat untuk aku.”


“Bagaimanapun kita juga harus memberikan kamu hadiah nak Yana, iya kan Azizah!” seru Darmi pada Azizah. Dan langsung diberi anggukan kecil oleh Azizah.


“Ini hadiah dariku dan Bu Darmi, semoga kamu suka!”


“Baiklah aku bukan sekarang hadiah dari kamu dan Bu Darmi,” ucap Yana lalu membuka hadiah.


“Boneka panda dan buku diary? ya ampun Azizah aku sangat suka ini benar-benar lucu Terima kasih Azizah dan terima kasih Bu Darmi!” ucap Yana gembira.


“Maaf Tuan saya baru datang membawa kue,” ucap Parti.


“Tak Masalah Mbok, terima kasih ya! tolong letakkan di meja!” pinta Danu Aryanto.


“Baik Tuan!”


“Oya Tuan, Saya dan Paijo ada hadiah buat Non Yana. Kami harap Non Yana menerima hadiah dari kami!”


“Mbok Parti dan Paijo tidak perlu repot-repot, karena kalian sudah memberikan hadiah untuk Yana. Yana pasti sangat senang dengan hadiah kalian,” ucap Danu.


“Ini hadiahnya untuk Non Yana,” ucap Parti dan Paijo sambil memberikan hadiah.


Yana langsung membuka hadiah dari Parti dan Paijo betapa terkejutnya Ia saat tahu isi kado tersebut.


Ia berlari memeluk Danu dengan derai air mata.


Danu memeluk anaknya dengan erat, berkali-kali Ia mengelus rambut Yana.


“Hadiah ini akan selalu Yana ingat Pi, meski Mami tidak bersama kita lagi.”


Hadiah yang diberikan Paijo dan Parti adalah Foto-foto yang berisikan kenangan terindah bersama Danu Aryanto dan Rika yang tak lain adalah kedua orangtuanya.


Foto yang berisikan saat Ia masih bayi, belajar merangkak, belajar berjalan serta foto saat Yana menangis di pelukan Rika.


“Terima kasih banyak,” ucap Yana terharu.


Yana kemudian mengajak mereka menikmati kue tart tersebut.


Tak hanya menikmati kue tart, sesekali Parti maupun Paijo mengajak mereka bersenda gurau. Suasana dihalaman belakang Rumah menjadi sangat ramai meski hanya mereka yang merayakan Ulang tahun Yana.


Disela-sela tawa mereka, Yana mengajak Azizah untuk pergi ke kamar.


Yana memutuskan untuk memberitahukan tentang keputusannya untuk pindah Ke Malaysia.


“Kita mau apa ke kamar kamu Yana?” tanya Azizah heran.


“Ada yang ingin aku beritahukan ke kamu!”


“Kenapa tidak di halaman belakang saja?”


“Karena aku ingin memberikan kamu ini,” ucal Yana lalu memberikan Boneka Panda kesayangannya.


“Untuk apa kamu berikan ini?”


“Ini untuk kenangan-kenangan Azizah,” ucap Yana Lirih.


“Kenang-kenangan? maksudnya apa Yana?” tanya Azizah bingung.


“Sebentar lagi aku akan pindah ke Malaysia, aku akan tinggal bersama nenek Noor disana. Aku harap kamu disini baik-baik saja dan jangan pernah lupakan persahabatan kita. Karena Sampai kapanpun kita adalah Sahabat,” ucap Yana yang tak kuasa menahan air mata.


“Hik..hiks..hiks.. Kamu mau pergi? Terus yang siapa yang akan memaksaku untuk menemani pergi ke kantin? terus siapa yang akan menemaniku belajar dan bercerita banyak hal?” tanya Azizah dengan tangis sesegukan.

__ADS_1


“Azizah, Tolong jangan menangis! Azizah sahabatku adalah anak yang kuat. Kita pasti bisa,” ucap Yana.


Mereka memeluk satu sama lain bak saudara kandung yang ingin berpisah. Itulah yang saat ini mereka rasakan, ketakutan yang dirasakan satu sama lain.


__ADS_2