
Usai mengantarkan Azizah pulang, Danu bergegas pulang. Ia sangat khawatir dengan Yana yang hanya menangis.
Sesampainya di rumah.
“Sudah Yana jangan menangis lagi.”
“Mami jahat Pi, Mami tega.”
“Sekarang Papi tanya sama Yana, Yana apa ingin menangis terus seperti ini?" Tanya Danu.
“Tidak Pi.”
“Kalau begitu jangan kamu pikirkan lagi.”
“Tapi Pi.....”
“Biarlah Mami kamu seperti itu, biarkan Mamimu bahagia. Yana mau kan Mami bahagia?”
“Yana mau Pi.”
“Sekarang usap air mata Yana, sebaiknya kamu ganti baju, makan bersama Papi setelah itu kamu tidur siang oke!”
“Baik Pi!”
Usai Makan siang bersama Yana bergegas menuju kamar, Sampai dikamar Yana menangis dan meluapkan isi hatinya pada Mochi boneka panda kesayangannya.
“Mochi jangan tinggalkan aku seperti Mami meninggalkan aku ya!! aku sangat sedih mochi. Baru saja aku merasakan kembalinya Papi sekarang Mami malah meninggalkan aku.”
“Apakah aku nakal Mochi? aku ingin Mami kembali bersamaku. menemani aku bermain, menemani aku belajar, menemani aku makan, menemani aku jalan-jalan bahkan menemani aku tidur,” ucapnya lagi.
Yana pun tertidur akibat kelelahan menangis.
*
“Kamu benar-benar tega kepada anak kita, Apakah sepenting itu pernikahan kalian dibandingkan anak kita. aku tidak berharap kamu kembali kepadaku, bagiku 5 tahun itu sudah hilang ditelan bumi. tapi yang kuharap kan kamu kembali kepada anak kita. Apakah kamu tidak kasihan kepada anak kita hampir tiap malam dia selalu memanggilmu, hampir tiap malam anak kita menangis, meski aku berpura-pura tidak tahu, sebenarnya aku sangat tahu. dan kamu tanpa bersalahnya mengirimkan undangan pernikahan kamu dengan laki-laki kurang ajar itu. andai kamu tahu dia laki-laki licik mungkin kita tidak akan berpisah dan Yana tidak akan kesepian seperti ini,” ucap Danu dengan air mata berlinang sambil memandangi foto Keluarga mereka dulu.
Seminggu kemudian.
“Kamu yakin mau datang?” tanya Danu Aryanto.
“Yakin Pi, mungkin ini yang terakhir aku ketemu Mami.”
Sebelumnya Danu menolak ajakan Yana untuk datang ke pernikahan calon istrinya, namun yang bersikeras untuk tetap datang. Danu akhirnya menuruti permintaan anak semata wayangnya tersebut.
“Ayo Pi berangkat sekarang!”
“Baiklah sayang.”
Sepanjang perjalanan Danu Aryanto memeluk anaknya, meski Yana terlihat tegar diluar namun Danu tahu bahwa anaknya sangat sedih.
“Pi, Yana ada permintaan lagi?”
“Katakanlah sayang!”
“Yana ingin pindah sekolah ke rumah nenek Noor.”
“Kenapa kamu ingin pindah ke sana? bukankah kamu sering menolak untuk ke Malaysia?” tanya Danu penasaran.
“Yana ingin tinggal di sana Pi, Lagipula kasihan nenek sendirian di sana.”
“Kata siapa nenek sendirian? disana ada paman dan bibi kamu.”
“Tapi kan nenek hanya tinggal sendiri, jadi Yana ingin menemani nenek dan pindah sekolah di sana,” jelas Yana.
Lagi-lagi Danu menyetujui permintaan Yana, Ia tahu alasan mengapa Yana meminta tinggal di sana yaitu supaya Ia bisa pergi dari Rika.
Paijo yang mengendarai mobil tersebut hanya diam, Paijo merasa kasihan kepada Yana. Yang harus merasakan perpisahan kedua orangtuanya disaat Ia masih kecil.
Sesampainya di kediaman Rika.
Hiasan bunga-bunga tertata rapi menghiasi rumah mewah Rika, keramaian di lokasi tersebut tidak membuat hati Yana tergerak untuk tersenyum.
Yana berusaha terus berjalan mendekati sang Mami.
“Kamu datang Yana? Sini peluk Mami,” ucap Rika Bahagia ketika melihat putrinya.
Namun yang tidak bergerak mendekati Rika sedikitpun justru Ia mundur, menolak di peluk Rika.
__ADS_1
“Yana kesini hanya ingin mengucapkan selamat kepada Mami dan Om Jay. Selamat berbahagia, Yana harap kalian bahagia sampai kakek nenek. Yana sangat berharap jika kalian memiliki anak, kalian harus sayang dan tidak pernah bercerai seperti yang dilakukan Papi dan Mami terhadap Yana.”
Usai mengatakan itu Yana maupun Danu Aryanto meninggalkan acara sakral tersebut,
Rika yang mendengar ucapan putrinya itu merasa tertampar kemudian Ia jatuh pingsan.
Vijay Julio yang tak lain dan tak bukan adalah Suami Rika sangat terkejut lalu membopong tubuh Rika.
“Bangunlah sayang, jangan membuat malu aku!” pinta Jay lirih disela-sela Ia menggendong tubuh Rika.
Di mobil Danu Aryanto.
“Bagaimana perasaan kamu nak? Apakah sudah lega mengatakan hal itu?”
“Sudah Pi, sekarang Yana merasa sangat lega.”
“Anak Papi ini sekarang mau langsung pulang apa mau mampir ke suatu tempat?”
“Yana mau ke tempat Azizah Pi, sudah hampir seminggu Yana tidak kesana sekalian mau memberitahukan bahwa Yana ingin pindah ke Malaysia,” ucap Yana.
“Kamu yakin ingin memberitahukan Azizah sekarang? Papi takut Azizah malah menangis ditinggal putri Papi ini.”
“Justru ini waktu yang tepat Pi, Yana juga ingin memberikan ini buat Azizah.”
“Bukankah itu sangat berharga buat kamu nak?” tanya Danu sambil menunjuk barang tersebut.
“Azizah juga berharga buat Yana Pi, jadi biar ini Yana berikan kepada Azizah.”
“Sayang, hal yang Papi sesali sampai saat ini adalah tidak melihat kamu tumbuh selama 5 tahun ini, Ternyata anak Papi ini sudah besar dan pemahamannya lebih besar dari yang Papi kira.”
“Papi bisa saja hehe,” ucap Yana mencairkan suasana.
“Paijo kita mampir ke tempat Azizah dulu!”
“Baik Tuan.”
“Jangan dulu Pak Paijo, kita mampir ke Alun-alun dulu ya!” pinta Yana.
“Bagaimana Tuan?” tanya Paijo pada Danu.
“Ikuti saja permintaan Putri saya.”
“Baik Tuan.”
“Kita Foto-foto disitu Pi!” tunjuk Yana semangat.
“Oke Sayang.”
Mereka asyik foto dan bermain kejar-kejaran banyak pasang mata yang melihat Mereka seperti keluarga bahagia.
Danu lalu memeluk putrinya itu dengan pelukan senyaman mungkin.
“Kamu anak yang hebat nak,” puji Danu.
2 Jam Kemudian.
“Pi, ayo kita ke rumah Azizah!”
“Ayo nak!”
Sesampainya di Kediaman Darmi.
“Assalamualaikum,” ucap Yana.
“Assalamualaikum,” ucapnya lagi.
Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah.
“Azizah dan Bu Darmi kemana ya Pi?” tanya Azizah bingung.
“Sebaiknya kita tanya tetangga sebelah sayang, siapa tahu dengan kita menanyakan kepada tetangga sebelah mereka tahu Azizah dan Bu Darmi.”
“Iya Pi, ayo kita kesitu!” tunjuk Yana.
“Assalamualaikum,” ucap Yana dan Danu.
“Waalaikumsalam, cari siapa?” tanya Lasmi.
__ADS_1
“Bu, Azizah dan Bu Darmi pergi kemana? dari tadi Yana panggilkan tidak ada jawaban,” tanya yana.
“Mereka sedang di Puskesmas, Azizah Sakit,” balas Lasmi.
“Azizah Sakit apa Bu?” tanya Yana Khawatir.
“Kalau tidak salah kena DBD.”
“Azizah dirawat di Puskesmas mana Bu?”
“Puskesmas dekat SMP N 3 nak.”
“Terima kasih informasinya Bu, kalau begitu saya pamit Wassalamu'alaikum!”
“Waalaikumsalam.”
“Ayo Pi! Kita ke Puskesmas!”
“Iya sayang, kamu hati-hati jangan lari-lari seperti itu.”
5 Menit Kemudian.
Yana turun dari mobil dengan tergesa-gesa, Yana sangat khawatir dengan keadaan Sahabatnya itu.
“Mbak, numpang tanya pasien yang bernama Azizah dirawat dikamar mana?” tanya Yana Khawatir.
“Azizah yang menderita penyakit DBD ada di kamar Nomor 22,” ucap salah satu Bidan.
“Terima kasih mbak, Ayo Pi!”
Sampailah mereka di ruang kamar Azizah.
“Azizah!! kamu kenapa bisa Sakit?” tanya Yana dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi.
“Yana, kamu disini? Om Danu juga disini,” ucap Azizah.
“Hai Azizah, Om dan Yana tadi ke rumah kamu tapi tidak ada orang. jadi Om dan Yana menanyakan kalian pada tetangga kalian rupanya kalian disini dan ternyata sahabat putri Om sedang sakit,” ucap Danu.
“Oo begitu ya Om, Azizah sudah membaik. Oya perkenalkan ini Tante Azizah Bu Darmi,” ucap Azizah memperkenalkan Darmi.
“Perkenalkan Saya Danu Aryanto orang tua tunggal Yana.”
“Saya Darmi!”
“Papi tolong belikan Azizah Sesuatu untuk dimakan, Kasihan Azizah tidak ada makanan di mejanya,” bisik Yana pada Danu.
“Kalian mengobrol lah, Papi ada urusan.”
Danu Aryanto lalu bergegas keluar Puskesmas.
“Paijo antarkan Saya ke Toko swalayan di daerah sini!! ada yang ingin Saya beli.”
“Baik Tuan!”
Sampailah Mereka Di sebuah toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan.
Danu membeli Roti dan susu serta beberapa Buah-buahan.
"Kamu Danu Aryanto ya?” tanya seorang pria.
"Iya benar, Kamu siapa?” tanya Danu penasaran.
"Ya Tuhan, Aku lupa sama Aku? Aku Amri teman kamu dulu.”
"Astaga, ternyata kamu,” ucap Danu lalu memeluk sahabat lamanya itu.
“Tambah ganteng aja kamu Bro!” puji Amri.
Amri bertanya tentang Rika dan Danu menceritakan semuanya tentang perpisahan dirinya dan Rika.
“Pria itu benar-benar tidak waras, Rika mau-maunya dengan pria gila itu,” sindir Amri.
“Sudahlah Amri, lagi pula yang Aku pikirkan sekarang adalah Putriku.”
“Semangat Bro! Aku tahu kamu bisa. Mana Nomor ponselmu aku catat.”
Danu lalu memberikan ponselnya, mereka bertukar nomor satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung...