
Dimas terbangun dari ranjangnya, Ia memijat keningnya yang terasa pusing.
Diedarkan pandangannya ke sekitar kamar, ternyata Monicha masih terlelap tidur.
“Ya Tuhan, ternyata semalam itu bukan mimpi,” ucapnya mengingat kejadian semalam bersama Monicha.
Dimas lalu mengambil handphone di nakas, ia sangat terkejut ada banyak Panggilan yang tak terjawab dari Azizah.
Ia pergi menjauh dari ranjangnya dan mencoba menghubungi Azizah.
Tut.. Tut..
“Hallo Sayang,” ucap Dimas dengan lirih takut ucapannya terdengar oleh Monicha yang sedang tertidur.
“Dimas, maaf aku baru menghubungi dirimu. Aku beberapa hari yang lalu masuk rumah sakit, dan mengapa tadi siang aku menelpon tapi tidak dijawab?” tanya Azizah penasaran, ia ingin tahu mengapa kekasihnya tidak langsung mengangkat telepon darinya.
"Kamu sakit apa sayang? seharusnya kamu bilang sama aku, agar aku menemani kamu" Ucap Dimas khawatir.
“......” Azizah tak menjawab, ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Kok malah dimatikan.
“Sayang!” panggil Monicha mesra.
Dimas tak menjawab panggilan Monicha, ia berlalu begitu saja menuju kamar mandi.
Dimas, Dimas akhirnya kamu jadi milikku. Dan sebentar lagi kita akan menikah, karena aku tahu kamu tidak akan menolak diriku yang cantik ini.
Disisi lain.
Azizah merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Dimas bahkan berbicara seperti orang yang berbisik, ia menerka-nerka ada sesuatu yang Dimas sembunyikan dari dirinya.
Kenapa Dimas tidak menjawab pertanyaanku dan mengapa bicara berbisik seperti itu?
“Nona!” panggil Indah.
“Iya!”
“Sudah sore nona, ayo saya bantu nona mandi!” ucap Indah sambil mendorong kursi roda ke arah kamar.
“Tidak perlu, aku bisa mandi sendiri,” tolak Azizah, ia tidak ingin tubuhnya dilihat orang lain walaupun sesama wanita.
“Tapi kaki nona,” ucap Indah sambil menunjuk ke arah kaki kanan Azizah.
“Kamu tidak perlu khawatir, bawakan saja aku pakaian ganti ya mbak!” pinta Azizah ramah.
“Baiklah nona!
Azizah mandi dengan sangat pelan. Bagaimana tidak, kakinya sangat sulit digerakkan. Pelan tapi pasti air demi air membasahi dirinya.
Indah mondar-mandir di depan kamar mandi, ia takut jika terjadi apa-apa terhadap Azizah.
Tok.. tok..
“Nona!” panggil Indah memastikan bahwa Azizah tak kenapa-kenapa di dalam.
“Sebentar lagi aku selesai,” teriak Azizah di dalam kamar mandi, ia saja tidak tahu kapan dirinya selesai memakai pakaian.
30 menit kemudian.
“Lihat!! aku bisa mandi sendiri,” ucap Azizah berbangga diri.
“Nona, lain kali biar saya saja yang memandikan nona Azizah. Saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anda,” balas Indah dengan sangat ramah dan sopan.
“Tapi....”
“Saya tidak ingin dipecat oleh Tuan muda Steven, saya benar-benar butuh pekerjaan ini,” ucap indah jujur.
Azizah dibuat dilema oleh Indah, bagaimanapun Ia harus menolak. Azizah tidak ingin tubuhnya diekspos oleh orang lain kecuali Suaminya.
“Mbak tenang saja, Pak Steven tidak akan memecat mbak,” ucap Azizah yakin, Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan ucapnya itu.
“Baiklah nona,” balas Indah Pasrah.
“Keluar!” perintah Steven tanpa menimbulkan langkah kaki dan langsung membuat mereka terkejut.
“Astaghfirullah,” ucap Mereka terkejut. karena tak terdengar suara langkah kaki Steven, malah tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamar Azizah.
Steven menahan tawanya, bahkan ia berpikir bahwa dirinya seperti hantu yang tiba-tiba muncul menakuti mereka.
“Kamu keluar!” tunjuk Steven asal.
“Saya Tuan muda?” tanya Indah Memastikan.
“Ya,” jawab Steven singkat tanpa menoleh ke arahnya dan malah menoleh ke arah Azizah.
“Baik Tua muda!”
Azizah memainkan jarinya agar tidak terlihat gugup, ia kemudian memandang ke arah lain untuk membuang kegugupan itu.
Steven berjalan mendekati Azizah, Ia bahkan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu gadis bodoh?” tanya Steven ditelinga Azizah.
Bulu kuduk Azizah langsung berdiri, ingin rasanya ia menendang Steven jauh-jauh. Namun niatnya ia urungkan melihat kondisinya seperti itu.
Azizah memundurkan kursi rodanya, ia begitu gugup sampai menyentuh kursi roda bagaikan menyentuh batu besar yang sulit digerakkan.
“Jangan bergerak,” ucap Steven mendelik tajam ke arah Azizah.
Entah mengapa Azizah seperti terhipnotis, ia pun terdiam mengikuti ucapan Steven.
“Apa aku begitu menakutkan? Kemana sikapmu yang berani itu?” tanya Steven yang masih menatap tajam ke arah Azizah.
Azizah menelan Saliva nya dengan penuh tenaga, ia seperti tertangkap basah.
“Jawab!”
“Sa..saya minta maaf Pak Steven Walker,” ucap Azizah yang begitu gugup.
“Kamu harus aku hukum,” ucap Steven yang kini berjongkok sejajar dengan Azizah.
“Hu..hukum?” tanya Azizah terbata-bata.
"Ya! kamu harus dihukum" Ucap Steven dengan nada yang begitu menyeramkan.
Apakah aku akan mati disini?
“Saya mohon Pak, jangan bunuh saya!” pinta Azizah sambil merapatkan kedua tangannya memohon.
Cih, apakah aku sekejam itu membunuh gadis bodoh ini.
“Apakah kamu sudah makan?” tanya Steven yang langsung mendapat tatapan heran dari Azizah.
“Be..belum Pak,” ucap Azizah.
“Indah!” panggil Steven dengan nada sedikit meninggi.
Indah mendengar namanya dipanggil langsung lari menghampiri asal suara itu.
“Ada perlu apa Tuan muda?” tanya Indah terengah-engah.
“Bawakan makanan kesini!” pinta Steven tanpa menoleh ke arah Indah.
“Baik Tuan muda,” balas Indah lalu dengan cepat berjalan menuju dapur.
Azizah sangat bingung, ia bahkan menerka-nerka bahwa Steven tak jadi menghukum dirinya dan bahkan menyuruh dirinya untuk makan bersama.
Ya Tuhan, apa dia berubah pikiran dan berbaik hati untuk makan bersama?
“Ini Tuan muda makanan anda dan nona Azizah,” ucap Indah yang masih membawa makanan ditangannya.
“Siapa suruh kamu bawa 2 porsi?” tanya Steven yang kini berdiri dan menoleh ke arah Indah.
“Berikan seporsi untukku, setelah itu kamu pergi!” perintah Steven dengan tatapan tajam.
“Baik Tuan muda,” balas Indah dan menuruti perintah majikannya.
Azizah kembali dibuat heran, Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Steven.
Steven mendorong kursi roda Azizah ke arah sofa, diangkatnya tubuh Azizah. Azizah meronta-ronta ingin dilepaskan namun tubuhnya malah makin erat dengan menyentuh tubuh Steven, ia pun menyerah dan diam mematung.
“Seharusnya Bapak jangan menggendong saya seperti itu lagi,” ucap Azizah kesal.
“Ssuttt!”
“Ini!” sambung Steven sambil memberikan piring yang berisikan makanan yang terlihat nikmat.
“Kebetulan saya lapar Pak,” ucap Azizah yang membuka mulutnya dan ingin melahap makanan itu, namun tangannya ditahan oleh Steven.
“Siapa suruh kamu makan?” tanya Steven dengan sangat dingin.
“Lalu Bapak memberikan saya makanan untuk apa?” tanya Azizah.
“Suapi aku!” ucap Steven sambil membuka mulutnya.
Azizah ternganga lebar, ternyata bukan ia yang menikmati makanan tersebut melainkan Steven. Bahkan Steven meminta dirinya untuk menyuapi Si bossy itu.
“Tutup mulutmu, nafasmu bau,” ledek Steven yang langsung membuat Azizah menutup mulutnya.
“Cepat suapi aku!” perintah Steven membuka mulutnya.
Azizah berdecak kesal, ia bahkan memanyunkan bibirnya di depan Steven.
kemudian mengayunkan sendok menuju mulut Steven yang terbuka.
“Sangat nikmat,” puji Steven, entah itu pada makanannya atau pada yang menyuapi makanan itu.
Kruyuk.. kruyuk..
Azizah menunduk malu, ia bahkan mengutuki perutnya dalam batin.
Dasar perut jahanam, bisa-bisanya kamu berbunyi disaat yang tidak tepat seperti ini.
__ADS_1
“Hi..hi...”Steven tertawa kecil karena mendengar suara perut Azizah.
“Senang ya melihat saya seperti ini!”
“Sini berikan sendok ditanganmu!” seru Steven dan langsung mengambil sendok di tangan Azizah.
Steven mengambil nasi beserta lauk pauknya.
“Buka mulutmu!” perintah Steven yang sudah siap menyuapi Azizah.
“Tidak mau,” tolak Azizah sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
"Buka mulutmu atau kamu tidak boleh makan sampai besok" Ancam Steven.
Azizah dengan cepat membuka mulutnya, ia tidak pernah membayangkan akan bersuap-suapan seperti ini. Bahkan selama ia menjalani hubungan dengan Dimas ia tak pernah melakukan hal seperti ini.
Mereka telah selesai menikmati makanan yang terlihat sangat lezat apalagi sepiring berdua.
Sore berganti malam, Azizah masih duduk terdiam di sofa. Indah 2 jam yang lalu telah kembali ke rumahnya, ia hanya diberi jam kerja setengah hari.
Tinggallah Azizah dan Steven di apartemen itu.
Sementara Steven fokus dengan laptopnya duduk di samping Azizah. Azizah diam-diam memperhatikan Steven yang terlihat sangat fokus ke layar laptopnya.
“Apakah aku terlihat begitu tampan?” tanya Steven tanpa menoleh ke arah Azizah dan fokus mengetik.
“Si..siap yang melihat Bapak,” ucap Azizah membuang muka.
“Aku tidak mengatakan bahwa kamu melihat diriku,” b Steven santai. yang langsung membuat Azizah malu.
Azizah merapikan rambutnya, ia tak membalas perkataan Si bossy itu. sungguh malu rasanya tertangkap basah melihat Steven.
Steven tersenyum kecil, hatinya begitu senang menjahili Azizah si gadis bodoh itu.
Malam semakin larut, Azizah ingin sekali membuang air kecil. Namun ia sangat bingung bagaimana ia meraih kursi roda yang sangat sulit dijangkau oleh tangannya.
“Ada apa?” tanya Steven yang melirik ke Azizah yang sedari tadi terlihat tak nyaman.
“Pak, tolong ambilkan saya kursi roda!” pinta Azizah berusaha berani menyembunyikan kegugupannya.
Steven berdiri dan menarik kursi roda mendekati Azizah. Ia pun mengangkat tubuh Azizah lagi.
“Kenapa Bapak menggendong tubuh saya lagi?” tanya Azizah kesal dengan sikap Steven yang asal gendong.
“Katakan kamu ingin apa!”
Azizah meremas tangannya, ingin sekali ia mencakar wajah Steven yang seperti tak berdosa itu.
“Cepat katakan! kamu mau kemana dan ingin apa!”
“Bapak tidak perlu tahu, sebaiknya Bapak selesaikan pekerjaan Bapak,” sahut Azizah dengan berlagak berani padahal sebenarnya ia begitu takut.
“Apakah kamu ingin buang air kecil?” tanya Steven menebak.
Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku ingin ke kamar mandi, atau jangan-jangan selain si Bossy dia juga pembaca pikiran.
“Bagaimana Bapak bisa tahu?” tanya Azizah heran.
“Karena sedari tadi kamu hanya duduk, dan tidak nyaman duduk di sofa,” bisik Steven di telinga Azizah, membuat bulu kuduk Azizah berdiri.
Steven mendorong kursi roda Azizah menuju kamar mandi, sementara Azizah sangat ketakutan.
“Bapak jangan macam-macam terhadap saya, saya akan berteriak supaya bapak ditangkap karena mencoba membunuh saya.”
Steven tak menggubris perkataan Azizah, ia pergi meninggalkan Azizah di dalam kamar mandi.
Aneh.
Azizah lalu membuang air kecil, ia sangat lega akhirnya keinginan untuk ke kamar mandi telah terwujud.
“Sudah?” tanya Steven yang melihat Azizah baru keluar dari kamar mandi memakai kursi roda. kemudian diangguki oleh Azizah.
Lagi-lagi Steven menggendong tubuh Azizah, ia merebahkan tubuh Azizah di ranjang.
Azizah begitu terkejut ia bahkan menyilangkan tangan menutup dadanya.
“Bapak mau ngapain?” tanya Azizah ketakutan.
Steven tak menjawab, ia menutup tubuh Azizah dengan selimut. Azizah lagi-lagi dibuat heran dengan sikap Steven.
“Sudah malam cepat tidur!” perintah Steven sambil mengacak-acak rambut Azizah dan mencium kening Azizah.
Azizah sangat terkejut dengan perlakuan Steven, ia bahkan diam mematung tak percaya dengan perlakuan si Bossy.
Steven berjalan meninggalkan Azizah yang masih terdiam mematung, diambilnya laptop dan berkas-berkas yang masih berserakan di meja dekat sofa.
Steven kini benar-benar meninggalkan Azizah di kamar Seorang diri.
Apa yang barusan terjadi? Kenapa dia memperlakukan diriku seperti tadi? Apakah dia menyukai aku?
Steven memutuskan tidur di apartemen itu, selain karena perusahaannya dekat ia pun bisa menghabiskan waktu bersama Azizah.
__ADS_1