Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 206


__ADS_3

Tibalah bagi Azizah untuk kembali ke rumah.


Mereka disusul oleh salah satu bodyguard penjaga rumah yaitu Pak Min.


Steven menuntun sang istri untuk berjalan, padahal sebelumnya pria blasteran itu meminta sang istri untuk memakai kursi roda. Namun, Azizah menolaknya dengan dalih bahwa ia bisa berjalan meskipun di tuntun oleh sang suami.


Bayi mungil mereka sedang di gendongan oleh bi ana yang tak lain adalah baby sitter.


“Selamat atas kelahiran putra pertama tuan muda dan nyonya muda Azizah!” sapa Pak Min.


“Terima kasih pak!” seru Azizah.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil.


Azizah dan Steven duduk di kursi tengah, sementara sang bayi bersama bi ana duduk di depan.


Tangan Steven terus merangkul pinggang sang istri, walaupun Azizah telah diperbolehkan pulang. Namun, dokter berharap bahwa Azizah tidak melakukan banyak aktivitas yang bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


“Bagaimana dengan Galih sayang?” tanya Azizah penasaran mengenai kondisi Galih.


“Dokter yang menangani Galih mengatakan bahwa dia belum sadarkan diri sayang.”


“Kasihan sekali Galih,” ucap Azizah sedih.


“Aku juga sangat kasihan dengan dia, pemilik panti asuhan tempat Galih tinggal dulu tak satupun yang mengetahui keberadaan Keluarga Galih. Mereka mengatakan bahwa Galih sepertinya sengaja dibuang oleh kedua orangtuanya,” terang Steven.


Azizah memeluk tubuh suaminya dan menangis.


Ternyata kehidupanku lebih beruntung dari Galih. Meskipun kedua orang tuaku telah meninggal. Tapi, aku masih sempat hidup bersama mereka dan merasakan kasih sayang meskipun hanya sebentar.


Sementara Galih, dia tidak pernah tahu dimana keluarganya apakah masih hidup ataukah sudah meninggal.


Steven tahu bagaimana perasaan sang istri. Itu karena, istrinya juga adalah seorang anak yatim piatu.


Pria blasteran itu terus mengelus lembut punggung sang istri.


“Oek... oek...”


“Biar saya saja yang menggendongnya bi!” pinta Azizah.


Bi ana berbalik dan menyerahkan bayi mungil itu ke tangan sang ibu kandung.


“Anak papah dan mamah kenapa menangis?” tanya Azizah dengan menirukan suara anak kecil.


Seolah mendengar suara yang begitu indah, bayi mungil itu langsung terdiam dan tak menangis.


“Sayang, sepertinya bayi kita tahu bahwa ibunya tidak menginginkan bayi mungil ini menangis,” ucap Steven sambil mencubit lembut pipi bayinya.


“Plak!” Azizah memukul punggung tangan sang suami.


“Sakit sayang,” ucap Steven sambil mengelus-elus punggung tangannya.


“Jangan mencubit bayiku,” sahut Azizah menunjukkan sisi sensitifnya.


Karena sang istri terlihat lucu, Steven pun mengacak-acak rambut panjang Azizah.

__ADS_1


“Lebih lucu istriku daripada bayi kita,” celetuk Steven.


Azizah tertawa kecil bagaimana bisa ia disamakan dengan bayi mereka.


❤️


Akhirnya mereka tiba di kediaman Steven Walker.


Kedua mertua Azizah dan sang adik ipar berdiri menanti kehadiran Steven dan bayinya.


Para pelayan dan bodyguard juga berdiri menyambut kedatangan Azizah dan anggota baru yang masih bayi.


“Selamat datang nyonya muda Azizah, tuan muda Steven dan tuan kecil,” sapa mereka.


“Ayo nak kita masuk!” ajak Yuli.


Azizah berjalan dengan sangat pelan sambil menggendong bayinya yang sedang tertidur.


“Kak Azizah, boleh aku menggendong keponakan Mariska!” pinta Mariska.


Steven dengan cepat menggelengkan kepala.


“Tidak boleh, istriku dan bayi kami harus segera ke berisitirahat,” ucap Steven.


Mariska akhirnya mengurungkan niatnya untuk menggendong anggota baru di rumah itu.


“Lain kali kamu akan menggendong bayi kakak,” ucap Azizah kemudian tersenyum manis.


Adam dan Yuli saling berpelukan, mereka terharu karena menantu dan cucu mereka baik-baik saja.


Mata Azizah takjub dengan perubahan kamar yang menjadi tempat ia beristirahat, di ruangan itu sudah tersedia ranjang bayi dan banyak mainan khusus bayi.


Ada pula almari kecil khusus pakaian bayi.


“Kamu suka sayang?” tanya Steven kemudian memeluk tubuh Azizah dari belakang dan mencium lembut tengkuk leher sang istri.


“Aku suka sayang, sangat suka. Terima kasih banyak!” seru Azizah.


Steven melepaskan pelukannya dan menggendong bayi mungil itu lalu menaruhnya ke dalam ranjang bayi.


Karena merasa gerah, Azizah meminta sang suami untuk membantunya melepaskan pakaian.


Saat menoleh ke arah kancing baju, Azizah terkejut melihat bagian put*ngnya mengeluarkan air.


“Sayang, bawa bayi kita sekarang!” pinta Azizah.


“Baik sayang,” sahut Steven dan bergegas menggendong bayi mereka kemudian menyerahkannya kepada sang istri.


“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Azizah.


Azizah mengarahkan put*ngnya ke mulut mungil sang bayi.


“Alhamdulillah, ASI ku keluar sayang,” ucap Azizah bahagia hingga menangis terharu.


Sang suami juga ikut menangis terharu, akhirnya sang istri bisa memberikan ASI untuk bayi mereka.

__ADS_1


“Sayang, kapan kita memberikan nama untuk bayi pemberani kita?” tanya Azizah sambil terus menatap wajah bayi mungil mereka yang sibuk menyusu.


“Aku sebenarnya sudah menyiapkan nama yang bagus untuk bayi kita, semoga saja kamu menyukainya sayang.


Atau kamu sudah mempersiapkan nama untuk bayi kita?” tanya Steven.


“Tidak sayang, aku sama sekali tidak menyiapkan nama untuk bayi kita. Soal nama biar kamu saja yang memberikan nama untuk si mungil ini,” sahut Azizah.


“Bayi kita membawa kegembiraan di kehidupan kita dan juga keluarga, jadi aku memberikannya nama Farhan yang artinya gembira. Farhan Walker penerus dari Steven Walker,” terang Steven.


“Nama yang sangat bagus sayang, terima kasih suamiku,” ucap Azizah.


Bayi mungil itu akhirnya kembali tertidur setelah mendapat ASI dari sang ibu.


Steven perlahan mengambil bayi Farhan dari gendongan sang istri lalu kembali meletakkannya di ranjang bayi.


“Selamat tidur bayiku, tidur yang nyenyak nak!”


Setelah menaruh sang bayi ke ranjang, Steven membantu sang istri untuk mengganti pakaian yang lebih santai.


***


Siang hari.


Steven membantu sang istri untuk berjalan menuju ruang makan.


Ibu hamil itu merasakan lapar karena seringnya menyusui bayi Farhan, bayi mereka sangat kuat menyusu.


“Cucu mami mana nak?” tanya Yuli ketika Azizah sudah berada di ruang makan.


“Sedang tertidur mi setelah kenyang minum ASI,” jawab Azizah.


Yuli terkejut kemudian mengembangkan senyum manis diwajahnya.


“Maksudmu bayi kalian telah meminum ASI?” tanya Yuli memastikan.


“Iya mami, justru itu istriku ingin makan banyak agar kuat menyusui bayi kami,” sahut Steven.


Akhirnya cucu kami meminum ASI, setelah seminggu meminum susu formula.


Adam dan Mariska baru datang kemudian mereka berdua duduk di kursi masing-masing.


“Makan yang banyak menantuku,” ucap Adam.


“Iya papi pasti!” seru Azizah.


“Keponakan Mariska dimana kak?” tanya Mariska sambil mengedarkan pandangannya barangkali ia menemukan keberadaan keponakannya.


“Sedang tertidur di kamar,” sahut Steven.


“Jadi kapan kalian memberitahukan papi dan mami soal nama bayi mungil kalian?” tanya Adam penasaran.


Azizah dan Steven saling melirik satu sama lain.


“Kita bicarakan nanti ya Pi!” pinta Steven.

__ADS_1


Akhirnya Adam pun pasrah dan mengajak penghuni meja makan untuk segera menikmati makan siang bersama.


__ADS_2