Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 166


__ADS_3

Makanan tertata rapi di meja makan, Azizah saat itu sedang sibuk untuk menanti kedatangan teman kampusnya siapa lagi kalau bukan Puput dan Fauziah.


Adam, Yuli dan Mariska pagi itu tidak berada di rumah, mereka pergi ke apartemen milik Steven. Sementara Steven sedang bekerja di perusahaannya.


“Bi apakah sudah siap semua?” tanya Azizah pada pelayan.


“Sudah nyonya muda!”


Azizah melihat grup chat di aplikasi Whats***


dan menanyakan kepada Puput dan Fauziah mereka sudah sampai mana, rupanya dua temannya sudah berada di depan rumah.


“Assalamualaikum!” ucap Puput dan Fauziah.


Azizah senang dan menghampiri sumber suara itu.


“Waalaikumsalam, ayo masuk!” ajak Azizah.


“Ya ampun perutmu sekarang sudah besar,” ucap Puput.


“Ya kan didalamnya ada nyawa put,” balas Azizah.


“Bolehkah aku menyentuhnya?” tanya Puput penuh harap.


“Mmmmm, bagaimana ya,” balas Azizah sambil menyentuh dagunya, “Boleh silahkan!” seru Azizah.


Puput menyentuh perut Azizah dan mengelus-elus perut itu.


“OMG baby nya bergerak!” teriak Puput Karena merasakan pergerakan di dalam perut Azizah.


“Benarkah, aku juga ingin mencobanya!” seru Fauziah yang juga penasaran.


“Silahkan saja,” balas Azizah.


Fauziah maju mendekati Azizah dan menyentuh perut itu, ternyata benar saat disentuh ada pergerakan di dalamnya.


“Rasanya ingin sekali aku punya anak,” ucap Fauziah.


“Mikirin punya anak, cari dulu dong calonnya.


Kamu kan sekarang lagi jomblo,” celetuk Puput.


“Memangnya kamu tidak jomblo apa?” tanya Fauziah juga.


Azizah tertawa mendengar ucapan saling serang dari kedua gadis di depannya, rasanya sangat senang saat mereka berdua ada di dekat Azizah.


“Sudah jangan saling meledek, sebaiknya kita masuk dan makan bersama!” ajak Azizah.


“Mertuamu memangnya kemana?” tanya Puput berbisik-bisik.


“Papi dan mami sedang tidak berada di rumah, ayo masuk!” ajak Azizah.


“Lalu Suamimu?” tanya Puput lagi.


Fauziah hanya geleng-geleng kepala melihat temannya itu yang terus saja bertanya.


“Suamiku sedang pergi ke perusahaan, ayo masuklah!” ajak Azizah.


Puput dan Fauziah pun langsung masuk ke dalam rumah yang super besar itu, mereka takjub dengan apa yang ada di dalam rumah itu.

__ADS_1


“Ini rumah apa istana ya,” ucap Puput.


“Tentu saja rumah,” balas Azizah sambil terkekeh kecil, “Ayo kita makan terlebih dahulu!” ajak Azizah.


“Wah baru sampai langsung makan aja nih,” ucap Puput.


“Sudah tidak apa-apa, justru aku sangat senang kalian datang kemari,” balas Azizah.


Azizah menuntun Puput dan Fauziah berjalan menuju ruang makan.


Sampai di ruang makan Puput dan Fauziah berdecak kagum dengan makanan yang disuguhkan oleh Azizah untuk mereka berdua.


“Makanannya banyak ya, boleh tidak ya kalau kita bungkus,” ucap Puput berbisik pada Fauziah. Namun, ternyata di dengar oleh Azizah.


“Boleh kok dibungkus tenang saja,” balas Azizah santai.


Puput menggaruk keningnya dan tersenyum lebar kepada Azizah.


“Ayo silahkan duduk!”


“Baiklah!” seru Puput.


Mereka bertiga kini telah duduk di kursi meja makan, Azizah memulai makan terlebih dahulu kemudian disusul oleh Puput dan juga Fauziah.


Puput tersenyum saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya, “Wah makanannya seperti makanan di restoran,” ucap Puput memuji makanan.


“Kamu benar put, rasanya sangat nikmat,” balas Fauziah.


Azizah hanya tersenyum, ia begitu senang karena kedua temannya begitu puas dengan jamuan makanan yang ia suguhkan.


Tidak sia-sia aku membeli banyak bahan makanan, rupanya mereka sangat suka.


“Sebelum mereka pulang nanti tolong masak makanan yang seperti ini lagi dan taruh di wadah makanan agar mereka membawa pulang makanannya,” ucap Azizah berbisik pada pelayan.


“Baik nyonya muda!”


45 menit kemudian.


“Bagaimana apakah sudah kenyang?” tanya Azizah kepada Puput dan Fauziah.


“Sudah dong!” seru mereka kompak.


“Karena kalian sudah kenyang bagaimana kalau kita ke ruang keluarga dan nonton film bersama!” ajak Azizah.


Kedua temannya itu mengiyakan dan langsung bergegas menuju ruang keluarga, Azizah kemudian menyetel film bernuasa komedi horor yang bisa membuat mereka tertawa sekaligus ketakutan.


***


Steven mencoba menghubungi istrinya dari tadi namun, tidak ada jawaban dari istrinya itu. Membuat Steven menjadi khawatir, ia pun akhirnya pulang cepat untuk memastikan keadaan istrinya.


“kamu urusan pekerjaan saya yang lainnya!” perintah Steven pada pria yang berdiri di hadapannya.


“Baik CEO!”


Steven dengan cepat melangkahkan kakinya, bahkan ia berlari kecil untuk segera sampai di lantai dasar.


Galih yang sedang duduk bersantai di dalam mobil langsung keluar melihat majikannya berjalan tergesa-gesa.


“Selamat si...”

__ADS_1


“Cepat kita pulang!” perintah Steven memotong sapaan Galih.


“Baik Tuan muda!” seru Galih segera pulang.


Aku harap kamu baik-baik saja istriku.


Steven duduk di dalam mobil dengan posisi duduk yang tidak tenang, berulang kali pria blasteran itu memijat keningnya.


1 jam kemudian.


Mobil baru saja berhenti dengan cepat Steven turun dari mobil, Galih bahkan belum sempat turun malah majikannya itu turun duluan dan segera masuk ke dalam.


Dilihat dari gelagat tuan muda, sepertinya tuan muda sedang khawatir dengan nyonya muda.


Steven masuk dan mencari keberadaan Azizah, ia pun mendengar suara teriakan di ruang keluarga dan segera berlari.


“Sayang!” teriak Steven dan memeluk Azizah, “Kamu baik-baik saja saya sayang?” tanya Steven khawatir.


Azizah yang dipeluk oleh suaminya terkejut karena suaminya terlihat begitu panik, “Aku baik-baik saja,” balas Azizah.


Puput dan Fauziah hanya menatap pasangan suami istri itu yang begitu romantis membuat mereka merasa canggung berada diantara Azizah dan Steven.


“Sayang tolong lepaskan, ada Puput dan Fauziah disini!”


Steven melepaskan pelukannya dan melihat dua gadis yang sedang duduk memantung melihat mereka.


“Ehemmm.” Steven berdehem, “Bisakah aku meminjam istriku sebentar?” tanya Steven pada kedua teman Azizah.


Mereka dengan cepat mengangguk.


“Ikut aku sebentar sayang!” ajak Steven.


“Baiklah,” balas Azizah.


Steven menggandeng tangan Azizah dan berjalan menjauhi ruang keluarga. Pria itu menyentuh kedua pipi Azizah dan mengecupnya.


“Istriku sungguh nakal,” ucap Steven.


Haaaaa nakal? memangnya aku melakukan apa?


Azizah mengernyitkan keningnya karena ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh suaminya.


“Aku dari tadi menghubungi ponselmu tapi, tidak ada jawaban darimu,” jelas Steven.


“Benarkah? maaf ponselku berada di kamar, kenapa tidak menghubungi telepon rumah?” tanya Azizah.


“Aku khawatir dan langsung pulang sayang,” balas Steven.


“Cie.. cie.. suamiku khawatir,” ucap Azizah.


“Berjanjilah kamu tidak akan membuatku khawatir lagi!” pinta Steven serius.


“Baiklah aku berjanji suamiku!” seru Azizah dan mengecup bibir Steven sekilas.


“Sekarang kamu boleh kumpul bersama temanmu tapi, jangan lama-lama aku ingin bersamamu terus,” ucap Steven yang masih belum tenang jika belum bersama istrinya walaupun berada di satu atap karena yang diinginkan oleh Steven adalah berada di satu kamar.


“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruang keluarga menemui mereka!”


Azizah berbalik badan dan berjalan menuju ruang keluarga, Steven terus memperhatikan sang istri hingga sang istri tak terlihat lagi.

__ADS_1


Pria itu pun kemudian bergegas pergi menuju kamar.


__ADS_2