
Di Magetan.
Pagi hari yang cerah membuat Rika terbangun dan segera pergi ke dapur untuk menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu.
Yana yang baru saja turun dari tangga, berjalan dengan cepat menghampiri Rika.
“Masak apa mi?” tanya Yana yang baru datang menghampiri Rika yang sedang sibuk membuat sarapan.
“Nasi goreng, bantu mami siapkan piring nak!” pinta Rika.
“Oke mi!” seru Yana.
Danu masih tidur dikamarnya. Pria yang kini telah menjadi suami terlihat sangat kelelahan karena persiapannya untuk membangun bisnis bersama Mike Orlando calon menantunya.
“Papi belum bangun mi?” tanya Yana sambil menyusun piring diatas meja.
“Belum nak, papi kamu dari semalam tidak tidur mami melihat banyak sekali kertas-kertas di meja kamar.”
“Iya mi,” sahut Yana mengangguk kepalanya pelan.
“Uhuk....uhuk....”
“Mami batuk?” tanya Yana khawatir.
“Mami ke kamar mandi sebentar ya nak! tolong teruskan!” pinta Rika.
“Baik mi.”
Dikamar mandi.
Rika terbatuk-batuk di dalam kamar mandi.
Ya Allah tolong jangan engkau ambil nyawa hamba dalam waktu dekat ini Ya Allah.
Tunggulah sama Yana dan Mike menikah agar hamba dapat beristirahat dengan tenang.
Rika menangis didalam kamar mandi dengan suara kecil, namun samar-samar masih bisa terdengar dari luar. Danu yang baru saja bangun terkejut mendengar suara Rika menangis.
Ada apa dengan istriku? kenapa dia menangis sepagi ini.
Danu menyeret kakinya menuju kamar mandi kebetulan pintu itu tidak dikunci. Rika yang sedang menangis menyenderkan dirinya di pinggir tembok terkejut melihat ada orang yang masuk dengan cepat ia menghapus air matanya.
“Rika, kamu kenapa?” tanya Danu heran.
“Aku tidak apa-apa mas,” sahut Rika. Wanita itu bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Jangan bohong, kamu kenapa menangis?” tanya Danu dengan lembut.
“Tidak ada apa-apa mas, aku hanya terharu karena diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan mas dan Yana. Apalagi kini kita telah menjadi keluarga,” terang Rika.
“Benarkah?” tanya Danu memastikan.
“Benar mas, sebaiknya mas segera mandi kita sarapan bersama,” ucap Rika kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan Danu yang masih penasaran.
Semoga yang kamu katakan itu benar Rika, aku tidak ingin kamu menyembunyikan hal yang lain. Aku takut jika kenangan buruk itu masih menghantui mu sampai detik ini.
“Mami kok lama?” tanya Yana.
“Tadi mami buang air kecil sekalian,” sahut Rika.
15 menit kemudian.
Danu datang menghampiri anak dan istrinya.
“Pagi Pi!” sapa Yana.
“Pagi juga anak papi,” sahut Danu.
__ADS_1
Danu kemudian duduk disamping Rika dan mengecup kening Rika di depan Yana membuat Yana iri dengan kemesraan mereka.
“Papi dan mami kalau mau bermesraan di kamar dong,” ucap Yana kesal.
Danu dan Rika saling melempar senyum dan akhirnya mereka tertawa.
Di Jakarta.
Steven Walker melakukan konferensi pers.
Isi dari konferensi pers itu adalah tentang Perusahaannya yang semakin meluas bahkan sampai ke negara Eropa. Di samping itu juga Steven memberitahukan tentang pernikahannya bersama Azizah Cahyani yang akan digelar di Gedung Walker, gedung terbesar dan termegah di Indonesia bahkan se-Asia tenggara.
“Saya rasa penjelasan tentang Perusahaan dan pernikahan saya sudah selesai, terima kasih.” ucap Steven kemudian pergi dikawal ketat oleh polisi dan beberapa bodyguard kepercayaannya.
Azizah sedari tadi gusar di dalam mobil, ia menunggu ke arah pintu keluar tempat dimana sang calon suaminya akan keluar.
“Akhirnya...” ucap Azizah lega saat melihat pria blasteran itu berjalan menuju mobil.
“Hallo Azizah sayang!” sapa Steven kemudian mengusap wajah Azizah.
“Bagaimana apakah berjalan lancar?” tanya Azizah penasaran.
“Ponsel yang aku berikan mana?” tanya Steven.
“Di dalam tas,” sahut Azizah dengan polosnya.
“Ya ampun,” ucap Steven sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Kok ya ampun?” tanya Azizah bingung.
Belum sempat menjawab tiba-tiba wartawan menyerbu mobil Steven, mereka bahkan meminta dan memaksa Steven untuk membuka jendela mobil.
“Heru cepat jalan!” perintah Steven.
“Ya Allah, itu wartawan banyak sekali,” ucap Azizah sambil menengok kebelakang melihat wartawan bahkan ada yang mengejar mobil mereka dengan berlari.
“Aku memberikan ponsel agar kamu bisa melihat siaran langsung konferensi pers ku tadi Azizah sayang,” ucap Steven.
“Haaa? maaf aku tidak tahu,” ucap Azizah dengan polosnya.
“Ini pasti gara-gara Heru,” sahut Steven menyalahkan Heru.
Heru hanya diam dan tetap fokus mengedarai mobil.
“Kok kamu malah menyalahkan Heru?” tanya Azizah.
“Seharusnya dia memberitahukan kamu alasan aku memberikan ponsel ini,” sahut Steven.
Azizah tak lagi menjawab, gadis itu duduk menempel pada pintu dan menatap ke arah luar jendela pintu. Ya itu tandanya bahwa Azizah saat itu sedang ngambek.
“Sayang!” panggil Steven.
“Apa?” tanya Azizah tanpa memperhatikan Steven.
“Marah ya?” tanya Steven.
“Tidak!”
“Marah ya?” tanya Steven lagi.
“Tidak!” sahut Azizah.
Jika sudah begitu Steven ikut diam, ia biasanya memberikan jeda waktu untuk Azizah lalu setelah itu Steven akan mengajaknya untuk berbincang-bincang sampai akhirnya mereka baikan lagi.
Disisi lain.
Dimas mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia baru saja melihat berita tentang pernikahan Steven yang akan dilangsungkan dalam Minggu ini.
__ADS_1
“Azizah tak akan bisa menjadi milik siapapun, hanya Dimas Ginanjar yang boleh memilikinya,” ucap Dimas.
Pria yang kini telah menjadi duda dan menjadi seorang ayah tak menyulutkan niatnya untuk tetap mengejar cinta Azizah lagi.
Dulu ia pernah berniat untuk merelakannya dan mencintai almarhumah istrinya yaitu Monicha, namun setelah kematian Monicha rasa cinta itu tumbuh kembali dan membuat Dimas ingin mengejar Azizah.
🌸🌸🌸
Malam hari Dikediaman Steven Walker.
“Bagaimana persiapan kalian?” tanya Adam pada Steven dan Azizah.
“Tanyakan saja pada Steven Pi, karena yang mengurus semuanya adalah dia,” sahut Azizah.
“99% sudah siap pi, tinggal pengantinnya saja,” sahut Steven.
“Mami tidak sabar menantikan hari itu,” ucap Yuli.
Azizah menunduk malu, hatinya berdebar-debar kencang. Kurang 3 hari lagi pernikahan itu akan terjadi dan seluruh dunia akan menyaksikannya.
“Kamu bahagia sayang?” tanya Steven lembut dan disaksikan oleh kedua orangtuanya serta sang nenek.
“Kamu apaan sih?” tanya Azizah dengan berbisik ke telinga Steven.
Yuli peka dengan sikap Azizah yang malu-malu, ia pun berinisiatif meninggalkan mereka berdua.
“Ke kamar yuk pi!” Ajak Yuli.
“Papi belum mengantuk mi,” sahut Adam yang tak maksud dengan ajakan sang istri.
Karena suaminya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yuli, ia pun mencubit lengan suaminya dan mengedipkan mata sambil melirik ke arah Azizah dan Steven.
“Huuuuammm, tiba-tiba papi mengantuk,” ucap Adam sambil berakting mengantuk.
Diikuti oleh Teressa, “Huammm, nenek juga mengantuk,” ucap Teressa sambil menguap.
“Azizah dan Steven! kami tinggal ya, kami bertiga sudah mengantuk,” ucap Yuli lalu pergi meninggalkan mereka disusul Adam dan Teressa.
Tinggallah mereka berdua di ruang keluarga, suasana malam membuat kedua terdiam.
1 menit, 2 menit, 3 menit namun tak ada satupun dari mereka berdua membuka suara.
Azizah menghentakkan kakinya dan berdiri ia berniat meninggalkan Steven namun tangan kekar itu menghentikan langkah Azizah.
“Mau kemana?” tanya Steven.
“Aku mengantuk,” sahut Azizah.
Rasa malu-malu kucingnya telah hilang karena Steven membuatnya bad mood.
Ia berpikir dengan mereka berdua duduk berdua membuat Steven mengucapkan kata-kata romantis atau semacamnya namun itu tak terjadi membuat Azizah kesal.
“Duduk!” perintah Steven lalu mendudukkan Azizah tepat disampingnya.
Steven kemudian berjongkok tepat di depan Azizah, Steven dengan romantisnya mengeluarkan kotak kecil dibukanya kotak itu terlihat cincin berlian.
“Maafkan aku Azizah sayang, selama ini jika aku membuatmu sering marah, sedih dan ngambek, 2 hari lagi kita akan menikah aku ingin kamu menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku ingin kamu Azizah Cahyani menerimaku, maukah kamu hidup dan menua bersamaku?” tanya Steven dengan penuh harap.
“Maaf Steven... Aku tidak bisa...”
Wah kira-kira apa nih kelanjutannya?
Vote ya!!😭😈
Like ❤️ komen 👇.
Terima kasih...
__ADS_1