
Steven terus menatap wajah polos sang istri, tatapan mata Steven menunjukkan bahwa pria blasteran itu sangat mencintai Azizah.
“Pagi sayang!” sapa Steven dan memberikan morning kiss di bibir Azizah.
Azizah dengan cepat menutup wajahnya, “Sayang, aku belum gosok gigi,” ucap Azizah.
Steven tertawa kecil hingga menampilkan jejeran giginya yang putih.
“Ayolah sayang, kita sudah menikah dan sebentar lagi memiliki anak yang lucu. So, jangan malu seperti ini,” jawab Steven santai.
Steven memperbaiki rambut sang istri yang menghalang-halangi dirinya untuk menatap wajah cantik Azizah.
“Bagaimana keadaan mu sekarang sayang? apakah sudah membaik?”
“Alhamdulillah sudah sayang!”
“Syukurlah, bagaimana kalau kita mandi bersama!” ajak Steven.
Azizah memanyunkan bibirnya.
“Kenapa sayang?” tanya Steven.
“Gendong!” pinta Azizah.
Steven kembali tertawa karena sang istri pagi itu sangatlah manja.
“Baiklah, ayo aku gendong,” jawab Steven.
1 jam kemudian.
Azizah maupun Steven sama-sama berjalan menuju ruang makan namun, mereka tak menemukan keberadaan sang ayah.
“Pagi sayang!” sapa Yuli.
“Pagi juga mami!” seru Azizah dan Steven.
“Papi kemana mi?” tanya Azizah setelah mendaratkan bokongnya di kursi.
“Papi ada urusan penting,” jawab Yuli yang sibuk dengan roti di tangannya.
“Sepagi ini mi?” tanya Steven penasaran.
“Iya sayang,” jawab Yuli.
Azizah mengambil 2 lembar roti dan memberikan selai strawberry.
“Ini sayang,” ucap Azizah kemudian menyerahkan roti yang sebelumnya sudah di olesi selai strawberry.
“Terima kasih sayang!” seru Steven dan memberikan kecupan manis di pipi Azizah.
“Sayang, kamu ini apa-apaan? malu tahu di lihat mami dan Mariska,” bisik Azizah.
“Mereka juga pasti mengerti sayang,” jawab Steven santai dan mulai mengunyah roti pemberian sang istri.
“Kak Azizah, nanti temani Mariska ke Mall ya!” pinta Mariska dengan semangat.
“Tidak boleh,” celetuk Steven dengan wajah tatapan mendelik.
Mariska memanyunkan bibir bawahnya dan menoleh ke arah kakak iparnya.
“Sayang!” panggil Azizah berharap sang suami mengizinkan.
__ADS_1
“Tidak boleh!” tegas Steven.
Biasanya permintaan Azizah akan selalu dituruti oleh Steven.
Namun, ternyata kali ini tidak. Membuat Azizah hanya bisa menghela napas.
“Kamu bisa pergi sendiri atau ajaklah Galih!” perintah Steven.
Mariska menepuk jidatnya, bagaimana ia bisa lupa bahwa ia dan Galih sudah sangat akrab.
“Baiklah, Mariska akan pergi bersama Galih. Kak Steven memangnya tidak bekerja hari ini?” tanya Mariska.
“Tentu saja aku harus bekerja,” balas Steven.
Selesai sarapan, Steven dan Azizah bergegas pergi ke perusahaan.
“Kami pergi dulu mi, Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!”
Melihat tuan muda Steven dan nyonya muda Azizah berjalan menuju mobil dengan cepat Galih membukakan pintu mobil untuk suami istri itu.
“Selamat pagi tuan muda dan nyonya muda!” sapa Galih.
“Pagi juga Galih!” seru Azizah.
Mariska berlari menuju mobil dengan sisir ditangannya.
“Ya ampun, Mariska hampir saja ketinggalan,” ucap Mariska sambil mengatur napasnya karena lelah berlari.
“Jangan banyak bicara, ayo Galih!” perintah Steven agar sang sopir segera berangkat.
“Baik tuan muda!”
Azizah maupun Steven dengan kompak diam namun, tetap berinteraksi dengan saling menatap satu sama lain.
Mariska dan Galih yang berada di depan juga hanya diam membisu, mereka fokus menatap ke arah depan.
💕
“Galih, kamu temani Mariska pergi Mall dan jaga dia, jangan sampai di bertindak konyol!” perintah Steven karena tahu kelakuan Mariska yang bertindak sembrono.
“Baik tuan muda Steven!”
Azizah dan Steven pun bergegas menuju ruang kerja pria blasteran itu.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kantor, para pegawai perusahaan terus menyapa mereka membuat Azizah harus tersenyum dan terus terus sementara sang suami tidak sedikitpun tersenyum kepada pegawainya.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Azizah lega.
“Kenapa sayang? kamu sepertinya sangat lelah?” tanya Steven khawatir.
“Ti.. tidak apa-apa sayang, aku haus sekali,” ucap Azizah sambil menyentuh tenggorokannya.
“Sebentar ya sayang, aku akan mengambilkan air minum,” jawab Steven dan bergegas mengambil air minum dekat meja kerjanya.
“Ini sayang!” Steven menyerahkan segelas air minum.
“Terima kasih sayang,” balas Azizah dan segera meneguk air minum hingga habis.
Steven membuka laptop keluaran terbaru.
__ADS_1
“Kamu beli lagi sayang?” tanya Azizah.
“Iya sayang, laptop yang sebelumnya aku pakai tidak menarik lagi,” balas Steven santai dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.
“Jadinya kalau tidak menarik lagi kamu seenaknya main ganti ya sayang? aku juga termasuk?” tanya Azizah yang mulai kesal.
Steven menghentikan pekerjaannya dan segera memeluk tubuh Azizah.
“Maaf ya sayang kalau ucapanku membuatmu tersinggung, laptop yang sebelumnya aku berikan kepada Mariska.
Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini.” Steven mengatakan dengan tatapan serius, ia benar-benar merasa bersalah karena membuat sang istri menjadi kesal.
“Lain kali jangan bicara seperti itu saya sayang, kamu membuatku berpikir yang tidak-tidak,” jelas Azizah.
“Iya sayang, aku janji akan menjaga perkataan ku!”
“Tok... tok...” Suara ketukan pintu.
“Masuk!” perintah Steven.
Seorang pria berjalan masuk dengan membawa beberapa map amplop lamaran.
“Taruh di atas meja!” perintah Steven.
Kemudian setelah menaruh beberapa map amplop lamaran, pria itu pun keluar.
Azizah penasaran dan mencoba melihat-lihat isi di dalamnya.
“Bolehkah aku membukanya sayang?” tanya Azizah.
“Boleh sayang, bukalah!” seru Steven mempersilahkan istri tercintanya untuk membuat map amplop lamaran.
Azizah membuka dan mulai membaca isi dari amplop itu.
Jadi ada yang mau melamar pekerjaan!
“Memangnya kamu butuh berapa orang sayang?” tanya Azizah yang mulai ingin tahu.
“Tidak banyak hanya 5 orang saja,” jawab Steven sambil meneruskan pekerjaannya.
“Tapi, kenapa semuanya pria sayang?”
“Karena aku memang membutuhkan para pria sayang, kalau sudah selesai temani lah aku disini!” pinta Steven.
Azizah merapikan kembali amplop lamaran kerja dan bergegas menuju ke arah sang suami, Azizah lalu duduk tepat disamping sang suami tercinta yang terlihat begitu fokus dengan pekerjaannya.
“Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sayang, kamu tidak keberatan kan jika aku seperti ini?” tanya Steven.
“Tentu saja sayang, teruskan lah pekerjaanmu! aku akan duduk disini dan menemanimu,” jawab Azizah sambil mengangkat kedua tangannya memberikan semangat untuk pria disampingnya.
Lihatmu nak! papah mu sangat serius dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Mamah berharap kamu akan meneruskan perusahaan papah mu ini dan menjadi pria yang baik.
Azizah sangat yakin bahwa ia sedang mengandung bayi laki-laki.
Azizah mulai mengantuk. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di sofa dan akhirnya tertidur.
Beberapa menit kemudian.
Steven melirik ke arah sang istri dan terkejut melihat wanita yang sedang berbadan dua itu tertidur.
__ADS_1
“Kamu sudah tertidur sayang? maaf ya sayang,” ucap Steven lirih dan mengubah posisi tidur Azizah dengan beralaskan pada pahanya.