
Hati Diandra sangat panas melihat pemberitaan tentang pernikahan Steven dan Azizah. Meski ia sekarang telah berada di Jerman, namun tak sedikitpun berita tentang Steven di lewatinya. Obsesi terhadap Steven membuatnya lupa akan janjinya kepada orangtuanya.
Aku tidak bisa diam seperti ini, sekeras apapun aku berusaha melupakan dan melepaskan Steven tetap saja dalam hatiku aku menginginkannya. Kalau saja wanita itu tidak hadir di dalam kehidupan Steven sudah pasti Steven jatuh cinta kepadaku dan berbalik menyambut cintaku.
Wanita itu memutar otaknya agar bisa keluar dari negara yang kini ditempatinya, ia ingin segera kembali ke Jakarta dan mendekati Steven lagi.
Baiklah, sementara waktu aku akan bersabar menunggu disini. Berbahagialah kalian disana tapi saat aku kembali ke Jakarta akan aku pastikan kalian berdua tidak akan pernah bahagia.
Di Jakarta.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.
Dari padi hingga larut malam para tamu undangan masih sibuk berdatangan, entah dari luar kota ataupun luar negeri membuat Azizah ingin sekali pergi meninggalkan gedung pesta itu lalu mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.
Sudah larut malam, ya ampun Steven aku begitu lelah. Tidak bisakah kita pulang sekarang? tidak mungkin kan aku berakting pingsan lagi seperti tadi siang?
“Istriku sayang!”
“Apa?” tanya Azizah kesal.
“Kamu sudah lelah?” tanya Steven yang duduk di kursi pelaminan bersama Azizah.
“Kalau saja ku tahu sampai semalam ini, lebih baik kita menikah ijab qobul saja tak perlu mengundang orang banyak,” ucap Azizah kesal.
“Kamu menyesal?”
“Bukan menyesal, tapi tamu undangan begitu banyak suamiku.”
Melihat Azizah yang seperti itu membuat Steven tidak tega, tamu yang di undang Steven belum datang semua masih ada beberapa lagi yang sedang menuju ke acara pernikahan mereka.
“Steven aku mengantuk, bolehkah kita pulang sekarang?” tanya Azizah sedikit merengek.
“Hmmmm, kalau kamu pulang terlebih dahulu bagaimana?”
“Haaa? terus kamu?”
“Aku belum bisa istriku sayang, masih ada orang penting yang belum datang dan aku tidak mungkin meninggalkan mereka,” ucap Steven.
Azizah ingin sekali meminta Steven agar pulang bersamanya namun ia tidak ingin dicap sebagai istri egois, akhirnya dengan sangat terpaksa Azizah mengiyakan.
“Ya sudah, pulang jam berapa?”
“Paling telat jam 3 pagi,” sahut Steven.
Apa jam 3? berarti aku akan tidur sendirian dimalam pertamaku?
“Kok wajah kamu langsung murung, kenapa istriku sayang?” tanya Steven penasaran.
“Tidak apa-apa, baiklah aku pulang duluan.
Ingat jam 3 harus sampai, jaga hati, jaga pandangan, jaga pikiran dan jangan macam-macam,” ucap Azizah dengan tatapan tajam.
Steven terkekeh geli, Azizah yang sekarang telah menjadi istrinya ternyata begitu cemburu padahal mereka telah menikah.
“Baiklah istriku sayang, kamu tenang saja semuanya hanya punya kamu,” terang Steven.
__ADS_1
Akhirnya Azizah pulang diantar oleh Heru sopir pribadi Steven, di dalam mobil Azizah tak dapat menahan kantuknya. Sampai akhirnya ia terlelap.
****
Adam dan Yuli sedang berbincang-bincang di ruang tamu, mereka berdua duduk bersantai sambil menunggu pengantin baru yang belum juga kembali.
“Itu mobil Heru mi,” ucap Adam yang melihat mobil tersebut masuk ke halaman rumah.
“Ayo Pi kita keluar!” ajak Yuli.
Yuli dan Adam berjalan menghampiri mobil namun mereka bingung saat melihat hanya Azizah yang di dalam mobil yang sedang tertidur pulas.
“Loh Steven mana Heru? kok hanya Azizah yang pulang?” tanya Adam heran.
“Iya kenapa hanya Azizah saja, mana mempelai pria?” tanya Yuli penasaran.
“Begini tuan besar dan nyonya besar, tuan muda sedang menunggu orang dari luar negeri yang sekarang sedang di bandara dan akan menuju ketempat acara, kebetulan Nyonya muda Azizah mengantuk jadinya seperti ini,” terang Heru.
Adam dan Yuli mengangguk kepala bersama, Yuli kemudian membuka pintu mobil dan membangunkan Azizah yang terlihat sangat lelah.
“Azizah! bangun sayang!”
Azizah terkejut dan seketika berdiri.
BUGH!!
“Awwwww.” Kepala Azizah terbentuk atas Mobil.
“Ya ampun Azizah, maaf mami tidak sengaja.”
Yuli benar-benar tidak sengaja membuat Azizah terkejut dan membenturkan kepalanya ke atas mobil.
Adam dan Heru hanya terdiam tak mampu berkata-kata, ingin rasanya mereka berdua tertawa namun tawa mereka ditahan sebaik mungkin agar Azizah tak merasa malu.
“Ayo nak mami antar ke kamar sepertinya kamu sangat lelah,” ucap Yuli lalu membantu Azizah keluar dari mobil dan menuntun Azizah yang kini menjadi menantu tunggal ke dalam kamar.
“Kok ke lewat sini mi? kamar Azizah kan lewat situ,” tunjuk Azizah yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
“Kan kamu sudah menjadi istri, jadi sekarang tidurnya dikamar Steven.”
“Istri?” Azizah bertanya dengan wajah bingung.
Yuli langsung panik karena Azizah bertingkah laku seperti itu.
“Papi! papi cepat kesini!” panggil Yuli dengan berteriak.
“Ada apa mi teriak malam-malam begini?” tanya Adam yang mulai panik.
“Sekarang ayo kita ke rumah sakit!” perintah Yuli dengan wajah panik.
“Loh siapa mi yang sakit?” tanya Adam yang kini ikutan panik.
“Azizah menantu kita sepertinya amnesia Pi, sepertinya dia lupa bahwa Azizah telah menikah,” sahut Yuli.
Azizah yang dilanda ngantuk itu langsung membuka matanya lebar-lebar, ia seperti langsung sadar dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
“Azizah tidak apa-apa mi,” ucap Azizah yang kini seperti tidak mengantuk.
“Yakin?” tanya Adam dan Yuli kompak.
“Azizah benar tidak kenapa-kenapa, tadi karena masih mengantuk jadinya Azizah berbicara sedikit melantur. Sekarang Azizah akan ke kamar Steven!”
“Syukurlah, mami kira kamu kenapa-kenapa karena terbentur tadi,” ucap Yuli.
“Haduh, sudahlah mi jangan dibahas lagi! Azizah sekarang mau ke kamar,” ucap Azizah dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke kamar yang kini menjadi kamar ia dan Steven.
Merasa bahwa Azizah telah baik-baik saja suami istri itu pun kembali ke kamar mereka.
“Wow!”
Azizah terkejut dengan dekorasi kamar pengantin yang seperti kamar raja, bunga-bunga bertebaran dimana-mana. Wangi kamar yang begitu menggoda, lilin-lilin berbentuk hati menghiasi sudut kamar.
Gila, ini benar-benar luar biasa!
Apakah ini yang disebut kamar pengantin? Haduh, kok aku jadi deg-degan begini. Ranjang ini begitu cantik sayang jika aku tidur disini.
Karena tak ingin membuat kamar yang sudah dihias sebegitu cantik dan mewah berantakan Azizah pun memilih tidur di sofa dekat ranjang.
🌸🌸🌸
Partner yang ditunggu-tunggu Steven telah datang.
“Selamat Steven, akhirnya kamu telah menikah,” ucap Hendrick.
“Thanks Hendrick, kamu akhirnya datang juga ke indonesia.”
“By the way, mana istrimu yang cantik itu?” tanya Hendrick.
Mendengar istrinya dipuji membuat Steven sedikit cemburu, untungnya saja Azizah telah kembali ke rumah terlebih dahulu.
“Sudah pulang.”
“Pulang? apakah istrimu tidak kuat berdiri mendampingi kamu Steven?”
“Wah ucapan mu membuat aku sedikit terkejut, istriku bukan wanita seperti itu.”
“Baiklah lupakan! ini kado pernikahan kalian,” ucap Hendrick sambil memberikan amplop putih polos.
Steven tersenyum ia tahu apa hadiah yang diberikan oleh Hendrick.
Ia sebenarnya tak berniat untuk bekerjasama dengan Hendrick namun Hendrick berusaha menyakinkan Steven dan akhirnya Steven mau bekerjasama dengan Hendrick di Paris.
“Akhirnya kamu memutuskan bekerja sama denganku Steven, semoga kerjasama kita adalah awal yang baik untuk kita!” seru Hendrick.
Isi di amplop itu adalah surat kerja sama dari belah pihak, jangan ditanya berapa banyak keuntungan dari kerja sama mereka sudah pasti keuntungan mereka mampu membuat Apartemen bertingkat-tingkat.
“Sayang!” suara wanita memanggil dan berjalan ke arah mereka.
Steven dan Hendrick sama-sama melihat ke arah wanita itu.
Bersambung....
__ADS_1
Vote ya teman-teman!!😭😭😭
Like ❤️ komen 👇 Terima kasih.