
“Selamat malam tuan muda dan nyonya muda!” sapa seorang pria dengan ditemani 2 pria dibelakangnya.
Mereka bertiga berdiri tak jauh dari Azizah dan Steven. Biola 🎻 yang ditangan mereka dengan serempak digesek dan menimbulkan suara yang begitu lembut serta romantis.
Ya ampun suamiku, ini benar-benar seperti di film-film Hollywood romantis.
“Kamu suka istriku?” tanya Steven lalu mengelus punggung tangan istrinya.
“Ini benar-benar seperti mimpi, dari mana ide romantis ini sayang?” tanya Azizah penasaran.
“Setelah mengenalmu aku menjadi sangat gila istriku hampir setiap saat yang ku pikirkan adalah membuatmu bahagia. Apakah kamu menyukainya?”
“Aku sangat suka, terima kasih suamiku.”
Steven melepaskan tangannya yang mengelus-elus punggung tangan istrinya. Ia berdiri dan menyodorkan tangannya.
“Maukah berdansa dengan ku tuan putri?” tanya Steven.
“Tapi aku sama sekali tidak bisa berdansa suamiku, maaf membuatmu kecewa,” ucap Azizah sedih.
“Tak masalah aku bisa mengajarimu.”
“Mana mungkin bisa dalam waktu singkat seperti ini.”
Steven melepas wedges yang menghiasi kaki cantik Azizah.
“Kamu mau ngapain?” tanya Azizah heran.
“Ayo!” ajak Steven.
Steven mengajak Azizah berdansa dengan kaki Steven yang di injak oleh kaki istrinya itu.
“Sayang, aku rasa ini sangat berlebihan. Kamu kan tahu bahwa aku gemuk,” ucap Azizah merendah.
“Ini sama sekali tidak berlebihan sekarang pegang bahuku dan pegang tanganku!”
“Baiklah,” sahut Azizah dan menuruti apa yang diperintahkan suaminya.
Tangan kekar Steven telah hinggap di pinggang ramping Azizah, Steven mengerakkan kakinya kesana kemari sementara Azizah hanya merem melek takut kalau ia melakukan kesalahan dan membuat malam romantis mereka kacau.
“Buka lah matamu istriku, ini sama sekali tidak menakutkan!” pinta Steven.
Azizah menggelengkan kepalanya.
“Kalau kamu takut cukup lihat wajahku!”
Azizah membuka matanya dan menatap lekat ke arah wajah suaminya.
“Sekarang istriku fokus saja menatap suami mu ini!”
“Semakin lama kamu semakin romantis sayang, terima kasih banyak!” ucap Azizah sambil terus menatap suaminya.
“Jangan pernah mengatakan terima kasih dalam hubungan kita, dalam rumah tangga sudah menjadi kewajiban sepasang suami istri untuk saling membahagiakan.”
1 jam kemudian.
Steven dan Azizah telah sampai di hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
“Istriku!” panggil Steven mesra lalu mencium tengkuk leher Azizah.
“Ada apa, jangan mencium dibagian itu sayang. Geli.”
“Malam ini kamu sangat cantik, aku sebenarnya ingin menguji saat kita makan malam di restoran itu tapi aku mendadak lupa dan panik saat kakimu terluka.”
“Malam ini aku sangat senang jadi tidak masalah, kakiku sekarang sudah mendingan.”
“Tunggu sebentar dan jangan bergerak!” perintah Steven dan dengan cepat ia pergi ke luar hotel.
Apalagi yang akan dilakukan suamiku ini, dia benar-benar suami yang begitu perhatian dan pengertian.
Sambil menunggu kedatangan Steven Azizah kembali membersihkan wajahnya yang masih di poles make up.
“Sayang!” panggil Steven sambil membawakan baskom berisi air hangat.
“Itu untuk apa?” tanya Azizah bingung.
Steven tersenyum lalu ia berjongkok, kaki Azizah dicelupkan ke dalam baskom itu.
“Kamu mendapatkan ide ini dari mana suamiku?”
“Entahlah, saat melihatmu aku langsung memiliki banyak ide.”
“Suamiku memang is the best,” puji Azizah.
“Kamu jangan bergerak tetap diposisi seperti ini!”
“Baiklah,” sahut Azizah lalu kembali membersihkan wajahnya.
“Kenapa jangan? aku ingin menghapus riasan ini sayang tidak nyaman jika riasan ini menempel di wajahku.
“Aku kan sudah bilang istriku jangan bergerak, biar aku saja yang membersihkan!”
Steven mengambil kapas khusus menghapus riasan telah basah dengan cairan pembersih wajah ia lalu menyapu riasan diwajah istrinya dengan begitu lembut sesekali Steven mencubit hidung mancung istrinya.
Terima kasih suamiku, entah apalagi yang harus aku utarakan untuk menggambarkan sikap kamu ini terhadapku.
Pria yang begitu angkuh, dingin, perfeksionis dan tak banyak bicara kepada orang malah menjadi priaku yang begitu romantis dan jauh dari kesan-kesan yang mereka bicarakan bahkan aku pernah menyebutmu tukang perintah, pemaksa dan sangat menyebalkan.
“Sekarang sudah bersih!” ucap Steven.
Azizah memeluk suaminya, ia sangat senang dengan perlakuan Steven.
“Sekarang kita ganti pakaian, cuci muka dan tidur ya sayang!” ajak Azizah.
“Baiklah, untuk malam ini aku tidak memakan mu.”
“Aku pegang kata-kata mu suamiku.”
Keesokan Pagi.
Azizah sudah bangun terlebih dahulu, ia merenggangkan otot-ototnya lalu berjalan ke kamar mandi.
Suamiku masih tertidur sebaiknya aku pergi mencari makan diluar hotel.
Masih ada waktu hingga siang untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Setelah membersihkan wajah Azizah dengan cepat keluar untuk mencari makanan meninggalkan suaminya ia berjalan dengan tergesa-gesa takut jika suaminya bangun dan tak menemukan keberadaan dirinya.
“Brakkk!”
Azizah terkejut saat menabrak pria namun bukan hanya pria itu yang ditabrak nya melainkan kamera khusus untuk memotret yang bisa katakan mahal itu terjatuh dan terpelanting membuat kamera itu pecah.
“Ya Allah, maafkan saya mas. Saya tidak sengaja!” ucap Azizah panik dan juga merasa sedih akibat kecerobohan nya.
Pria itu masih sibuk dengan kamera nya yang sudah tak berbentuk, ia pun berdiri dan melihat siapa yang menabraknya.
“Kamu lagi Azizah!” ucap pria itu.
Azizah heran mengapa pria itu mengenal dirinya, “Mas kenal dengan saya?”
“Aku pria yang menolong mu tadi malam!” seru pria itu.
Tadi malam? yang mana aku benar-benar tidak ingat.
“Maaf mas saya benar-benar tidak ingat, saya akan mengganti kamera mas ya. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Tidak usah, aku punya stok banyak kamera yang seperti ini,” ucap pria itu.
“Haaa? mas jangan bercanda saya akan menggantikan nya.”
“Kenalkan aku Deniz!” ucap pria itu dan menjulurkan tangannya.
Azizah hanya mengangguk tanpa membalasnya, “Azizah.”
“Kamu ingin kan mengganti kamera ku?”
“Iya,” sahut Azizah mengangguk pelan.
“Jadilah temanku itu saja."
“Baiklah, sekarang kita teman. Maaf mas tapi saya harus kembali ke kamar.”
“Silahkan!”
Azizah tak jadi turun mencari sarapan pagi ia dengan cepat kembali ke kamarnya dan memastikan bahwa suaminya masih tertidur pulas.
“Loh suamiku kemana?” tanya Azizah bermonolog.
“Kamu dari mana saja istriku?” tanya Steven yang berada di belakang Azizah.
“Maafkan aku sayang, tadi aku ingin mencari sarapan tapi diperjalanan aku malah menabrak seseorang karena tidak hati-hati.”
Steven panik dan memeriksa tubuh istrinya bahkan ia memutarkan tubuh istrinya memeriksa bahwa wanita yang kini menjadi istrinya baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja sayang, tapi perutku sangat lapar,” rengek Azizah.
“Kamu mandi sekarang, aku akan memesan makanan di hotel ini.”
“Tidak sayang, aku tidak mau makan makanan hotel ini. Bisakah belikan aku bebek bakar dibawah sekitar hotel ini?”
“Baiklah, apapun itu akan aku turuti.”
Tak ingin membuang waktunya Steven dengan cepat pergi meninggalkan Azizah dan membeli apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
__ADS_1