
Malam telah menunjukkan cahaya bulan, Azizah telah sampai dikontrakkan kecil.
Direbahkan tubuh yang sedari tadi bekerja, dirogohnya telepon genggam milik Azizah.
"Sebaiknya Aku menelepon Dimas saja" Batin Azizah.
Tut..Tut..Tut..
"Hallo, Assalamualaikum Sayang" Ucap Azizah.
"Waalaikumsalam, ada apa sayang?" Tanya Dimas Ginanjar dari balik telepon.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kangen. Kamu sedang apa?".
"Aku sedang di restoran, hari ini sangat ramai sekali".
"Dimas, kapan kamu memperkenalkan aku dengan kedua orangtuamu?".
"Suatu saat aku akan memperkenalkan kepada orang tuaku, kamu yang sabar ya sayang" Ucap Dimas Ginanjar.
"Baiklah, aku tutup teleponnya. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam sayang".
Azizah mulai ragu dengan hubungan antara dirinya dan Dimas. hubungan yang berjalan sekitar 2 Tahun lebih, tapi belum ada titiknya.
"Aku harap kamu menepati janjimu Dimas" Ucap Azizah sedih.
Di sisi lain.
Dimas Ginanjar masih sibuk dengan pekerjaannya di restoran milik Ayahnya.
Sesekali Ia turun tangan untuk melayani pelanggan.
"Silahkan dinikmati" Ucap Dimas Ginanjar ramah.
"Terima kasih Mas Tampan" Goda Monicha.
Dimas Ginanjar hanya memberikan senyum kepada gadis itu.
"Mas!!" Panggil Monicha.
"Bisa antarkan saya ke toilet?" Tanya Monicha dengan genit.
"Mbak tinggal lurus, lalu belok kiri" Ucap Dimas Ginanjar menunjukkan arah.
"Mas saja yang antarkan saya, bisa kan?".
Dengan terpaksa Dimas Ginanjar menyetujui permintaan gadis itu.
"Baiklah, ayo mbak saya antar".
Mereka pun berjalan menuju toilet.
"Terima kasih ya Mas" Ucap Monicha manis.
Dimas Ginanjar lalu pergi meninggalkan gadis itu, namun saat akan melangkah kakinya terdengar suara jeritan.
"Awww.. kakiku" Teriak Monicha.
"Kenapa Mbak?" Tanya Dimas Ginanjar bingung.
"Kakiku sepertinya terkilir" Ucap Monicha dengan menyentuh kakinya.
Monicha sengaja terjatuh untuk menarik perhatian dari Dimas Ginanjar.
"Ayo Mbak saya bantu berdiri, saya akan beri obat oles".
"Sepertinya saya tidak kuat berjalan, tolong Mas gendong saya".
Sekali lagi Dimas Ginanjar terpaksa menyetujui permintaan gadis itu.
"Maaf ya Mbak" Ucap Dimas Ginanjar lalu mengangkat tubuh Monicha.
"Jangan sungkan Mas" Balas Monicha.
Sampailah mereka di ruang kerja Dimas Ginanjar.
"Ini Mbak minyak oles, silahkan oles sendiri" Ucap Dimas Ginanjar dengan memberikan minyak oles.
"Mas saja yang oleskan" Balas Monicha.
"Tolong yang Mbak, saya banyak kerjaan. Mbak bisa oleskan sendiri. Nanti anak buah saya yang mengantarkan Mbak pulang" Ucap Dimas Ginanjar kesal lalu pergi.
Monicha menyunggingkan senyumnya.
"Kamu lihat saja, suatu hari nanti kamu pasti menjadi milikku" Batin Monicha.
__ADS_1
Keesokan Pagi.
Dikediaman Steven Walker.
"Steven, Kapan kamu memperkenalkan gadis itu? Kami sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan menantu kami" Ucap Yuli Walker.
"Steven mohon Mi, jangan bahas soal menantu atau semacamnya. Steven masih ingin fokus bekerja".
"Kenapa susah sekali untuk kamu menjalin hubungan serius dengan gadis-gadis diluar sana, Lagipula perusahaan kamu sudah besar Nak. Kamu juga harus memikirkan Masa depan kamu dengan cara menikah, bukan malah memikirkan perusahaan kamu saja. Toh sekarang kamu sudah mapan, Keluarga kita dari dulu juga sudah kaya 7 turunan" Oceh Yuli Walker.
"Sekarang aku tahu ke Mami, Mami ingin Calon menantu seperti apa?" Tanya Steven Walker Serius.
"Mami hanya ingin gadis yang bisa merawat kamu dan anak-anak kamu" Balas Yuli Walker.
"Baiklah".
"Baiklah? Maksudnya kamu akan segera memperkenalkan kami Calon menantu dan Kalian akan segera menikah?" Tanya Yuli Walker serius.
"Tidak secepat itu Mami, biarkan Steven melakukannya dengan cara Steven sendiri".
"Oke, Jangan kecewakan kami".
"Steven pergi dulu!!".
"Hati-hati Sayang".
Steven berpikir keras bagaimana caranya untuk memperkenalkan mereka kepada seorang gadis, sebenarnya sangat mudah mencari gadis dan berpura-pura menjadi kekasihnya. Namun jika sampai kedua orangtuanya tahu, mereka pasti akan kecewa.
Heru ingin sekali meminta izin untuk pergi ke Bandung menemui orang tuanya namun melihat wajah majikannya itu. Ia akhirnya enggan meminta izin.
"Kamu kenapa dari tadi menatap Saya?" Tanya Steven.
"Begini Tuan Muda".
"Cepat katakan! Jangan berbelit-belit".
"Sa..saya ingin sekali mengunjungi orang tua Saya yang di Bandung" Ucap Heru gugup.
"Sampai kapan?" Tanya Steven tanpa menoleh ke arah Heru.
"Sehari saja tidak apa-apa Tuan Muda".
"Tidak boleh" Balas Steven.
Heru yang tadi mulai senang akhirnya pasrah, dalam hatinya sungguh sangat sedih dan kecewa.
Cit.. Suara mobil.
Heru menoleh ke arah Steven, dilihatnya dengan sangat detail. Apakah tadi benar-benar Majikannya.
"Kenapa kamu menghentikan mobilnya, kamu ingin kita mati ditempat" Ucap Steven kesal.
"Tuan muda tolong ulangi sekali lagi".
"Apanya yang diulangi".
"Itu soal izin tadi".
"Apakah telinga tidak berfungsi? Saya bilang kamu izin 3 hari. Apakah kamu ingin menjadi anak durhaka yang hanya mengunjungi orang tuanya 1 hari saja".
"Ya Tuhan, terima kasih Tua Muda. Lalu bagaimana dengan Tuan kalau saya izin 3 hari?" Tanya Heru.
"Saya bisa membawa mobil sendiri, kamu tidak perlu memikirkan saya".
"Terima kasih Tuan".
"Sudah jangan banyak bicara cepat jalankan mobilnya".
"Baik Tuan".
Steven Walker menatap ke arah luar, tiba-tiba dia menangkap seorang gadis sedang duduk di salah satu kursi umum.
"Berhenti!!"
"Ada apa Tuan Muda?".
"Diam, Jangan banyak bicara".
Steven terus menatap gadis itu, duduk tepat dibawah pohon yang rindang. Senyum yang sangat murni Selalu menghiasi wajahnya.
"Sedang apa gadis bodoh itu? bukankah seharusnya dia bekerja?" Tanya Steven dalam hatinya.
Sekitar 10 Menit, Azizah berjalan menaiki bus menuju perusahaan Walker Corp.
Steven pun pergi menuju perusahaan miliknya itu.
"Jangan buka pintu dulu, biar gadis itu masuk dulu" Ucap Steven.
__ADS_1
Heru yang penasaran mencari-cari gadis yang dimaksud Steven. Heru akhirnya tahu siapa gadis itu.
"Hehe.. Jadi gadis itu ya Tuan" Ucap Heru dengan senyum lebar menampilkan gigi.
"Diam!!" Ucap Steven dingin.
Heru yang semula tersenyum lebar, langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Setelah tak terlihat lagi batang hidungnya, Steven Walker bergegas menuju ruangannya.
"Apakah aku harus mengerjai gadis bodoh itu lagi?" Tanya Steven pada dirinya sendiri.
Disisi lain.
Azizah yang baru sampai kantor, mendapatkan tatapan tajam itu lagi. Sorot mata yang seperti menelanjangi dirinya.
"Ada apa lagi dengan mereka? masih saja memberiku tatapan seperti itu? Apakah aku membuat salah terhadap mereka?" Batin Azizah.
Dihempaskan tas hitam miliknya, fokuslah Azizah dengan tugas kantornya yang menumpuk.
"Selamat pagi Azizah" Sapa Seorang gadis.
"Selamat pagi juga" Balas Azizah dengan memberikan senyum.
"Perkenalkan aku staff disini, namaku Septi" Ucap Septi dengan mengulurkan tangannya.
"Aku Azizah" Balasnya dengan menyambut tangan Septi.
"Kamu sepertinya gadis yang baik, mereka salah menilai dirimu?".
"Maksudmu apa?".
"Para pegawai disini iri sekali denganmu Azizah".
"Iri? Kenapa mereka harus iri?".
"Karena kamu telah digendong Pak Steven Walker, Bos kita yang terkenal Arogan dan sangat dingin itu".
"Apa? jadi orang yang membawaku ke RS adalah Pak Steven?".
"Jadi kamu tidak tahu?".
Azizah menggeleng kepalanya, Ia benar-benar tidak tahu tentang itu. Jadi selama ini mereka tidak suka dan iri karena masalah Ia digendong Steven Walker.
"Wajahnya saja aku belum tahu" Ucap Azizah polos.
"Haha.. " Suara tawa Septi.
"Jadi selama ini kamu belum tahu wajah Bos kita? Ya ampun Azizah terus kemarin-kemarin saat kamu keruangan nya kamu tidak bertemu dengan Bos kita?"
"Kami bertemu, tapi Pak Steven selalu berbicara membelakangi aku" Ucap Azizah.
"Benarkah?" Tanya Septi penasaran.
"Ya, Apakah Pak Steven Walker itu sudah tua?".
"Pak Steven masih sangat muda, umurnya bahkan di bawahku 3 tahun".
"Apakah kamu juga menyukainya seperti yang lain?".
"Tentu saja tidak, aku sudah menikah dan memiliki seorang anak yang lucu" Balas Septi.
"Tapi kamu tidak terlihat seperti seorang ibu, kamu terlihat seperti masih gadis" Puji Azizah.
"Kamu bisa saja Azizah, aku kerja dulu. Lain kali kita mengobrol lagi, ternyata kamu sangat lucu. Senang bertemu denganmu".
"Senang bertemu denganmu kak" Balas Azizah.
"Kenapa kamu memanggilku kak?" Tanya Septi.
"Karena kamu lebih tua dariku".
"Berapa usiamu saat ini?".
"19 Tahun" Balas Azizah.
"Ternyata kita selisih 8 tahun".
"Tapi kamu terlihat sangat Muda kak" Puji Azizah lagi.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, aku bekerja dulu. Bye" Ucap Septi lalu pergi.
"Bye juga Kak" Balas Azizah.
Azizah sangat senang, untuk kali pertamanya Ia bisa bekerja dan mempunyai teman baru.
Semenjak Azizah pindah di Jakarta. Ia belum memiliki teman, banyak yang mendekatinya namun hanya memanfaatkannya saja. Ia sangat rindu sosok Yana yang sangat tulus berteman dengan dirinya, rindu yang teramat dalam yang selalu Ia rasakan setiap harinya.
__ADS_1
Tinggalkan jejak guys 🤗❤️