
Steven terus menciumi pipi lembut bayinya, ia menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang.
“Ayolah nak! Setidaknya kamu bangun untuk mamah mu yang selalu menunggu kehadiranmu nak, jangan buat mamah mu kecewa,” ucap Steven yang tak pernah menyerah meminta bayi mungilnya bangun.
Deg!
Steven terdiam dan terus memperhatikan bayi yang ia gendong, ia merasakan bahwa bayi laki-laki yang di sedang digendongnya bergerak.
“Ugh... ugh..” Keluar suara kecil dari mulut mungil bayinya.
“Dokter! bayiku hidup!” teriak Steven.
Dokter dan perawat tetap diam saja, mereka berpikir bahwa Steven sedang berhalusinasi karena belum terima dengan kepergian dari bayi mungil itu.
“Apa yang kalian lakukan? cepat periksa bayiku!” perintah Steven.
Namun, tetap saja mereka hanya berdiam tak bergerak menghampiri Steven.
“Ugh.. ugh..” Lagi-lagi suara itu terdengar.
Tiba-tiba kedua tangan mungil itu mengangkat ke atas.
“Oek.. oek.. oek..” Suara tangisan bayi terdengar sangat lantang dan memenuhi ruangan operasi itu.
Dokter dan para perawat terkejut dan dengan cepat menangani bayi mungil itu.
“Alhamdulillah!” ucap Steven dan bersujud di lantai.
“Lihat anakku benar-benar hidup, ia sangat pintar dan tidak ingin membuat ibunya kecewa dan bersedih,” ucap Steven dengan sangat bahagia.
Kemudian Steven berjalan mendekati Azizah yang masih tak sadarkan diri.
Pria itu menggenggam tangan Azizah dan mengecup kening Azizah.
“Allah menyelamatkan kamu dan anak kita sayang, anak kita sangat mirip denganmu! Kamu cepat sadar ya sayang!”
Adam dan Yuli mendengar suara tangisan dari dalam. Namun, mereka berpikir bahwa itu hanya halusinasi mereka saja.
“Steven!” ucap Adam dan Yuli ketika putra mereka keluar dari ruang operasi.
“Kamu yang sabar ya nak, Allah pasti akan menggantikan bayi kalian dengan bayi yang lainnya,” ucap Yuli memberikan semangat kemudian memeluk tubuh putranya.
“Anakku mi,” sahut Steven dengan air mata yang terus mengalir, bukan karena bersedih. Namun, itu adalah air mata bahagia.
“Iya nak, mami dan papi tahu bahwa cucu kami telah...” jawab Yuli tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Mami bawa baju salin untuk istriku dan juga anak kami?” tanya Steven.
Adam dan Yuli saling melirik satu sama lain, mereka tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Steven apalagi cucu mereka telah tiada.
“Mami, tolong bawa baju salin istriku dan juga anakku!” pinta Steven.
“Nak, mami tahu kamu pasti terpukul atas kehilangan bayimu tapi...”
“Mami ini bicara apa, cucu kalian hidup dan sedang ditangani oleh suster,” terang Steven.
“Benarkah?” tanya kedua orang tua Steven yang memastikan.
“Yang Steven katakan benar. Apakah kalian tidak mendengar suara tangisan bayi laki-laki kami?” tanya Steven.
Adam dan Yuli seketika itu bersujud dan mengucapkan kata syukur atas keajaiban yang Allah berikan.
__ADS_1
Setelah bersujud Adam dan Yuli bergegas untuk mengambil baju ganti untuk Azizah dan juga bayinya.
“Kamu tunggu disini ya nak, papi dan mami akan mengambil baju di dalam mobil!”
Beberapa menit kemudian.
Seorang perawat wanita keluar dengan membawa bayi di gendongannya.
“Mau dimana bayiku?” tanya Steven mencegah sang perawat.
“Bayi anda mengalami gangguan pernafasan jadi kami harus memasukkan bayi anda ke inkubator tuan Steven!”
“Biarkan saya mengadzani terlebih dahulu,” ucap Steven.
Setelah selesai, Steven memberikan bayinya kepada sang perawat.
Mariska, Yana dan Mike datang bersamaan mendekati Steven.
“Kak, bagaimana keadaan kak Steven dan keponakan Mariska?” tanya Mariska.
“Kamu kenapa disini Mariska, istirahatlah kakak tahu kamu masih sakit,” balas Steven.
“Mariska sudah tidak apa-apa kak, bagaimana dengan mereka?” tanya Mariska.
“Iya Steven, bagaimana dengan Azizah dan bayi kalian?” tanya Mike.
Yana menggenggam erat lengan suaminya, ia takut mendengar hal yang sangat tidak diinginkan olehnya.
“Azizah dan bayi kami baik-baik saja,” jawab Steven.
Mereka seketika itu juga mengucap syukur atas keajaiban yang diberikan sang pencipta.
“Selamat Steven, kau sekarang telah menjadi seorang ayah!” Mike memeluk tubuh Steven.
“Terima kasih,” balas Steven.
Mariska tersenyum senang.
Sekarang tinggal Coneh yang belum baik-baik saja. Ya Allah tolong selamatkan Coneh.
“Kak, lalu apa jenis kelamin keponakan Mariska?” tanya Mariska.
“Laki-laki, wajahnya sangat persis dengan istriku,” jawab Steven.
Yana mengelus perutnya.
Ternyata tidak berjodoh kamu nak.
Adam dan Yuli datang dengan membawa sebuah koper besar yang dipastikan adalah baju salin ibu dan bayi.
“Nak, cucu kami sekarang dimana?” tanya Yuli.
“Anakku yang pemberani sedang di tangani oleh perawat,” ucap Steven.
“Pemberani? maksudmu cucu kami....”
“Iya mi, mami dan papi sekarang punya cucu laki-laki dan akan menjadi pewaris ku,” jelas Steven.
Adam dan Yuli saling berpelukan, mereka menangis terharu.
“Sekarang kita tinggal menunggu Galih,” ucap Steven.
__ADS_1
“Kamu benar, bagaimanapun juga Galih harus selamat,” sahut Adam.
Saat mereka sedang berada di jejeran kursi sambil berbincang-bincang, seorang pria datang dengan keranjang buah yang berisikan berbagai jenis buah datang mendekati mereka.
“Selamat sore!” ucap pria itu.
Mereka pun menoleh ke arah sumber suara itu. Namun, mereka sama sekali tidak mengenal pria itu. Kecuali, Steven.
Adam dan Yuli saling melirik satu sama lain.
“Papi mengenal pria itu?” tanya Yuli.
Adam mengangkat kedua bahunya.
Tiba-tiba Steven berdiri dan menghampiri pria itu.
“Mau apa kamu datang kesini?” tanya Steven datar.
“Aku hanya ingin menjenguk Azizah,” ucap Dimas.
Ya, pria itu adalah Dimas.
Dimas sangat terkejut ketika melihat pemberitaan kecelakaan yang ternyata korban dari perbuatan keji Diandra adalah mantan kekasihnya.
Steven mengepalkan tangannya kuat-kuat rasanya ia ingin sekali menghajar pria yang dulu menyakiti wanita yang sangat dicintainya.
“Ikut aku!” perintah Steven dan berjalan menuju arah lain sementara Dimas berjalan mengikuti Steven.
Akhirnya mereka berhenti di sisi lain yang tidak terlalu ramai.
“Bugh!” Steven melayangkan bogem mentah ke wajah Dimas.
Dimas tidak melawan, pria itu hanya diam sambil menyentuh wajahnya yang terasa sangat sakit.
“Bugh!” Steven lagi-lagi melayangkan bogem mentah.
Bibir Dimas akhirnya mengeluarkan darah dan lagi-lagi Dimas hanya diam tak membalas pukulan dari Steven.
“Seharusnya kamu jangan pernah muncul lagi di hadapanku, apalagi sampai muncul di hadapan istriku. Istriku sudah sangat bahagia hidup bersama Steven Walker yang selamanya tidak akan pernah menyakitinya,” tegas Steven.
“Untuk apa kamu datang kemari? yang ada kamu akan memperparah keadaan istriku.”
“Maaf tuan Steven. Saya tahu bahwa saya salah dan saya memang tidak pantas dimaafkan. Tapi, saya kesini murni ingin menjenguk Azizah tidak lebih,” terang Dimas menjelaskan maksud kedatangannya.
Steven berusaha mengontrol kebencian dihatinya. Ia juga tidak bisa terus-menerus membenci Dimas.
“Sebaiknya kamu pergi sekarang, aku memang sangat membencimu. Untungnya saja, istriku adalah wanita berhati malaikat dan pemaaf. Karena itu, aku memaafkan.”
“Terima kasih tuan Steven mau memaafkan saya, kalau begitu saya permisi!”
“Tunggu!” perintah Steven.
Dimas berhenti dan berbalik.
“Bukankah kamu kesini ingin memberikan buah-buahan itu untuk istriku?” tanya Steven.
“Iya tuan steven.”
“Sini, berikan padaku! Setelah dia sadar aku akan memberitahukan kepada istriku bahwa kamu yang memberikannya. Namun, jangan pernah berharap kamu bisa mendekati istriku lagi,” tegas Steven.
Dimas menyerahkan keranjang berisi buah-buahan kepada Steven, kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Milikku ya tetap milikku. Aku tidak mengizinkan pria manapun mendekati istriku.