
Suasana di rumah sakit benar-benar tegang.
Indra sedari tadi tak bisa diam, ia berjalan mondar-mandir gelisah menunggu kabar baik dari dokter.
Sasya sedang ditangani dokter untuk melakukan operasi kelahiran anak kedua.
Ya Allah semoga istri dan anakku selamat.
Jangan sampai mereka kenapa-kenapa Ya Allah.
“Bunda tidak kenapa-kenapa kan kak?” tanya Megi pada Yana yang duduk tepat disampingnya.
“Megi yang tenang, bunda Megi pasti baik-baik saja,” ucap Yana menenangkan Megi.
Noor tidak hadir di rumah sakit, ia menanti kabar baik di rumah.
Noor masih sangat trauma dengan namanya rumah sakit karena mengingatkan dirinya kepada suami tercinta.
“Megi takut yah,” ucap Megi yang berdiri tepat di samping Indra.
Indra tak ingin membuat sang anak ikut takut ataupun sedih. "Megi tidak boleh takut, Megi kan sebentar lagi mau jadi kakak."
“Iya yah,” ucap Megi.
Danu berjalan menghampiri mereka dengan membawa beberapa teh hangat.
Adiknya itu sedari tadi mondar-mandir mengkhawatirkan istri dan calon anaknya yang akan lahir.
“Minumlah teh hangat ini!” Danu berkata dan menyodorkan minuman teh hangat.
“Terima kasih bang,” sahut Indra dan mencoba menyeruput teh yang dibawa oleh Danu.
Oek... oek.... Suara bayi.
“Alhamdulillah,” ucap syukur mereka bersamaan atas kelahiran bayi.
“Selamat Indra, anak kalian telah lahir,” ucap Danu memberikan selamat.
“Terima kasih bang,” sahut Indra.
“Selamat Paman, akhirnya adik sepupu Yana telah lahir,” ucap Yana.
“Terima kasih Yana,” sahut Indra.
Megi yang mendengar suara adiknya itu melompat-lompat kegirangan, Akhirnya ia telah menjadi seorang kakak.
Indra menangis haru, hatinya benar-benar bahagia mendengar tangisan buah hatinya bersama Sasya.
Wanita berseragam putih keluar dari ruang operasi persalinan.
“Bisa bicara dengan Tuan Indra?” tanya dokter.
“Saya sendiri dok,” ucap Indra.
“Mari ikut saya tuan!” ajak dokter.
Indra dengan cepat mengikuti instruksi sang dokter.
“Begini Tuan, keadaan nyonya saya saat ini kritis. Dia kehilangan begitu banyak darah, saya harap anda atau saudara anda bisa segera mendonorkan darah golongan A,” ucap dokter.
“Baik Dok, saya segera tanyakan kepada saudara saya,” ucap Indra dengan cepat menghampiri mereka.
“Bang! Sasya butuh golongan darah A, darahku golongan B bukan A,” terang Indra.
“Yana yang memiliki golongan darah A seperti Rika, coba kamu tanyakan ke Yana,” ucap Danu.
Indra kemudian berjalan mendekati Yana,
“Yana mau mendonorkan darah untuk Makcik?” tanya Indra.
Yana sangat takut dengan namanya jarum, namun mengingat Sasya sangat membutuhkan bantuannya akhirnya Yana memberanikan diri untuk donor.
__ADS_1
“Iya Paman, Yana mau,” ucap Yana.
Yana lalu dibimbing perawat menuju ruang donor, untuk pertama kalinya ia mendonorkan darah meski rasa takut menyergapnya.
“Sudah selesai,” ucap perawat.
“Sudah sus?” tanya Yana.
“Sudah, nona Yana sekarang boleh keluar. Ini vitamin untuk anda,” ucap perawat itu lalu memberikan beberapa vitamin.
🌸🌸🌸
3 Jam kemudian.
Indra berjalan memasuki ruang tempat Istrinya dirawat, Indra menghampiri Sasya yang terlihat sangat pucat. Akhirnya Sasya tak melewati masa kritisnya, meski wajahnya masih pucat dan tubuh belum terlalu kuat Sasya berusaha sekuat tenaga untuk menyusui bayi mungilnya.
“Terima kasih sayang,” ucap Indra dan mengecup kening Sasya.
“Jangan berterima kasih, Sasya tidak enak. Bagaimanapun ini adalah kewajiban Sasya sebagai seorang ibu.”
“Pokoknya aku terima kasih, anak kita sangat cantik sama seperti kamu sayang,” ucap Indra manis pada Sasya.
“Benarkah? Sasya mau lihat anak kita yah!” Pinta Sasya.
“Sebentar ya sayang! sebentar lagi anak kita dibawa kemari,” ucap Indra.
Terdengar suara ketukan sepatu berjalan menghampiri mereka, Seorang wanita paruh baya datang menggendong bayi mungil dengan balutan kain yang melilit seluruh tubuh bayi itu dengan sempurna.
Indra maupun Sasya menangis terharu, benar-benar mungil. Bahkan kulitnya masih sangat lembut dan merah.
“Selamat ya Tuan dan Nyonya Indra, anak kalian sangat cantik,” ucap dokter sambil memberikan bayi mungil itu.
“Terima kasih dok atas kerja keras kalian,” Ucap Indra.
“Iya dok, terima kasih banyak,” ucap Sasya.
“Sama-sama, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya tangani,” ucap Dokter itu.
Indra menggendong tubuh sang bayi. meski bukan pertama kalinya menggendong bayi,
Indra tetap saja merasa gugup dan gemetar.
Dengan pelan-pelan Indra menggendong dan mendekatkan mulutnya ke telinga sang bayi untuk di adzanin.
“Sekarang anak ayah dan bunda sudah di adzanin,” ucap Indra.
Oek... oek... tangis bayi
Bayi mungil itu menangis, terlihat sekali bahwa ia sangat lapar.
“ASI kamu sudah keluar sayang?” tanya Indra.
“Sudah sayang, sini aku beri ASI,” ucap Sasya dan menggendong bayi mungil itu.
Sasya dengan hati-hati mengarahkan ASI nya ke mulut sang bayi.
“Geli sayang,” ucap Sasya.
Indra membalas ucapan Sasya dengan senyuman. Hari dimana Sasya berjuang untuk melahirkan meski dengan cara operasi Caesar.
“Oiya sayang, aku belum beritahu ibu,” ucap Indra.
“Ayah cepat telepon ibu, pasti ibu dari tadi menunggu kabar kita.”
“Baik sayang, aku keluar sebentar,” ucap Indra dan pergi meninggalkan Sasya.
Yana yang sudah membaik memutuskan menemui Sasya, ia begitu penasaran dengan keadaan Sasya dan adik sepupunya.
Tok.. tok..
“Siapa?” tanya Sasya.
__ADS_1
“Ini Yana Makcik,” sahut Yana.
“Masuk saja Yana!” perintah Sasya.
Yana masuk dan terkejut dengan bayi mungil yang sedang digendong oleh sang bibi.
Dengan cepat ia berjalan dan duduk disamping ranjang Sasya.
“Lucunya adik Yana ini, kecil sekali makcik,” ucap Yana dengan senang.
“Yana juga sebentar lagi akan punya anak yang lucu seperti anak makcik ini,” goda Sasya.
“Makcik kok bicara seperti itu, Yana dan Mike menikah tidak buru-buru,” sahut Yana.
Sasya penasaran dengan ucapan Yana.
“Memangnya kenapa sayang?” tanya Sasya penasaran.
“Yana akan menikah kalau sudah bertemu Azizah, Bu Darmi dan mami Rika,” jelas Yana.
“Makcik do'akan semoga kamu bertemu dengan mereka,” ucap Sasya sambil mengelus rambut Yana.
Oek... oek...
“Bayi mungilnya nakal Makcik, hihi,” ucap Yana dengan tawa kecil.
Indra datang menghampiri mereka.
“Terima kasih Yana telah mendonorkan darah untuk Makcik,” ucap Indra.
Sasya sangat terkejut mendengar yang dikatakan oleh suaminya.
“Yana mendonorkan darah?” tanya Sasya dengan ekspresi terkejut.
“Bukankah Yana sangat takut dengan jarum?” tanya Sasya lagi.
“Makcik kok seperti itu? Yana sudah tidak takut jarum lagi,” ucap Yana santai.
“Ya ampun Yana, Makcik tidak tahu kalau kamu yang mendonorkan darah buat Makcik. Sekali lagi Makcik mengucapkan terima kasih.”
“Iya makcik sama-sama,” balas Yana manis.
“Bunda!” teriak Megi.
Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Megi, terlihat sekali kebahagiaan di wajah Megi bocah laki-laki yang kini berumur 10 tahun.
“Ini adik Megi ya?” tanya Megi dan menyentuh pipi bayi itu lembut sehalus kapas.
“Iya sayang, ini adik Megi,” balas Sasya.
“Nama adik Megi siapa bunda?”
“Masih rahasia,” ucap Indra.
Megi memanyunkan bibirnya, ia begitu penasaran dengan adik kecilnya itu.
“Megi tidak boleh ngambek, nanti Megi akan tahu setelah kita pulang ke rumah nenek. Oke!!” seru Sasya.
Megi yang semula murung kini kembali ceria.
“Benar ya Bunda, pokoknya Megi mau tahu adik nama adik Megi ini,” ucap Megi.
“Iya sayang,” sahut Sasya.
Yana tersenyum kecil melihat Keharmonisan mereka, membuatnya teringat dengan Rika.
Apakah Rika bahagia saat dirinya dilahirkan dunia?
Itulah yang kini dipikirkan oleh Yana.
Like ❤️ dong!!!🙏
__ADS_1