
Azizah sedang menantikan kehadiran Fauziah dan juga Puput teman kampusnya.
Tak lupa para dosen dan teman-teman yang lain akan hadir untuk mengucapkan selamat atas kelahiran bayinya dan Steven.
Steven terus memperhatikan sang istri yang terjun langsung untuk mempersiapkan makanan bagi para tamu.
“Sayang!” panggil Steven dan menghampiri Azizah.
“Iya sayangku, ada apa?” tanya Azizah.
“Sekarang waktunya istriku menemani Farhan kecil sayang dan juga menemaniku dikamar,” bisik Steven ditelinga Azizah.
“Baiklah, bi tolong lanjutkan ya!” pinta Azizah.
Mereka berdua berjalan menuju lift bersama-sama untuk segera kembali ke kamar.
Di dalam lift Steven tak henti-hentinya menciumi pipi sang istri yang terlihat begitu indah.
“Sayang hentikan, kita lanjutkan dikamar saja!” pinta Azizah.
“Baiklah!” seru Steven dengan semangat.
Pintu lift terbuka mereka pun berjalan bersama menuju kamar.
“Kesayangan mamah sudah bangun belum?” tanya Azizah sambil melangkahkan kaki menghampiri bayi mungilnya.
Farhan seolah mengerti dengan wajah ibunya sambil menggerakkan tangannya.
“Anak mamah sudah bangun ternyata, mau mimik sayang?” tanya Azizah dan menggendongnya.
“Anak papah juga dong,” sahut Steven.
Azizah membawa bayinya ke ranjang untuk disusui.
Bayi mungil itu kini telah berusia 1 bulan lebih 3 hari. Selama itu juga Galih belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulih.
Melihat sang istri yang sedang menyusui Farhan, pria itu langsung ikut menidurkan tubuhnya dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
“Semenjak Farhan lahir aku jarang sekali diperhatikan oleh istriku. Saat waktunya untuk berdua dengan cepat bayi kita merengek minta ASI,” ucap Steven jujur.
Azizah hanya tersenyum mendengar curhatan dari lubuk hati yang terdalam sang suami.
Pa yang dikatakan oleh suaminya memanglah benar, bahkan setiap malam mereka lebih banyak menjaga bayi mereka daripada bermesraan.
“Sayang, aku bercerita apakah kamu mendengarkan ucapanku?” tanya Steven karena sang istri tidak juga menanggapi curhatan darinya.
“Tentu saja aku mendengarkan mu sayang.
Tapi, kamu lihat sendiri aku sedang menyusui Farhan,” jawab Azizah lirih.
“Farhan sayang, tidur yang nyenyak ya nak!” pinta Steven.
“Oek... oek... oek...” Bayi Farhan menangis.
“Lihat bayi kita menangis gara-gara kamu memintanya untuk tidur. Farhan sudah kenyang tidur sayang, waktunya untuk di keluar dan menyapa para tamu,” ucap Azizah.
__ADS_1
“Tok... tok...”
“Kak Steven! kak Azizah!” panggil Mariska.
“Sayang, tolong bukakan pintu!” pinta Azizah.
“Siapa lagi yang mengganggu kita,” omel Steven sambil melangkahkan kaki menuju pintu.
“Hai kak Steven!” sapa Mariska dengan melambaikan tangan.
“Ada apa?” tanya Steven.
“Tamu kak Azizah sudah datang kak, mereka sekarang menunggu di bawah!”
“Ya sudah kamu turunlah, aku akan menyusul.”
“Siap kak Steven!”
Steven kembali menutup pintu dan bergegas menghampiri sang istri yang masih menyusui Farhan.
“Sayang, Farhan biar aku saja yang gendong. Mereka sudah datang dan menunggumu di bawah,” jelas Steven sambil menggendong bayi mungil yang terlihat sang lucu.
“Oek... oek...”
“Sini sayang, sepertinya Farhan tidak mau sama kamu!” pinta Azizah dan mengambil Farhan dari tangan suaminya.
Steven tidak bisa berkata apa-apa lagi, pria blasteran itu hanya menggaruk-garuk kepalanya karena bingung dengan sikap bayinya yang pemilih.
Sekarang aku dan Azizah sangat sulit berduaan karena ada si bayi ini.
Azizah merapikan pakaian dan turun bersama Farhan kecil. Steven yang merasa diacuhkan oleh sang istri hanya mengikuti wanita yang paling dicintainya dari belakang.
*
“Azizah!” sapa Fauziah dan Puput dengan heboh.
“Selamat ya atas kelahiran bayimu, aku bersyukur kamu akhirnya baik-baik saja,” ucap Puput.
“Terima kasih Puput!”
“Iya Azizah, saat aku tahu berita yang menghebohkan itu. Aku sangat takut kamu dan bayimu kenapa-kenapa untungnya, Allah masih menyayangi kamu dan bayimu,” sahut Fauziah.
“Iya Alhamdulillah!”
“Selamat ya nak!” sapa Pak Abi salah satu dosen Azizah.
“Terima kasih atas kehadiran bapak!” seru Azizah.
“Selamat nona Azizah!” ucap salah satu teman kampus Azizah.
“Terima kasih!”
Banyak sekali orang yang mengucapkan selamat kepada Azizah dan juga Steven. Bahkan banyak dari mereka yang merasa gemas dengan Farhan.
Meski masih bayi, Namun, Farhan memiliki daya tarik tersendiri.
__ADS_1
“Terima kasih semuanya karena kalian telah datang ke rumah kami ini, saya dan istri saya meminta do'a kepada kalian semuanya untuk kesembuhan Galih yang saat ini masih berada di rumah sakit!” pinta Steven kepada para tamu.
Mariska menangis terharu karena Kakak sepupunya meminta do'a untuk kesembuhan Galih.
Ya Allah tolong selamatkan Coneh.
Azizah tak sengaja melihat Mariska menangis dan segera menghampiri adik iparnya.
“Mariska! kamu kenapa menangis?” tanya Azizah penasaran.
“Mariska terharu dengan yang dikatakan kak Steven, semoga Galih bisa selamat kak!
Mariska sangat berharap bahwa Galih segera sadar dari komanya!”
“Amiinn!”
Mariska menghapus air matanya dan tersenyum manis.
“Nah kalau kamu senyum begitu terlihat sangat cantik! kak Azizah gabung kesana dulu ya!”
“Baik kak!”
Azizah kembali menghampiri Fauziah dan juga Puput.
“Hai!” sapa Azizah.
“Azizah, bayi kamu ini sangat tampan dan mirip sekali dengan mu,” ucap Puput.
“Iya, banyak yang bilang kalau Farhan sangat mirip denganku!”
“Tuan Steven semakin lama sekali tampan ya!” seru Fauziah.
“Ya iyalah tampan, kan suaminya Azizah,” celetuk Puput.
Azizah tertawa kecil mendengar perdebatan Fauziah dan juga Puput yang dari dulu sangat suka berdebat meskipun itu adalah masalah sepele.
“Farhan tampan! Diantara kak Fauziah dan Puput mana yang kamu pilih?” tanya Puput dengan terus mengelus pipi lembut Farhan. “Nanti kalau sudah besar, Farhan mau nikah sama kak Puput kan?” tanya Puput yang sudah sangat jelas memaksa.
“Enak saja, kalau Farhan sudah besar kamu sudah pasti jadi nenek-nenek,” celetuk Fauziah.
“Sudah-sudah! kalian sudah memiliki keponakan masih saja suka berdebat. Jadi siapa diantara kalian yang menikah duluan kemudian memberikan Farhan seorang adik?” tanya Azizah penasaran.
Mendapat pertanyaan soal menikah, Fauziah maupun Puput tidak bisa menjawab.
Mereka berdua kompak tersenyum lebar menampilkan jejeran gigi mereka.
“Sudah jelas kalian belum ada rencana ingin menikah, ayolah kalian berdua sangat cantik so, pasti banyak yang menyukai kalian,” ucap Azizah
“Iya kita sih memang cantik. Tapi, memang belum ada yang cocok dengan selera kita,” ucap Puput.
“Itu sih kamu ya, kalau aku menunggu pria yang benar-benar mencintaiku tulus seperti cintanya tuan Steven untuk Azizah,” sahut Fauziah.
“Yeeeee! itu mah maunya kamu,” celetuk Puput.
“Iya dong, memangnya kamu yang mencari pria harus yang tampan dan belum tentu suka sama kamu,” ucap Fauziah.
__ADS_1
Azizah hanya geleng-geleng kepala melihat Fauziah dan Puput yang kembali berdebat.