
Para bodyguard sedang sibuk memasang banyak lampu di sekitar pondok kecil halaman belakang, Steven meminta mereka untuk meletakkan lampu-lampu cantik agar saat malam tiba Azizah merasa begitu senang bahkan takjub dengan kelap-kelip lampu yang telah dipersiapkan oleh Steven.
“Tuan muda, semuanya sudah selesai kami pasang,” ucap salah satu bodyguard mewakili rekannya yang lain.
Steven mengibaskan tangannya, “Kalian boleh pergi!”
“Baik Tuan muda!”
Steven merasa sangat puas dengan hasil kerja dari para bawahannya.
“Sangat cantik, sebaiknya aku segera kembali ke kamar menjemput istriku.”
Steven melangkahkan kakinya menuju rumah dan bergegas menemui sang istri yang berada di dalam kamar.
“Kak Steven!” sapa Mariska kemudian tersenyum lebar hingga menampilkan jejeran giginya.
“Ada apa?” tanya Steven karena adik sepupunya menahan langkahnya untuk segera menemui sang istri.
“Kak! kapan-kapan kita mengadakan acara bakar sate dong!” pinta Mariska.
Acara bakar sate sepertinya menarik.
“Untuk kali ini aku setuju, lusa kita akan mengadakan acara bakar sate,” balas Steven.
“Hore!” teriak Mariska dan berlalu pergi begitu saja.
Steven menggelengkan kepalanya karena kelakuan Mariska yang tidak pernah berubah.
“Dasar.”
Steven melanjutkan kembali langkahnya untuk segera menemui sang istri.
Di dalam kamar.
Wanita yang tengah berbadan dua sedang menonton film di laptop milik Steven, ia saat itu sedang menonton film tentang perang.
“Hajar saja jangan diberi ampun!” Azizah sangat antusias mengikuti tiap alur dari adegan-adegan yang ditanyakan dalam film itu.
“Ehem.” Suara Steven berdehem.
Azizah menoleh sekilas dan kembali menatap layar laptop.
Merasa sang istri cuek terhadap dirinya, Steven berjalan mendekat dan menutup kedua mata Azizah.
“Sayang, lepaskan!” pinta Azizah sambil berusaha menjauhkan tangan sang suami yang menutupi kedua matanya.
“Tidak akan, bagaimana bisa istriku ini mengabaikan diriku,” balas Steven.
“Cepat lepaskan sayang, putra mahkota sedang menemui kekasihnya!” pinta Azizah yang.
Steven melepaskan tangannya dari mata Azizah kemudian berganti memeluk tubuh Azizah dari belakang.
“Sejak kapan istriku menyukai film seperti ini?”
“Entahlah sayang, aku juga tidak tahu.”
Steven ikut menemani sang istri menonton film, tak terasa waktu sudah memasuki waktu sholat Maghrib.
__ADS_1
“Kenapa malah dimatikan sayang?” tanya Azizah sedikit kesal karena masih ingin menonton film itu hingga selesai.
“Sekarang ambil wudhu, kita sholat Maghrib setelah itu kita lanjutkan di pondok kecil kita!”
“Apakah lampu-lampu di halaman belakang sudah di pasang sayang?”
“Tentu saja sudah, ayo kita ambil air wudhu!”
Sholat Maghrib pun berlangsung.
**
Azizah dan Steven melangkahkan kaki mereka menuju pondok kecil, mulut Azizah menganga lebar dan bahkan mata indah membulat sempurna.
“Sayang, ini sangat cantik,” puji Azizah dan mengecup pipi Steven.
“Kamu menyukainya sayang?”
“Tentu saja sayang, kamu tahu apa yang aku bayangkan?”
“Apa sayang?”
“Halaman belakang ini seperti tempat romantis seperti yang berada di film-film.
Ditambah dengan banyaknya lampu, ya ampun sayang aku benar-benar menyukai tempat ini. Bagaimana kalau malam-malam berikutnya kita tidur disini!”
“Baiklah sayang, apapun keinginan mu suamimu ini akan menurutinya asal jangan memintaku untuk menjauhi mu sayang!”
“Apa aku gila jika memintamu menjauhiku? justru aku memintamu untuk terus berada di sisiku selama-lamanya!” tegas Azizah.
“Kamu membuatku jadi ingin...” Steven menggantungkan kalimatnya dan mengajak Azizah masuk ke dalam kamar pondok kecil.
Di dalam kamar, Azizah melihat banyak sekali cemilan bahkan ada juga buah-buahan.
“Sayang, kapan kamu menyiapkan ini semua?” tanya Azizah yang begitu senang.
“Tadi sore, sekarang kamu makan apa sayang?”
“Aku ingin kelengkeng sayang!”
Steven mengambil buah kelengkeng dan mulai membuka kulitnya.
“Aaaa sayang!” Steven menyuapi buah kelengkeng.
Azizah sangat senang karena suaminya memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Malam mereka berdua dihabiskan dengan canda tawa hingga akhirnya Steven meminta sang istri untuk melayaninya.
**
Keesokan Pagi.
“Sayang, bangun!” Azizah berusaha membangunkan suaminya dengan terus menggerakkan tubuhnya Steven.
Steven sebenarnya sudah bangun namun, ia berpura-pura tidur karena sang istri tidak membangunkan dirinya dengan cara mencium dirinya.
“Sayang!” Azizah menarik napas dan mencabut bulu di kumisnya.
__ADS_1
“Awwww!” teriak Steven dan mengusap area kumisnya yang terasa panas.
Azizah tertawa terbahak-bahak, pagi itu ia begitu senang ia tak henti-hentinya tertawa.
“Sakit sayang,” ucap Steven dengan memasang wajah sedih.
Jika itu orang lain akan dipastikan Steven tidak akan memaafkannya.
Namun, kali ini berbeda yang melakukan hal sepertiitu adalah wanita yang teramat ia cintai.
“Ya ampun, perutku sakit sayang karena tak bisa berhenti tertawa,” ucap Azizah disela-sela tawanya dan kembali tertawa.
Steven mendudukkan tubuhnya dan menarik wajah sang istri dan melum*** bibir Azizah, seketika itu Azizah terdiam dan mulai mengikuti ciuman dalam suaminya.
“Huh... huh...” Mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas mereka kemudian melanjutkan lagi.
Cukup lama keduanya saling mencium akhirnya aktivitas itu selesai, Azizah maupun Steven bergegas untuk kembali ke kamar mereka.
“Pagi!” sapa Yuli melihat Steven dan Azizah.
“Pagi juga mami!” seru mereka.
“Mandilah kalian setelah itu kita sarapan bersama!”
“Siap mami, kamu ke atas dulu!” seru Steven dan merangkul pinggang Azizah menuju lift.
Azizah terus-menerus mengelus perutnya, calon bayinya dan suaminya pagi itu begitu aktif sekali.
“Ada apa sayang?” tanya Steven ketika melihat wajah cemas sang istri.
“Tidak ada apa-apa sayang, anak kita sangat aktif,” balas Azizah.
“Mungkin anak kita sudah bosan di dalam perut sayang,” sahut Steven dengan santainya.
Azizah memukul lengan suaminya, bagaimana bisa suaminya berpikir seperti itu.
Sesampainya di kamar, mereka langsung mandi bersama tidak ada yang mereka lakukan di dalam kamar mandi kecuali membantu menggosok punggung satu sama lain.
Setelah berpakaian lengkap, mereka berdua bergegas ke ruang makan.
“Ayo nak kita sarapan bersama!” ajak Adam.
Aktivitas sarapan bersama pun berlangsung, tidak banyak obrolan di ruang makan.
Usai sarapan mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing, Steven pagi itu sudah berangkat ke perusahaan meninggalkan Azizah.
“Mami dan papi juga harus pergi ya nak, kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?” tanya Yuli memastikan bahwa Azizah tidak masalah jika harus dirumah.
“Tidak apa-apa mi, Azizah juga harus banyak istirahat di rumah,” balas Azizah.
Kini Azizah dan Mariska saja yang berada di rumah.
“Kak kita ngapain ya!”
“Bagaimana kalau kita nonton film saja!”
Azizah kembali menonton film tentang kerajaan, Mariska yang tidak terlalu suka akhirnya ikut menonton.
__ADS_1
Aku sebenarnya suka yang romantis-romantisan gitu bukan tentang kerajaan.
Ya ampun selera kak Azizah sudah seperti cowok saja.