Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 174


__ADS_3

Panas matahari diluar rumah membuat Asyila ingin menikmati yang segar-segar, ia melirik ke arah sang suami yang sedang fokus dengan laptop dihadapannya.


“Sayang!” panggil Azizah manja.


“Iya sayang!” seru Steven dan menghentikan aktivitasnya lalu mendekati Azizah, “Apakah ada yang kamu inginkan sayangku?”


“Suamiku benar sekali, aku ingin es krim sayang!” pinta Azizah.


“Baiklah kamu ingin es rasa apa?” tanya Steven.


“Pokoknya aku ingin es krim sayang, soal rasanya biar aku cicipi satu persatu,” terang Azizah.


Mencicipi satu persatu? anakku benar-benar membuatku gemas ingin rasanya aku mencubit pipinya saat ia sudah lahir nanti.


“Cepat sayang,” rengek Azizah.


“Sebentar aku akan meminta Galih membeli es krim!”


Steven mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Galih agar membelikan es krim Azizah.


“Kamu sekarang duduk temani aku, kurang dari 30 menit es krim yang kamu minta akan datang!'


“Horeee... terima kasih sayang!”


Azizah dan Steven duduk bersama di sofa, Steven terlihat begitu fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya sementara Azizah sangat senang memainkan bulu-bulu halus disekitar wajah suaminya.


“Sayang! nanti sore kita ke tempat Bu Nyami ya!” ajak Azizah.


“Baiklah, kita akan akan kesana!” seru Steven.


25 menit kemudian.


“Tok.. tok...”


“Siapa?” tanya Steven pada orang yang mengetuk pintu.


“Saya tuan muda, di depan ada mobil pengangkut es krim datang!”


“Baiklah!” seru Steven.


“Haaaa? ngapain mobil pengangkut es krim datang ke rumah sayang?” tanya Azizah terkaget-kaget.


“Bukankah kamu bilang ingin mencicipi es krim satu persatu sayang?”


Ya bukan gitu juga sayang, ahhh yang benar saja mengirim es krim sebanyak itu.


“Ya sudah ayo turun!” ajak Azizah memastikan bahwa memang benar suaminya bertindak konyol.


“Iya sayang, kamu berjalan pelan-pelan saja!”


Azizah dan Steven telah sampai di lantai bawah.


Ternyata benar, di depan rumah sudah ada mobil pengangkut es krim.


“Sayang apa ini tidak terlalu berlebihan,” ucap Azizah pada suaminya.

__ADS_1


“Tidak sayang,” balas Steven santai.


Santai berjalan mendekati sang sopir mobil pengangkut es krim.


“Buka dan perlihatkan kepada istriku!” perintah Steven.


Sang sopir turun dan membuka pintu itu.


“Loh kok ada mobil pengangkut es krim?” tanya Yuli tiba-tiba sudah ada di teras depan rumah.


Azizah mendekati ibu mertuanya lalu menceritakan apa yang terjadi, Yuli langsung tertawa setelah mendengar keterangan dari menantunya.


“Haduh... perut mami sakit kalau begini,” ucap Yuli setelah berhenti tertawa.


Steven meminta Azizah untuk memilih es krim yang diinginkan oleh Azizah.


Azizah akhirnya mengiyakan kemudian memanggil para pelayan dan juga bodyguard untuk mengambil es krim sesuka hati mereka.


“Terima kasih nyonya muda!” ucap mereka.


“Kalau mau tambah ambil saja ya, suamiku yang membayarnya jadi gratis,” balas Azizah lalu mengedipkan matanya ke arah Steven.


“Kamu ambil berbagai macam rasa es krim dan letakkan box es krim ke dalam lalu isi penuh!” perintah Steven.


Sopir pengangkut es krim mengiyakan dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Steven, cukup lama akhirnya transaksi jual beli pun selesai.


Azizah hanya geleng-geleng kepala karena suaminya baru saja membeli freezer es krim yang didalamnya sudah banyak sekali es krim.


“Bagaimana sayang kamu menyukainya?” tanya Steven.


“Iya sayang, terima kasih banyak!” ucap Azizah dan mengecup pipi kanan suaminya.


Azizah mengambil es krim rasa stroberi dan duduk cantik di sofa ruang keluarga ditemani oleh Yuli dan juga Adam.


Mariska yang baru saja keluar kamar terkejut dengan apa yang ia lihat.


“Waw freezer es krim dan ada banyak es krim di dalamnya,” ucap Mariska, “Beli sebanyak ini buat apa mi?” tanya Mariska sedikit berteriak.


Yuli mendekati keponakannya, “Ini kakakmu yang membelikannya untuk kakak iparmu!”


“What!! kalau begini Mariska juga mau dong dibeliin,” goda Mariska.


“Kamu mau?” tanya Steven yang baru saja menghampiri Yuli dan juga Mariska.


“Iya mau dong kak,” balas Mariska.


“Menikahlah dan minta sama suamimu,” celetuk Steven.


“Mami lihat itu kak Steven menyuruhku menikah, kalau Mariska menikah memang mami setuju?” tanya Mariska.


“Memangnya kamu sudah ada pria yang kamu sukai?” tanya Yuli.


Galih tiba-tiba datang dan memberikan uang kembalian kepada Steven, Mariska yang melihat Galih langsung memalingkan wajahnya.


“Mami ini bicara apa, sudahlah Mariska menikmati es krim ini di halaman belakang saja,” ucap Mariska sambil menjilati es krim dan bergegas pergi menuju halaman belakang.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu mengembalikan uang itu, ambil saja!” perintah Steven.


“Tapi tuan muda...”


“Sudah kamu ambil saja, kalau bos mu mengatakan seperti itu berarti itu rezeki untuk kamu,” sahut Yuli pada Galih.


“Baik saya terima, terima kasih tuan muda dan nyonya besar,” ucap Galih dan permisi pergi.


Azizah masih saja menikmati es krimnya bahkan ia sudah habis dua es krim rasa stroberi.


“Sayang aku sudah selesai sekarang mau tidur,” ucap Azizah.


“Baiklah ayo kita pergi ke kamar!” ajak Steven.


Steven pamit kepada kedua orangtuanya untuk pergi ke kamar menemani Azizah yang tengah mengantuk.


Sesampainya di kamar.


Azizah langsung menaiki ranjang dan merebahkan dirinya dengan memeluk guling, Steven yang melihat istrinya memeluk guling dengan kesal memeluk tubuh Azizah.


“Sayang lepaskan!” pinta Azizah karena semuanya mengganggu tidurnya.


“Sayang aku suamimu tapi, kenapa kamu malah memeluk guling dan bukannya aku,” ucap Steven sambil terus memeluk tubuh Azizah dari belakang.


Masalah guling saja pakai acara cemburu segala.


Azizah menyingkirkan guling itu kemudian berbalik menghadap ke arah suaminya.


“Sekarang aku akan memeluk suamiku ini,” ucap Azizah.


Steven kemudian menghujani Azizah dengan ciuman di kening dan juga bibir.


“Kamu terlihat cantik sekali sayang bahkan sangat seksi,” ucap Steven karena melihat belahan dada Azizah.


Azizah segera menutupi belahan itu dengan selimut, “Aku tahu apa yang kamu inginkan sayang tapi, jangan sekarang!” pinta Azizah.


“Baiklah kalau begitu aku ikut tidur saja,” balas Steven.


Steven mencoba memejamkan matanya namun, ia tak kunjung mengantuk.


“Sayang!” panggil Steven.


“Mmmmm.”


“Sayang!”


“Mmmm.”


“Sebentar saja ya!” pinta Steven.


Azizah tahu jika ia menolak suaminya sudah pasti suaminya akan membujuknya terus-menerus hingga ia pun tak bisa tidur tenang, akhirnya ia pun mengiyakan sang suami.


“Baiklah sebentar saja, aku benar-benar mengantuk,” balas Azizah.


Steven segera melucuti pakaiannya dan mencium seluruh wajah Azizah, pelan tapi pasti akhirnya ia menyalurkan hasratnya kepada istri tercintanya.

__ADS_1


Setelah selesai Azizah dan Steven pun tertidur bersama di dalam satu selimut yang sama.


__ADS_2