
Yana dan Danu telah bersiap-siap menunggu pesawat mereka lepas landas, ini kali pertamanya Yana pergi ke negeri Paman Sam itu.
“Pi!” panggil Yana yang terlihat sedikit gugup, jujur saja ia sebenarnya takut dengan ketinggian.
“Pegang tangan Papi, Yana harus kuat jangan lihat keluar Oke!”
“Papi ke Amerika ada urusan apa?” tanya Yana penasaran.
“Paman Indra meminta Papi untuk menolong perusahaannya yang ada di Amerika, lagipula perusahaan Papi di Indonesia sedang stabil jadi Papi bantu Paman kamu sekalian jalan-jalan.”
“Terus kita selama beberapa bulan tinggal dimana Pi?”
“Disana ada mansion milik Paman Indra sayang, selama kita disana kita tinggal di Mansion itu.”
“Pi!” panggil Yana serius.
“Ada apa sayang?”
"Selain rindu dengan Azizah dan Bu Darmi, Yana sebenarnya rindu juga dengan Mami.”
“Kamu rindu dengan Mami?” tanya Danu lalu diangguki Yana.
“Kalau begitu kita juga berkunjung menemui Mamimu”
“Serius Pi?” tanya Yana memastikan.
“Ya Papi sangat serius.”
“Terima kasih Papi,” ucap Yana senang lalu memeluk Danu.
Selama penerbangan Yana tertidur pulas. walaupun ia terbangun, ia tetap memaksakan matanya untuk tertidur. Ia sangat takut dengan namanya ketinggian dan perjalanan mereka cukup menyita banyak waktu.
Bandar Udara Internasional Newark Liberty.
Untuk pertama kalinya Ia datang ke Amerika.
Yana mengedarkan pandangannya, kota Amerika begitu indah dan ramai.
Apalagi saat malam seperti ini, beribu-ribu cahaya menyinari malamnya Kota Amerika.
“Apakah kalian keluarga Tuan Indra?” tanya pria dengan kulit putih dan postur badan yang cukup tinggi.
“Ya, saya Danu!”
“Mari ikut saya, kalian akan langsung saya antarkan ke Mansion.”
“Baiklah terima kasih,” sahut Danu.
“Ayo sayang!” sambung Danu pada Yana.
Mereka pergi menuju Mansion hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
“Rumahnya sangat besar Pi,” ucap Yana yang baru turun dari mobil.
“Karena anda sudah saya antarkan, sekarang saya permisi dulu.”
“Terima kasih.”
Yana berlari memasuki rumah itu, ada beberapa pelayan yang menanti kedatangan mereka.
“Selamat malam Tuan dan Nona,” ucap mereka.
“Mari saya antarkan ke kamar kalian!” ucap salah satu pelayan yang terlihat lebih tua dari yang lainnya, kemungkinan itu adalah kepala pelayan.
Kepala pelayan itu mengantarkan Danu dan Yana ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Cuaca malam itu cukup dingin, bahkan Yana sampai menggigil menahan dingin.
“Ya ampun ini sudah malam, tapi aku tidak bisa tidur. Meski Sudah memakai penghangat ruangan,” ucap Yana yang menyelimuti dirinya dengan selimut yang cukup tebal.
Sementara Danu yang tidur disebelah kamar Yana merasa damai-damai saja, ia bahkan tertidur pulas.
Indra berjalan masuk Mansion miliknya, ia mendengar kabar bahwa kakak dan keponakannya telah tiba di Amerika.
“Dimana mereka?” tanya Indra pada pelayanannya.
“Sedang tertidur tuan,” jawab pelayan.
“Apakah mereka sudah makan malam?” tanya Indra.
“Sudah Tuan!”
“Baiklah, kamu boleh pergi!” perintah Indra.
Danu dan Indra sama-sama memiliki Perusahaan. Namun, jika ditanya siapakah yang paling kaya? jawabannya sudah pasti Indra. Indra dari remaja sudah memiliki jiwa kepemimpinan ia mampu memimpin perusahaan meski umurnya saat itu masih dibilang sangat muda, harta dari Yusuf Aryanto orang tua mereka sangatlah berlimpah ruah. Awalnya Danu Aryanto yaitu ayah Yana tidak ingin menjalankan bisnis apalagi perusahaan namun karena hubungannya dan Rika berakhir saat itulah Danu merintis bisnisnya sehingga dulu Yana sangat diabaikan.
Indra bergegas memasuki kamarnya, ia tidak ingin mengganggu istirahat Sang kakak.
Indra sangat rindu dengan istri dan anaknya, ia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi mereka, jika di Amerika jam 11 malam maka di Malaysia jam 11 siang.
“Hallo sayang!” sapa Indra yang melakukan video call.
“Hallo Ayah, Megi rindu!” teriak Megi saat melihat wajah ayahnya.
“Ayah juga rindu Megi.”
“Megi saja yang dirindukan, terus Bunda tidak?” tanya Sasya berpura-pura ngambek.
“Ayah rindu kalian berdua, apalagi rindu sama yang diperut bunda,” goda Indra pada perut Sasya yang kini tengah berbadan dua.
“Cepat Pulang Yah, biar bisa kumpul. Adek di perut Bunda sering gerak-gerak,” ucap Megi yang mengelus-elus perut besar Sasya.
“Oke Ayah, Megi dan bunda mau pergi dulu ya.”
“Kok Megi dan Bunda saja? Trus adek di perut Bunda tidak dibawa?”
“Oiya Megi sampai lupa hehe.”
“Sayang kami pamit dulu ya, I Love you,” uap Sasya mesra.
“Iya sayang, I Love you too kalian hati-hati!” Pesan Indra Pada anak dan juga istrinya.
“Oke Ayah, Bye bye.”
“Bye bye.”
Indra langsung mematikan sambungan video call mereka, ia menyeka air matanya.
Ia begitu rindu kepada anak dan juga Istrinya apalagi Sasya yang kini tengah mengandung 7 Bulan.
Aku sungguh merindukan kalian, terima kasih Sasya kamu telah menjadi Istri sekaligus ibu bagi anak-anak kita. Aku akan menemui kalian setelah urusanku disini beres, untunglah Abang Danu bisa mengerti keadaan aku disini.
Indra akhirnya tertidur pulas, ia begitu lelah setelah seharian bekerja.
Keesokan harinya.
“Selamat pagi keponakan paman yang cantik ini,” sapa Indra yang melihat Yana baru turun dari tangga ia pun mengacak-acak rambut Yana.
“Paman! Yana sudah besar kalau ketahuan mereka bagaimana?” tanya Yana kesal, kebiasaan Indra kalau bertemu dengannya.
“Mereka siapa? maksud kamu pelayan disini? mereka tidak akan melihat kita kalaupun ia juga tidak apa-apa. Lagipula Yana tetaplah keponakan Paman yang lucu,” puji Indra.
__ADS_1
“Papi kamu mana? kenapa belum turun?” sambung Indra menanyakan sang kakak.
“Tidak tahu Paman, Yana tadi keluar kamar langsung kesini,” sahut Yana jujur.
“Kamu duduk manis di sini, Paman menyusul Papi kamu setelah itu kita makan bersama.”
“Oke Paman indrot,” balas Yana sambil memanyunkan bibirnya.
Sudah menjadi kebiasaan Yana memanggil Indra dengan sebutan Indrot, Indra pun tak mempermasalahkan soal panggilan itu ia bahkan senang dengan julukan itu. Indra merasa bahwa dengan Yana memanggilnya Paman Indrot ia menjadi akrab, karena sebelumnya Yana dan Indra tidaklah seakrab ini.
“Abang!” panggil Indra diluar pintu.
“Ya!” sahut Danu.
“Bang Danu sudah mandi belum? cepatlah ke bawah kita sarapan bersama!” ajak Indra.
“Tenang saja Abang sudah rapi,” sahut Danu yang baru saja membuka pintu kamar.
“Udah ganteng aja, pasti ada yang kecantol nih.”
“Kecantol apa nih?”
“Kecantol Janda haha,” sahut Indra lalu tertawa.
Danu tak membalas candaan Indra, ia hanya tersenyum dan melangkah kakinya menuruni anak tangga menuju meja makan.
“Anak gadis Papi rupanya sudah disini,” ucap Danu yang melihat Yana tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
“Papi lama sekali, Yana lapar tahu,” sahut Yana manja.
“Udah besar tapi masih manja, bagaimana kamu mau dapat cucu kalau anakmu saja seperti ini,” ledek Indra yang masih menuruni anak tangga.
“Paman Indrot apaan sih? biarkan saja Yana seperti ini lagipula Yana itu masih kecil.”
“Kamu sudah besar sayang, kalau kamu bilang masih kecil terus, pas kamu bilang sudah besar umurmu berapa hayo?” tanya Danu menggoda Yana.
“Papi! pokoknya Yana masih kecil,” ketus Yana.
“Kalian ini anak dan bapak sama saja, ayo kita makan daripada ribut di meja makan!” ajak Indra lalu menuangkan nasi di piring. disusul Yana dan Danu.
Danu dan Indra makan dengan sangat lahap, namun tidak untuk Yana. Makanan Amerika sangat tidak cocok di mulutnya ia hanya minum susu yang telah disediakan.
“Kamu kenapa tidak makan sayang?” tanya Danu yang telah selesai makan, lalu disusul Indra yang telah selesai makan juga.
“Makanannya tidak enak ya?” tanya Indra memastikan.
Yana tidak menjawab, ia hanya duduk memainkan ponselnya.
“Yana!”
“Keponakan Paman kenapa?” tanya Indra pelan.
“Makanan Amerika tidak cocok dengan mulut Yana, Yana ingin makan rendang,” ucap Yana sebal.
“Kamu mau rendang?” tanya Indra lalu diangguki Yana.
“Abang mau ikut?” tanya Indra pada Danu.
“Kemana?” tanya Danu heran.
“Kita bertiga pergi ke restoran makanan Indonesia, tidak jauh dari sini ada restoran yang menjual masakan ala Indonesia. Yana pasti suka!”
“Ayo Pi! Yana ingin makan rendang ala Indonesia!”
Mereka bertiga pergi menuju restoran yang dibicarakan Indra, Yana sangat senang dengan kuliner yang ada santan kelapa.
__ADS_1
Di Malaysia pun Yana suka makan rendang dan masakan Indonesia lainnya, karena di Malaysia juga banyak sekali orang Indonesia nya.