Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 64


__ADS_3

“Sayang!! kamu kenapa sayang!” teriak Steven sambil berusaha membuka pintu kamar milik Azizah.


Dasar bodoh, ngapain kamu menjerit Azizah.


“Azizah sayang apa kamu baik-baik saja?” tanya Steven memastikan.


“A...aku baik-baik saja, tadi ada kecoa,” balas Azizah.


“Apa kecoa? kalau begitu kita pindah apartemen saja!”


“Tidak usah Steven, kecoanya sudah pergi!”


“Benarkah? bolehkah aku masuk?”


“Tidak boleh, aku ingin mandi!” tolak Azizah.


“Baiklah sayang, aku menunggumu!”


Azizah cepat-cepat bangun dan menggulung sprey serta selimut. Ia lalu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


1 jam kemudian.


Azizah keluar dari kamarnya dengan membawa gulungan sprey dan selimut.


“Sini aku yang bantu sayang!” Steven menawarkan diri untuk membantu Azizah.


“Tidak perlu,” tolak Azizah sambil terus berjalan mendekati mesin cuci.


Ada apa dengan cintaku ini? dari tadi selalu menolak bantuan ku.


Azizah memasukkan gulungan sprey dan selimut ke dalam mesin cuci. Steven langsung panik melihat noda darah yang begitu banyak di sprey dan selimut.


“Sayang ayo kita ke rumah sakit!” ajak Steven dengan paniknya, pria blasteran itu dengan gemetar mengangkat tubuh Azizah.


“Kamu apa-apaan Steven, turunkan aku sekarang!” pinta Azizah.


Steven enggan menurunkan Azizah, tiba-tiba saja air mata Steven mengucur deras di matanya.


“Kita kerumah sakit sekarang! aku tidak mau kenapa-kenapa, aku takut kamu meninggalkan aku,” terang Steven mulai menyeret kakinya ke arah pintu.


Azizah semakin heran melihat Steven menangis, gadis itu meronta-ronta diturunkan namun tenaga Steven lebih kuat dari Azizah. Azizah dengan kesal menggigit leher Steven, Steven yang merasakan kesakitan langsung menurunkan Azizah.


“Kamu kenapa menggigitku Sayang?” tanya Steven kebingungan dengan air mata yang masih basah di pipinya.


“Jelaskan kenapa kamu memaksa aku untuk ke rumah sakit!”


“Bagaimana aku diam saja, aku melihat darah di sprey dan selimut yang kamu pakai. Pasti ada yang kamu sembunyikan tentang penyakit kamu, pasti penyakit kamu sangat berbahaya. Dan jika tidak diobati aku takut kamu meninggalkan aku selamanya.” Steven menjelaskan maksud dirinya memaksa Azizah untuk ke rumah sakit.


“Pppfffuuuttt, hahaha...haha.. Jadi gara-gara darah itu!” Azizah tak henti-hentinya tertawa mendengar penjelasan dan ekspresi wajah Steven.


Ada apa dengan Azizah, apa darah itu membuatnya gila?


“Kamu kenapa tertawa?” tanya Steven bingung.


“Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya tapi tetap saja ketahuan juga, jadi sebenarnya...”


“Jadi kamu benar sakit parah sayang?” Steven memotong ucapan Azizah.


“Siapa yang sakit parah, aku sedang menstruasi.”


“Ya ampun aku sampai lupa karena terlalu panik, tapi kenapa sebanyak itu?” tanya Steven penasaran.


“Mungkin karena hari pertama dan badanku sedikit kelelahan.”


“Kan aku sudah melarangmu untuk ikut sayang!”

__ADS_1


Azizah hanya diam sambil memanyunkan bibirnya.


“Maaf Azizah sayang, jangan ngambek ya!” pinta Steven kalau-kalau Azizah ngambek lagi.


Azizah mengangguk kepalanya dan menyentuh leher Steven yang terlihat merah akibat ulahnya.


“Apakah sakit?” tanya Azizah.


Malah menanyakan sakit atau tidak?


Ya jelas sakitlah, ingin ku gigit juga leher wanitaku ini!


“Tidak sayang,” ucap Steven bohong.


“Benarkah?” tanya Azizah sambil menekan leher Steven yang merah itu.


“Awww, sakit sayang!” Steven memekik keras.


Salah siapa main gendong sembarangan.


“Sini aku obati!” Ajak Azizah lalu mendudukkan Steven ke sofa.


Azizah dengan cepat berjalan ke arah dapur untuk mencari kotak P3K namun kotak itu belum juga ketemu.


“Kamu cari kotak P3K sayang?” tanya Steven memastikan.


“Iya, tapi kok tidak ada? tempat sebesar ini kenapa tidak ada kotak P3K?” omel Azizah.


“Kotak itu tidak ada disitu sayang, tapi disini!” Tunjuk Steven pada kotak P3K tepat di atas nakas dekat Steven duduk.


Azizah mendengus kesal karena Steven baru memberitahukan sekarang.


“Dasar!” omel Azizah sambil berjalan ke arah Steven dan mengambil minyak oles di dalam kotak P3K.


“Seharusnya bilang dari tadi, aku lelah memikirkan dimana kotak itu dan wara-wiri mencarinya. Ternyata malah ada disini,” omel Azizah lagi sambil mengobati leher Steven.


“Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Azizah dengan tatapan tajam.


“Karena kamu terlihat sangat cantik sayang,” ucap Steven memuji kecantikan Azizah.


“Dasar gombal!” ucap Azizah.


Selesai mengolesi minyak ke leher Azizah, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Steven memandang mata Azizah dan bergantian memandangi bibir ranum Azizah saat ingin mendekati ke arah bibir Azizah suara ponsel tiba-tiba berdering.


“Husssh... mengganggu saja!” omel Steven.


Azizah yang malu langsung berdiri dari duduknya dan dengan langkah cepat pergi ke meja makan.


Siapa sih yang menghubungi Steven?


Baru juga Steven mau mencium ku malah diganggu. Kan jarang-jarang Steven menciumiku bahkan selama kami dekat Steven hanya mencium ku sebanyak 2x.


Menyebalkan.


Steven melipir ke arah balkon kamar.


“Siapa?” tanya Steven.


“Selamat siang, kami dari kepolisian ingin mengabarkan tentang penangkapan saudara berinisial J, kini tersangka sudah kami tahan.”


“Baiklah, terima kasih. Saya akan segera kesana!”


Pria blasteran itu dengan sigapnya mengganti pakaiannya dengan pakaian formal dan keluar dengan wajah yang begitu serius.


“Telepon dari siapa sayang?” tanya Azizah pada Steven yang baru keluar dari kamar. “loh kok kamu pakai pakaian normal?” tanya Azizah lagi.

__ADS_1


Steven mengacak-acak rambut Azizah dengan senyum manisnya. “Kamu diam disini dulu! aku ada urusan sayang, pelaku itu kini sudah tertangkap,” jelas Steven dengan lembut.


“Baiklah,” sahut Azizah tidak bersemangat.


“Jangan sedih dong! aku hanya sebentar tidak sampai 2 jam,” ucap Steven memberi pengertian.


“Baiklah, aku tunggu kamu pulang!” seru Azizah.


Steven tersenyum tipis dan tanpa aba-aba langsung mencium bibir Azizah sekilas. Dan pria itu pergi dengan memberikan kedipan mata kepala Azizah.


Astaga.. jantungku rasanya mau copot. Bagaimana ini? jangan sampai aku mati duluan sebelum kami menikah.


Azizah menepuk-nepuk dadanya pelan, ia berusaha mengontrol detak jantungnya yang saat itu tidak beraturan.


🌸🌸🌸


Steven kini telah duduk berhadapan dengan Jack wong, pria berdarah campuran Indonesia Tionghoa.


“Rupanya kamu yang melakukan pekerjaan kotor ini, berani sekali kamu menusukku dari belakang, kita sama-sama pesaing bisnis tapi kenapa kamu melakukan hal hina ini? begitu rendahnya kamu” ucap Steven dengan sangat geram.


Steven sangat ingin menghajar habis-habisan pria itu, namun ia tak ingin membuat tangannya menjadi kotor dan najis jika menyentuh kulit pria yang sangat menjijikkan dimata Steven.


Didekat mereka pula ada 2 polisi yang berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Steven lepas kendali untuk memukul pelaku itu habis-habisan.


Cuih....


Pria itu meludah ke arah Steven namun tak sampai mengenai Steven. Air liur itu hanya mengenai meja yang menjadi pembatas mereka.


Steven yang merasa direndahkan langsung bangun dari duduknya dan menghajar pria itu, Steven meninju wajah pria itu bahkan sampai membuat pria itu kehilangan kesadarannya.


Polisi berusaha memisahkan Steven yang telah terbakar kemarahan namun tak berhasil karena tenaga Steven begitu besar, hingga pria bernama Jack wong benar-benar pingsan.


“Tolong hentikan Pak! pelaku sekarang telah pingsan,” ucap salah satu polisi.


“Sial! pakaianku kotor,” gerutu Steven.


Steven dengan kesal keluar dari kantor polisi dan ia pergi meninggalkan kantor itu.


Di Apartemen.


Ting..tong.... “Suara bel”


Azizah yang sedang duduk sambil bersantai langsung bergegas menuju pintu untuk membukakan pintu, namun saat ia membuka pintu itu Azizah merasa ketakutan.


3 orang pria bertubuh kekar serta berkulit hitam berdiri di depan pintu dengan tatapan yang begitu mematikan.


“Si..siapa ka..kalian?” tanya Azizah ketakutan.


“Apakah ini benar apartemen Steven Walker?” tanya salah satu dari ketiga orang tersebut.


“Ka...kalian salah tempat,” sahut Azizah berbohong.


Azizah dengan cepat masuk dan menutup pintu rapat, untungnya saja ia memiliki kecepatan untuk menutup pintu.


Ketiga pria itu diluar pintu apartemen mengetuk-ngetuk pintu dengan sangat kasar, pintu itu terbuat dari besi dan hanya bisa dibuka jika mereka mengetik kodenya namun bagaimanapun saat tiga orang pria dengan ukuran badan yang kekar bersama-sama mengetuk bahkan memukul pintu besi itu tetap saja terdengar dari dalam dan membuat siapa saja di dalam apartemen itu pasti ketakutan dan panik.


Ya Allah dimana Steven sekarang? tolong bantulah hamba!!


Azizah sangat panik, berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor Steven namun yang menjawab hanyalah operator.


TBC.


Vote dong sebanyak-banyaknya 🙏😭😈


Like ❤️ komen 👇 juga teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih ❤️


__ADS_2