Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 188


__ADS_3

Pagi hari.


Mariska sedang tertidur pulas dikamarnya, ia terbangun saat mendengar suara ketukan pintu.


“Tok... tok...”


“Tok... tok...”


“Siapa?” tanya Mariska.


“Bangun nak, ini mami!” seru Yuli sedikit berteriak.


“Sebentar mi,” sahut Mariska dan beranjak dari ranjang bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu.


“Ceklek.”


“Ada apa mi?” tanya Mariska dengan mata terpejam.


“Sekarang kamu mandi dan setelah itu pergilah bersama Galih ke pasar!” perintah Yuli.


“Haaaa?” Mulut Mariska menganga lebar.


“Tutup mulut kamu!” perintah Yuli dan dengan segera Mariska menutup mulutnya.


“Cepat jangan lama-lama, keburu sayuran di pasar habis!”


“Baik mi,” jawab Mariska dan segera berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang begitu tak berdaya.


30 menit kemudian.


Mariska keluar menghampiri Galih yang sudah berada di dalam mobil.


“Mariska!” panggil Yuli sedikit berteriak.


Mariska pun menoleh, “Ada apa mi?” tanya Mariska.


“Kamu mau kemana?”


“Ya mau ke pasar mi, kan mami yang menyuruh Mariska,” jawab Mariska.


“Memangnya mami sudah memberikan catatan belanjaan dan juga uang?” tanya Yuli dan langsung membuat Mariska terkejut.


Mariska menepuk jidatnya sendiri, “Haduh, Mariska lupa mi,” ucap Mariska kemudian tertawa.


“Ini catatan dan uangnya, kamu belum sarapan kan?” tanya Yuli dan langsung diangguki oleh Mariska, “Ya sudah kamu sarapan di restoran saja, ajak juga Galih!” perintah Yuli.


Ngapain juga ngajak cowok aneh ini.


“Mariska sarapan sendiri saja mi,” sahut Mariska.


“Tidak boleh seperti itu, kamu harus mengajak Galih juga,” ucap Yuli sedikit memaksa.


“Baiklah mi, Mariska pergi dulu,” ucap Mariska kemudian mencium punggung tangan Yuli dan masuk ke dalam mobil.


Galih hanya terdiam sambil memandangi wajah kesal Mariska di kaca dalam mobil.


Pagi-pagi sudah kesal saja ini cewek aneh.


“Cepat jalan, ngapain lihat-lihat. Tidak pernah lihat cewek cantik ya?” tanya Mariska.


“Cantik sih iya, tapi jutek,” celetuk Galih kemudian menyalakan mesin mobil dan bergegas menuju pasar.


Mariska diam dan terus mengerutkan bibirnya.


45 menit kemudian.


“Sudah sampai,” ucap Galih sedikit keras berharap gadis yang duduk di kursi tengah segera bangun.

__ADS_1


“Mariska!” panggil Galih.


“Iya ada apa?” tanya Mariska panik karena baru saja bangun dan belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya.


“Bangunlah, kita sudah sampai pasar!”


“Iya,” balas Mariska singkat dan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


“Tunggu apalagi, turunlah!” perintah Galih.


Pasar seramai ini ditambah belanjaan mami yang begitu banyak, tidak mungkin untukku sendiri masuk kedalam pasar.


“Hei, cowok aneh!” panggil Mariska namun, tak mendapat respon dari pria yang duduk di kursi depan.


“Cowok aneh!” panggil Mariska lagi.


“Aku punya nama nona Mariska,” ucap Galih tanpa menoleh ke arah belakang.


“Galih, bisakah temani aku belanja?” tanya Mariska.


Galih menyunggingkan senyumnya.


Ternyata dia bisa juga bersikap sopan.


“Baiklah, ayo!”


Mariska senang dan dengan cepat turun untuk segera berbelanja.


Di Singapura.


Azizah dan Yana sedang berada di dapur, mereka berdua sedang memasak makanan yang spesial untuk suami mereka masing-masing.


“Perlu bibi bantu nyonya?” tanya Bi Ana.


“Tidak perlu bi, bibi tolong bawa air minum ke ruang keluarga ya Bi!” pinta Azizah.


Azizah dan Yana saling mencicipi masakan mereka bahkan saling memuji masakan mereka satu sama lain.


“Masakanmu sangat enak Yana,” puji Azizah.


“Tapi, masakanmu lebih enak dari masakanku,” puji Yana balik.


Beberapa menit kemudian.


“Masakan kita sudah jadi!” seru Azizah dengan membawa masakannya.


“Masakan kamu pasti enak,” puji Steven.


“Belum dicoba sudah bilang enak, ayo kita makan!” ajak Azizah.


Azizah dan Steven menikmati makanan mereka dengan saling suap menyuap, begitu pun dengan Yana dan Mike.


“Sayang,” ucap Azizah dengan wajah serius.


“Ada apa sayang?” tanya Steven penasaran.


“Aku ingin sesuatu dari kamu!” pinta Azizah.


“Apa sayang?”


“Nanti saja ya di dalam kamar,” balas Azizah kemudian Steven tersenyum lebar.


“Baiklah sayang!”


Yana dan Mike terlihat fokus menikmati makanan mereka, suami istri itu kompak untuk tidak ikut campur dalam urusan Steven maupun Azizah.


“Drrrt... drrrt..” Ponsel milik Yana bergetar.

__ADS_1


“Dari siapa sayang?” tanya Mike.


“Dari mamiku sayang, aku angkat dulu ya!” seru Yana dan bergegas keluar rumah, Mike tak ingin sendirian meski ada sang sahabat dan juga Azizah. Ia pun memutuskan untuk menyusul Yana.


Sahabatku Yana terlihat sangat bahagia, kedua orangtuanya telah berkumpul dan bahkan sekarang telah menikah bersama pria yang ia cintai.


Aku pun beruntung dapat hadir ditengah-tengah keluarga suamiku yaitu Steven Walker, aku sempat ciut karena aku hanyalah seorang gadis yatim piatu dan hidup sebatang kara.


Namun, karena Steven terus menerus mengatakan dan menyakinkan diriku, akhirnya aku pun luluh.


“Sayang, makanannya sudah habis,” ucap Steven.


“Wah sudah habis ya, kamu masih lapar sayang? aku masak lagi ya!”


“Tidak usah sayang, aku sudah kenyang. Sekarang ayo kita ke kamar!” ajak Steven bersemangat.


Steven pasti berpikir yang tidak-tidak.. hadeh.. suami mesum ya tetap mesum.


“Ayo sayang!” ajak Azizah.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam kamar.


“Ayo sayang!” ajak Steven sambil menepuk-nepuk ranjang disisinya.


“Iya sayang, sebentar ya!” seru Azizah dan berjalan menuju nakas mengambil minyak oles.


“Loh, ini untuk apa sayang?” tanya Steven heran.


“Tubuhku agak kurang sehat sayang, tolong oleskan minyak di punggungku!” pinta Azizah.


Aku pikir ingin...


Kalau begini sama saja aku yang rugi. 😒


“Sayang, tunggu apa lagi?” tanya Azizah.


“Iya-iya baiklah,” balas Steven dan mulai mengolesi punggung sang istri dengan minyak oles.


Hahaha.. pasti suamiku sekarang sedang kesal, maaf ya sayang 😂


Azizah tertawa kecil karena suaminya terlihat begitu kesal.


“Sayang!” panggil Azizah.


“Mmmmm...”


“Sayang, kalau di panggil jawabannya apa hayo?”


“Iya sayang,” balas Steven singkat.


“Kamu ngambek ya?” tanya Azizah.


Steven tak menjawab dan terus mengolesi punggung sang istri sambil memijat-mijat kecil, ia sadar bahwa istrinya juga harus diperlakukan sebaik mungkin dan tidak hanya urusan di atas ranjang saja.


“Sayang! jika suatu saat nanti aku tiada, apakah kamu akan mencari pengganti ku?” tanya Azizah.


Steven terkejut dan menghentikan mengolesi punggung sang istri, ia kemudian memeluk erat tubuh sang istri dari belakang.


“Kamu mengapa bicara seperti itu sayang?” tanya Steven.


“Aku hanya bertanya sayang, ayolah kamu harus menjawabnya!” pinta Azizah penasaran.


“Selamanya kamu adalah istri dan wanita yang aku cintai, jadi hal seperti itu mustahil ada di dalam pikiranku walau sekecil apapun,” tegas Steven.


“Benarkah?” tanya Azizah.


“Tentu saja benar sayang, mendapatkan mu saja sangat sulit bagiku apalagi menghilangkan namamu di hatiku. Mustahil jika aku bisa menghilangkan kamu di hatiku bahkan di pikiranku,” jelas Steven.

__ADS_1


“So sweet,” ucap Azizah terharu dan berbalik badan kemudian memeluk tubuh sang suami.


__ADS_2