Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 153


__ADS_3

Alun-alun Magetan.


Galih memarkirkan mobil di area parkir sekitar alun-alun Magetan, Azizah sangat senang melihat suasana Magetan yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai bersama Darmi yaitu bibi Azizah.


“Sayang kita duduk disitu ya!” ajak Azizah.


“Iya sayang!” seru Steven.


Azizah dan Steven turun dari mobil dan melangkahkan kaki mereka menuju anak tangga, wajah Azizah berseri-seri melihat pemandangan malam.


Steven melirik ke arah Mariska yang berjalan mengikuti mereka. Ia tidak ingin malam romantisnya dengan Azizah diganggu oleh Mariska.


“Jangan mengikuti kami,” ucap Steven.


“Lalu Mariska ngapain dong?” tanya Mariska dengan wajah sedih.


“Pergilah bersama Galih, kami ingin menikmati malam Minggu berdua tanpa ada pengganggu,” tegas Steven.


Azizah cuma terdiam melihat saudara sepupu itu, tak dapat dipungkiri memang benar yang dikatakan oleh suaminya.


Ia ingin sekali menikmati waktu berdua mereka.


“Baiklah,” ucap Mariska dan meninggalkan suami istri itu.


Menyebalkan, aku kan tidak tahu tempat ini.


Kalau aku tersesat bagaimana? lagipula aku malas sekali dengan cowok menyebalkan itu.


Mariska berjalan sambil memajukan bibir bawahnya, ia lalu melihat tempat duduk yang terbuat dari semen dan bergegas untuk duduk santai di kursi itu.


Galih yang berada di dalam mobil keluar dan menghampiri Mariska yang duduk sendirian.


“Kenapa duduk sendirian disini?” tanya Galih.


“Tidak usah sok akrab sama aku, sana pergi kamu,” usir Mariska.


“Lalu kamu hanya duduk disini? tidak mau jalan-jalan menikmati alun-alun ini?” tanya Galih memastikan.


“Ya mau lah,” balas Mariska tanpa menoleh ke arah Galih.


“Ya sudah ayo kita jalan-jalan!” ajak Galih.


“Tidak usah ajak aku,” ucap Mariska.


“Benarkah kamu hanya duduk sendirian disini? bagaimana kalau nanti ada orang jahat yang mendekatimu?” tanya Galih.


Mariska dengan sigap berdiri, “Ya sudah ayo!” seru Mariska.


Galih tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Mariska yang berjalan tepat di samping Galih.


Mariska terus saja menatap ke arah depan, ia begitu canggung berjalan berdampingan dengan seorang pria.


“Awas!” teriak Galih dan menarik tubuh Mariska.


“Ada apa?” tanya Mariska terheran-heran.


“Kalau jalan ya lihat ke bawah, kaki kamu hampir masuk ke selokan kecil itu,” jelas Galih.


Mariska menoleh ke bawah dan memang benar yang dikatakan oleh Galih.


“Terima kasih,” ucap Mariska kemudian melangkahkan kaki dengan sangat tergesa-gesa.


Baru saja mengatakan terima kasih, sekarang malah main tinggal.


🍃

__ADS_1


Steven merangkul pundak istrinya, Azizah yang mendapat perlakuan dari suaminya tersipu malu karena pria blasteran itu biasanya merangkul pinggang ramping miliknya dan bukan pundaknya.


“Kenapa sayang?” tanya Steven karena istrinya menatapnya dengan begitu lama.


“Aku merasa kita seperti orang pacaran saja,” balas Azizah dengan malu-malu.


“Anggap saja begitu, sebelumnya kita tidak pernah seperti ini,” terang Steven.


“Karena kamu selalu mengurungku di apartemen,” ucap Azizah.


“Karena kamu saat itu sedang sakit istriku.”


Steven mencium sekilas pipi istrinya.


“Muachhh.”


Azizah mendelik tajam ke arah suaminya yang dengan santainya mencium pipinya di tempat umum.


“Sayang kamu apa-apaan sih,” ucap Azizah dan memukul lengan suaminya.


Steven dan Azizah tertawa bersama, mereka begitu bahagia menikmati malam Minggu mereka di alun-alun Magetan.


Banyak pasang mata yang memperhatikan kemesraan Azizah dan Steven, ditambah wajah Steven yang begitu tampan.


Azizah merasa risih dengan tatapan para wanita yang menatap suaminya.


“Sayang kita pindah!” ajak Azizah.


“Baiklah, kita kesana ya!”


“Iya sayang.”


Azizah bergelayut manja di lengan suaminya, ia begitu kesal dengan mereka yang terang-terangan menatap suaminya.


“Sayang kita makan pentol bakso ya!” pinta Azizah.


“Pentol bakso itu sejenis bakso tapi bentuknya lebih kecil dan biasanya dari daging ayam,” terang Azizah.


“Baiklah aku ikut saja!”


Azizah terus menggenggam lengan suaminya dan berjalan menghampiri penjual pentol bakso.


“Pak beli pentol bakso 10 ribu dijadikan dua ya pak!” pinta Azizah.


“Pakai apa mbak?” tanya penjual itu.


“Pakai saus kecap pak!” seru Azizah.


Pak penjual pentol bakso itu langsung membungkuskan pesanan dari Azizah, Steven terheran-heran karena penjual itu tidak memberikan mangkuk untuknya dan istrinya makan menikmati pentol bakso tersebut.


“Sayang kenapa tidak pakai mangkuk dan malah memakai plastik?” tanya Steven pada Istrinya.


Azizah tak menjawab pertanyaan dari suaminya, ia menerima pentol bakso tersebut dan membayarnya.


“Ayo kita kesana sayang!” ajak Azizah.


Steven tak menjawab, pria itu berjalan berdampingan dengan istrinya hingga sampailah mereka di kursi yang terbuat dari semen.


“Sayang jawab aku dulu, kenapa tidak memakai mangkuk?” tanya Steven lagi karena ia benar-benar heran.


“Bapak itu tidak membawa mangkuk suamiku,” balas Azizah.


“Lalu buat apa dia berjualan?” tanya Steven.


“Bapak penjual itu cuma pedagang keliling yang memakai motor sayang, lagipula hal seperti itu sudah biasa disini,” terang Azizah.

__ADS_1


“Bagaimana kamu tahu?”


“Karena saat aku kecil, aku dan Bu Darmi sering sekali membeli pentol bakso. Hampir setiap penjual keliling memakai motor tidak memakai mangkuk justru memakai plastik seperti ini,” jelas Azizah.


Steven mengangguk kecil meski ia masih heran dengan cara penjual bakso tersebut.


Azizah mengambil salah satu plastik yang berisi pentol bakso kemudian ia menggigit ujung plastik tersebut dan mulai menikmatinya meski sedikit panas, Steven lagi-lagi terheran dengan cara makan istrinya.


Ia sama sekali belum pernah memakan makanan dengan memakai plastik.


“Ayo sayang nikmati, ini sangat enak,” ucap Azizah.


Apanya yang enak kalau cara makannya seperti itu.


“Sini aku bukakan,” ucap Azizah dan mengambil plastik yang berisikan pentol bakso milik suaminya.


Azizah menggigit ujung plastik itu dan menyerahkan plastik tersebut kepada suaminya.


“Coba sayang!”


“Benat tidak apa-apa?” tanya Steven.


“Ayolah sayang, ini sangat enak!”


Steven mulai mencicipi kuahnya.


Tidak buruk, rasanya lumayan di lidah.


Steven lalu memasukkan pentol bakso ke dalam mulutnya dan mulai mengunyahnya.


“Jadi rasanya seperti ini, lumayan enak,” ucap Steven.


Azizah tertawa kecil dan kembali menikmati pentol bakso itu, Steven pun tertawa kecil dengan kelakuannya yang sedikit aneh baginya.


Terima kasih istriku, darimu aku belajar banyak hal di sini.


Mengenalmu dan menjadikanmu istriku adalah hal terindah yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, selamanya aku akan tetap mencintaimu hingga ajal menjemput ku.


Azizah bersandar di lengan suaminya sambil menikmati pentol bakso itu, ia mengayun-ayunkan kakinya yang tak menyentuh tanah itu.


“Sayang lihat itu!" tunjuk Azizah kearah anak kecil yang berjalan di lapangan alun-alun Magetan sambil berlari kecil tak lupa ditemani oleh kedua orangtuanya.


“Sangat lucu, kita juga sebentar lagi akan memiliki bayi yang begitu lucu,” ucap Steven dan mengelus-elus perut Azizah.


“Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan!” ucap Azizah.


“Tebak-tebakan apa sayang?” tanya Steven penasaran.


“Tentang jenis kelamin anak kita,” balas Azizah.


“Baiklah, kamu duluan!”


“Anak yang aku kandung ini pasti bayi laki-laki,” ucap Azizah.


“Tidak, dia pasti perempuan,” balas Steven.


“Oke kita tunggu sampai anak kita ini lahir!” ucap Azizah.


“Setuju!” seru Steven.


.


.


Para readers ada yang mau tebak gk bayi yang dikandung Azizah berjenis kelamin apa? Komen ya!!❤️

__ADS_1


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏. Terima kasih..


__ADS_2