Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 156


__ADS_3

Di Jakarta.


Dimas sedang sibuk dengan buku besar dihadapannya, ia terlihat sangat sibuk hingga mengabaikan kesehatan karena sering telat makan mungkin itu yang bisa ia lakukan sekarang.


“Dimas makanlah dulu nak!” perintah Sutomo saat melihat putranya begitu serius dengan buku dihadapan Dimas.


“Sebentar lagi yah, tinggal sedikit lagi setelah itu Dimas akan makan,” balas Dimas.


“Ya sudah kalau itu mau kamu,” ucap Sutomo pasrah.


Dimas menoleh ke arah sang ayah yang berjalan meninggalkannya.


Maaf ya yah, Dimas seperti ini karena ingin mencari kesibukan.


Jika Dimas tak ada kerjaan, maka Dimas akan memikirkan Azizah kecil dan juga Azizah Cahyani yang begitu Dimas rindukan.


“Aw...” Dimas menyentuh perutnya yang terasa sangat sakit namun, ia belum juga beranjak dari tempat duduknya.


Beberapa menit kemudian.


Akhirnya pekerjaan Dimas telah selesai, ia pun bergegas menutup buku besar dihadapannya dan berjalan menuju dapur untuk menikmati makan siangnya.


“Siang pak Dimas!” sapa salah satu pelayan restoran.


“Tolong ambilkan saya makanan seperti biasanya ya!” pinta Dimas.


“Baik pak Dimas!” seru pelayan restoran.


Dimas mengangguk pelan kemudian ia berjalan masuk ke dalam ruangannya, terlihat Sutomo dan juga Ida yang duduk santai di kursi ruangan itu.


“Sudah selesai nak?” tanya Ida.


“Sudah Bu, sekarang Dimas mau makan siang,” balas Dimas dengan memasang wajah tanpa ekspresi.


“Makan ya banyak ya nak, lihat tubuhmu sekarang sangat kurus,” ucap Ida dengan wajah sedih.


Dimas tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya untuk duduk di kursi miliknya, ia duduk dengan begitu tenang sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya.


Duda itu menatap ke layar ponselnya yang membuat senyumnya tiba-tiba muncul, Ida dan Sutomo begitu penasaran dengan sikap anaknya. Mereka penasaran apa yang membuat Dimas tersenyum, sebelum ingin mengintip layar ponsel milik anak mereka, Dimas secepat kilat menutup ponselnya agar tidak dilihat oleh kedua orangtuanya.


“Tok... tok...” Suara ketukan pintu membuyarkan keinginan tahuan Ida dan Sutomo.


“Masuk!” perintah Dimas.


Seorang pria yang lebih muda setahun dari Dimas masuk dengan membawakan makan siang untuk bosnya itu.


“Ini pak Dimas!” ucapnya sambil meletakkan makanan tersebut dimeja.


“Terima kasih,” ucap Dimas.

__ADS_1


“Saya permisi pak!”


“Oke,” jawab Dimas singkat.


Ida dan Sutomo saling melirik satu sama lain kemudian melirik ke arah Dimas.


“Ayah sebaiknya kita pulang yuk!” ajak Ida pada suaminya.


“Baiklah, ayo kita pulang,” balas Sutomo kemudian mendekatkan dirinya kepada Dimas, “Nak ayah dan ibu pulang duluan, setelah pekerjaan mu selesai pulang lah ya nak!” pinta Sutomo.


“Ayah dan ibu tenang saja, setelah pekerjaan di restoran selesai Dimas akan langsung pulang ke rumah,” balas Dimas.


Ida dan Sutomo kompak meninggalkan Dimas yang sedang duduk dengan makanan dihadapannya, setelah kedua orangtuanya pergi barulah Dimas fokus untuk makan siang.


Dimas yang sekarang seorang duda memutuskan untuk tidak menikah lagi, ia akan menikah lagi jika ada seorang gadis yang seperti Azizah lebih tepatnya foto copy nya Azizah yang bisa dibilang bahwa Dimas belum bisa move on dari Azizah.


Di Magetan.


Azizah sedang duduk santai di kamar hotel mertuanya, Steven dan Adam sedang ada urusan penting menemui Mike dan ayah Mike yang saat itu masih berada di kediaman Danu Aryanto.


“Siang mami, siang kak Azizah!” sapa Mariska yang baru datang.


“Siang juga sini nak kumpul bersama mami dan kakak iparmu!” ajak Yuli sambil menepuk-nepuk tepat duduk disampingnya.


“Iya Mariska sini!” seru Azizah.


“Wah sepertinya ada cemilan nih,” ucap Mariska kemudian duduk tepat di samping Yuli.


Azizah pun ikut tertawa karena yang dikatakan ibu mertuanya memang benar.


“Uwek... uwek...” Azizah tiba-tiba mual dengan cepat ia berlari ke kamar mandi.


Yuli tak tinggal diam ia pun menyusul menantunya yang tengah berbadan dua, “Pelan-pelan nak,” ucap Yuli karena Azizah berlari menuju kamar mandi.


“Uwek... uwek..” Azizah terus saja mengeluarkan isi perutnya, wajahnya seketika pucat.


“Brug!” Azizah akhirnya tak sadarkan diri, untungnya Yuli dapat menahan tubuh Azizah.


“Mariska cepat kesini!” teriak Yuli pada keponakannya.


“Ada apa mi?” tanya Mariska panik kemudian menyusul Azizah dan Yuli.


Mariska panik melihat Azizah yang sudah pingsan ditambah Yuli yang menahan tubuh Azizah dengan cepat Mariska memapah tubuh Azizah.


Mariska dan Yuli memapah Azizah menuju ranjang, sampai di ranjang Yuli meminta Mariska untuk segera menghubungi Steven.


“Cepat hubungi kakak kamu sekarang Mariska!” perintah Yuli.


“Ba..baik mi,” balas Mariska dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Steven.

__ADS_1


“Tut... Tut...”


“Assalamualaikum, kak Steven pulang sekarang! kak Azizah pingsan,” ucap Mariska.


“Halo kak, halo kak!” panggil Mariska namun, tak ada jawaban dari seberang telepon.


“Kenapa?” tanya Yuli.


“Sepertinya kak Steven langsung kesini mi,” balas Mariska.


Yuli duduk di pinggir ranjang sambil terus menatap menantunya, ia dan Mariska sedang menunggu Steven dan Adam datang.


30 menit kemudian.


“Ada apa dengan istriku mi?” tanya Steven yang tiba-tiba datang dengan raut wajah kepanikan.


“Iya Azizah kenapa mi?” tanya Adam khawatir.


“Azizah tadi mual-mual dan pingsan di kamar mandi untungnya mami menahan tubuh Azizah agar tidak jatuh,” jelas Yuli.


Steven menggendong tubuh Azizah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar hotel orangtuanya lalu berjalan menuju kamar hotel yang ia tempati bersama Azizah, pria blasteran itu sangat panik ia tidak ingin hal-hal yang tidak baik menimpa istri dan juga anak yang sedang dikandung oleh Azizah.


Sesampainya di kamar, Steven langsung merebahkan tubuh istrinya dengan lembut.


Ia berulang kali mengecup kening serta bibir Azizah, telapak tangan Azizah selalu digosok-gosokkan dengan telapak tangannya ia berharap istrinya segera sadar.


Azizah menggerakkan tangannya perlahan mata Azizah terbuka dan melihat suaminya telah berada di sampingnya.


“Kamu sudah pulang suamiku?” tanya Azizah.


Steven mendongakkan kepalanya dan mendudukkan tubuh istrinya secara hati-hati.


“Kamu sudah sadar istriku,” ucap Steven sambil mengelus-elus rambut Azizah.


“Memangnya aku tadi kenapa?”


“Tadi kamu pingsan, aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan kamu sayang.”


“Baiklah,” balas Azizah lirih.


Steven mendekat ke arah istrinya dan memeluk tubuh Azizah yang mulai berisi.


“Maaf karena membuatmu seperti ini istriku,” ucap Steven.


“Kenapa kamu mengatakan maaf suamiku, apa karena aku sering mual-mual dan juga pingsan karena tengah mengandung?” tanya Azizah kemudian diangguki oleh Steven.


“Hal seperti ini wajar suamiku, justru aku sangat senang dapat merasakan kenikmatan masa-masa mengandung, banyak diluar sana yang mengharapkan bayi namun, Allah belum juga memberikan untuk mereka," terang Azizah.


“Kamu memang istri yang patut diperjuangkan istriku, terima kasih karena telah menerimaku.”

__ADS_1


Azizah senang mendengar ucapan suaminya, ia bahkan menangis terharu.


Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏


__ADS_2