Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 191


__ADS_3

Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta.


Akhirnya mereka bertiga sampai juga di Indonesia, wajah Azizah terlihat begitu bahagia.


“Sayang, ayo cepat kita harus pulang sekarang!” pinta Azizah.


“Iya sayang!” seru Steven.


Dua orang pria berpakaian serba hitam datang menghampiri mereka bertiga, mereka nampak begitu menyeramkan dengan tubuh yang sangat kekar.


Bi Ana hampir saja menjerit ketakutan untungnya, Azizah dengan cepat menenangkan Bi Ana dan menjelaskan bahwa dua pria itu adalah bodyguard kepercayaan sang suami.


“Maaf tuan muda kami telat,” ucap mereka berdua.


“Aku masih berbaik hati dengan kalian, sekarang angkat semua barang-barang ini!” perintah Steven dingin.


“Baik tuan muda!”


Bi Ana hanya mengelus dadanya, ia masih terkejut dengan apa yang ia lihat.


Mereka berdua sepertinya bukan orang biasa, hampir saja aku mati gara-gara ketakutan.


“Bi Ana, bibi baik-baik saja kan?” tanya Azizah memastikan.


“Sa..saya baik-baik saja nyonya muda. Tapi, jujur saja saya masih terkejut,” balas Bi Ana.


Azizah melotot tajam ke arah sang suami, ia kesal karena bodyguard sang suami membuat Bi Ana ketakutan.


Steven dan Azizah duduk di tengah kursi mobil, sementara Bi Ana duduk di depan.


Dua bodyguard yang sebelumnya mengangkut barang-barang mereka, naik ke mobil yang lainnya.


“Apa kabar tuan muda dan nyonya muda?” tanya Galih.


“Baik,” ucap Steven singkat, padat dan jelas.


Azizah mencubit lengan sang suami yang begitu cuek terhadap Galih.


“Sakit sayang,” ucap Steven lirih.


“Biarin,” balas Azizah.


“Alhamdulillah kami baik,” sahut Azizah dengan ramah, “Oya, perkenalkan ini Bi Ana, Bi ana ini yang nantinya akan menjadi baby sitter,” ucap Azizah memperkenalkan bi Ana.


“Hallo bi Ana, saya Galih sopir tuan muda dan nyonya muda!” seru Galih.


Bi Ana tersenyum, “Iya mas Galih,” ucap Bi Ana.


Azizah melirik ke arah sang suami.


Tidak bisakah suamiku ini lebih ramah sedikit? kenapa suamiku ini hanya ramah kepadaku saja?


Baiklah, biarkan saja toh ada untungnya juga.


Azizah mengangkat tangan sang suami agar merangkul pundaknya, ia saat ingin sekali bermanja-manja dengan sang suami.


Steven mengerti kemauan sang istri, ia pun merangkul pundak Azizah sementara tangan kiri mengelus-elus perut Azizah yang membuncit.


“Sayang, setelah sampai rumah kita langsung beristirahat ya!” pinta Azizah.


“Tentu saja sayang, kamu juga harus banyak istirahat,” balas Steven.

__ADS_1


*


Di kediaman Steven Walker.


Para pelayan rumah sedang sibuk mempersiapkan makanan menyambut tuan dan nyonya muda mereka yang baru saja kembali dari Singapura.


Meja makan penuh dengan berbagai macam makanan, Mariska bahkan terkaget-kaget karena makanan di meja makan sungguh banyak.


“Tutup mulutmu nak, lalat dengan mudahnya masuk ke dalam mulutmu,” perintah Yuli melihat mulut Mariska yang menganga lebar.


“Ishhhh... mami! Mariska kan seperti ini karena makanan di meja sangatlah banyak,” ucap Mariska polos.


“Kamu mau nak?” tanya Yuli.


Mariska dengan cepat mengangguk, “mau mi, Mariska mau!” seru Mariska tidak sabaran.


“Yakin mau?” tanya Yuli memastikan.


“Tentu saja mau mi!” tegas Mariska.


“Ya sudah, kamu sekarang masuk ke kamar!” perintah Yuli sambil menunjuk ke arah kamar keponakannya.


“Loh? apa hubungannya makan dengan masuk ke dalam kamar mi?” tanya Mariska bingung.


Yuli menariknya napas panjang dan mengeluarkannya, “Kamu kan belum mandi, lihat sekarang jam berapa?” tanya Yuli.


Mariska menghentakkan kakinya dan mengerutkan bibirnya.


“Iya-iya, Mariska paham,” balas Mariska dan bergegas masuk ke dalam kamar.


Adam tak sengaja melihat sang istri tertawa, ia pun berjalan mendekati sang istri.


“Itu juga termasuk salah satu kebahagiaan mami Pi. Tapi...”


“Tapi apa mi? mami ini senang sekali membuat papi penasaran,” ucap Adam memotong ucapan Sang istri.


“Mariska juga membuat mami bahagia Pi,” jawab Yuli.


“Tentu saja, Steven dan Mariska adalah anak kita mi.”


Adam dan Yuli begitu menyayangi Mariska seperti anak kandung mereka sendiri.


“Ya sudah, ayo Pi kita duduk di ruang tamu. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang!” ajak Yuli.


Adam berjalan menuju ruang tamu sambil menggandeng tangan sang istri, meskipun mereka sudah tua bahkan sebentar lagi mempunyai cucu. Namun, keromantisan mereka tidak pernah pudar sedikitpun.


Beberapa jam kemudian.


“Tin... tin..” Suara klakson mobil.


“Papi! mereka sudah datang!” seru Yuli kemudian berjalan keluar rumah menyambut kedatangan anak dan juga menantu mereka.


“Mami, papi!” teriak Azizah bahagia.


Azizah menangis terharu, ia bergantian memeluk Adam dan juga Yuli.


“Azizah rindu mami dan papi,” ucap Azizah dengan berlinang air mata.


“Ya ampun, menantu mami ini sekarang jadi cengeng,” balas Yuli dan menghapus air mata menantunya.


Steven bergantian memeluk tubuh kedua orangtuanya, ia lalu memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


“Ini siapa nak?” tanya Yuli.


“Ini Bi Ana mi, Bi ana ini yang nantinya menjadi baby sitter untuk anak kami,” sahut Steven.


Bi Ana mengangguk pelan lalu tersenyum.


“Ya sudah, ayo kita masuk!” ajak Yuli.


Mereka pun masuk terlebih dahulu sementara Steven menghampiri para bodyguard.


“Kalian bawa koper dan barang-barang yang lain ke dalam!” perintah Steven pada bodyguard.


“Siap tuan muda!” seru mereka.


Mariska baru saja keluar dari kamar.


“Kak Azizah!” teriak Mariska dengan semangat.


Mariska berlari menghampiri kakak iparnya dan memeluk tubuh Azizah.


“Ya ampun, perut kak Azizah sekarang sudah sangat besar,” ucap Mariska yang terlihat sangat terkejut dengan perut buncit kakak iparnya.


“Tentu saja, calon keponakanmu malah aktif sekali bergerak di dalam perut kakak,” jawab Azizah.


“Benarkah?” tanya Mariska kemudian mencoba mengelus-elus perut kakak iparnya.


“Masya Allah, yang dikatakan kak Azizah benar. Mami, papi! keponakanku bergerak-gerak!” seru Mariska.


Steven masuk ke dalam rumah dan melihat sang istri yang belum juga duduk.


“Sayang, cepatlah duduk jangan terlalu sering berdiri!” perintah Steven.


“Ya ampun mami lupa, ayo nak kita makan siang dulu!” ajak Yuli.


“Benar sekali, Mariska sudah sangat lapar,” sahut Mariska.


Mereka pun bersama-sama menuju ruang makan.


“Bi Ana ayo makan sama-sama!” ajak Azizah.


Bi Ana menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak enak jika harus makan bersama dengan keluarga besar itu.


“Saya makan di dapur saja,” ucap Bi Ana.


“Bi Ana jangan sungkan, ayo makan bersama kami!” ajak Yuli.


Bi Ana akhirnya mengiyakan, mereka pun melanjutkan menikmati makanan yang begitu banyak di atas meja.


40 menit kemudian.


“Steven dan Azizah langsung ke kamar,” ucap Steven.


“Pergilah, kalian pasti sangat lelah terlebih lagi Azizah sekarang sedang hamil dan butuh sekali banyak istirahat!” seru Yuli.


“Ayo sayang!” ajak Steven.


Azizah memang terasa sangat lelah, untungnya sang suami sang peka dengan kehamilannya.


**


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏 dong!!!!😘😘

__ADS_1


__ADS_2