
“Udah dong sayang, jangan nangis,” hibur Danu.
Sudah sore Yana masih saja menangis, didalam hatinya hanyalah ingin bertemu Azizah sang sahabat.
Danu kemudian meninggalkan Yana sendiri dikamar, ia harap Yana tidak bersedih lagi.
Dikeluarkan ponsel pintar miliknya untuk menghubungi calon menantu.
“Hallo Mike, bisakah kamu segera kemari? Calon istrimu dari pagi sampai sore ini menangis. Papi bahkan bingung untuk menghibur Yana.”
“Baik Pi, Mike akan segera kesana.”
Danu lalu menutup sambungan telepon. Ia berharap dengan kedatangan Mike, Yana bisa berhenti menangis.
Sekarang kamu dimana Azizah?
Aku sangat rindu padamu, hidupmu sekarang pasti sangat menyedihkan.
Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa Azizah, kenapa Bu Darmi pergi secepat ini?
Yana bahkan belum sempat bertemu dengan Bu Darmi.
Yana tak henti-hentinya menangis, ia tidak bisa membayangkan kehidupan Azizah selama ini.
Apakah Azizah tidur nyaman? makan enak?
Pikiran itu yang selalu dibayangkan oleh Yana. Yana benar-benar tak tega dengan kehidupan Azizah.
****
Sore itu Azizah ditemani Sang kekasih dan Mariska, menemui makam kedua orangtuanya.
Ini kali pertamanya Azizah mengunjungi kedua Orangtuanya.
“Assalamualaikum Ibu dan Bapak. Ini Azizah putri kalian, maaf Azizah baru bisa datang sekarang,” ucap Azizah sambil meneteskan air mata. Azizah menunduk di makam kedua orangtuanya.
Steven yang berdiri dibelakang Azizah, berjalan mendekat ke arah calon istrinya itu.
Ia lalu mengusap lembut rambut Azizah yang panjang terurai.
“Assalamualaikum Ibu dan Bapak. Saya Steven calon menantu kalian, kami kesini terutama saya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa saya mencintai Azizah Cahyani. Dan saya akan menikahi Azizah serta bertanggung jawab terhadapnya, saya mohon restui kami,” ucap Steven serius.
Azizah terkejut dengan ucapan Steven, ia pun mendongakkan kepalanya kearah Steven.
“Kamu serius?” tanya Azizah.
“Aku serius Azizah, kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai,” jujur Steven.
Mariska yang dibelakang mereka menangis terharu, kakak sepupunya yaitu Steven ternyata pria pemberani yang berani mengatakan cinta.
“Assalamualaikum Bibi dan paman. Saya Mariska adik sepupu kak Steven dan adik ipar kak Azizah,” ucap Mariska pada kedua makam orang tua Azizah.
Hati Azizah sangat senang, ia tak pernah menyangka akan dicintai oleh pria terkaya dan tampan seperti Steven.
Dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
“Terima kasih Steven dan Mariska, karena kalian aku tidak pernah merasakan ketakutan dan kesedihan lagi,” ucap Azizah terharu.
Steven merogoh saku celananya, terlihat jelas benda kecil berbentuk hati.
“Maukah kamu menerima cintaku Azizah?” tanya Steven sambil membuka barang kecil dan terlihat jelas cincin berlian yang begitu indah.
Azizah tak dapat berkata-kata, biasanya pria akan melamar kekasihnya di tempat romantis. Tapi tidak berlaku untuk Steven, Steven malah melamar Azizah di kuburan.
“Terima kak,” ucap Mariska semangat.
Bukan Jawaban yang didapat Azizah melainkan air mata yang terus keluar di mata cantiknya.
“Bapak dan Ibumu adalah saksi lamaranku Azizah, aku ingin kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Aku harap kamu bersedia menerimaku,” ucap Steven serius.
Ya Allah ini benar-benar kejutan dan anugerah untuk Hamba.
Semoga cinta kami satu dan untuk selamanya.
__ADS_1
“A-aku mau Steven,” sahut Azizah malu-malu.
Sangking bahagianya Steven memeluk dan menggendong tubuh Azizah, sementara Mariska mengalihkan pandangannya.
“Steven turunkan aku!” perintah Azizah.
“Terima kasih Azizah sayang,” ucap Steven bahagia.
Rasa bahagia, terkejut dan terharu tercampur menjadi satu.
“Apakah ini mimpi?” tanya Azizah masih tak percaya.
“Kak Azizah ini bukan mimpi, aku juga mendengar kak Steven mengucapkan kata-kata romantis itu,” sahut Mariska.
“Azizah sayang, ini bukan mimpi. Aku benar-benar ingin menikah denganmu,” ucap Steven.
Azizah memeluk Steven erat, ia sangat bahagia. Benar-benar bahagia.
“Terima kasih Steven, terima kasih Mariska. Kalian adalah kado terindah yang diberikan Allah untukku,” ucap Azizah.
1 Jam kemudian.
Hari semakin sore, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Jakarta dengan pesawat pribadi milik Steven. Bagi Steven itu adalah hal kecil.
Beberapa jam kemudian.
Sampailah mereka di kediaman Steven Walker, tidak seperti biasanya. Malam itu rumah Steven yang biasanya hanya ada para pelayan dan para bodyguard, ini malah ada kedua orang tua Steven ditambah seorang nenek tua yang umurnya terlihat 80 tahunan.
“Selamat malam sayang,” sapa Yuli Walker dan langsung memeluk Azizah.
“Selamat malam Azizah,” sapa Adam Walker lalu mengelus rambut Azizah.
“Malam Papi dan Mami,” sahut Azizah.
Azizah lalu tersenyum kepada nenek tua itu.
“Selamat malam....”
“Perkenalkan sayang ini nenek ku,” ucap Steven memperkenalkan neneknya.
“Yanh dibilang Steven ternyata benar, kamu sangat cantik. Pantas saja Steven tidak sabar untuk menikahimu,” puji Teressa.
Azizah menunduk malu, ia bersyukur keluarga Steven mau menerima dirinya. Seorang gadis miskin dan yatim piatu.
“Karena kalian sudah datang, mari kita makan malam bersama!” ajak Yuli.
Mereka pun duduk di kursi sambil menunggu hidangan disiapkan oleh pelayan. Setelah makan sudah tersedia, Steven dan keluarga makan bersama.
Suasana di meja makan sangatlah indah, kekeluargaan mereka sangatlah kental.
Tak pernah sedikitpun Azizah membayangkan akan tinggal dan hidup bersama keluarga yang begitu harmonis dan menyayangi dirinya.
“Azizah temani nenek ke kamar,” pinta Teressa.
Azizah menoleh ke arah Steven, Steven pun mengangguk memberi isyarat agar Azizah mengiyakan permintaan Teressa.
“Baik nek,” sahut Azizah.
Teressa berjalan menuju kamar sambil menggenggam tangan Azizah, Azizah semakin bingung kenapa sang nenek memintanya untuk mengikuti Teressa ke kamar.
Sesampainya di kamar Teressa tidak langsung menuju ranjang, ia duduk di sofa sambil tersenyum.
Azizah hanya berdiri diam mematung, ia takut jika Teressa melakukan hal aneh seperti yang di film-film.
Semoga nenek tidak membenciku, biasanya kalau seperti ini pasti ada sesuatu.
Atau jangan-jangan ia berniat agar aku dan Steven tidak jadi menikah.
“Duduk sini Azizah!” perintah Teressa lembut.
“Haaa?” Mulut Azizah terbuka lebar.
Teressa melihat kelakuan Azizah tertawa kecil, ekspresi Azizah saat itu benar-benar lucu.
__ADS_1
“Kamu ternyata selain cantik juga lucu,” ucap Teressa sambil menahan tawanya.
Azizah yang mendengar ucapan dan tingkah Teressa dengan cepat menutup mulutnya, ia pun tertunduk malu. Rasanya ingin sekali ia berlari dan menceburkan dirinya sendiri ke dalam sumur.
“Sini sayang, ada sesuatu yang ingin nenek berikan padamu!”
Azizah mendongak ke arah Teressa, ia menatap ke arah Teressa. Ia memastikan apakah Teressa benar-benar baik terhadapnya atau tidak?
“Kenapa kamu menatap nenek seperti itu Azizah? kemarilah!” pinta Teressa.
“Iya nek,” sahut Azizah dan berjalan menuju sofa tempat Teressa duduk.
Azizah pun mendaratkan pantatnya di sofa.
“Jangan takut, nenek tidak akan menggigit cucu menantu nenek. Nenek hanya ingin mengenal mu lebih jauh lagi,” jujur Teressa.
“Benarkah nek?” tanya Azizah semangat.
Teressa tersenyum lebar, awalnya ia menduga bahwa Azizah akan berpikir bahwa dirinya tidak menyukai Azizah.
“Benar Azizah, nenek tidak mungkin berbohong,” balas Teressa.
Azizah bernafas lega, ternyata Teressa tidak seperti dugaannya.
Dengan semangat Azizah memeluk Teressa, Teressa yang mendapat pelukan dari Azizah langsung membalas pelukannya.
“Terima kasih Nek,” ucap Azizah menangis terharu.
Teressa yang merasakan basah di bahunya langsung melepas pelukannya. “Azizah jangan menangis, nantinya cantiknya berkurang,” goda Teressa.
“Maaf nek,” sahut Azizah dan menghapus air matanya.
Teressa berdiri dan berjalan ke nakas mengambil sesuatu untuk Azizah. Setelah mendapatkan kotak kecil Teressa pun memberikan kotak itu kepada Azizah.
“Ini apa nek?” tanya Azizah bingung.
“Buka saja!” pinta Teressa.
Azizah membuka kotak kecil itu dengan perlahan, terlihat jelas kalung berliontin bunga tulip.
Azizah semakin bingung, kenapa Teressa memintanya untuk membuka kotak kecil itu. Dan untuk apa kalung secantik itu?
“Kalung itu untukmu Azizah,” ucap Teressa lembut.
“Buat Azizah? nenek tidak bercanda kan?” tanya Azizah penasaran.
“Tidak Azizah, itu memang untukmu. Awalnya nenek ingin kalian menikah saat kamu sudah sarjana. Tapi melihat kamu nenek yakin, bahwa pilihan Steven tidaklah salah. Nenek ingin kalian menikah bulan depan,” terang Teressa.
Deg... Deg...
Menikah? Secepat ini?
Ya Allah rencana apalagi yang Engkau siapkan untuk Hamba?
Ini benar-benar luar biasa yang Allah.
Azizah kemudian menangis, sungguh ini benar-benar diluar pemikirannya.
Apa yang dialaminya seperti dongeng bagi dirinya, apakah ini nyata? pertanyaan itulah yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya.
“Apakah kamu mau menikah dengan Steven bulan depan Azizah?” tanya Teressa.
Dengan cepat Azizah mengangguk.
“Azizah mau Nek,” ucap Azizah.
“Alhamdulillah,” sahut Teressa lega.
Terima kasih para pembaca setiaku..
Jangan lupa untuk kalian yang sudah mampir.
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏😭
__ADS_1
Biar author tambah semangat dan jangan lupa mampir ke novel author yang lainnya.. 😍❣️