Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 18


__ADS_3

Hujan mengguyur Malaysia, Pagi yang seharusnya menjadi cerah kini ditutupi awan gelap gulita. Yana merasa sangat kesal karena Ia tidak jadi pergi bersama Sang Ayah yaitu Danu Aryanto.


Sekitar 5 Tahun yang lalu Paijo mengundurkan diri bekerja dengan Danu Aryanto, dikarenakan Ia telah melangsungkan pernikahan dan memulai hidup baru. Parti yang sudah tua telah meninggalkan mereka untuk selamanya, jasadnya dikubur di Malaysia.


Yana kini telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, gadis yang kuat dan baik hati.


“Papi bagaimana ini? Kenapa harus hujan?”


“Kamu yang sabar sayang, kan masih ada hari esok.”


“Tapi Papi, ini hari-hari yang selalu Yana tunggu,” ucap Yana sedih.


“Anak Papi tidak boleh seperti itu, sebaiknya kita bermain bersama Megi. Bagaimana?”


“Tapi Megi masih tidur Papi.”


“Ya berarti kita tunggu sampai Megi bangun.”


“Ya sudah Pi,” ucap Yana Pasrah.


Megi yang kini berusia 9 tahun terlihat sangat lucu, gadis kecil nan imut dan menggemaskan.


“Kakak!” panggil Megi pada Yana.


“Dasar bocah, jam segini baru bangun,” balas Yana dengan kesal dibuat-buat.


“Kak Yana jangan ngambek dong, nanti cantiknya luntur.”


“Dasar anak kecil, kamu tahu apa? sini aku gelitik perut kamu biar tahu rasa,” ucap Yana lalu menggelitiknya perut Sepupunya itu.


“Ampun kak, ampun haha.. ampun kak.”


"Biar tahu rasa sini.”


“Haha..ha..ha.. ampun kak, Megi minta maaf.”


“Cepat mandi sana, setelah hujan reda kita pergi jalan-jalan.”


“Jalan-jalan kemana kak?”


“Kamu tidak perlu tahu, cepat sana mandi.”


“Siap Kak Yana.”


Yana senang sekali bermain dan bersenda gurau dengan Sepupunya itu, meski terpaut 10 tahun tidak membuat Yana tak dekat dengan Megi. Justru Ia bertambah sayang dengan Adik sepupunya itu.


“Megi sudah rapi kak sekarang.”


“Kamu sarapan dulu, kami sudah sarapan dari tadi.”


“Kak Yana kenapa tidak menunggu Megi sarapan bersama?”


“Kamu dari tadi tidur terus, jadinya kami makan duluan.”


“Tapi kak Yana temenin Megi sarapan ya!”

__ADS_1


“Oke, tapi kamu makan yang banyak biar tambah gembul.”


“Megi sudah gembul kak, kalau makan banyak Megi bisa-bisa jadi seekor gajah.”


“Haha..ha.. gajah imut,” ucap Yana dengan tawa terbahak-bahak.


“Diteruskan kak ngomong gajahnya biar Puas,” ucap Megi dengan menekankan kata puas.


“Maaf, Kak Yana hanya bercanda.”


Megi makan dengan sangat lahap, hampir 2 piring penuh yang Megi habiskan. Yana yang melihat Megi tak kuasa menahan tawanya.


“Haha..ha..ha.., Ya Tuhan perutku sakit,” ucap Yana disela-sela tawanya.


“Kak Yana kenapa? kesurupan?”


“Haduh, perutku sakit. haha..ha..” ucap Yana yang tak dapat menghentikan tawanya.


Pletak...


“Aww sakit Megi, kenapa kamu memukulku memakai centong nasi,” ucap Yana yang telah berhenti dari tawanya.


“Alhamdulillah kakak sadar,” balas Megi lega.


“Sadar bagaimana?” tanya Yana kesal.


“Kak Yana dari tadi tertawa terus, jadi Megi pukul pakai centong nasi biar hantunya pergi,” ucap Megi polos.


“Hantu yang mana maksud kamu? kak Yana tertawa itu gara-gara kamu. bilangnya makan sedikit tapi habis sampai 2 piring,” ucap Yana lalu menunjukkan piring bekas makan Megi.


“Khilaf tidak mungkin sebanyak itu Megi.”


“Ehem.. ada apa ribut-ribut begini?” tanya Noor


“Lihat Megi Nek, Yana dipukul pakai centong nasi,” ucap Yana mengadu pada sang nenek.


“Kenapa Megi? kok kak Yana kamu pukul?” tanya Noor lembut.


“Megi kira tadi kak Yana kesurupan Nek, habisnya dari tadi tertawa terus,” balas Megi.


“Gara-gara Megi Nek, Yana tertawa karena Megi makan 2 piring penuh. sebelumnya Megi bilang tidak ingin makan banyak karena sudah gembul dan sekarang malah menghabiskan begitu banyak makanan,” jelas Yana.


“Ha..ha..ha.” Suara tawa Noor.


“Nenek Noor sepertinya kesurupan,” ucap Megi panik.


“Ha..ha..ha..” Suara tawa Yana.


Yana dan Noor tertawa terbahak-bahak, tidak henti-hentinya mereka tertawa. Megi bergidik ngeri dengan kedua orang itu.


“Paman! Nenek Noor dan kak Yana kesurupan!” teriak Megi panik.


Noor dan Yana yang semula tertawa langsung terdiam, Megi benar-benar bingung dengan tingkah mereka.


“Ada apa Megi?” tanya Danu.

__ADS_1


Noor pun angkat bicara, Ia menjelaskan semuanya. Sontak Danu ikut tertawa. mereka berempat tertawa terbahak-bahak yang diikuti Megi.


Disisi lain.


Rika telah menikah bersama Vijay Julio sekitar 7 tahun yang lalu, namun sampai sekarang mereka belum dikaruniai seorang anak. Vijay setiap harinya selalu memperlakukan Rika semena-mena tidak ada lagi cinta yang didapatkan dari pernikahan mereka.


Rika berulang kali sabar menghadapi sikap Vijay, berharap Vijay akan berubah namun selalu saja seperti itu. janji yang dulu terucap sudah tak ada harganya lagi, belum lagi dengan cercaan dari sang mertua yang sangat mengharapkan kehadiran cucu.


“Kamu ini bagaimana Rika? sudah 7 tahun menikah tapi belum memberikan saya seorang cucu,” ucap Neha Julio wanita paruh baya berdarah campuran India.


“Kami akan berusaha Bu,” balas Rika sedih.


“Itu-itu saja yang kamu ucapkan, saya bosan mendengarnya,” ucap Neha kesal.


“Maaf Bu.”


“Sebaiknya saya pulang saja, pusing saya berlama-lama disini.”


Neha Julio pergi meninggalkan kediaman Vijay Julio, Rika sudah sangat kenyang dengan pertanyaan dan cercaan dari sang mertua.


Pernikahan yang seharusnya membawa kebahagiaan Malah berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia hadapi.


“Dimana Ibu?” tanya Vijay.


“Ibu sudah pulang Jay.”


“Pasti gara-gara kamu ibu pulang.”


“Maaf Jay, aku yang salah,” ucap Rika mengalah.


“Pusing aku dirumah terus, lebih baik keluar cari udara segar daripada disini melihat wajah sedih mu itu.”


Sedih yang Rika alami selama menjadi istri dari Vijay Julio, dulu saat Ia menikah dengan Danu Aryanto dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Bahkan Danu tidak pernah sekalipun berkata kasar ataupun memarahi dirinya.


Kamu dimana Yana? Mami sangat rindu kepada kamu nak. Mami mencari kalian tapi tidak ada siapapun yang tahu tentang keberadaan Kalian. Mami ingin sekali memeluk kamu nak, maafkan Mami karena telah meninggalkan kamu. Seharusnya Mami bisa memeluk kamu saat ini. Mami memang wanita dan ibu yang sangat bodoh. ini karma untuk mami, Mami sangat menyesal, mami sangat ingin bertemu putri mami yang sangat Mami sayangi. Mas Danu, dimana pun kamu berada tolong maafkanlah aku. Aku sangat menyesal seharusnya aku tidak pernah mengkhianati kamu mas. Inilah karma yang patut aku terima.


Dikediaman Steven Walker.


Steven Walker bersandar di sofa berwarna putih, sesekali Ia memainkan bolpoin yang dipegangnya.


Kring... kring..


“Siapa?” tanya Steven pada penelpon itu.


“Hai Bro apa kabar? masih ingat kamu dengan aku?” tanya pria dibalik telepon itu.


“Ada apa menghubungiku aku? bukankah kau yang melupakan aku?” tanya Steven dingin.


“Sudah 3 tahun tak bertemu kamu tetap saja sama, aku ingin bermain ke rumahmu. sekarang aku sudah di Jakarta.”


“Sedang apa kamu kesini? bukankah kamu sudah pindah ke Amerika.”


“Hanya sekedar bermain dan bertemu kawan lama.”


“Baiklah, aku dirumah hari ini.”

__ADS_1


“Oke aku akan kesana,” ucap Mike Sahabat Steven di Inggris.


__ADS_2