
Di Madiun.
Steven berserta keluarga yang lain sedang menginap di hotel yang cukup terkenal di Madiun, besok pagi adalah hari pernikahan Mike dan Yana.
Azizah begitu kelelahan karena sedari tadi saat perjalanan menuju Jawa timur ia selalu mengalami mual-mual membuat Steven sangat khawatir dengan kondisi istrinya, Steven berulang kali mengajak istrinya ke dokter namun, Azizah menolak keras membuat Steven tak bisa berbuat apa-apa.
“Bagaimana dengan keadaan Azizah nak?” tanya Yuli.
“Masih mual-mual mi tapi ini sudah mendingan!” seru Steven.
Tidak hanya Adam dan Yuli saja yang ikut namun, Mariska dan Galih pun ikut serta.
Steven sengaja mengajak Galih karena pria itu adalah sopirnya yang wajib mengikuti perintah Steven kemanapun dia pergi.
“Kak Steven, Mariska ingin menemui kak Azizah boleh?” tanya Mariska yang sudah mengenakan piyama.
“Pergilah, dia sedang berada di kamar!”
Mariska tersenyum dan berjalan menuju kamar hotel kakak iparnya.
“Ceklek.” Suara pintu terbuka kemudian Mariska masuk dan menutup pintu itu kembali.
“Uwek.... uwek...”
Mariska terkejut sekaligus sedih mendengar suara Azizah yang sedari tadi tak henti-hentinya mual.
Ia pun dengan cepat menghampiri Azizah.
“Kak Azizah masih mual?” tanya Mariska dan menahan tubuh Azizah yang begitu lemas.
“Iya Mariska, bantu aku menuju ranjang!” pinta Azizah yang begitu lemas.
“Iya kak!” seru Mariska dan membopong tubuh Azizah.
Azizah membaringkan tubuhnya yang begitu lemas lalu memijat keningnya yang terasa sangat pusing.
“Mariska panggilkan kak Steven ya kak?”
“Jangan, biarkan saja suamiku disana menemui mami,” cegah Azizah.
“Baiklah, sekarang kak Azizah mau apa biar Mariska yang membantu kakak!”
Azizah tiba-tiba ingin makan nasi goreng yang berada di alun-alun Madiun, ia tersenyum tipis sambil mengelus-elus perutnya.
“Kamu bicara seperti itu jadinya aku mau nasi goreng, bisakah kamu membelikan nasi goreng untuk kakak ipar mu ini?”
“Haa?” Mariska melongo dengan permintaan Azizah, “Kita baru saja sampai beberapa jam yang lalu kak, Mariska bahkan tidak tahu dimana letak alun-alun Madiun itu,” ucapnya lagi.
“Ajaklah Galih, suamiku kan sudah membeli mobil dan kalian tinggal pakai Google maps saja!” ucap Azizah. “Apa kamu mau keponakanmu yang belum lahir ini akan terus mengeluarkan air liurnya saat sudah lahir nanti?” tanya Azizah.
Kenapa harus begini, ada-ada saja permintaan ibu hamil.
“Baiklah, Mariska akan pergi mencari nasi goreng,” ucap Mariska terpaksa.
“Ya sudah kamu pergi sekarang, sebelumnya itu kamu lapor dulu dengan suamiku!”
“Baiklah kak!” seru Mariska dan pergi meninggalkan Azizah sendirian di dalam kamar hotel.
Aku menghampiri kak Azizah karena ingin mengobrol tapi, malah jadi begini.
__ADS_1
Menyebalkan kenapa harus sama cowok itu.
Di kamar Azizah terus saja mengelus-elus perutnya yang masih rata.
“Sekarang ibumu ini tidak mual lagi nak.
Jadi, kamu membuat ibumu ini mual karena ingin nasi goreng ya?” Azizah mengajak janin diperutnya berbicara.
Steven duduk di sofa bersama Yuli serta Adam, terlihat mereka sedang berbincang-bincang dengan sangat serius.
Mariska maju mundur untuk melapor kepada kakak sepupunya itu.
“Kamu sedang apa nak disitu?” tanya Yuli seketika membuat Mariska seperti tertangkap basah.
Mariska melangkahkan kakinya mendekati mereka bertiga.
“Kak Azizah meminta Mariska pergi membeli nasi goreng di alun-alun Madiun bersama Galih mi,” sahut Mariska.
“Istriku sedang apa sekarang?” tanya Steven.
“Kak Azizah tadi mual-mual dan sekarang sedang berbaring di ranjang kak!”
“Ya sudah sana kamu beli nasi goreng bersama Galih!” perintah Steven kemudian bergegas menemui Azizah.
“Iya nak cepat kamu pergi!” perintah Adam.
“Ya sudah Mariska berangkat sekarang!”
Mariska keluar dari kamar dan menuju kamar hotel Galih, Mariska terus mengetuk pintu kamar hotel Galih hingga penghuni kamar itu pun membuka pintu.
“Temani aku sekarang ke alun-alun Madiun!” perintah Mariska tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Mariska yang berada di luar pintu hanya terdiam sambil menunggu Galih.
beberapa menit kemudian.
Galih keluar dengan menggunakan jaket berwarna hitam. Pria itu berjalan terlebih dahulu kemudian disusul Mariska yang berada tepat di belakang Galih.
Disepanjang jalan menuju alun-alun Madiun, kedua anak manusia itu hanya diam tak bersuara.
🍃🍃
Steven berjalan menghampiri istrinya yang sedang tertidur dan ikut merebahkan tubuhnya tepat disamping istrinya, tangan kekar Steven perlahan mengelus-elus perut Azizah hingga Azizah terbangun karena sentuhan hangat suaminya.
“Maaf membangunkan mu istriku,” ucap Steven dan mengecup kening Azizah.
Azizah hanya menatap suaminya dan tersenyum manis.
“Apakah masih mual sayang?” tanya Steven penuh perhatian.
“Tidak lagi sayang, apakah Mariska sudah datang?”
“Sepertinya belum, mungkin masih membeli pesanan mu!”
“Aku sangat ingin nasi goreng sayang,” ucap Azizah merengek.
“Kamu tunggu sebentar lagi sayang.”
Azizah mengangguk pelan dan memeluk lengan suaminya yang begitu kencang, Steven mengusap lembut rambut istrinya yang sedikit basah kemungkinan akibat mual-mual yang membuatnya berkeringat.
__ADS_1
“Terima kasih istriku karena kamu telah mengandung anakku, kamu wanita yang sangat aku cintai,” ucap Steven serius.
“Aku akan menyimpan katamu itu baik-baik di hatiku,” balas Azizah.
Disisi lain.
Mariska duduk sambil menunggu nasi goreng yang ia pesan siap, sementara Galih berada di dalam mobil tak jauh dari tempat penjual nasi goreng.
Mariska sedikit tak nyaman karena tak jauh dari tempat ia duduk ada beberapa orang pria yang begitu acak-acakan seperti preman memperhatikannya, ia terus saja menunduk tak ingin melihat orang yang berada tak jauh dari tempatnya duduknya sampai akhirnya salah satu dari mereka mendekati Mariska.
“Kok sendirian mbak?” tanya pria itu dengan tatapan yang sangat menjijikkan.
Tiba-tiba Galih datang dan menarik tubuh Mariska mendekati tubuh Galih.
“Pacar saya tidak sendirian mas,” ucap Galih membuat pria itu seketika menjauh.
Mariska tertegun mendengar ucapan Galih yang terlihat begitu gentle.
“Terima kasih,” ucap Mariska lalu kembali duduk.
“Aku sudah bilang dari awal kamu duduk saja di dalam mobil biar aku yang memesan nasi goreng tapi, kamu malah enggan mendengarkan ucapanku.”
Mariska hanya menunduk karena merasa bersalah sekaligus malu.
“Ini nasi gorengnya sudah jadi,” ucap pria penjual nasi goreng.
Galih merogoh sakunya dan mengambil dompet berwarna hitam miliknya lalu membayar biaya nasi goreng.
“Ayo pulang sekarang!” ajak Galih dan menggenggam tangan Mariska lalu menuntun masuk ke mobil.
Selama berada di dalam mobil, Galih terlihat fokus mengendarai mobil sementara Mariska masih terdiam merenungkan kesalahannya.
Sampai di hotel.
Mariska melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menjauhi Galih, ia berjalan menuju kamar hotel yang ditempati oleh Steven dan juga Azizah.
“Kak ini nasi gorengnya!” ucap Mariska kemudian pergi begitu saja.
Azizah maupun Steven heran dengan sikap Mariska yang tiba-tiba aneh.
“Ada apa dengan Mariska sayang?” tanya Azizah heran.
“Aku juga tidak tahu sayang, sudahlah jangan dipikirkan! sekarang kamu makan ya sayang!”
“Aku ingin kamu menyuapi ku sayang!” pinta Azizah manja.
“Baiklah, aku akan menyuapi istriku yang cantik ini!”
Steven menyuapi Azizah dengan sangat berhati-hati ia takut jika istrinya itu tersedak.
“Enak sayang?” tanya Steven.
“Enak sekali, coba kamu rasakan rasa nasi goreng ini!”
Azizah mengambil sendok di tangan suaminya dan bergantian menyuapi suami tercinta.
Like ❤️ komen 👇 Vote 🙏
Terima kasih.
__ADS_1