
"Dimas!!" Teriak Azizah saat melihat Dimas duduk bersama seorang wanita.
Dimas merasa seperti ada yang memanggilnya dari kejauhan, ia mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok Azizah kekasihnya itu.
"Azizah!" Teriak Dimas lalu lari menghampiri Azizah.
"Ka..kamu ngapain disini sayang?" Tanya Dimas gugup.
"Siapa wanita itu Dimas?" Tanya Azizah sambil menunjuk ke arah wanita yang masih duduk.
"Kamu kenapa sayang? kok pakai kursi roda seperti ini?" Tanya Dimas lalu berjongkok mensejajarkan dirinya.
Plak!!!
"Aku kecewa Dimas kita putus!" Teriak Azizah.
Para pengunjung bahkan memperhatikan pertikaian mereka.
"Tidak! Bagaimanapun kita tidak akan pernah putus beberapa bulan lagi kita akan menikah Azizah" Tegas Dimas.
"Siapa pria ini? atau jangan-jangan kamu yang berselingkuh dengan dia bahkan sampai tidur dengan dia" Tuduh Dimas sambil menunjuk ke arah Steven.
Plak!!
Buk!!
Buk!!
Steven tidak hanya menampar dan memukul wajah Dimas ia bahkan beberapa kali menendang dan menginjak kaki Dimas sampai mengeluarkan darah. Ia tidak terima jika Azizah dituduh dan dilecehkan seperti itu.
"Kurang ajar!! Beraninya kamu menghina Azizah. Lebih baik kamu mati" Steven terus memukul wajah Dimas.
"Sudah Pak!" Teriak Azizah menghentikan Steven memukul Dimas yang terlihat sudah tak berdaya.
"Kita pulang Pak!" Ajak Azizah. wajahnya terlihat sangat sedih.
Steven bergegas meninggalkan restoran itu.
Dimas tak bisa berpikir apa-apa lagi, yang dirasakan sekarang adalah sakit diwajah serta seluruh tubuhnya hasil dari karya seorang Steven.
Monicha dari kejauhan hanya menyaksikan mereka, Monicha tahu siapa orang yang memukul Dimas. Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha muda yang sangat terkenal di Indonesia apalagi orang tua Monicha adalah salah orang bawahan Steven. Itu sebabnya ia tak berani menghampiri Dimas yang sedang dihajar habis-habisan oleh Steven.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Monicha yang baru saja menghampiri Dimas.
"Pergi dari hadapanku!" Teriak Dimas pada Monicha.
"Kalian bantu saya berdiri!" Perintah Dimas pada Karyawannya.
Dimas tak hanya merasakan sakit diwajah, ia juga merasakan sakit dipunggung dan kakinya. Punggungnya terkena meja sementara kakinya diinjak oleh Steven.
Para pengunjung akhirnya melanjutkan kegiatan makan mereka, sementara Monicha pergi meninggalkan restoran itu dengan penuh emosi.
"Bagaimanapun aku tidak ingin melepaskan kamu Dimas" Ucap Monicha di dalam mobil.
Steven Walker diam selama di mobil.
Ia hanya menatap ke arah luar, hatinya sangat sakit dengan ucapan dan tuduhan yang diberikan Dimas. Ingin rasanya ia membunuh pria ******** itu yang telah mengucapkan hal yang sangat menjijikkan seketika itu juga.
Azizah sesekali melirik ke arah Steven, ia tak pernah berpikir bahwa Dimas mengkhianatinya sementara Steven orang yang selalu membuatnya kesal dan ketakutan ternyata adalah orang yang baik dan menenangkan.
"Terima kasih Pak. Anda telah menolong saya" Ucap Azizah.
"Untuk apa?" Tanya Steven. ia awalnya menatap ke arah luar kini berbalik menatap mata Azizah.
Deg..deg..
Pipi Azizah langsung merah merona bahkan telinganya pun ikut memerah.
Tatapan apa itu entah sejak kapan selalu membuat Azizah tidak dapat mengontrol emosi dihatinya.
Setiap kali dekat dengan Steven ia selalu saja memiliki emosi yang membuat jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
"Apakah tempat ini panas sehingga wajahmu memerah?" Tanya Steven sedikit menyunggingkan senyumnya.
"I..iya Pak sangat panas" Balas Azizah gelagapan ia menunduk tak berani menatap mata Steven.
"Tangan Pak Steven berdarah" Sambung Azizah yang melihat tangan kanan Steven berdarah karena memukul Dimas tadi dan menyentuh tangan kekar itu.
"Tidak masalah" Balas Steven.
"Pak Heru cepat sedikit!" Perintah Azizah yang khawatir karena tangan Steven mengeluarkan darah.
"Baik Nona" Balas Heru dan menambah kecepatan mobil.
"Ternyata kamu bisa memerintah juga gadis bodoh" Batin Steven sambil tersenyum lebar.
Sesampainya di Apartemen.
"Pak Heru tolong ambilkan kotak P3K!" Pinta Azizah.
"Baik Nona" Balas Heru.
"Bapak tenang saja, biar saya obati luka Bapak. Bagaimanapun ini karena kesalahan saya" Ucap Azizah.
"Itu bukan kesalahan kamu gadis bodoh. Tapi Pria itu yang benar-benar idiot sampai mengkhianati gadis sebaik kamu" Puji Steven.
Azizah tak menjawab ia hanya menunduk kepalanya ke bawah karena takut wajahnya akan dilihat oleh Steven yang mungkin saat ini sudah merah merona.
"Ini Nona" Ucap Heru sambil memberikan kotak P3K.
"Terima kasih Pak!" Sahut Azizah sambil mengambil kotak itu.
Steven memberikan kode agar Heru pergi meninggalkan mereka, Heru mengerti yang dimaksud Steven. Ia pun bergegas untuk pergi.
"Pak Heru mau kemana?" Tanya Azizah yang melihat Heru ingin melangkahkan kaki menuju pintu.
Steven menatap tajam ke arah Heru, Heru bahkan dibuat ngeri dengan tatapan Steven.
"Saya ada urusan Nona" Ucap Heru berbohong.
"Biarkanlah dia pergi" Giliran Steven yang buka suara, ia tidak ingin kebersamaannya dan Azizah diganggu.
"Iya Nona, saya permisi!" Heru pun pergi dengan cepat.
"Nasib kalau punya bos seperti Tuan muda tiap hari seperti naik turun roller coaster" Pikir Heru.
Azizah membersihkan luka di tangan Steven dengan berhati-hati.
"Tahan ya Pak! ini sedikit sakit" Ucap Azizah yang mulai membersihkan luka itu dengan kapas.
"Awww.. pelan-pelan" Rintih Steven, sebenarnya Steven tidak mengalami sakit ia ingin lebih diperhatikan lagi oleh Azizah.
"Maaf Pak!" Sahut Azizah.
"Bagaimana ini tanganku luka? Aku bahkan tidak bisa makan" Ucap Steven dengan wajah memelas.
"Bapak tenang saja! Saya yang akan menyuapi Pak Steven makan" Sahut Azizah.
Hati Steven langsung berbunga-bunga.
Azizah akan menyuapi makanan untuk dirinya, setidaknya ini awal yang baik untuk mendekati Azizah.
Malam hari.
Azizah sibuk memasak sayur Sup ayam ia ingin membuat masakan yang enak untuk Steven.
"Sudah siap. Tinggal menyuapi Pak Steven" Ucap Azizah. Azizah berjalan pelan kakinya sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa namun tidak bisa terlalu lama.
"Tidak pakai kursi roda lagi?" Tanya Steven yang baru menduduki kursi.
"Tidak Pak, kaki saya sudah mulai membaik kalau pakai kursi roda tiap hari juga tidak baik" Balas Azizah.
"Aku lapar ingin makan sekarang!" Ucap Steven dingin.
__ADS_1
"Baiklah Pak Steven" Balas Azizah.
Azizah menyuapi Steven dengan sangat berhati-hati, bukan karena panas di makanan yang ia suapi ke Steven melainkan mengontrol jantungnya yang kini semakin kencang.
Kediaman Sutomo Ginanjar.
Monicha berjalan dengan santai memasuki kediaman calon suaminya itu.
Hari ini ia akan mengatakan kepada Dimas bahwa ia adalah gadis yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya.
"Malam Ayah!!" Sapa Monicha pada Sutomo.
"Malam juga Monicha, tumben main kesini. Ada apa?" Tanya Sutomo.
"Mau berkunjung ke rumah calon suami Monicha saja Ayah" Balas Monicha santai dan duduk di sofa.
"Ayah? Maksudnya?" Tanya Dimas yang baru saja keluar kamar dan mendengar Monicha menyebutkan Ayah.
"Kenalkan Nak ini yang Ayah ceritakan kepada kamu waktu itu. Monicha calon istri kamu" Terang Sutomo memperkenalkan Monicha.
Dimas benar-benar terkejut, jadi Monicha mendekatinya karena ia adalah calon istrinya.
Dan dengan sengaja menghancurkan hubungannya dengan Azizah.
"Aku tidak akan pernah menikahi wanita murahan ini" Pekik Dimas.
"Maksud kamu apa aku murahan Dimas?" Tanya Monicha.
"Ayah lihat aku. Aku tidak akan menerima perjodohan ini sampai kapanpun tidak akan pernah" Ucap Dimas dan keluar meninggalkan mereka.
"Ayah!! Dimas kenapa menolak Monicha?" Tanya Monicha sedih.
"Kamu tenang saja. Dia pasti akan menikahi kamu" Ucap Sutomo menyakinkan Monicha.
"Iya Yah Monicha percaya, kalau begitu Monicha pulang saja".
"Iya Nak".
"Bye Ayah" Ucap Monicha.
Monicha memikirkan bagaimana caranya Dimas tidak menjauhi dirinya dan memutuskan untuk menerima perjodohan ini.
"Baiklah, ini adalah harapan aku satu-satunya" Ucap Monicha sambil mengelus-elus perutnya.
Seminggu kemudian.
Monicha datang dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Ia berjalan berlenggak lenggok di dalam rumah kediaman Sutomo.
"Mau apalagi kamu kesini?" Tanya Dimas.
"Aku kangen sama kamu Dimas" Ucap Monicha sambil berjalan ke arah Dimas ingin memeluk tubuh Dimas namun segera ditepis oleh Dimas.
"Pergi dari hadapanku sekarang!" Teriak Dimas.
"Kamu tidak bisa mengusir aku Dimas! Lihat ini" Teriak Monicha dan melempar bungkusan kecil.
Dimas mengernyitkan keningnya, ia lalu mengambil bungkusan kecil itu.
Saat tahu isinya ia dibuat terkejut, bagaimana dia bisa sebodoh itu.
"Tidak mungkin" Ucap Dimas.
"Tidak mungkin bagaimana? ini anak kamu" Sahut Monicha sambil menyentuh perutnya.
"Aaaahhhhhhh" Teriak Dimas ia bahkan mengacak-acak rambutnya. Ia benci dengan keadaan seperti ini.
"Kamu harus bertanggung jawab Dimas. Ini anak kamu" Ucap Monicha bangga dan pergi meninggalkan Dimas yang sangat terpuruk itu.
"Hiks..hiks.. Aku bodoh Azizah. Seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh itu dan tetap setia kepada kamu" Dimas tak bisa menahan kesedihannya ia bahkan mengutuki dirinya sendiri yang sangat bodoh itu.
__ADS_1
"Ha..ha.. Akhirnya aku hamil Dimas. Dan kamu tidak akan meninggalkan aku karena janin diperutku ini" Monicha benar-benar senang karena kehamilannya membantu Monicha agar Dimas segera menikahinya.
Vote Koin/Poin🙏😭❤️