Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 22


__ADS_3

Steven Walker masih saja menunggu kabar baik dari Seorang Azizah Cahyani, tangan Azizah selalu dikecup Steven berulang kali.


"Gadis bodoh tolong sadarlah, jangan membuatku semakin kehilangan akal" Ucap Steven lirih.


Mike yang duduk di sofa ruang rawat hanya melihat Steven yang kacau balau, Mike tidak berani mendekati Singa yang sedang sedih.


"*Ayo Azizah sadarlah, jangan membuat Steven menjadi gila. Kasihanilah Dia Azizah" Batin Mike.


Kring.. Kring..


"Ada Apa?" Ketus Steven.


"Begini Pak Steven, Sebelumnya maaf mengganggu aktivitas bapak. Ada klien dari Singapura yang ingin menemui Bapak mengenai Properti yang ada di Surabaya" Ucap Chiko berhati-hati karena sangat takut dengan Atasannya itu.


"Baik, Saya akan segera kesana" Balas Steven lalu mematikan telepon secara sepihak.


Steven mengusap wajahnya kasar-kasar, Ia menyentuh keningnya yang terasa sangat pusing.


"Kamu kenapa Steven?" Tanya Mike khawatir.


"Aku akan ke kantor, jagalah Azizah jangan sampai Ia kenapa-kenapa" Ujar Steven.


"Kamu lekas lah pergi, Aku akan menjaga Azizah untukmu" Ucap Mike.


Steven berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, meski Ia sangat tidak rela meninggalkan Azizah. Tapi Ia harus bertanggung jawab dengan perusahaan miliknya.


Tibalah Steven di Perusahaan Walker Corp miliknya, dirapikannya pakaian yang ia kenakan. Rambut yang sedari tadi kusut kini sudah rapi.


"Selamat Siang Pak Steven".


"Selamat Siang Pak Steven" Ucap Para pegawai ramah.


Steven tidak membalas sapaan itu, Ia hanya menatap para pegawainya dengan sangat dingin.


"Selamat Siang Pak Steven, lama tidak bertemu" Sapa Rafael partner bisnis Steven.


"Jangan berbasa-basi langsung saja ke intinya" Ucap Steven dingin, yang paling tidak suka dengan orang bermuka dua.


"kau masih saja seperti dulu Pak tidak suka berbasa-basi, baiklah. Aku kesini ingin membahas properti yang ada di Surabaya, bagaimana kalau tempatnya kita perluas lagi. tempat Panti asuhan itu sebaiknya kita gusur saja" Terang Rafael.


"Apa kau ingin mati ditangan ku sekarang? Jangan macam-macam dengan Panti asuhan itu, secuil saja kau menyentuh Panti itu Aku sendiri yang akan memasukkan dirimu ke Bui, Camkan itu!!" Ucap Steven dengan nada yang sangat menyeramkan.


Rafael langsung ciut dengan ucapan Steven, bagaimanapun Ia bukan apa-apa saat berhadapan dengan Pengusaha muda yang kejam itu.


"Ha..ha.. Tenang Saja Pak Steven, aku tadi hanya bergurau Saja" Ucap Rafael sambil tertawa menutupi rasa takutnya.

__ADS_1


"Properti itu akan berjalan sesuai kesepakatan awal" Bisik Steven ditelinga Rafael, yang langsung membuat bulu bergidik ngeri.


"I..iya Pak" Balas Rafael gugup.


"Kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan lagi, Aku pergi sekarang" Ucap Steven lalu pergi meninggalkan Sang Partner yang jauh-jauh dari Singapura untuk membahas masalah properti.


Rafael pasrah, ditariknya nafas kuat-kuat agar stabil. Bertemu dengan Steven membuat Rafael harus benar-benar terlihat tenang.


"Susah sekali membujuk Steven, mungkin nasibku yang harus tetap menjadi seperti ini" Batin Rafael sedih.


Steven kembali ke kediaman untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


"Selamat Siang Tuan Muda" Sapa para pelayan.


"Siapkan aku makanan" Ucap Steven dengan nada yang sangat sulit ditebak entah untuk sedang bahagia atau sedang marah.


"Baik Tuan Muda" Balas mereka.


Usai Mandi Steven bergegas ke ruang makan, Ia sangat butuh sekali asupan makanan.


Steven menyantap makanannya sendirian, Baru beberapa suap Ia menghentikan aktivitas makan siangnya.


Ia berdiri lalu diambilnya jaket hitam, Yuli Walker yang melihat Sang Anak ingin pergi langsung menghampirinya.


"Mau kemana lagi Steven?" Tanya Yuli.


Yuli menghela nafas panjang, Ia sangat penasaran ada urusan apa Sang Putra Selalu ke rumah sakit.


"Sekarang jawab Mami dengan jujur, untuk apa kamu ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Yuli penasaran.


Wajah Steven langsung berubah menjadi sangat sedih, matanya mulai berair. Yuli sangat terkejut dengan perubahan Steven Walker.


"Steven, Kamu kenapa cepat ceritakan ada Apa?" Tanya Yuli khawatir.


Steven tidak menjawab, dipeluknya Sang Ibunda tercinta. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara, Yuli merasakan ada sesuatu yang basah di bahunya.


"Kamu menangis Nak? Ada apa?" Tanya Yuli gelisah, Ia tak pernah melihat Seorang Steven Walker menangis dengan sangat menyedihkan.


"Jawab Steven ada apa? Kenapa kamu seperti ini".


"Gadis bodoh itu sedang di rumah sakit Mami, Ia sangat menderita disana. Steven sangat takut kehilangannya" Ucap Steven lirih dipeluknya Sang Ibu.


"Ya Tuhan, kenapa dia bisa di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi Steven?".


"Beberapa hari yang lalu Mike Sahabat Steven di Inggris dulu ingin mengunjungi Steven, diperjalanan Ia menabrak Gadis Bodoh itu" Jelas Steven.

__ADS_1


"Kamu yang tenang Nak, Mami yakin. Tuhan sangat menyayangi gadis mu itu".


Cukup Lama Steven memeluk Sang Ibunda tercinta, Ia tidak dapat menyembunyikan ini semuanya. Steven menceritakan tentang kehidupan Azizah, Seorang gadis yang sangat malang hidup sebatang kara tanpa ada tempat untuk berteduh.


Yuli Walker Seorang wanita asli Indonesia, berhati baik dan lembut. Tidak ada kriteria menantu idaman dalam hatinya, yang terpenting bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi Steven dan Anak mereka kelak.


"Kamu sekarang pergi, temani gadis itu. Mami yakin Ia akan segera sadar dari komanya" Ucap Yuli meyakinkan Sang Putra.


"Steven berangkat dulu Mi, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


"Ya Tuhan untuk pertama kalinya dalam hidup hamba, tolong berikan kesembuhan bagi gadis malang itu. Biarlah Steven bahagia dengan gadis yang Ia cintai Dan semoga mereka berjodoh. Amin" Gumam Yuli sedih yang tak kuasa melihat kesedihan Dimata Sang Putra.


Steven berjalan memasuki rumah sakit tempat Azizah dirawat. Langkah kakinya sangat terburu-buru menuju ruangan Azizah.


"Bagaimana? Apakah Azizah sudah sadar?" Tanya Steven Pada Sahabatnya.


Mike hanya menggelengkan kepalanya, Ia mulai putus asa.


"Ayolah Azizah, Cepatlah sadar" Ucap Steven.


"Bu Darmi, Yana. Jangan tinggalkan Azizah" Ucap Azizah lirih, Azizah ternyata sedang mengigau.


"Steven dengarlah!!" Sahut Mike yang mendengar ucapan Azizah dikala komanya.


Steven mendengar ucapan lirih Azizah, Ia Menaruh harapan yang sangat besar untuk kesembuhan dan kesadaran Azizah.


"Mike! cepat panggil dokter!!" Pinta Steven.


"Baik".


Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Azizah.


"Bagaimana dok?" Tanya Steven penasaran.


"Nona Azizah, keadaannya mulai membaik. Dia telah melewati masa kritisnya" Balas Dokter sambil tersenyum lebar.


"Alhamdulillah" Ucap Steven lega.


Steven sangat senang, Tuhan mendengarkan doa nya.


Mike akhirnya merasa lega, meski Azizah harus di kursi roda selama beberapa bulan. Tapi setidaknya Azizah selamat dari kecelakaan maut itu, Mike akhirnya bisa sedikit bernafas lega.


"Kita tinggal menunggu Azizah sadar untuk beberapa hari ke depan, Maafkan aku Steven. Aku menyesal terhadap dirimu dan Azizah" Ucap Mike dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Yang lalu biarlah berlalu, bagaimanapun kau sahabatku. Dan Azizah orang yang sangat Aku cintai" Balas Steven.


"Sebentar lagi kamu akan sadar Gadis Bodohku, Aku akan memiliki dirimu. Tidak perduli siapa pria yang bersamamu itu, Kau selamanya hanya milik Steven Walker Seorang" Gumam Steven didalam hatinya.


__ADS_2