Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 192


__ADS_3

Malam hari.


Steven malam itu tidak berada di rumah, ia sedang pergi ke perusahaan mengurusi beberapa pekerjaan yang harus ditangani sendiri oleh Steven.


Azizah sejak selesai makan malam sama sekali tidak keluar kamar, tubuhnya malam itu terlihat sangat lemas. Ia bahkan tak mampu untuk berjalan membuat pikiran Azizah menjadi tidak tenang.


“Drttt... drrt...” Berulang kali ponsel pintar milik Azizah bergetar namun, Azizah tak menghiraukan suara getar ponselnya.


*


Di Perusahaan


Perasaan Steven malam itu tidak tenang, ia pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaan untuk segera pulang dan menemani sang istri.


Sebelum ia pergi ke perusahaan, Azizah sempat mengeluh dengan tubuhnya.


Namun, saat Steven menawarkan untuk memanggil dokter, sang istri justru menolaknya.


“CEO! tolong anda periksa berkas yang ini!” pinta salah satu bawahan Steven.


Steven berusaha menenangkan pikirannya namun, ia sama sekali tidak bisa fokus di otaknya hanyalah Azizah dan Azizah.


“Berkas ini kamu simpan di ruangan saya!” perintah Steven.


“Tapi...”


“Jangan membantah apa yang saya suruh jika tidak ingin kehilangan pekerjaan mu!”


“Ba..baik CEO, tolong maafkan saya!”


Steven dengan cepat mengambil jas kerja miliknya dan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju lantai dasar.


*


“Galih, cepat pulang sekarang!” perintah Steven.


“Ba..baik tuan muda!”


Steven masuk ke dalam mobil dan menghubungi salah satu Dokter kandungan kepercayaannya.


Galih begitu takut dengan wajah dingin tuannya yang sangat berbeda jika bersama nyonya mudanya, wajah yang terlihat dingin, angkuh serta terkesan menyeramkan.


“Lebih cepat lagi Galih!” perintah Steven.


“Ba..baik tuan muda,” jawab Galih.


Kedua orangtua Steven dan Mariska malam itu memang sedang tidak berada di rumah, mereka bertiga sedang menghadiri acara pernikahan.


1 Jam kemudian.


Steven langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.


“Sayang!” panggil Steven saat memasuki kamar dan melihat sang istri yang berada di atas ranjang.


Azizah terlihat sangat tenang, untuk memastikan bahwa sang istri baik-baik saja. Steven memeriksa suhu tubuh sang istri dengan menyentuh dahi Azizah.

__ADS_1


“Ya Allah, panas sekali,” ucap Steven dan segera memeluk tubuh Azizah.


“Sayang.. ka..kamu sudah pulang,” tutur Azizah lirih namun, tidak membuka mata.


“Maafkan aku sayang, karena meninggalkan kamu sendirian.” Steven panik dan menangis.


5 menit kemudian.


Seorang dokter wanita datang dengan membawa tas yang cukup besar.


“Kenapa kamu sangat lama sekali, sekarang cepat periksa kondisi istriku!” perintah Steven.


“Maaf tuan muda,” ucap Berta merasa bersalah.


Berta memeriksa denyut nadi Azizah dan tak lupa ia memeriksa perut Azizah yang berisi calon bayi dari Azizah dan juga Steven.


“Nyonya Azizah..”


“Cepat katakan jangan berbelit-belit!” perintah Steven yang ingin segera mengetahui keadaan istri tercintanya.


“Nyonya Azizah mengalami demam tuan muda,” jawab Berta yang tak berani menatap wajah Steven yang sudah dipastikan terlihat begitu menyeramkan bahkan mendengar suara Steven saja sudah membuat bulu kuduk Berta merinding.


“Apakah istriku harus di rawat di rumah sakit?” tanya Steven lagi.


“Ti..tidak.perlu tuan muda, sepertinya kondisi nyonya muda karena bawaan bayi,” terang Berta.


“Ya sudah, cepat beri resep yang paling ampuh untuk anak Adam juga istriku!”


Berta segera mengambil obat khusus ibu hamil yang paling manjur.


“Kamu yakin ini obat yang ampuh?” tanya Steven memastikan.


“Sa..saya yakin tuan muda!”


“Jika besok istriku tidak sembuh, aku akan menuntut kamu!” tegas Steven.


Berta hanya mengangguk dan berharap bahwa kondisi wanita yang sedang terbaring di ranjang segera membaik.


“Sekarang pergilah, aku akan mentransfer uangmu!”


“Terima kasih tuan muda, sa..saya permisi!”


Berta dengan cepat meninggalkan suami istri itu, berulang kali ia berdoa agar Azizah baik-baik saja.


Azizah meraih tangan sang suami, “Sa..sayang, lain kali kamu jangan seperti itu,” ucap Azizah lirih.


“Maafkan aku sayang, aku terlalu panik,” balas Steven dan mencium punggung tangan sang istri yang terasa panas.


Azizah meminta sang suami untuk membantu meminum obat, Steven dengan perlahan membantu sang istri.


Setelah minum obat, Azizah kembali membaringkan tubuhnya sementara Steven terus mengajak calon bayi mereka berbicara.


2 Jam kemudian.


Kondisi Azizah berangsur-angsur membaik, tubuh yang awalnya panas kini sudah tidak panas lagi.

__ADS_1


“Sayang, bolehkah aku minta sesuatu!” pinta Azizah yang sudah kembali tersenyum.


“Katakan sayang, kamu mau minta apa dariku!”


“Aku ingin duduk di balkon sambil melihat bintang bersamamu!” pinta Azizah.


Steven mengiyakan dan menggendong tubuh Azizah, ia menggendong tubuh sang istri dengan sangat hati-hati. Apalagi ia tidak hanya menggendong sang istri melainkan ada calon bayi yang sedang bersembunyi di dalam perut Azizah.


“Bagaimana kamu suka sayang?” tanya Steven.


“Terima kasih sayang,” ucap Azizah senang.


Steven berlari kecil masuk ke dalam kamar, ia mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuh sang istri.


“Bintangnya sangat banyak sekali sayang,” ucap Azizah.


“Tapi lebih banyak cintaku ke kamu daripada bintang yang bertebaran di langit malam,” balas Steven.


“Dasar gombal,” sahut Azizah kemudian tertawa kecil.


Steven menatap lekat wajah sang istri kemudian ia mencium bibir seksi Azizah, ciuman mereka perlahan-lahan menjadi ciuman yang sangat intim.


“Huh... huh..”


“Huh... huh..”


Napas mereka memburu satu sama lain, Steven kemudian memeluk tubuh Azizah dari belakang. Ia berulang kali mengontrol keinginannya untuk memakan sang istri.


“Maaf,” ucap Azizah.


“Kenapa kamu meminta maaf sayang?” tanya Steven heran.


“Karena saat ini aku sedang sakit, jika saja tidak mungkin kita sudah..” ucap Azizah tak berani melanjutkan ucapannya.


“Mauch...” Steven mengecup pucuk kepala Azizah, “Istriku sekarang lagi kurang sehat, masih ada malam-malam yang lain,” jawab Steven.


Azizah merasa kasihan karena kondisi tubuhnya yang tiba-tiba sakit, padahal sebelumnya sang suami meminta dirinya untuk melayani sang suami.


“Bolehkan aku tidur di pelukanmu sayang!” pinta Azizah.


“Tidurlah sayang, aku akan memelukmu dan memberikan pelukan hangat untukmu,” jawab Steven.


Azizah memejamkan mata, ia sangat mengantuk mungkin karena efek obat yang ia minum.


Steven tersenyum ketika mendengar suara dengkuran halus sang istri yang artinya bahwa sang istri sudah tertidur.


Steven terus mengelus-elus perut buncit sang istri.


Sebentar lagi aku dan Azizah akan melihat wajah dari calon anak kami, semoga anak kami lahir dengan selamat berserta istri ku yang begitu aku cintai.


30 menit kemudian.


Steven berhati-hati dan menggendong tubuh Azizah menuju ranjang, sesampainya di atas ranjang, Steven membetulkan posisi tidur sang istri dan menyelimuti setengah tubuh Azizah.


“Tidurlah sayang, aku ke kamar mandi sebentar,” ucap Steven dan berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2