Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 85


__ADS_3

Kini mereka telah berada di kedai makanan, mereka memesan begitu banyak makanan.


“Sekarang kita makan!” ajak Azizah.


“Makan-makan!” seru Mariska.


Mereka bertiga makan dengan sangat lahap.


“Kak Azizah cepat ceritakan!” pinta Mariska sambil menyeruput jus jeruk.


“Ceritakan apa?” tanya Azizah bingung.


Yana hanya memperhatikan kedua wanita di depannya sambil terus menyantap seblak yang ia pesan.


“Itu yang tadi Mariska tanyakan di apartemen, kak Azizah ke apartemen sendiri atau diantar oleh kak Steven? soalnya kalau tidak salah pak Heru sedang pulang kampung ke Bandung,” jelas Mariska.


Azizah terdiam dan langsung mengingat kejadian semalam yang membuat kesal ditambah subuh tadi Steven pergi ke Inggris tak membangunkannya.


“Kak Azizah!”


Azizah tetap diam ia sangat sedih, rasanya ingin sekali ia menyusul sang suami ke Inggris.


“Kak Azizah!” panggil Yana sambil menepuk bahu kakak iparnya.


“Haaaa? apa?” tanya Azizah bingung.


“Kak Azizah Mariska panggil dari tadi bukannya menjawab malah melamun,” ucap Mariska.


“Iya Azizah kamu kenapa? ada masalah?” tanya Yana penasaran melihat perubahan Azizah yang nampak sedih.


Mata Azizah tiba-tiba memerah air matanya telah siap untuk meluncur dengan cepat Azizah mengambil tisu yang ada didepannya.


“Kak Azizah menangis?” tanya Mariska.


“Kamu menangis Azizah, kenapa?” imbuh Yana.


Mariska dan Yana sangat penasaran mengapa Azizah tiba-tiba menangis.


“Steven... Steven... hiks..hiks” Azizah menangis dan tak berani melanjutkan ucapannya.


Untungnya di kedai itu terdapat sekat ruangan sehingga pengunjung kedai yang lain tidak dapat melihat Azizah yang sedang menangis.


Mariska dan Yana kompak menggeser kursi mereka mendekati Azizah mereka berdua menyudahi aktivitas mengunyah makanan.


“Kamu kenapa Azizah? ada apa sebenarnya?” tanya Yana yang mulai panik.


“Kak Azizah pokoknya harus cerita sama kita sebenarnya ada apa?”


Cukup lama bagi Azizah menenangkan hatinya, ia menghapus berkali-kali air matanya yang telah tumpah.


Ia mencoba mengatur nafasnya yang sedari tadi menggebu-gebu akibat emosi dihatinya.


“Apakah kamu tahu Steven pergi?” tanya Azizah yang menatap ke arah Mariska.


Mariska menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tidak mengerti, “Tidak kak Azizah.”


“Steven subuh tadi pergi ke Inggris dan parahnya ia tidak memberitahukan aku, sebagai istri hal seperti itu adalah hal yang menyakitkan. Sudah beberapa kali Steven tak pernah memberitahukan kemana ia akan pergi,” ungkap Azizah.


“Mungkin kak Steven sangat sibuk kak Azizah, Meski Mariska tidak tahu benar bagaimana kak Steven. Tapi Mariska yakin bahwa kak Steven tidak ada maksud seperti itu, karena kak Steven sangat mencintai kak Azizah,” sahut Mariska.


Sebenarnya apa yang direncanakan kak Steven? Entahlah hanya kak Steven yang tahu.


“Kamu harus kuat Azizah, Azizah yang aku kenal adalah Azizah yang kuat. Mungkin Suamimu sedang ada urusan yang penting dan mendesak,” sahut Yana.


Azizah cukup tenang karena telah mengeluarkan apa yang ada dihatinya.

__ADS_1


“Terima kasih Mariska , terima kasih Yana sekarang aku sudah lebih baik,” ucap Azizah dan tersenyum.


Dikediaman Steven Walker.


Adam, Yuli beserta Teressa sudah kembali dari apartemen. Mereka juga tahu bahwa sang anak yaitu Steven Walker sedang berada di Inggris.


“Azizah kenapa belum kembali?” tanya Yuli bermonolog.


Adam datang dengan membawa 2 cangkir teh hijau.


“Kamu kenapa mi?” tanya Adam sambil meletakkan teh di meja ruang keluarga.


“Azizah jam segini belum juga kembali Pi, Steven juga salah kenapa dia malah tidak melaporkan keberangkatannya ke inggris.” Yuli mengoceh sebal dengan sikap anaknya.


“Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur dengan urusan mereka mi, mereka kan sudah sama-sama dewasa apalagi mereka telah menjadi suami istri,” sahut Adam.


“Iya mami tahu Pi tapi sebagai orang tua kita juga harus menjadi penengah untuk mereka berdua Pi,” terang Yuli.


“Iya..iya papi tahu, sekarang mami minum teh hijau ini!”


Yuli pun mengambil teh hijau buatan sang suami, dipikirannya masih kesal dengan Steven.


Mami harap kamu bisa mengerti tentang perasaan wanita Steven, mami tidak ingin kehilangan Azizah. Bagi mami Azizah sudah seperti keluarga mami sendiri.


Yuli terperanjat mendengar suara motor ia pun melangkahkan kakinya menuju halaman depan rumah melihat siapa yang datang.


“Selamat sore nyonya muda!” sapa beberapa pelayan dan bodyguard.


“Sore juga!” seru Azizah.


Yuli sedikit terkejut melihat Azizah datang dengan tukang ojek, ia pun menghampiri Azizah.


“Azizah!” panggil Yuli dan memeluk tubuh Azizah.


“Mungkin 2 jam yang lalu, kamu kenapa naik ojek?” tanya Yuli heran.


“Biar lebih cepat mi, lagipula Azizah sangat suka naik motor daripada mobil,” sahut Azizah.


“Sudah pulang kamu nak?” tanya Adam.


“Sudah pi,” sahut Azizah dengan senyum cerianya.


“Ya sudah ayo masuk ke dalam ada yang ingin mami tanyakan!” ajak Yuli.


Tanyakan? kok aku jadi takut begini.


Haduh Azizah, kamu tidak boleh memikirkan macam-macam.


“Ba...baik mi!”


Mereka bertiga kini duduk bersantai di ruang keluarga.


“Kamu tadi kemana nak?” tanya Yuli.


“Ke apartemen mi, mengunjungi Mariska, Yana dan kedua orangtuanya,” sahut Azizah.


Yuli melirik ke arah Adam seolah-olah memberi kode agar Adam pergi meninggalkan dirinya dan Azizah. Adam yang mengerti kode dari sang istri dengan cepat pamit ke kamar.


“Papi ke kamar ya!”


“Oke Pi, nanti mami menyusul,” sahut Yuli.


Azizah hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis.


“Mami dengar dari bibi kalau Steven pergi ke Inggris dan tidak memberitahukan kamu apakah itu benar?” tanya Yuli memastikan.

__ADS_1


“Iya mi,” sahut Azizah lirih.


“Mami tahu perasaan kamu nak. Tapi mami yakin bahwa Suamimu tidak bermaksud seperti itu,” terang Yuli.


Tidak bermaksud seperti itu Bagaimana mi? ini bukan kali pertamanya Steven seperti itu, ini sudah kesekian kalinya bahkan ia meninggalkan aku saat ia memintaku untuk melayaninya.


“Iya mi Azizah mengerti!”


“Kamu habis dari Mall nak?” tanya Yuli yang melihat beberapa paper bag ditangan Azizah.


“Oh iya mi, tadi Azizah mengajak mereka berdua untuk berbelanja sekalian cari makan diluar,” jujur Azizah.


“Lain kali mami ikut ngeMall boleh?”


“Boleh dong mi, ini ada sesuatu buat mami, papi dan nenek!” ucap Azizah sambil menyerahkan paper bag berwarna coklat.


Yuli tersenyum dan membuka isi paper bag itu, “Wah piscok lumer,” ucap Yuli.


“Azizah belum sempat untuk membuatnya mi jadi Azizah beli piscok lumer ini.”


“Terima kasih ya nak,” sahut Yuli dan mencium pipi Azizah.


“Nenek kemana mi?” tanya Azizah.


“Nenekmu sedang tidur dikamar.”


“Ya sudah Azizah mandi dulu ya mi, tubuh Azizah berasa lengket.”


“Oke sayang!” seru Yuli.


Azizah meletakkan barang belanjaannya di meja dekat sofa ia tak langsung mandi melainkan mengistirahatkan tubuhnya sementara waktu di sofa.


Aku rindu kamu Steven.


Ia mengambil ponsel pintarnya yang diberikan oleh Steven, ia mencoba menghubungi Steven lewat aplikasi WhatsApp.


“Kamu sedang apa suamiku sayang?”


Tak lama pesan yang dikirim Azizah untuk Steven bercentang biru. Steven tak membalas ia malah menghubungi Azizah.


“Assalamualaikum istriku sayang!”


“Waalaikumsalam, kamu sekarang dimana?”


“Aku sedang berada di apartemen istriku sayang, maafkan aku karena tidak memberitahukan kamu terlebih dahulu.”


“Tidak masalah bukankah itu sudah biasa kamu lakukan!”


“Apakah kamu marah? maaf istriku sayang, aku berjanji setelah aku kembali kita pergi jalan-jalan melakukan bulan madu!”


“Aku ingin ke Paris bisakah kamu menuruti permintaanku?”


“Untuk istriku sayang apa yang tidak bisa aku turuti, baiklah kita akan pergi ke Paris!”


“Oke aku tunggu janjimu!”


Setelah berbincang-bincang cukup lama untuk melepaskan kerinduan Azizah pun mematikan sambungan telepon.


Perasaanku hari ini benar-benar seperti diaduk, untungnya saja Steven masih bisa dihubungi.


Bersambung....


Vote ya teman-teman.


Like ❤️ komen 👇 juga

__ADS_1


__ADS_2