Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 146


__ADS_3

Mereka bertiga turun dari mobil untuk membeli pecel lele menyisakan Galih sendirian di dalam mobil.


Galih kembali tertawa saat melihat Mariska tak sengaja menendang kursi kayu panjang di warung itu, sementara Mariska menoleh ke arah Galih yang sibuk menertawakan dirinya.


Sialan itu sopir, aku malah diketawain dasarnya gila yang tetap aja gila.


Air liur Azizah seakan mau tumpah saat mencium bau aroma lele yang sedang di goreng ditambah sambal hijau yang menggiurkan lidahnya.


“Sayang kita makan disini saja ya!” pinta Azizah merengek meminta makan ditempat.


Steven memperhatikan kursi kayu yang sudah sangat tua, ia takut jika saat mereka duduk untuk menikmati makanan tersebut malah patah belum lagi tempat makanan yang belum tentu higienis.


“Kita makan saja dirumah ya sayang,” ucap Steven sedikit berbisik.


Wajah Azizah berubah menjadi sangat marah, bahkan matanya saja seperti ingin keluar untuk kesekian kalinya akhirnya Steven mengiyakan permintaan istrinya tercinta.


“Baiklah, kita makan disini sayang!”


Azizah tersenyum lebar dan menggoyangkan sedikit tubuhnya karena sangat senang.


“Kalau begitu 4 porsi makan disini ya Bu dan 4 botol air mineral ukuran sedang!” pinta Azizah dan berjalan ke arah kursi kayu panjang.


Steven dengan sangat terpaksa ikut duduk tepat disamping istrinya.


“Kak bukannya kita 3 orang ya?” tanya Mariska memastikan bahwa kakak iparnya salah hitung.


“Tidak, aku tidak salah hitung sekarang kamu panggilkan Galih! kasihan jika ia menunggu di dalam mobil sendirian,” ucap Azizah meminta Mariska memanggil Galih.


“Kenapa harus Mariska yang memanggil sopir itu kak?” tanya Mariska sedikit kesal.


“Galih, namanya Galih jangan menyebutnya sopir Mariska itu tidak baik,” ucap Azizah.


Mariska menundukkan kepalanya karena apa yang diucapkan oleh Azizah memang benar, ia tak sepantasnya merendahkan orang lain walaupun pekerjaan hanya seorang sopir.


“Iya kak, Mariska akan memanggil dia kesini.”


Mariska berjalan menghampiri Galih yang berada di mobil.


“Ternyata istriku ini sangatlah bijak,” puji Steven dengan mengusap lembut pipi Azizah.


“Singkirkan tanganmu sayang, ini di tempat umum bukan dirumah,” ucap Azizah dan menjauhkan tangan suaminya.


Mariska mengetuk pintu mobil dengan cepat Galih menurunkan kaca mobil.


“Kamu turun sekarang, kak Azizah dan kak Steven mengajakmu makan pecel lele bersama,” ucap Mariska tak melihat ke arah Galih justru matanya malah menghadap ke arah mobil yang berada di belakang mobil Steven.


“Ok!” seru Galih lalu membuka pintu mobil dan turun menghampiri kedua majikannya.


Mariska sangat kesal karena ia mengucapkan banyak kata dan pria yang ia ajak bicara malah mengucapkan satu kata yang begitu singkat.

__ADS_1


Ok?😒


Huh.. nyebelin.


Ibu penjual pecel lele datang dengan membawa nasi dan lele ditambah sambal yang menggiurkan dengan piring yang terbuat dari anyaman lidi.


“Lihat suamiku, bagus kan?" tanya Azizah menunjuk pada benda yang terbuat dari anyaman lidi yang berbentuk bulat sebagai tempat nasi mereka.


“Lumayan," balas Steven.


Sayang, sekarang kita makan pecel lele kamu baik-baik ya di dalam perut.


Sebelum menikmati hidangan sore, Azizah terlebih dahulu mengelus-elus perutnya dan mulai melahap makanan itu.


Steven memperhatikan istrinya kemudian mengikuti istrinya makan disusul oleh Mariska dan juga Galih.


“Wah sangat enak sayang,” puji Azizah saat mencicipi makanan tersebut.


Lidah Steven tidak bisa dibohongi, masakan pinggir jalan ternyata begitu nikmat ia bahkan sangat lahap untuk menghabiskan nasi pecel lele itu.


Mariska melirik tajam ke arah Galih dan melanjutkan kembali makanannya sementara Galih tersenyum manis saat Mariska meliriknya dengan sangat tajam.


1 jam kemudian.


Sesampainya di rumah.


Azizah sangat puas dengan makanan pecel lele yang ada di pinggir jalan raya, ia bahkan meminta Steven untuk kembali membeli di warung tersebut jika ia ingin makan diluar.


Galih dengan cepat turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk majikannya, Azizah turun lebih dulu dan menghampiri kedua mertuanya.


“Sore papi dan mami!” sapa Azizah dan menyerahkan bungkusan berwarna putih yang berisikan nasi pecel lele.


“Apa ini nak?” tanya Yuli sambil menerima bungkusan plastik.


“Itu nasi pecel lele mi, rasanya sangat enak,” puji Azizah.


“Benarkah? kalau begitu mami dan papi akan memakannya!” seru Yuli.


Steven datang menghampiri mereka dan mengajak kedua orangtuanya serta Azizah dan Mariska mengobrol di dalam.


“Simpan ini di meja makan!” perintah Yuli sambil memberikan bungkusan plastik itu kepada pelayan.


“Baik nyonya besar!" seru pelayan.


Mereka kompak berjalan menuju ruang keluarga, Azizah terkejut karena disana sudah banyak kotak susu ibu hamil rasa cokelat.


“Wah banyak sekali ini, apakah ini untuk Azizah?” tanya Azizah.


“Iya sayang, ini untuk kamu. Susu ini bagus untuk ibu hamil,” balas Yuli.

__ADS_1


“Ya ampun, Steven bahkan tak mengetahuinya mi," ucap Steven sambil menepuk dahinya.


“Wajar kamu tidak mengetahui ini, kalau ini memang urusan perempuan!” seru Adam.


“Dulu saat mami mengandung kamu papi kamu yang sering membelikan susu ibu hamil ini,” ucap Yuli sambil mengingat kenangan manis saat mengandung Steven.


Steven tersenyum tipis dan melirik ke arah istrinya yang begitu bahagia.


“Mariska juga membelikan sesuatu buat kak Azizah, tapi kalau sudah jadi Mariska minta ya!”


Azizah menyipitkan matanya dan penasaran dengan apa yang dibelikan oleh Mariska, kemudian Mariska pergi ke dapur dan membawa bungkusan yang cukup besar lalu mengeluarkan isinya satu persatu.


“Banyak sekali, baiklah besok kita akan membuat kue!” seru Azizah.


“Yesss!” ucap Mariska semangat.


“Terima kasih mami, papi dan Mariska!” ucap Azizah.


“Sama-sama nak, sekarang beritahu kami berapa usia kandungan mu dan apa kata dokter?" tanya Yuli penasaran.


Adam dan Mariska tentunya menyimak dan juga penasaran.


“Istriku Azizah tengah mengandung janin berusia 3 Minggu dan dokter juga mengatakan bahwa Azizah dan calon anak kami baik-baik saja!” seru Steven.


Yuli terkejut sekaligus bangga karena anaknya tahu secara detail mengenai kandungan Azizah.


“Kamu memang suami yang baik nak, mami yakin anak kalian akan menuruni sifat seperti kalian berdua!” ucap Yuli.


“Tapi semoga saja anakmu tidak dingin seperti kamu jika ia ada berjenis kelamin laki-laki,” balas Adam.


Sontak yang lain tertawa karena apa yang dikatakan oleh Adam sangatlah benar, Steven memang memiliki sifat yang sangat dingin.


“Ada hal yang ingin mami bicarakan juga denganmu Steven,” ucap Yuli serius.


“Katakan saja mi!” ucap Steven mempersilahkan ibunya berbicara.


“Mami dan papi memutuskan tinggal disini dalam waktu yang mungkin bisa dikatakan sangat lama apalagi Azizah tengah mengandung dan kamu tahu sendiri kalau mami sangat suka bersih-bersih rumah, mami hanya ingin kamu memberhentikan beberapa pelayan rumah nak,” ucap Yuli menjelaskan.


“Baiklah, tidak masalah,” ucap Steven tak ingin berpikir panjang.


Azizah sedikit tak suka dengan keputusan Steven namun bagaimanapun ia tidak bisa melarang suaminya.


“Pelayan ada delapan orang, aku akan memecat empat pelayan dan memberikan kompensasi untuk mereka yang cukup banyak,” lanjut Steven lagi.


Azizah bernafas lega karena suaminya akan memberikan kompensasi untuk mereka setidaknya mereka tidak akan sedih jika dipecat.


Para pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa diam, wajah mereka pun sama sekali tak menunjukkan kesedihan karena gaji mereka selama ini sangatlah cukup dan jika mereka berhenti bekerja, mereka bisa membuka sebuah toko di rumah atau bisa membangun kamar kost sepuluh kamar untuk kelangsungan hidup mereka.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2