Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 213


__ADS_3

Orang yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Azizah akhirnya datang juga, mobil Mike memasuki pekarangan rumah Steven Walker.


“Tin... tin...” Suara klakson mobil.


Azizah yang sedang berada di ruang keluarga bersama Bi Ana memutuskan untuk segera menghampiri sang sahabat dan juga Mike.


“Bi, tolong jaga Farhan sebentar!” pinta Azizah.


“Baik nyonya muda!”


Azizah berjalan menuju depan rumah dengan laga terburu-buru.


“Yana!” teriak Azizah bahagia.


Yana tersenyum melambaikan tangannya dan berjalan menuju sang sahabat.


“Apa kabar sahabatku?” tanya Yana sambil memeluk tubuh Azizah.


“Alhamdulillah aku baik, bagaimana keadaan kamu dan bayimu ini?” tanya Azizah kemudian melepaskan pelukannya dan mengelus lembut perut Yana.


“Alhamdulillah kami baik.”


“Jadi kapan kamu akan melahirkan?” tanya Azizah sambil menuntun Yana masuk ke dalam.


Mike ikut masuk dan terus memperhatikan kedua wanita di depannya yang terlihat tak ingin dipisahkan.


“Kata dokter kemungkinan akhir bulan Februari melahirkan atau bisa jadi awal Maret,” jelas Yana.


“Berarti kamu sudah tahu jenis kelamin calon bayi kalian?” tanya Azizah penasaran.


“Bi, tolong buatkan minuman dan bawa beberapa cemilan ya!” pinta Azizah.


“Siap nyonya muda!”


Yana dan Mike saling melirik satu sama lain, karena pertanyaan dari Azizah.


“Hei, kenapa kalian diam saja. Apakah perempuan?” tanya Azizah.


Dengan cepat Yana dan Mike menggelengkan kepala.


“Jadi laki-laki ya?” tanya Azizah sedikit sedih karena rencananya untuk menjodohkan Farhan akhirnya tidak jadi.


“Iya begitulah,” jawab Yana.


Pelayan datang dengan membawa jus jeruk dan beberapa cemilan.


“Silahkan dinikmati!” ucapnya.


“Terima kasih bi,” balas Azizah.


Azizah izin sebentar untuk mengambil bayinya yang sedang di jaga oleh bi Ana.


Ia melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumah.


“Bi Ana!” panggil Azizah pada bi Ana yang berdiri membelakangi Azizah.


Wanita paruh baya itu berbalik badan dan menghampiri majikannya.


“Iya nyonya muda!”


“Bi, Farhan sama saya ya!”

__ADS_1


Bi ana mengangguk dan memberikan bayi mungilnya kepada ibu kandung sang ibu.


“Bi, saya mau kembali ke ruang keluarga. Ada sahabat saya dan juga suaminya!”


“Baik nyonya muda!”


Azizah pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Secara bersamaan rupanya sang suami telah kembali dari perusahaannya.


“Sayang!” panggil Steven dengan suara lantang.


Azizah yang belum sampai ruang keluarga sedikit mempercepat langkahnya karena mendengar panggilan dari pria yang teramat dicintainya.


“Hai Mike, hai Yana!” sapa Steven ketika tak sengaja melihat sahabat dan juga Yana.


Mike memeluk sekilas tubuh Steven.


“Kau semakin tampan saja,” puji Mike.


“Tentu saja,” jawab Steven dengan penuh percaya diri.


“Sudah pulang sayang,” ucap Azizah kemudian mendekati suaminya.


Steven membelai lembut rambut Azizah dan mengecup kening istrinya.


“Kalian duduklah!” pinta Steven karena Mike dan Yana masih saja berdiri ketika menyambut dirinya.


Mike dan Yana kompak mendaratkan kembali bokong mereka ke sofa.


“Sayang tolong jaga Farhan ya, aku akan langsung membuatkan nasi goreng untuk Yana!”


Tanpa berpikir panjang Azizah langsung melenggang pergi menuju dapur. Ia sangat senang membuat nasi goreng untuk sahabatnya, tiba-tiba Azizah dikejutkan dengan tangan yang menepuk bahunya.


“Astaghfirullah,” ucap Azizah kemudian menoleh ke arah orang yang menepuk bahunya.


“Yana! kamu mengangetkan aku saja,” sambung Azizah sambil mengelus-elus dadanya.


“Maaf,” ucap Yana kemudian tersenyum lebar.


“Kamu kenapa disini? duduk saja jangan ke dapur!” pinta Azizah.


“Aku malas jika harus duduk apalagi bersama suamiku dan suamimu yang dari tadi sibuk membahas soal pekerjaan,” jelas Yana sambil memijat pelipisnya.


“Tunggu sebentar!” pinta Azizah lalu mengambil kursi untuk sahabatnya.


“Sekarang kamu duduk cantik disini dan jangan banyak bergerak, wanita hamil itu butuh istirahat,” ucap Azizah kemudian kembali menyibukkan diri mengupas bawang dan menyiapkan bahan-bahan yang lain untuk membuat nasi goreng.


Inilah sahabatku Azizah Cahyani yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.


Hal yang paling aku senangi adalah mengenal sosok Azizah yang jarang dimiliki oleh wanita lain bahkan mungkin langka


Dua pelayan menghampiri majikannya yang terlihat sedikit kesulitan untuk membantu Azizah. Namun, Azizah dengan lembut menolak untuk dibantu. Azizah ingin membuat nasi goreng khusus untuk sahabatnya yang tengah hamil dari hasil tangannya sendiri.


“Mau ditambahkan sosis?” tanya Azizah.


“Boleh,” jawab Yana.


Azizah memotong sosis rasa ayam panggang sebagai campuran nasi goreng.


“Kedua orangtuamu bagaimana kabarnya?” tanya Azizah.

__ADS_1


“Alhamdulillah mereka sehat, rencana aku akan melahirkan di Magetan. Mami dan papi berulang kali memintaku dan Mike segera ke magetan.”


“Lalu, kapan kamu dan suamimu pulang ke Magetan?”


“Rencananya dua Minggu lagi.”


Akhirnya nasi goreng spesial buatan Azizah jadi juga.


“Sudah jadi, ayo kita ke meja makan!” ajak Azizah.


Yana beranjak dari kursi dan mengikuti sahabatnya ke meja makan untuk menikmati nasi goreng yang sangat ia inginkan.


“Eitsss!” Azizah mencegah tangan Yana yang menyendok nasi goreng.


“Tunggu dingin dulu! Nasi gorengnya kan masih panas.”


Yana tertawa kecil dan mengikuti ucapan dari sahabatnya.


Di ruang keluarga.


Steven dan Mike masih saja berbincang-bincang seputar pekerjaan dan perusahaan, meski sedang berbincang-bincang dengan Mike, Steven masih sempat mengajak bayinya berbicara digendongnya.


Mike kemudian mencium bau wangi dari dapur dan tiba-tiba ia berdiri sambil melangkahkan kakinya menuju dapur, Steven hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan dari sahabatnya dan memutuskan untuk menyusul istrinya yang juga berada di ruang dapur.


“Sudah jadi sayang?” tanya Steven.


“Alhamdulillah sudah,” jawab Azizah kemudian memberikan seporsi nasi goreng buatannya kepada sang suami.


“Aku sudah menyiapkannya juga untukmu sayang,” sambung Azizah.


Mike melihat sekilas ke arah Steven dan ikut menikmati nasi goreng yang berada di piring sang istri.


“Kami so sweet kan, menikmati nasi goreng sepiring berdua,” ucap Mike dengan bangganya.


Steven tak menghiraukan ucapan dari Mike, pria blasteran itu fokus menikmati nasi goreng yang dibuat oleh istrinya.


“Terima kasih Azizah, nasi goreng buatan kamu sangat enak bahkan nasi goreng terbaik yang pernah aku makan,” puji Yana dengan mengacungkan kedua jempolnya.


“Kamu ini berlebihan, tentu saja masakan aku tidak ada apa-apanya sama masakan di restoran,” balas Azizah.


Yana terkejut dan menyentuh perutnya saat bayi di dalam perutnya menendang.


“Sayang, yang aku bilang juga apa. Bahkan bayi kita bergerak karena menyukai masakan dari Azizah,” ucap Yana.


Azizah tertawa kecil karena sahabatnya begitu senang memuji dirinya.


Setelah selesai menikmati nasi goreng, mereka memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga.


“Oek... oek...” Suara bayi Farhan menangis.


Azizah mengambil bayinya dari gendongan sang suami untuk memberikan ASI.


“Yana, aku permisi ke kamar sebentar ya! Farhan sepertinya haus lagi!”


“Oke tidak apa-apa, aku akan tunggu disini!"


“Aku antar kamu ya sayang!” seru Steven.


“Tidak perlu sayang, aku bisa sendiri. Kamu sebaiknya temani Yana dan juga Mike!”


Steven pun mengangguk menyetujui keinginan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2