Cinta Seorang Gadis Miskin

Cinta Seorang Gadis Miskin
Part 181


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Diandra mengintai kediaman Steven Walker namun, tidak pernah melihat mobil keluar masuk di pekarangan rumah pria yang begitu ia cintai bahkan Steven tidak pernah berangkat kerja membuat Diandra nampak sangat kesal.


“Kamu kemana Steven? 5 hari aku menunggumu tapi tidak pernah aku melihatmu!” teriak Diandra di dalam mobil.


Galih yang sedang mencuci mobil tak sengaja melihat mobil yang terparkir di depan gerbang rumah dengan cepat ia menghampiri mobil itu berniat ingin menegur penghuni mobil, belum juga mendekat mobil itu bergegas pergi.


Siapa orang yang membawa mobil itu? aku perhatikan beberapa hari ini mobil itu berhenti di depan gerbang, atau jangan-jangan itu adalah orang yang berniat jahat.


Tunggu dulu, bukankah mobil itu yang mengikuti mobil tuan muda?


Galih cepat-cepat menghubungi Steven yang berada di Singapura.


***


“Sayang!” panggil Azizah saat mendengar ponsel milik sang suami berbunyi.


Steven yang sedang berada di ruang keluarga bergegas menghampiri Azizah yang berada di kamar.


“Kamu memanggilku sayang?” tanya Steven memastikan.


“Ada telepon sayang!” seru Azizah.


“Dari siapa?” tanya Steven sambil mendekati Azizah.


“Dari Galih,” balas Azizah.


Galih? untuk apa dia menghubungiku apakah ada hal yang penting?


Steven langsung menerima ponsel dari sang sopir.


“Hallo Galih, ada apa?” tanya Steven.


“.......”


“Teruskan, aku akan mendengarnya!”


“......”


“Baiklah, kamu sekarang perintah bodyguard untuk berjaga-jaga di depan gerbang!”


“........”


Steven langsung menutup sambungan telepon dan duduk di sofa sambil memijat keningnya. Azizah yang penasaran dengan ekspresi sang suami ikut duduk dan memeluk tubuh Steven.


“Sayang, apakah ada masalah?” tanya Azizah penasaran.


“Tidak ada sayang!” seru Steven dan tersenyum.


“Bohong, cepat ceritakan ada masalah apa!” pinta Azizah.


Steven menghembuskan nafasnya dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kediaman ia dan Azizah di Jakarta.


Azizah terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh suaminya.


“Kira-kira siapa sayang?” tanya Azizah.


“Aku juga tidak tahu sayang, yang pasti aku sudah meminta para bodyguard untuk menjaga rumah,” balas Steven.

__ADS_1


“Sayang!”


“Iya ada apa sayang?” tanya Steven.


“Sepertinya aku tahu siapa orang itu!”


“Siapa sayang?”


Apa aku bilang saja itu adalah Diandra. Tapi, kalau itu bukan Diandra itu sama saja aku memfitnah.


“Tidak jadi sayang, sepertinya aku salah orang,” balas Azizah.


“Ya sudah kamu jangan banyak pikiran ya sayang, ibu hamil harus selalu bahagia tidak boleh terbebani dengan pikiran bagaimana kalau kita bersantai sambil minum jus!” ajak Steven.


“Boleh juga, ayo sayang!” seru Azizah.


Mereka berjalan beriringan menuju dapur dan membuat jus jambu bersama-sama.


Pekerjaan Bi Ana di rumah itu tidak terlalu banyak, karena Azizah dan Steven lebih senang turun tangan.


“Sayang tolong kupas kulit jambu ya!” pinta Azizah yang sibuk menyiapkan alat untuk memblender.


“Laksanakan Bu bos!” seru Steven.


Azizah begitu senang melewati hari-harinya bersama sang suami, mereka lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah dan bercocok tanam.


“Sudah sayang,” ucap Steven yang telah selesai mengupas kulit.


“Sini sayang, aku akan mulai memblender!” seru Azizah.


Steven memberikan jambu kepada sang istri, kemudian Azizah mulai memblender jambu yang nantinya akan menjadi jus jambu.


“Ini buat aku, buat suami tercinta dan buat bi Ana!” seru Azizah.


“Sini biar aku saja yang membawanya sayang!” pinta Steven.


Sampailah mereka di ruang keluarga.


“Bi Ana sini!” panggil Azizah.


“Iya nyonya muda!” seru Bi Ana sambil menundukkan kepalanya.


“Sini Bi, duduk sini kita menikmati jus jambu sama-sama!” ajak Azizah.


“Tapi nyonya...”


“Istriku mengajak bibi, sebaiknya bibi turuti saja!” seru Steven memotong ucapan Bi Ana.


“Baik nyonya muda,” balas Bi Ana dan duduk di sofa ruang keluarga.


“Bi Ana tidak berencana untuk menikah lagi?” tanya Azizah.


“Tidak nyonya muda, saya sudah sangat trauma dengan namanya pernikahan,” balas Bi Ana dengan jujur.


“Lalu keluarga Bi Ana bagaimana?” tanya Azizah penasaran.


“Saya sudah lama sekali tidak bertemu dengan keluarga saya nyonya muda, mereka juga tidak dekat dengan saya,” terang Bi Ana jujur.

__ADS_1


Azizah mengangguk pelan dan tak ingin meneruskan pertanyaannya.


Setelah selesai menikmati jus buatan ia dan sang suami, Azizah mengajak sang suami untuk menyiram tanaman yang sebelumnya ia tanam bersama sang suami.


Steven sangat senang membantu sang istri apalagi kalau sang istri tersenyum bahagia.


“Sayang siram sebelah itu,” ucap Azizah sambil menunjuk tempat yang harus Steven siram.


“Baiklah sayang!” seru Steven.


Lihat sayang, papah mu sangat baik kepada mamah. Apapun permintaan mamah pasti dituruti oleh papah mu itu.


***


Di sisi lain.


Diandra kembali lagi ke kediaman Steven Walker namun, ia terkejut karena sudah ada para bodyguard yang berdiri di depan gerbang.


Dengan sangat terpaksa, akhirnya Diandra memutuskan untuk pergi dari kediaman Steven.


Sialan! sekarang sangat sulit untukku melihat Steven.


Rencana ku adalah ingin mendekati Steven tapi, kenyataannya malah seperti ini.


Diandra mengumpat kesal di dalam mobil sambil terus mengendarai mobil, ia sangat marah karena tidak bisa mengawasi pria yang begitu ia cintai.


Wanita itu membuka aplikasi Instag*** namun, tak melihat foto terbaru dari Steven Walker.


Dimana kamu Steven, aku sangat merindukanmu.


Aku ingin sekali bertemu denganmu saat ini juga. Kenapa juga kamu harus menaruh bodyguard di depan gerbang sehingga aku tidak leluasa untuk menantikan dirimu.


Tiba-tiba air mata Diandra menetes, ia sangat merindukan seorang Steven Walker.


Ia rasanya ia bertemu dan memeluk tubuh Steven Walker dengan erat dan menghempaskan Azizah jauh-jauh dari sisi pria yang begitu ia cintai.


“Baiklah besok aku akan pergi menemuimu lagi Steven, pokoknya aku harus bertemu denganmu!”


Diandra berhenti di sebuah restoran untuk menikmati sarapannya yang hampir tiap hari terlewatkan karena selalu mengintai kediaman Steven Walker.


“Awww, apakah kamu buta?” tanya Diandra saat ada seorang pelayan wanita yang menabraknya.


“Maafkan saya mbak, saya tidak sengaja,” balas pelayan restoran sambil terus menundukkan kepalanya.


Diandra tersenyum remeh dan duduk di kursi.


Ia saat itu memakai kaca mata yang super besar dengan jaket bulu berharap orang-orang tidak mengenal dirinya.


Steven, Steven...


Aku bersumpah akan membuatmu jatuh cinta kepadaku.


Diandra menjentikkan jarinya lalu datanglah seorang wanita.


“Saya ingin steak daging sapi dan jus jeruk!” pinta Diandra dingin.


“Baik, kami segera mengantarkan pesanan anda!”

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan datang, Diandra memainkan ponselnya sambil melihat-lihat gambar dirinya yang terlihat begitu seksi.


Aku sangat cantik, banyak pria yang ingin mendekatiku. Tapi, kamu tenang saja Steven hanya kamu yang tetap dan selamanya di hatiku


__ADS_2