
Kota Jakarta di sore hari diguyur hujan deras,
Azizah sedang berbincang-bincang bersama suaminya di ruang keluarga setelah menghubungi keluarga di Inggris.
Steven sangat senang berbincang-bincang dengan istrinya ditambah Azizah selalu membuat dirinya nyaman.
“Sayang!” panggil Steven yang sibuk memainkan rambut istrinya.
“Hemmmm..”
Steven yang memeluk Azizah lalu mengubah posisinya dengan tidur di paha istrinya.
“Sayang, jangan seperti ini kalau dilihat pelayan bagaimana?” tanya Azizah sambil melihat sekeliling ruangan kalau-kalau ada pelayan.
“Mereka tidak akan melihat kita,” balas Steven santai.
Azizah mengangguk pelan dan memainkan rambut suaminya.
Mereka berdua saling menatap
satu sama lain membuat siapapun yang melihat mereka pasti akan kiri.
“Azizah sayang, bagaimana kalau kita punya anak 5 atau lebih?” tanya Steven.
What 5? sebanyak itu?
“Kamu memikirkan apa sayang?” tanya Steven karena melihat ekspresi wajah istrinya.
“5 terlalu banyak sayang aku takut jika aku akan kewalahan mengurus mereka,” ucap Azizah dengan jujur.
“Kita kan bisa menyewa baby sitter untuk anak kita,” sahut Steven santai.
“Tidak, aku tidak ingin memakai baby sitter.
Aku ingin anak kita tidak memakai baby sitter,” tolak Azizah.
“Kenapa kamu tidak mau memakai baby sitter sayang?”
“Aku ingin kasih sayang untuk anak kita sempurna, jika harus memakai baby sitter rasanya aneh saja,” terang Azizah.
“Baiklah jika itu mau kamu,” ucap Steven.
Tangan Steven tiba-tiba naik ke leher putih istrinya, ia berdiri dan menidurkan Azizah.
Pria blasteran itu tersenyum lebar ya kalian tahu sendirilah senyum itu kini berubah menjadi senyuman mesum.
Azizah menghentikan niat suaminya dengan alasan mereka sedang di ruang keluarga namun bukannya berhenti Steven malah melanjutkan niatnya dan terus mencumbu istrinya terutama di bagian leher.
“Ja..jangan disini su... suami.. ah..,” ucap Azizah terbata-bata dan sedikit mendesah kecil.
Karena suaminya tak kunjung berhenti Azizah lalu mengigit bibir suaminya yang mencium bibirnya sontak saja Steven menghentikan ciumannya dan berdiri menjauhi istrinya yang tertawa kecil.
“Awww... ini sangat sakit istriku,” ucap Steven sambil menyentuh bibirnya.
“Aku kan sudah bilang jangan disini, kalau pelayan melihat kita bagaimana?” tanya Azizah dengan santai.
Azizah lalu berdiri dan dengan cepat berlari meninggalkan suaminya, Steven pun akhirnya lari mengejar istrinya.
Kejar-kejaran pun tak terelakkan, Steven terus mengejar istrinya. Tawa mereka terdengar keras mengisi ruangan itu, para pelayan yang melihat aksi kejar-kejaran itu pun tertawa karena Azizah membuat Steven berlari seperti itu.
“Lihat mereka, sungguh sangat lucu,” ucap salah satu pelayan kepada yang lainnya saat suami istri itu tak terlihat lagi.
__ADS_1
“Iya, semenjak ada nyonya muda. Rumah ini menjadi ramai dan tidak pernah sepi seperti yang dulu-dulu!” seru pelayan.
“Sayang berhenti!” pinta Steven.
Azizah berhenti dan membalikkan pandangannya ke arah suaminya lalu menjulurkan lidahnya bertanda mengejek.
“Wekkkk!”
Steven semakin geram sekaligus bahagia ia terus mengejar istrinya sampai ke kamar, Azizah yang ingin bersembunyi di kamar mandi langsung ditarik oleh Steven.
“Kena kamu!” ucap Steven.
Mereka berdua terengah-engah akibat kejar-kejaran, keringat mengucur dari keduanya.
“Huh... huh... aku sangat lelah,” ucap Steven mengatur nafasnya.
“Aku juga sangat lelah, huh... ya ampun,” sahut Azizah.
Mereka lalu berjalan menuju sofa, menyandarkan tubuh mereka sambil mengatur nafas satu sama lain.
beberapa jam kemudian.
Dirasa sudah cukup dan keringat sudah tak ada lagi, Azizah maupun Steven memutuskan untuk mandi bersama.
Selesai mandi mereka sholat ashar bersama.
“Terima kasih!” ucap Azizah setengah mencium punggung tangan suaminya.
“Untuk apa?” tanya Steven.
“Untuk semuanya.”
Para pelayan sudah berdiri berjejeran menunggu majikannya makan sore.
“Selamat sore tuan muda dan nyonya muda Azizah!” sapa para pelayan sambil sedikit membungkukkan badan.
“Ya,” jawab Steven singkat.
“Selamat sore juga!” seru Azizah tersenyum lebar.
“Biar saya saja,” ucap Azizah saat seorang pelayan ingin menyiapkan nasi untuk mereka.
“Baik nyonya muda!” seru pelayan itu lalu mundur menjauhi mereka.
“Kalian bisa pergi sekarang!” perintah Steven.
“Baik tuan muda, kami permisi!”
Azizah mengambil piring suaminya lalu mengisi piring itu dengan nasi.
“Kamu mau apa sayang?” tanya Azizah.
“Udang asam manis saja sayang!” seru Steven.
“Kalau yang ini tidak mau?” tanya Azizah sambil menunjuk perkedel kentang.
“Boleh!” seru Steven.
Setelah mengambil udang asam manis dan perkedel kentang, Azizah lalu memberikan piring itu kepada suaminya.
Disusul Azizah yang mengambil nasi serta lauk.
__ADS_1
Azizah mulai mengunyah makanan namun tidak dengan suaminya, suaminya itu hanya diam sambil memandangi dirinya.
“Kamu kenapa tidak makan sayang?” tanya Azizah menghentikan aktivitas makannya.
“Aku tidak ingin makan sendiri!”
“Mau disuap?” tanya Azizah.
“Iya istriku, bolehkan?”
Azizah mengangguk pelan dan mengambil piring suaminya yang telah berisi nasi dan lauk.
Ia mulai menyuapi makanan itu ke dalam
mulut suaminya.
Steven pun mengambil piring istrinya lalu menyuapi makanan untuk Azizah dan terjadilah aksi suap-menyuap romantis itu.
❤️
Setelah selesai makan, mereka pergi keluar untuk menikmati sore dengan mengendarai mobil.
“Kita kemana sekarang sayang?” tanya Azizah.
“Bagaimana kalau ke Galery Azizah? kita kan sudah lama tidak ke sana!” ajak Steven sambil mengendarai mobil, dikarenakan Galih izin tidak masuk.
“Oke sayang!” seru Azizah bersemangat.
“Besok kita akan melakukan perjalanan jauh.”
“Kemana memangnya?” tanya Azizah penasaran.
“Ke Paris! kamu tidak lupa kan sayang?”
“Ya ampun aku hampir lupa, untuk barang-barang kita sudah aku siapkan?”
“Kamu yang siapakan istriku? kenapa bukan para pelayan saja?” tanya Steven.
“Selama aku bisa kenapa harus pelayan? apalagi aku tidak ingin mereka menyentuh pakaian dalam kamu dan celana dalam kamu,” ucap Azizah dengan memanyunkan bibirnya.
“Wah wah.. istriku sekarang lagi cemburu!” goda Steven.
“Ya memang masalah kalau aku cemburu, justru kalau aku cemburu itu tandanya aku sayang sama kamu suamiku,” balas Azizah.
“Iya sayang, terima kasih.”
“Jangan pernah mengatakan terima kasih dalam hubungan kita, dalam rumah tangga sudah menjadi kewajiban sepasang suami-istri untuk saling membahagiakan,” ucap Azizah.
Steven ingat benar bahwa itu adalah kata-katanya, tidak disangka istrinya ingat dan mengulang kembali kata-kata itu.
“Ada apa?” tanya Azizah melihat senyum dibibir suaminya.
“Kamu mengingat benar kata-kata itu, aku jadi tersentuh,” balas Steven.
“Setiap perkataan mu akan selalu ku ingat suamiku!”
Tak terasa akhirnya mereka sampai di Galery Azizah.
“Ayo istriku!” ajak Steven yang sudah membukakan pintu untuk istri tercinta.
Azizah turun dari mobil dan tersenyum manis ke arah suaminya, Steven menuntun istrinya menuju galery itu dan merangkul erat pinggang ramping istrinya seolah-olah takut istrinya diambil orang lain.
__ADS_1