
Mobil akhirnya masuk ke dalam pekarangan rumah, terlihat di depan pintu sudah ada Adam dan Yuli yang menunggu kepulangan suami istri itu.
“Alhamdulillah kalian baik-baik saja,” ucap Yuli saat Azizah dan Steven sudah turun dari mobil dan mendekati kedua orang tua itu.
“Kami baik-baik mi, mami menunggu kami?” tanya Azizah.
“Mami sangat khawatir terjadi apa-apa pada kalian, ayo masuk!” ajak Yuli.
“Mami kamu bahkan menyuruh papi untuk menyusul kalian di kantor karena ponsel kalian dua-duanya tidak bisa dihubungi,” terang Adam sambil berjalan masuk ke dalam.
“Maaf membuat mami khawatir,” ucap Azizah.
“Bolehkah aku dan Azizah naik ke atas?” tanya Steven pada kedua orangtuanya.
“Ya sudah sana pergilah, mami tahu kalian pasti lelah,” ucap Yuli.
“Nanti kita ngobrol ya mami dan papi!” seru Azizah.
“Iya nak!” seru Adam dan Yuli.
Steven masuk ke dalam lift dan menggendong Azizah.
“Lepaskan sayang!” pinta Azizah.
“Tidak ada, hari ini aku sangat senang karena istriku membuatku makin cinta,” balas Steven.
Mendengar ucapan suaminya membuat Azizah tersipu malu, ia senang sekali suaminya mengatakan bahwa semakin mencintai dirinya.
“Aku pun makin cinta,” balas Azizah, “Ya ampun geli,” ucap Azizah sedikit tertawa.
Steven heran dengan istrinya karena tangannya fokus mengangkat tubuh istrinya.
“Kamu geli kenapa?” tanya Steven sambil berjalan menuju kamar.
“Anak kita bergerak lagi,” balas Azizah.
“Bemarkah, aku ingin merasakannya!” seru Steven kemudian Azizah membuka pintu kamar dengan tangannya lalu Steven berjalan memasuki kamar dan merebahkan tubuh Azizah di atas ranjang secara perlahan.
Azizah mengalungkan tangannya dileher suaminya dan mengecup pipi Steven.
“Terima kasih atas bantuan mu suamiku!”
“Terima kasih juga berkat kamu aku bisa membantu orang lain,” balas Steven.
Steven mengecup bibir Azizah dengan pelan kemudian kecupan itu lama-lama menjadi ciuman yang panas hingga akhirnya mereka sama-sama menikmati kebersamaan mereka di ranjang itu.
***
Mariska terbangun dari tidurnya dan berulang kali ia menampar-nampar pelan pipinya.
“Tidak... tidak mungkin.. itu cuma mimpi,” ucap Mariska bermonolog sambil terus melayangkan telapak tangannya di pipinya.
Mariska menggulingkan tubuhnya di kasur bahkan ia mengacak-acak rambutnya sendiri, ia tidak percaya dengan apa yang ia mimpikan.
Menyebalkan, itu pasti bukan aku. Iya itu pasti bukan aku... tidak... itu pasti bukan aku.
__ADS_1
“Memalukan sekali, yang jelas itu bukan aku,” ucap Mariska bermonolog.
Gadis itu keluar dari kamar dengan rambut yang acak-acakan, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya mengingat kejadian di dalam mimpinya.
Yuli yang baru saja dari lantai atas dan keluar dari lift melihat Mariska yang terlihat begitu acak-acakan.
“Mariska!” panggil Yuli memastikan bahwa yang ia panggil benar keponakan.
Mariska menoleh ke sumber suara yang memanggilnya, “Iya mi ada apa?” tanya Mariska.
“Kamu habis ngapain berantakan seperti ini?” tanya Yuli heran.
“Habis naik pohon mi,” balas Mariska yang sedikit linglung karena mimpinya yang aneh.
“Haaa? pohon mana?” tanya Yuli terkejut, “Ada yang sakit?” tanya Yuli sambil memeriksa bagian mana yang terluka.
“Tidak ada mi, Mariska jatuh dari pohon di mimpi Mariska,” balas Mariska kemudian kembali menggelengkan kepalanya dan. berlari masuk ke dalam kamarnya lagi.
Ada apa dengan Mariska, jatuh dari pohon di dalam mimpi apa hubungannya di dunia nyata sampai penampilan berantakan seperti itu.
Mariska masuk ke dalam kamar lagi ia menyembunyikan tubuhnya di dalam.
Aku bermimpi jatuh dari pohon kemudian cowok aneh itu menangkap ku, lalu kami berdua naik kuda putih bersama-sama ditambah kami memakai pakaian kerajaan.
Sesampainya di tempat seperti istana, aku didandani dan dinikahkan oleh cowok aneh itu.
“Mimpi menyebalkan!” teriak Mariska.
Mariska kembali menggulingkan tubuhnya berulang kali di ranjang itu, kemudian ia berusaha memejamkan mata agar segera tertidur dan melupakan mimpinya yang sungguh aneh.
***
“Sayang!” panggil Azizah yang masih berbaring.
“Iya sayang ada apa mencariku!” seru Steven yang sedang duduk di sofa sambil menatap layar laptop dihadapannya.
Azizah beranjak bangun dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut, “Kamu sedang?” tanya Azizah.
“Sedang menyelesaikan proposal sayang, besok aku akan melakukan rapat lagi kemungkinan pulang malam,” balas Steven.
“Aku ikut!” seru Azizah.
“Dirumah saja ya sayang, aku takut kamu bosan menungguku di saat aku sedang melakukan rapat,” balas Steven.
“Pokoknya aku ikut, lagipula di ruang kerja mu ada kamar sayang jadinya aku bisa istirahat di kamar,” ucap Azizah yang kekeh mau tetap ikut menemani suaminya.
Steven tidak tega untuk menolak keinginan istrinya, ia pun mengiyakan keinginan Azizah.
“Baiklah,” balas Steven.
“Terima kasih suamiku, kalau begitu aku mau mandi dulu,” ucap Azizah kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan menutupi tubuh memakai pakaian.
Steven sering sekali mendapatkan pesan tawaran kerja sama dari perusahaan luar negeri. Namun, Steven menolak ajakan itu dengan tegas.
Ia ingin fokus mengurusi perusahaannya yang berada di Indonesia dan 2 yang berada di luar negeri.
__ADS_1
“Sayang!” panggil Azizah dari balik pintu kamar mandi yang mengintip sedikit.
Steven menoleh dan beranjak dari duduknya menghampiri Azizah, “Ada apa sayang?” tanya Steven.
“Aku lupa membawa jubah mandi, bisakah tolong ambilkan sayang!” pinta Azizah.
“Cium dulu!” pinta Steven sambil mendekatkan bibirnya di depan pintu kamar mandi.
“Baiklah, muachhh!” Azizah mengecup bibir suaminya.
Steven tertawa kecil dan berjalan mengambil jubah mandi lalu memberikannya kepada Azizah.
“Hati-hati sayang,” ucap Steven.
“Iya suamiku, aku akan hati-hati!” seru Azizah kemudian menutup pintu kamar mandi.
Steven kembali duduk di sofa sambil kembali mengerjakan pekerjaannya yang harus ia selesaikan, pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di Jakarta sudah ia jual.
Itu semua Steven lakukan karena ia lebih ingin fokus ke perusahaan yang dimilikinya.
Beberapa menit kemudian.
“Ahhh... dingin sekali,” ucap Azizah yang baru keluar dari kamar mandi.
“Mau aku hangatkan?” tanya Steven sambil tersenyum manis.
“Yang ada malah aku akan mandi lagi,” celetuk Azizah kemudian Steven tertawa kecil karena yang dikatakan oleh istrinya memang benar.
“Sayang!” panggil Steven.
“Iya sayang!” seru Azizah yang sedang sibuk memakai pakaian.
“Bagaimana kalau kita babymoon?” tanya Steven.
“Kalau aku ikut kamu saja suamiku. Tapi, kita mau babymoon kemana?”
“Bagaimana kalau kita keluar negeri?” tanya Steven.
“Tapi bolehkah kita pergi ke negara tetangga saja?”
“Bagaimana kalau Singapura?”
“Boleh juga, berapa lama suamiku?”
“2 bulan saja istriku,” ucap Steven.
2 bulan saja? itu terlalu lama tapi, Singapura negara tetangga Indonesia.
Sangat dekat daripada harus ke Paris.
“Baiklah! tapi, jangan dalam waktu dekat ini ya sayang!”
“Tidak masalah!” seru Steven dan beranjak mendekati istrinya yang sudah memakai pakaian lengkap kemudian memeluk tubuh Azizah.
“I love you my wife!”
__ADS_1
“I love you too my husband!”❣️