Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 157


__ADS_3

Dokter wanita datang ke kamar hotel Azizah dan Steven, ia tak lain dan tak bukan adalah dokter kandungan.


Steven terus berada di samping istrinya yang terlihat begitu pucat, ia terus membelai lembut rambut Azizah.


“Bagaimana dok keadaan istri dan calon anak kami?” tanya Steven khawatir sekaligus penasaran.


“Istri tuan baik-baik saja. Tapi, saya sarankan agar nyonya tidak kena angin malam. Apakah sebelumnya nyonya keluar malam-malam?” tanya dokter.


“Iya dok, kemarin malam saya dan suami keluar untuk menikmati malam Minggu,” balas Azizah berkata jujur.


“Itu juga pemicunya kenapa anda seperti ini nyonya, ibu hamil sebaiknya jangan sering-sering keluar malam apalagi anda saat ini sedang mengalami trimester pertama,” terang dokter.


“Baik dok,” balas Azizah dan melirik Steven.


Dokter itu memberikan penjelasan secara detail mengenai apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat sedang hamil muda, Azizah dan Steven mencermati apa yang dikatakan sang dokter.


Cukup lama akhirnya dokter itu berpamitan untuk pulang.


Setelah dokter pulang, Azizah langsung memeluk suaminya.


“Maaf,” ucap Azizah dengan penuh penyesalan.


“Maaf kenapa sayang? hal seperti itu wajar. Lain kali jangan kena angin malam dulu ya sayang!” pinta Steven lembut.


“Baiklah sayang,” balas Azizah sambil terus memeluk tubuh kekar suaminya.


“Apa sudah lebih baik?” tanya Steven.


“Sedikit, bolehkah aku makan pecel?” tanya Azizah sambil mengelus-elus perutnya.


Sekarang istriku sudah ingin makan? baguslah kalau begitu.


“Pecel lele maksudnya?” tanya Steven memastikan.


Azizah menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Bukan pecel lele. Tapi, pecel yang ada lontong, sayuran dan ulekan kacang,” jelas Azizah.


“Pecel lontong? baiklah aku akan mencarikannya sekarang!” seru Steven.


“Kita pergi sama-sama. Tapi...”


“Tapo apa sayang?” potong Steven. Ia berpikir bahwa istrinya akan meminta yang aneh-aneh.


“Kita pergi ke warung yang menjual pecel lontong. Tapi, kamu yang membuatkan untuk ku,” terang Azizah.


“Haaa?” Steven melongo lebar.


Benar dugaan ku, istriku pasti meminta hal-hal yang aneh.


“Kok malah melongo, tutup nanti adalah lalat masuk!” perintah Azizah dengan tatapan tajam.


Steven langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


“Sekarang kita pergi!” perintah Azizah.


“Sekarang?” tanya Steven memastikan.


“Tidak, tahun depan!” tegas Azizah, “Ya sekarang suamiku.” Lanjut Azizah sambil melipat kedua tangannya ke dada.

__ADS_1


Steven menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.


Sabar Steven, sekarang istrimu ini sedang dalam masa mengandung jadi, kamu harus ekstra sabar.


“Ya sudah ayo sayang!” seru Steven dan beranjak dari ranjang, ia lalu menggendong tubuh Azizah.


“Turunkan! aku bisa jalan sendiri,” ucap Azizah.


“Baiklah,” balas Steven pasrah.


“Ganti baju terlebih dahulu sayang,” ucap Azizah.


“Baiklah aku akan ganti baju, kamu juga ya sayang!”


“Iya bawel," cetus Azizah.


Beberapa menit kemudian.


Azizah dan Steven telah selesai berganti pakaian, mereka kemudian berjalan menuju pintu untuk melanjutkan keinginan Azizah memakan pecel lontong buatan Steven. Entah apa rasanya yang penting Steven harus membuatkannya terlebih dahulu.


Di saat bersama Yuli baru saja keluar dari kamar hotel dan melihat anak dan menantunya keluar kamar dengan pakaian rapih.


“Azizah sudah membaik?” tanya Yuli saat melihat Azizah sudah berdiri dan wajahnya tak terlihat pucat, “Kalian mau kemana pakai baju rapih begini?” lanjut Yuli lagi.


Steven berjalan mendekati sang ibu, “Steven dan Azizah akan keluar mi, kebetulan Azizah ingin makan pecel lontong buatan suaminya,” terang Steven.


Yuli tertawa kecil ketika tahu alasan mereka akan keluar, “Ya sudah pergilah, ingat pulang jangan sore-sore. Azizah sekarang sedang mengandung.”


“Kami pergi dulu mi, Assalamualaikum!”


“Waalikumsalam!” seru Yuli dan memperhatikan suami istri itu pergi menjauh barulah setelah itu ia masuk ke kamar hotel yang ia tempati bersama dengan Adam.


“Selamat siang Tuan muda dan nyonya muda!” sapa Galih sambil membukakan pintu mobil.


“Siang juga!” seru Azizah.


Steven hanya tersenyum tipis kepada Galih, kemudian masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Steven langsung merangkul pinggang Azizah.


“Jalan sekarang!” perintah Steven.


“Kita kemana Tuan muda?” tanya Galih.


“Cari sekitar sini warung atau apapun penjual pecel lontong!”


“Baik Tuan muda!” seru Galih dan menyalakan mesin mobil kemudian pergi ke tempat tujuan sedapatnya.


“Sayang, aku rindu Bu Darmi,” ucap Azizah sambil bersandar di pundak Steven.


“Kamu ingin menemuinya istriku?”


Azizah mengangguk pelan, “Iya aku sangat ingin menemui Bu darmi.”


“Boleh. Tapi, Jangan hari ini ya sayang!” pinta Steven.


“Lalu kapan?” tanya Azizah.

__ADS_1


“Besok saja.”


“Oke besok ya, janji!”


“Iya janji!”


Galih tersenyum tipis mendengar pembicaraan suami istri itu, ia kagum dengan sikap Steven yang begitu lembut terhadap istrinya.


Tuan muda Steven benar-benar lembut jika berhadapan dengan wanita yang dicintainya.


Aku salut dengan tuan muda.


15 menit kemudian.


“Galih berhenti sekarang!” perintah Azizah.


“Ciiittt.” Suara mobil berdecit.


Seperti biasa, Azizah akan memerintah Galih berhenti secara mendadak. Untungnya Steven adalah suami siaga karena kalau tidak sudah pasti Azizah akan terjatuh ke depan.


“Maaf Nyonya muda dan tuan muda,” ucap Galih meminta maaf.


“Kamu tidak perlu minta maaf,” balas Steven karena tahu istrilah yang menyebabkan Galih mengerem mobil secara mendadak.


“Sayang lihat itu warung pecelnya!” tunjuk Azizah.


“Ya sudah ayo kita turun!” seru Steven.


Galih melihat spion mobil barangkali ada kendaraan lain yang berada di belakang mobil, setelah di rasa aman barulah ia keluar dan membukakan pintu mobil untuk majikannya.


“Ayo sayang!” ajak Azizah setelah keluar dari mobil dengan tidak sabaran.


“Iya sayang!” seru Steven.


Azizah merangkul lengan suaminya dan berjalan ke warung pecel lontong.


“Bu saya mau pecel lontongnya ya! Tapi, suami saya yang membuatkannya,” terang Azizah.


Ibu penjual pecel itu hanya diam, ia masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh wanita dihadapannya.


“Sayang kamu duduk disini dulu ya, biar aku yang menjelaskan kepada ibu ini!” pinta Steven.


“Baiklah," balas Azizah lirih kemudian duduk di kursi bambu.


Steven mendekat ke arah ibu itu, “Begini Bu, istri saya sekarang sedang mengandung dan ia meminta saya untuk membuat pecel lontong dari tangan saya. Bisakah ibu mengizinkan saya membuat pecel lontong sendirian tapi, ibu yang mengarahkan saya untuk membuatnya,” jelas Steven.


“Oalah jadi begitu, yowes kamu ibu ajarkan!” seru ibu itu dengan campuran logat jawanya.


Demi istri dan anak, aku rela seperti ini.


Seumur hidupku, baru kali ini aku menyentuh benda aneh ini.


Steven mengikuti arahan ibu penjual pecel, ia mengulek bumbu kacang itu dengan tidak karuan. Keringatnya mengucur deras di keningnya, ia lebih memilih menghadapi tumpukan berkas daripada harus melakukan seperti itu. Namun, ia tidak bisa menolak karena itu adalah keinginan istri dan juga calon anak yang kini berada di rahim Azizah.


Azizah menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah suaminya yang begitu menggelikan ditambah bajunya yang rapih dan bersih itu kini sudah di penuhi oleh noda bumbu kacang.


Maafkan aku dan juga calon anak kita suamiku, kamu benar-benar suami yang baik. he..he..

__ADS_1


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏


__ADS_2