
Para pegawai sibuk membicarakan Azizah, bahkan ada yang menghardik gadis itu.
Mereka berpikir bahwa Azizah tidak serius dengan pekerjaannya.
"Wanita tak tahu diri benar-benar merepotkan, kemana saja dia beberapa hari ini. Pekerjaannya sangat banyak dan menumpuk, bahkan izin pun tidak" Ucap Mia kepada para pegawai yang lain.
Mia sangat suka bergosip, tidak ada satupun darinya yang terlewatkan untuk menjadi bahan ghibah bagi dirinya.
Meskipun Septi baru mengenal Azizah, tapi Ia sangat yakin bahwa Azizah bukanlah seorang wanita yang suka mengabaikan tugas dan pekerjaan. Septi adalah wanita yang selalu berpikir positif, mungkin karena Ia sudah menikah dan telah berkeluarga serta memiliki seorang anak.
"Jaga mulut kamu Mia, mulutmu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Apa harus aku belikan lem agar mulutmu bisa tertutup rapat" Ucap Septi kesal.
Mia langsung ciut, bagaimanapun Septi adalah seniornya. Apalagi Septi termasuk orang yang tidak bisa dicuci otaknya.
Mereka yang sedari tadi berkumpul untuk gosip pun pergi berhamburan mencari pekerjaan.
"Sudah tua masih saja berkelakuan seperti anak kecil" Ucap Septi dengan meninggikan suaranya.
Di rumah Sakit.
Azizah masih saja berbaring di ranjang, meskipun keadaannya mulai membaik.
Mike yang bergantian menjaga Azizah merasa sangat sedih dan bersalah.
"Cepat sembuh Azizah, Maafkan aku yang telah teledor dan membuatmu seperti ini" Ucap Mike merasa bersalah.
Dikediaman Steven Walker.
Steven Walker sedang menunggu telepon dari kaki tangannya untuk mengetahui latar belakang Azizah Cahyani, Ia sangat penasaran dengan Azizah dan keluarga.
Kring..Kring..
"Bagaimana apa sudah dapat apa yang aku minta?" Tanya Steven serius.
"Begini Tuan Muda, saya telah mencari informasi tentang Nona Azizah tapi" Ucap pria dibalik telepon genggam itu.
"Cepat katakan jangan berbelit-belit" Bentak Steven karena geram dengan jawaban pria itu.
"Nona Azizah sekarang hanya sebatang kara Tuan, orang tuanya telah meninggal 7 tahun yang lalu. Dan Ia dulu pernah tinggal bersama bibi nya namun kini bibi juga telah meninggal" Ucapnya.
"Baiklah".
Steven Walker merasa sangat sedih dan kasihan, hatinya begitu terenyuh mengetahui kehidupan malang gadis itu.
__ADS_1
"Ternyata kehidupan sungguh sangat malang gadis bodoh. Izinkan aku menjagamu seumur hidupku, aku berjanji tidak akan pernah membuat kau kesepian dan sedih lagi" Batin Steven Walker tanpa sadar air matanya telah menetes.
Ia pun bergegas menuju RS untuk menemui Azizah Cahyani, Ia tak perduli lagi dengan image arogan dan kejam. Didalam benaknya Ia hanya ingin memberikan kehidupan yang baru untuk Seorang Azizah.
"Bagaimana keadaan gadis bodoh itu sekarang?" Tanya Steven pada Mike.
"Keadaannya mulai membaik, tapi sampai sekarang Ia belum juga bangun " Balas Steven.
Steven Walker menghela nafasnya dalam-dalam, Ia sangat berharap Azizah bisa segera sadar. ditatapnya wajah yang sangat polos itu. bibir yang semula pucat kini sudah melihatkan warnanya.
Mike merasa bersalah, penyesalan yang tidak dapat mengembalikan semuanya pada posisi yang semula. Sakit melihat Sang Sahabat yang terlihat sangat menyedihkan.
"Steven, Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal seharusnya aku bisa mengontrol kebahagiaanku saat ingin bertemu denganmu. Aku benar-benar menyesal" Ucap Mike dengan penuh penyesalan.
"Jangan diingat lagi, yang hanya Aku inginkan sekarang adalah kesadaran Azizah" Balas Steven serius.
Dikecupnya kening Azizah berharap Ia bisa segera sadar, untuk kali pertamanya dihadapan Seorang wanita selain Ibunya tercinta, Steven terlihat tak berdaya. Separuh jiwanya seperti sirna ditelan bumi.
"Bangunlah gadis bodohku, Apa kamu tidak bosan tidur seperti mayat hidup seperti ini? jangan membuat Aku khawatir gadis bodoh. Cepatlah bangun" Ucap Didalam hatinya.
Azizah menggerakkan jari tangannya, Seolah mendengar ucapan Steven Walker.
Namun tiba-tiba tubuh Azizah bergetar kuat, tak lama kemudian Azizah kejang-kejang.
"Tunggu sebentar Steven, Aku segera memanggil dokter" Balas Mike lalu berlari keluar memanggil Sang dokter.
"Azizah Jangan membuatku takut kamu harus kuat, bertahanlah Azizah" Ucap Steven pada Azizah memberikan semangat.
Azizah masih saja kejang-kejang, Azizah mengeluarkan keringat yang sangat banyak Sebesar biji jagung.
Steven tak henti-hentinya memberikan semangat untuk Azizah agar tetap bertahan hidup.
"Tuan tolong keluar, Saya akan memeriksa nona Azizah" Ucap dokter yang menyuruh Steven untuk menunggu diluar.
"Tolong buat dia sadar atau rumah sakit ini aku tuntun" Ancam Steven.
"Steven kau apa-apaan sebaiknya kita keluar, biar dokter yang menangani Azizah" Ucap Mike lalu menyeret Steven secara paksa sebelum Steven menjadi benar-benar murka.
"Aahhhhhh" Teriak Steven.
"Tenanglah Steven, redam amarahmu" Ucap Mike.
"Bagaimana Aku bisa tenang, Azizah sekarang sekarat. Tubuhnya sedari tadi kejang-kejang apa kau tidak melihatnya? bukankah kau juga disana Mike" Bentak Steven yang kesal dengan sikap Mike.
__ADS_1
"Aahhhhhh" Teriak Steven lalu meninju tembok, seketika darah segar bercucuran dari jemari tangan Steven.
"Cukup Steven!! Jangan bertindak bodoh. Apa kamu ingin melukai dirimu sendiri, jangan lakukan hal gila ini" Kali ini Mike yang membentak Steven.
"Aku harus bagaimana Mike, Azizah sekarang seperti itu. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa Mike" Tangis Steven pecah Ia Sudah tak bisa menahan kesedihannya.
"Aku juga tidak ingin terjadi hal buruk kepada Azizah, sekarang kita bersihkan lukamu. Darahmu dari tadi tak henti-hentinya keluar" Ucap Mike lalu mengajak Steven untuk mengobati lukanya.
Sungguh sangat miris melihat keadaan Seorang CEO terkenal yang sekarang sangat menyedihkan, Pria yang dikenal semua orang dengan sikap arogan dan kejam. Malah menangisi Seorang gadis miskin yang sama sekali tak selevel dengan dirinya.
"Sekarang kamu tenangkan dirimu dulu Steven, Kita harus yakin bahwa Azizah bisa sembuh" Ucap Mike.
Steven tak membalas ucapan Mike, Ia diam seribu bahasa.
"Steven kamu dengar aku kan?" Tanya Mike yang khawatir dengan sikap Steven yang diam membisu.
"Ya" Ucap Steven singkat.
"Maafkan Aku, Aku sangat menyesal" Ucap Mike dengan penuh penyesalan.
Lagi-lagi Steven hanya terdiam seribu bahasa, tatapan matanya terlihat sangat kosong.
Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Azizah keluar dari kamar rawat, Mike maupun Steven bergegas menanyakan keadaan Azizah yang terlihat sangat tidak memungkinkan.
"Bagaimana dok?" Tanya mereka serempak.
Dokter itu hanya terdiam, terlihat raut wajah yang sangat sulit diartikan.
"Keadaan Pasien sangat menghawatirkan, Kemungkinan untuk selamat 30%. Saya berharap kalian berdoa agar pasien segera pulih dari komanya" Ucap Sang dokter.
"Kamu bukan Tuhan yang bisa memvonis keselamatan seseorang, Azizah akan selamat. Bagaimanapun Ia harus tetap hidup" Bentak Steven.
Dokter itu hanya memberikan senyum, bagaimanapun Ia telah menghadapi beribu-ribu keluarga pasien yang Pernah menghardiknya seperti itu.
"Cukup Steven, tenangkan dirimu. Jangan membuat keributan di rumah sakit. Sebaiknya kita berdoa agar Azizah melewati masa kritis ini" Ucap Mike menenangkan Steven.
Melihat orang yang kita cintai menderita seperti itu pasti rasanya sangat sakit, bahkan banyak diluar sana yang meminta penyakit itu digantikan oleh dirinya saja, daripada orang tercinta menderita seperti itu.
Jangan lupa like+favorit
Ikuti terus cerita Cinta Seorang Gadis Miskin.
Berikan Tip kalian Poin/koin untuk Novel Author ini.
__ADS_1
terima kasih 🤗❤️