
Akhirnya acara selesai, para tamu akhirnya kembali ke rumah mereka masing-masing.
Terlihat wajah lelah Azizah yang harus meladeni tamu satu-persatu bahkan berbincang-bincang dengan waktu yang cukup lama apalagi ia terus menggendong bayinya.
“Kamu lelah sayang?” tanya Steven ketika melihat istrinya yang berbaring di ranjang dengan memijat pelipisnya.
“Iya sayang, kakiku juga sangat lelah apalagi bahuku,” balas Azizah.
“Mau aku pijat sayang?” tanya Steven dan langsung diangguki oleh Azizah.
“Tapi, apa tidak merepotkan kamu sayang? Seharusnya aku yang memijat suamiku,” ucap Azizah.
“Yang lelah itu istriku bukan aku, jadinya aku harus membuat istriku kembali bertenaga lagi!” seru Steven.
Steven mulai memijat kedua bahu sang istri.
Untungnya, bayi Farhan sudah tertidur pulas dengan mulut yang terus bergerak-gerak seolah sedang menyusu.
“Ya ampun, ternyata pijatan dari tangan suamiku sungguh enak. Rasanya membuatku ingin terus dipijat,” ucap Azizah merasakan pijatan tangan dari Steven.
“Tentu saja sayang, apapun keinginan mu akan aku turuti!”
Steven terus mengajak sang istri berbicara hingga akhirnya ia mendengar suara dengkuran halus Azizah.
“Ternyata kamu sangat lelah ya sayang, sampai tidur seperti ini. Terima kasih sayang atas perjuanganmu,” ucap Steven mengecup bahu sang istri dan ikut tertidur dengan memeluk tubuh Azizah dari belakang.
*
Adam dan Yuli sedang berada di ruang keluarga sambil menikmati dessert cokelat.
“Enak Pi,” ucap Yuli.
“Syukurlah mami menyukainya,” balas Adam.
Mariska yang tak sengaja melihat kedua suami istri itu memutuskan untuk bergabung.
“Wah sepertinya enak dessert cokelat, bagi dong!” pinta Mariska.
“Carilah di lemari pendingin!” seru Adam.
Mariska dengan cepat berlari menuju dapur untuk menemukan dessert dan menikmati.
Saat membuka lemari pendingin, Mariska tercengang karena begitu banyak varian rasa dessert.
“Wow banyak sekali dessert,” ucap Mariska dan mengambil 2 kotak dessert berukuran kecil dengan rasa cokelat dan durian.
Gadis itu lalu bergegas menuju ruang keluarga menghampiri paman dan bibinya.
“Mami, papi!” sapa Mariska dan mendaratkan bokongnya di sofa kemudian menyetel film bernuasa komedi.
“Pelan-pelan makanannya, jangan sampai belepotan!” pinta Yuli.
“Siap mami!”
Mariska menikmati dessert nya dengan sangat bahagia.
“Ubahlah sifat manja kamu nak, kakak mu saja sudah memiliki anak!”
__ADS_1
“Memangnya kenapa kalau Mariska seperti ini mi? Mariska senang kok menjadi anak manja apalagi mami dan papi sayang sama Mariska,” jawab Mariska santai.
“Sudah mi, biarkan saja Mariska seperti ini.
Akan ada waktunya dia menjadi wanita dewasa,” sahut Adam.
“Tuh mami dengar kata papi, weekkk..” balas Mariska sambil menjulurkan lidahnya.
Adam dan Yuli tertawa lepas melihat wajah keponakan mereka.
Mariska melihat jam yang melekat dipergelangan tangannya sekilas.
Sudah jam segini, waktunya aku menemui Coneh.
Mariska dengan cepat meninggalkan ruang keluarga kemudian berlari menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, gadis itu bergegas memakai jaket berwarna abu-abu dan tak lupa sepatu sneakers berwarna putih abu.
Ia kemudian keluar dari kamarnya dan bergegas menemui Adam dan juga Yuli.
“Mami, Papi! Mariska pergi ke rumah sakit ya, Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!”
Adam dan Yuli saling melirik satu sama lain.
“Mariska setiap hari pergi menemui Galih, mami berharap agar Galih cepat sadarkan diri Pi. Kasihan Mariska yang harus bersedih setiap hari meskipun kita tahu bahwa Mariska tidak pernah menunjukkannya kepada kita,” ucap Yuli yang sudah mengeluarkan air mata.
“Papi mengerti maksud mami, padahal putra kita Steven telah mengerahkan tenaga medis yang ahli dalam menangani kasus Galih,” balas Adam.
**
Mariska yang baru saja sampai langsung bergegas duduk di kursi dekat ranjang Galih.
“Coneh! hari ini aku datang lagi! Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Mariska.
“Kamu tahu tidak, tadi dirumah banyak sekali tamu kak Azizah. Mereka datang karena ingin mengucapkan selamat kepada kak Azizah sekaligus farhan.”
“Aku juga dirumah menikmati dessert cokelat dan durian. Kamu mau mencobanya bersamaku?” tanya Mariska.
Mariska menghentikan ucapannya dan menggenggam tangan Galih.
Wajah Mariska tiba-tiba berubah menjadi sangat serius.
“Coneh, hari ini adalah tanggal 31 bulan Desember. Ternyata waktu berlalu dengan sangat cepat, seharusnya kita sedang pergi ke pasar berbelanja kembang api untuk acara pergantian tahun.
Bisakah kamu memberikan keajaiban untuk penantian ku yang berharap kamu sembuh?”
Air mata Mariska kembali menetes dan mengalir dengan sangat deras, Mariska membiarkan saja air matanya yang membasahi pipinya.
“Hiks.... hiks... Coneh! Kalau kamu sampai tidak sadar hari ini juga, aku akan membencimu karena kamu tidak mau menepati janji kita berdua. Dimana pria aneh yang menyebalkan yang selalu membuatku kesal, yang selalu berdebat dan membuatku marah?”
Mariska menunduk dan menangis ditangan Galih, gadis itu bingung harus mengatakan apalagi untuk membuat pria yang sedang terbaring sadar.
1 jam, 2 jam, 3 jam dan akhirnya Mariska memutuskan untuk kembali ke rumah.
“Coneh, aku pulang. Kamu baik-baik disini jangan pernah menyerah untuk hidup,” ucap Mariska dan perlahan pergi meninggalkan Galih.
Mariska berjalan dengan sangat lambat, gadis itu terlihat sangat tak berdaya.
__ADS_1
“Nona Mariska!” panggil Pak Min yang menyusul Mariska.
Mariska hanya menoleh sekilas kemudian menundukkan lagi kepalanya, Pak Min berjalan tepat di samping Mariska untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
Sesampainya di area parkir Mariska langsung masuk kedalam mobil.
“Hiks... hiks....” Mariska kembali menangis, entah berapa banyak air matanya yang mengucur karena kesedihannya.
Pak Min hanya diam dan memfokuskan perhatian kepada jalan yang ia lalui.
“Pak!” panggil Mariska.
“Iya nona!”
“Galih kapan sadar pak?” tanya Mariska.
Pria yang sedang mengemudikan mobil bingung harus berkata apa, ia sendiri tidak tahu kapan Galih bisa sadar dari komanya.
Akhirnya Pak Min memutuskan untuk diam dan terus menatap lurus ke depan.
Mariska kelelahan dan tertidur di dalam mobil.
Malam hari.
Steven dan keluarga sedang berada di halaman belakang rumah, mereka saat itu tengah menikmati pesta kembang api kecil-kecilan untuk meramaikan malam terakhir di bulan Desember.
Azizah tidak ikut melakukan pesta kembang api, wanita itu malah diam di dalam pondok untuk menyusui Farhan kecil.
“Sayang, suapi!” pinta Azizah ketika melihat sang suami sedang menikmati buah kelengkeng.
Steven mengupas kulitnya dan membuang biji kelengkeng lalu memberikan buahnya kepada sang istri.
“Bagaimana sayang?”
“Tentu saja manis sayang,” jawab Azizah.
Ponsel di saku celana Steven bergetar dan pria blasteran itu segera menerima sambungan telepon dari rumah sakit.
“Hallo, ada apa?” tanya Steven.
“Maaf tuan Steven, kami memberitahukan bahwa saudara Galih telah meninggal dunia.”
Deg!”
Ponsel ditangan Steven terjatuh, pria itu terlihat sangat terkejut.
Azizah penasaran dan menggoyangkan tubuh sang suami yang terlihat mematung.
“Telepon dari siapa sayang?” tanya Azizah penasaran.
“Dari rumah sakit, Galih...” jawab Steven tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Iya Galih kenapa sayang?” tanya Azizah lagi.
“Galih meninggal.”
Deg!
__ADS_1