
Pagi itu Azizah mengajak sang suami untuk olahraga di GBK.
Azizah ingin sekali menikmati paginya untuk berjalan-jalan menyehatkan tubuhnya dan juga calon bayi diperutnya yang semakin hari semakin aktif di dalam sana.
“Sayang sini aku foto!” pinta Steven agar Azizah menatap ke arah kamera.
Azizah tersenyum dan tersenyum ke arah kamera.
“Cekrek... Cekrek...”
“Bagaimana hasilnya?” tanya Azizah ingin melihat hasil gambar jepretan dari suaminya.
“Lihatlah cantik kan?”
Azizah tersenyum puas karena jepretan kamera suaminya sangatlah cantik bahkan tubuhnya yang mulai berisi tak terlihat sama sekali.
“Sekarang kita foto berdua setelah itu aku akan meng-upload foto kita di sosmed!”
“Baiklah!” seru Azizah.
“Cekrek... Cekrek... Cekrek...”
Steven mengambil gambar foto dirinya bersama Azizah bahkan foto mereka terlihat sangat mesra, membuat siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum dan juga pasti beberapa dari orang yang melihat mereka akan iri karena keromantisan mereka.
“Bagaimana bagus tidak?” tanya Steven.
“Suamiku memang terbaik,” puji Azizah.
Azizah dan Steven melanjutkan lagi jalan-jalan santai mereka mengitari lapangan GBK.
“Hamil muda ya mbak?” tanya seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan.
“Alhamdulillah iya Bu,” balas Azizah.
“Anak pertama atau...”
“Anak pertama kami bu,” potong Steven.
“Saya do'akan lancar ya mbak saat persalinan nanti,” ucapnya.
“Terima kasih Bu atas doa baiknya,” balas Azizah.
Wanita itu tersenyum dan pamit untuk pergi, sementara Azizah dan Steven saling melirik lalu tersenyum ceria.
“Ayo kita lanjutkan lagi!” ajak Steven.
“Iya suamiku ayo!” seru Azizah.
***
Mariska terlihat sibuk mencari Azizah dan juga Steven namun, tak menemukan dimana keberadaan suami istri itu.
“Kak Azizah dan kak Steven kemana sih pagi-pagi begini kok tidak ada dirumah,” ucap Mariska bermonolog.
__ADS_1
Salah satu pelayan datang mendekat, “Tuan muda dan nyonya muda sedang olahraga di GBK non,” ucap pelayan.
Kenapa mereka tidak mengajakku.
“Terima kasih ya bi sudah memberitahukan Mariska,” balas Mariska dan berjalan ke luar rumah.
Galih yang sedang mencuci mobil tak sengaja melihat Mariska yang nampak kesal bahkan mulutnya komat-kamit tidak jelas.
Kenapa lagi dengan cewek aneh itu, pagi-pagi sepertinya sudah kesal.
Mariska tak sengaja melihat Galih yang menatapnya dengan senyum diwajahnya, ia langsung melengos pergi.
Kenapa lagi dengan cowok aneh itu, pagi-pagi sudah membuatku kesal pakai senyum-senyum segala.
Mariska kemudian duduk di sofa ruang keluarga kebetulan di ruang keluarga ada Adam dan juga Yuli yang sedang menonton televisi.
Mariska duduk diam tak bersuara dengan wajah yang begitu kesal, Yuli yang melihat raut wajah keponakannya itu bergeser mendekati Mariska.
“Ada apa coba ceritakan saja mami!” pinta Yuli.
“Kak Steven dan kak Azizah pergi tidak mengajak Mariska mi,” ucap Mariska manja dan menghentakkan kakinya.
“Bukannya tidak mengajak kamu, kakak iparmu kamu tadi meminta mami untuk membangunkan kamu. Lalu mami membangunkan kamu tapi, apa jawaban kamu!”
“Apa mi!”
“Kamu bilang sama mami kalau masih mengantuk, jadinya ya begitu deh,” terang Yuli.
Mariska yang semula kesal sekarang malah menjadi malu, ia bahkan menyesal karena sudah berburuk sangka dengan Steven dan juga Azizah.
“Sudah tidak apa-apa, kamu sudah sarapan belum?”
“Belum mi, soalnya habis keluar kamar langsung mencari kak Steven dan juga kak azizah.”
“Memangnya ada urusan apa kamu mencari mereka?” tanya Yuli penasaran.
“Mariska ada urusan yang penting,” balas Mariska.
“Bisa beritahu mami?”
“Mariska membuatkan kak Azizah baju hamil mi, mami kan tahu sendiri kalau Mariska suka menjahit,” ucap Mariska.
“Pasti bagus, bolehkah mami melihat hasil jahitan kamu?” tanya Yuli penuh harap.
“Sayangnya baju hamil kak Azizah tidak disini mi, Mariska mencari kak Steven dan Kak Azizah agar mengantarkan Mariska ke apartemen. Mami tahu sendiri kan kalau peralatan menjahit Mariska ada di apartemen,” terang Mariska panjang lebar.
“Iya mami tahu, mungkin sebentar lagi mereka pulang,” ucap Yuli lembut. “Sekarang kamu sarapan sana, keburu siang!” perintah Yuli.
“Oke mi, Mariska sarapan dulu,” ucap Yuli.
Mariska dengan cepat pergi menuju dapur, Yuli tertawa kecil dan berbalik badan menoleh ke arah sang suami yang ternyata menatapnya dengan begitu intens.
“Ada apa menatap mami seperti itu Pi?” tanya Yuli dan bergeser mendekati suaminya.
__ADS_1
“Tidak ada, papi hanya menyimak pembicaraan kalian yang begitu so sweet,” balas Adam.
“Papi ini dasar deh, sudahlah kita lanjutkan lagi nonton TV nya!” ajak Yuli.
***
Steven dan Azizah baru saja sampai, Galih yang sedang duduk santai segera berlari untuk membukakan pintu mobil majikannya.
“Terima kasih,” ucap Azizah saat Galih membukakan pintu mobil untuknya.
Steven turun dan segera merangkul pinggang Azizah, mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama.
“Selamat pagi menjelang siang tuan muda Steven dan nyonya muda Azizah!” sapa keempat bodyguard.
Steven dan Azizah hanya tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap mereka dan tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Tiba-tiba Mariska datang dan menghampiri suami istri itu.
“Waalaikumsalam, akhirnya kak Steven dan kak Azizah pulang juga,” ucap Mariska dengan begitu semangat.
“Kamu kenapa?” tanya Steven dingin.
“Kak Steven ini masih pagi tidak usah berlagak seperti harimau,” ucap Mariska yang sejujurnya ia takut mengatakan hal itu tapi, berhubung ada kakak iparnya jadinya ia berani mengatakan hal itu.
“Sayang kalau bicara dengan Mariska hari lembut,” sahut Azizah.
“Tuh dengar yang dikatakan kak Azizah,” celetuk Mariska.
“Mami dan papi mana?” tanya Azizah pada Mariska.
Baru saja Mariska membuka mulutnya Steven sudah mengajak Azizah pergi ke kamar.
“Sayang ayo ke kamar, tubuhku sangat bau!” ajak Steven.
“Nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya, tubuh kami memang sangat bau,” ucap Azizah dan melangkah kakinya mengikuti suaminya.
Baru juga mau ngomong kak Steven sudah mengajak kak Azizah ke kamar. Sepertinya enak ya kalau sudah menikah apa-apa ada yang nemenin. Sadar Mariska umurmu saja masih 17 tahun dan sikapmu saja masih kekanak-kanakan.
Mariska memanyunkan bibirnya lalu menyusul Adam dan Yuli yang sedang berada di halaman belakang rumah.
Azizah dan Steven sudah berada di kamar, mereka sedang menikmati kebersamaan mereka berdua di bathtub.
Steven tersenyum ceria saat melihat perut Azizah yang menonjol ditambah pergerakan dari dalam perut istrinya.
“Anak kita benar-benar hebat, kamu yakin tidak ingin hasil USG anak kita?” tanya Steven.
Karena selama kehamilan Azizah tak pernah ingin di USG, kalaupun di USG Azizah meminta sang dokter untuk tidak memberitahukan jenis kelamin anak mereka itu semua karena ia ingin membuktikan bahwa tebakannya adalah benar bahwa anak yang dikandungnya adalah laki-laki.
“Yakin, Dokter mengatakan bahwa anak kita baik-baik saja jadi jangan cemas,” ucap Azizah jujur.
“Baiklah!”
__ADS_1
Sebenarnya aku sangat ingin mengetahui jenis kelamin bayi ku dan Azizah.
Tapi, tidak masalah 5 bulan lagi aku akan mengetahui jenis kelamin bayi kami.